
Sore hari Farel dan Sindy bersama dengan putra mereka Kaysan menyusuri semua tempat yang berada di dalam mansion. Karena tanah itu cukup luas sekitar sepuluh hektar, Farel meminta sopir buggy car untuk mengantar mereka mengelilingi area di sekitar mansion.
Ada yang menarik di sore hari itu, rupanya area sekitar mansion itu tembus langsung area taman belakang rumah sakit yang dibangun oleh Farel untuk istrinya.
Seketika Sindy mengernyitkan dahinya melihat bangunan di depan mereka yang lebih besar dari mansionnya.
Di atas gedung itu sudah tertulis di spanduk yang terpasang lebar dengan bacaan.
"Happy anniversary my wife Sindy"
This hospital is our wedding anniversary gift.
"Apakah itu rumah sakit untukku?" Tanya Sindy pada suaminya yang tersenyum menatap wajah Sindy yang masih tercengang.
"Iya sayang, rumah sakit itu khusus untuk bersalin dan untuk anak-anak usia dibawah sepuluh tahun."
"Mengapa hanya untuk mereka?" Jadi itu bukan untuk rumah sakit umum?" Tanya Sindy tidak mengerti tujuan suaminya yang membatasi perawatan khusus ibu hamil, melahirkan dan anak-anak dibawah usia sepuluh tahun.
"Jika dibuat rumah sakit umum, akan banyak dokter laki-laki yang bekerja di rumah sakitmu dan aku tidak mau karyawan pria kecuali OB atau cleaning servis." Ucap Farel yang membatasi jender untuk karyawan istrinya.
"Ya Allah, Farel sebegitu posesifnya kamu sayang, aku jadi terharu." Ucap Sindy.
"Aku sengaja bangun rumah sakit itu satu area dengan mansion, agar memudahkanmu cepat sampai ke istana kita, kalau sudah selesai dengan pekerjaanmu.
"Terimakasih sayangkuh, aku boleh lihat-lihat di dalamnya?" Tanya Sindy sambil mengendarai pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Silahkan!"
Sindy turun dari buggy car itu dibantu Farel. KAYSAN di gendong oleh papanya dan Sindy buru-buru masuk ke dalam rumah sakitnya dan pintu kaca otomatis itu pun terbuka.
Beberapa pekerja yang masih melakukan finishing rumah sakit memberi hormat pada Farel.
Semua standar yang dibutuhkan oleh rumah sakit itu, sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku dalam dunia kesehatan. Semua diatur sesuai dengan kebutuhan rumah sakit yang dibutuhkan oleh masyarakat.
"Manejemen rumah sakit ini sudah terbentuk sayang, sudah ada beberapa karyawan wanita yang aku rekrut untuk membantumu khusus dibagian admistrasinya. Farel menjelaskan semuanya pada istrinya.
"Apakah diantara mereka, ada mantanmu sayang?" Sindir Sindy dengan wajah tenang.
"Aku tidak mau menyalakan api di rumah sakit ini, untuk membakar hatimu. Aku tidak akan membuatmu cemburu." Timpal Farel.
"Bukan kamu yang membuatku cemburu, tapi mereka yang memancing aku untuk cemburu padamu" Ucap Sindy seraya membuka salah satu kamar bersalin yang terlihat sangat rapi dengan peralatan medis yang sudah tersusun di lemari dan ada berdiri pada tempatnya.
Ada juga ruang operasi, apa bila ada tindakan sesar pada ibu yang mengalami masalah pada kehamilannya.
"Sayang, jika kamu merasa sudah sempurna untukku, jangan punya pikiran untuk memberi kesempatan hatimu merasakan sakit karena cemburu." Imbuh Farel yang sudah melingkar tangannya di pinggang istrinya dan mencium ceruk leher jenjang itu, merasakan harum parfum yang sangat lembut yang dipakai istrinya sore ini.
Sindy meresapi sentuhan bibir suaminya dan membiarkan Farel melakukan apapun pada tubuhnya karena Kaysan sedang bersama dengan seorang pelayan yang dipanggil Farel untuk dibawa pulang.
"Aku mau kamu tidur di tempat bersalin itu dan kamu jadi pasienku," Ucap Farel dengan nafas berat.
Sindy menuruti permintaan suaminya dan Farel mengunci pintu kamar bersalin itu.
Keduanya kembali melakukan percintaan panas mereka di atas tempat tidur untuk ibu yang melahirkan.
Seperti layaknya seorang wanita hamil yang sedang melahirkan, tubuh polos Sindy kembali digerayangi oleh suaminya.
__ADS_1
Lagi-lagi Sindy merasakan kenikmatan yang berkali-kali lipat di atas brangkar itu.
Kenikmatan yang tiada tara tanpa henti-hentinya yang diberikan oleh Farel padanya.
Tubuhnya kembali bergetar kala rangsangan kembali datang menyapa. Liukan tubuhnya seperti cacing kepanasan diatas tempat tidur yang berukuran untuk satu orang itu.
Sindy mende**h setiap kali miliknya mendapatkan serangan dari bibir dan lidah Farel.
"Auhhgt!" lenguhnya begitu merdu membuat sang suami mendatanginya lagi lalu memacu tubuh polos itu berulang kali hingga akhirnya keduanya cepat mencapai finis kenikmatan yang memberikan kepuasan.
🌷🌷🌷🌷
Keduanya kembali berpakaian dan turun ke lantai bawah dengan menggunakan lift utama.
"Mengapa harus melakukan disini Farel?" Tanya Sindy usai melakukan percintaan panas mereka.
Sindy merasa sangat malu pada para pekerja, yang memperhatikan dirinya, ketika menaiki lagi buggy car.
"Nanti sampai mansion aku akan menjawab pertanyaanmu sayang." Farel menangguhkan jawabannya karena berada di mobil yang saat ini sudah membawa pulang mereka ke mansion utama.
Sindy hanya mengangguk dan memeluk lengan suaminya mesra.
"Tanah ini masih luas sayang, apa lagi yang ingin kamu bangun?" Sindy memperhatikan tanah kosong yang di tanami berbagai sayuran yang siap panen sebulan sekali.
"Mesjid dan arena bermain untuk anak-anak. Biasanya anak-anak suka boring jika mengunjungi rumah sakit. Aku mau membuka tempat game gratis untuk usia enam tahun ke atas dan untuk lima tahun ke bawah ada wahananya tersendiri.
Ada juga kantin yang terpisah dari rumah sakit agar tidak menganggu pasien yang ada di dalam." Farel menjelaskan beberapa rencana proyeknya, yang saat ini sedang dirancangnya untuk meningkatkan fasilitas rumah sakit milik istrinya.
"Sayang, aku akan meningkatkan kualitas kinerja para SDM agar rumah sakit kita menjadi rumah sakit yang akan diminati oleh banyak masyarakat. Dengan fasilitas yang ada, sudah cukup menunjang kinerja para dokter spesialis kandungan dan dokter anak dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak." Ucap Sindy yang sudah tidak sabar ingin bekerja di rumah sakit miliknya.
Tidak terasa keduanya sudah tiba lagi di mansion. Farel membantu istrinya turun dengan menggendongnya. Sindy berlari ke dalam mansion karena ingin membersihkan dirinya usai bercinta dengan suaminya di rumah sakit milik mereka.
Farel yang mengerti atas sikap istrinya hanya terkekeh.
"Kaysan mana bibi?" Tanya Farel ketika sudah berada di dalam mansion.
"Masih tidur Tuan." Ucap bibi Ani.
"Siapkan makan malam untuk kami di taman ya bibi karena hari ini ulang tahun pernikahan kami." Ucap Farel mengingatkan kepala pelayannya.
"Baik Tuan!"
Farel masuk ke kamarnya. Ia menanggalkan semua pakaiannya ikut bergabung dengan istrinya yang saat ini masih sibuk mandi.
"Mengapa tidak menungguku mandi bersama sayang?" Tanya Farel yang sudah berada di belakang punggung istrinya.
"Kalau bersamamu pasti akan lama." Ujar Sindy.
"Walaupun kamu sudah duluan mandi, aku akan memandikanmu lagi." Tangan Farel sudah menyusup bagian bawah tubuh istrinya.
"Akhhh!" Sayang bukankah tadi kita sudah melakukannya?" Tanya Sindy sambil merasakan sentuhan tangan Farel pada miliknya.
"Tempatnya berbeda sayang, setiap tempat adalah arena permainan kita yang pasti lebih privasi." Ucap Farel dengan terus meransak masuk miliknya pada milik istrinya.
"Aughh!" Lenguhan erotis kembali terjadi.
__ADS_1
Tubuh Sindy bergetar hebat ketika suaminya sudah menjajah dirinya dengan kenikmatan.
Farel mematikan pancuran shower lalu memacu lagi tubuh itu tiada henti. Erangan demi erangan terdengar merdu. Sindy memanggil nama suaminya dengan nada mendayu-dayu.
Farel merasa terbakar birahinya mendengar racauan istrinya yang membuatnya makin menggila.
Kegilaannya pada istrinya yang merupakan mantan model ini, membuat dirinya tidak bosan untuk terus bertempur entah seharian ini sudah berapa kali mereka lakukan yang jelas durasi panjang tanpa ada komando untuk berhenti, kecuali keduanya menyerah karena lelah dengan tenaga yang sudah tak tersisa.
Tubuh ramping milik sang istri yang tidak menampakkan lemak di sekitarnya. Justru tonjolan bagian dada dengan perut yang masih sekal ditambah dua bongkahan bo**ng yang menggiurkan.
Itulah sebabnya Farel tidak rela ada yang menatap istrinya walaupun penampilan Sindy tidak seronok tapi Farel tidak rela ada pria lain yang menatap istrinya dengan intens.
Permainan panas itu berakhir memuaskan keduanya. Shower itu kembali dinyalakan oleh Farel. Kali ini keduanya sudah mandi dengan benar dan menyelesaikan secepatnya.
Sindy mengusap bulir air yang menetes di tubuh suaminya, keduanya saling mengusap tubuh mereka dengan handuk.
"Sayang, aku harus buru-buru karena Kaysan harus minum ASI tidak boleh melebihi empat jam. Nanti putra kita bisa kuning." Ucap Sindy yang sudah mengenakan baju santai. Ia kemudian ke kamar putranya yang bersebelahan dengan kamarnya.
Rupanya Kaysan sudah bangun dan bermain sendiri.
"Ya Allah, anak mama sudah bangun ya sayang," Sindy mengangkat putranya, membawa ke kamarnya untuk disusui.
"Dia tidak menangis sayang?" Tanya Farel yang melihat putranya sangat anteng.
"Bayi menangis kecuali lapar dan buang air sayang. Mungkin pampersnya masih kering jadi dia tidak rewel." Sindy memeriksa pampers bayinya yang memang masih kering.
"Putraku sangat pengertian, padahal kita sudah dua kali bercinta, dia tidak rewel. Kamu hebat sayang, ini baru putra papa." Ucap Farel dengan nada bangga.
"Sombong sekali kamu sayang, kebetulan saja Kaysan lagi nggak rewel bukan berarti dia akan toleransi terus denganmu." Ucap Sindy.
"Kamu ingin mencoba lagi?" Tanya Farel menggoda istrinya.
"Farel sudah ahh... ini mau nyusuin Kaysan sayang." Sindy menepis tangan nakal suaminya dari tubuhnya.
"Makanya jangan menantang suamimu ini sayang." Ucap Farel sambil memeluk punggung istrinya yang sedang menyusui putra mereka.
"Sayang, tidak terasa pernikahan kita sudah berjalan dua tahun, semoga perjalanan kehidupan pernikahan kita tidak dihadiri oleh orang ketiga karena aku tidak bisa menerima wanita lain dalam kehidupan rumah tangga kita apapun alasannya." Ucap Sindy mengingatkan suaminya yang merupakan mantan playboy kelas kakap ini.
"Sayang, saat kita belum terikat pernikahan, aku sedikit pun tidak lagi tertarik dengan mereka, hatiku telah terkunci olehmu karena birahiku sendiri tidak lagi bergejolak seperti dulu ketika aku belum bertemu denganmu, ketika kamu tidak sengaja menabrak kaca spion mobilku sampai patah." Farel mengenang kembali pertemuannya pertama kali dengan Sindy.
"Apakah jika kita tidak bertemu malam itu, kamu akan terus berpetualang sampai sekarang ini Farel?" Tanya Sindy hati-hati pada suaminya.
"Entahlah sayang, dulu aku tidak betah dengan satu wanita walaupun diantara mereka berusaha mengikatku dengan pesona mereka, namun aku malah mudah bosan dengan mereka dan tidak ingin membuat suatu komitmen apapun." Farel menjelaskannya tanpa ia tutup-tutupi pada istrinya tentang masa lalunya.
"Jadi benar nih, aku yang terakhir?" Seloroh Sindy secara halus.
"Untuk selamanya sayang, percayalah padaku, kau wanitaku yang mengakhiri petualanganku dan menutup pintu dosa itu rapat-rapat, sayang." Ucap Farel meyakini ibu dari putranya ini.
"Alhamdulillah!" Semoga keluarga kita terbebas dari api neraka. Semoga kamu menjadi imam yang baik untukku dan papa terbaik untuk Kaysan." Ujar Sindy." Beserta adiknya" Timpal Farel
Keduanya saling terkekeh.
"Emang kamu mau kita punya anak berapa sayang?" Tanya Sindy.
"Cukup Allah yang tahu kita ingin memiliki berapa anak nantinya karena rumah kita terlalu besar jika memiliki cuma dua atau tiga anak." Imbuh Farel.
__ADS_1