Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
74. PART 74


__ADS_3

Perang mulut terjadi juga di kamar. Sindy merasa sangat sakit hati dan juga tidak terima jika suaminya memiliki anak dari wanita lain, walaupun Sindy sangat tahu bagaimana perlakuan suaminya di masa mudanya.


Ketika bertemu dengan Sindy dan menikahinya, Farel sudah mengakui bahwa dirinya bukanlah orang yang suci, dengan begitu Sindy tidak perlu merasa minder karena punya masalalu yang buram karena hamil dan harus mengalami aborsi secara paksa yang dilakukan oleh dokter Alan padanya.


"Sekarang kamu bisa memilih antara aku dan Luna. Kamu bisa bertanggungjawab atas putramu yang bernama Farel itu." Ujar Sindy.


"Tidak!" Aku tidak mau karena saat itu, ia sendiri yang datang padaku dengan menjual dirinya padaku entah dengan alasan apa. Kami hanya melakukan transaksi sebagai pelanggan dan jasa, yang berakhir di atas ranjang, setelah itu kami bukan lagi dua orang yang akan terlibat secara emosional, apa lagi harus bertanggungjawab secara moral atau apapun itu.


Walaupun dia memiliki segalanya saat itu sebagai wanita, tapi aku sedikitpun tidak menginginkannya, hingga aku bertemu denganmu."

__ADS_1


Farel berkata jujur pada istrinya. Sindy tetap tidak bisa menerima begitu saja pengakuan suaminya karena gairah cinta sesaat itu telah melahirkan seorang anak yang kini telah menjadi bumerang untuk keluarga kecilnya.


"Kenapa aku dan anak-anakku harus menanggung dosa masa lalumu, harusnya aku tidak menerimamu begitu saja. Aku telah dijebak dengan dosaku sendiri, hingga aku harus menerima kenyataan bahwa suamiku adalah playboy tengil yang menghamburkan uangnya hanya kesenangan sesaat. Kamu mempermainkan semua wanita hanya karena kamu punya kemewahan. Padahal suatu saat ini wanita-wanita itu akan menjadi ibu dan istri dari seseorang. Bagaimana kalau itu terjadi perubahan putri kandungmu sendiri." Teriak Sindy histeris.


"Maafkan aku sayang, aku tidak pernah mengulang perbuatan itu lagi setelah bertemu denganmu, walaupun kita hanya berkenalan sesaat tapi kamu telah mengunci gairahku pada wanita lain. Aku tidak pernah lagi tidur dengan wanita manapun hingga aku menemukan kamu di kota Paris Perancis saat itu.


Tolonglah sayang, percayalah padaku. Aku memang bajingan tapi kamulah yang telah mengakhiri jiwa petualanganku, apakah aku salah jika aku berubah? apakah aku berdosa kalau pada akhirnya aku hanya mencintai dan bercinta dengan satu wanita yaitu istriku sendiri, hmm?" Farel menatap wajah cantik istrinya dengan mata sendu.


"Jika kamu menikah dan memiliki anak dengan wanita lain, aku mungkin bisa memaafkanmu Farel tapi aku tidak sanggup menerima anak itu dari hubungan singkat antara kamu dan Luna." Sindy masih menolak pernyataan suaminya.

__ADS_1


"Sayang, aku tahu kamu sangat syok, aku pun juga sama ketika melihat lagi Luna dan putranya Farel." Itu putramu juga Farel." Timpal Sindy.


"Aku sulit mengakui anak itu adalah anakku walaupun secara biologis anak itu adalah putra kandungku." Ucap Farel.


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan setelah mengetahui Luna sudah membesarkan anakmu seorang diri, hmm?" Tanya Sindy yang ingin mengetahui langkah selanjutnya yang akan diambil oleh suaminya.


"Biarkan saja seperti itu, toh Luna tidak datang menuntut pertanggungjawabanku sayang, jadi biarkan semuanya berjalan seperti biasa dan kehadiran putranya tidak mempengaruhi perasaanku pada ibunya apa lagi pada anak itu." Ujar Farel yang ingin meyakinkan istrinya.


Sindy sangat prihatin dengan nasib Luna dan putranya. Tapi iapun harus bersikap egois karena tidak ingin membagi perhatian suaminya dengan putranya Luna.

__ADS_1


"Ya Allah, apakah aku termasuk wanita yang kejam jika aku membiarkan putranya Luna tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah yaitu suamiku sendiri." Gumam Sindy membatin.


__ADS_2