
Pagi ini, Carissa sudah bersiap untuk bekerja. Carissa menyantap setumpuk roti tawar yang diisi dengan selai cokelat dan sebuah keju slice. Tak lupa segelas susu sapi bebas laktosa.
"Mbok, Rissa berangkat ya!" pamit Carissa setelah sarapan.
"Iya, Non. Hati-hati." ucap Mbok Asih lalu membereskan piring dan gelas bekas sarapan Carissa.
Hari ini Carissa memakai seragam warna birunya yang berlogo MF Group, ia memadukannya dengan celana model tailored trousers warna hitam yang membuat kakinya terlihat semakin jenjang. Rambut panjangnya yang hitam lurus itu dikuncir kuda. Sangat sederhana namun tidak mengurangi kecantikan Carissa.
Jam 06.45
Carissa sudah berada di ruang kerjanya. Carissa sibuk di meja pantry untuk membuatkan kopi lalu mengantarkannya ke ruang karyawan.
"Eh si tukang kopi. Selamat pagi!" sapa seorang wanita dengan suara meledek Carissa.
Carissa menoleh, ternyata Saras. Wanita yang selalu basa-basi dengan Carissa.
"Tolong buatkan teh, antarkan ke ruangan saya. Gulanya setengah sendok ya!." pinta Saras pada Carissa.
"Baik." jawab Carissa singkat lalu masuk ke ruang kerjanya.
10 menit berlalu.
Tok Tok!
"Ini tehnya Bu Saras." ucap Carissa yang membawa secangkir teh lalu meletakkannya di meja kerja Saras.
"Jangan panggil Bu dong. Kita cuma beda 2 tahun." protes Saras kepada Carissa.
"Duduklah. Aku mau ngobrol sebentar." kata Saras menahan langkah kaki Carissa yang ingin segera keluar dari ruang kerjanya itu.
Carissa menuruti ucapan Saras namun tetap menatap curiga.
"Biasa aja lihatnya. Jangan berprasangka." ucap Saras yang seakan bisa mengartikan tatapan Carissa.
"Hemm.. ada apa?" tanya Carissa, sebenarnya ia malas basa-basi.
"Kamu lulusan fashion designer kan? Universitas XX?" tanya Saras.
Carissa hanya mengangguk.
"Waah.. hebat sekali!" puji Saras antusias.
Carissa hanya membalas dengan senyum tipis.
"Aku tuh dari awal lihat kamu di perusahaan ini udah merasa kamu pasti punya bakat. Sebenarnya aku cuma pengen bisa temenan sama kamu. Maaf kalo caraku salah." jelas Saras lalu ia menyodorkan tangan kanannya ke arah Carissa.
"Kita mulai kenalan lagi dari awal ya?"
Carissa menatap wajah imut Saras yang mengenakan kacamata cat-eye yang membingkai wajahnya yang bulat.
"Baiklah." jawab Carissa lalu menjabat tangan Saras.
Mereka saling melempar senyum.
"Kenapa kamu kerja jadi office girl? Kan sayang bakatmu." tanya Saras heran padahal Carissa bisa kerja di posisi yang lebih baik.
"Cari pengalaman. Apapun itu yang penting halal." ucap Carissa santai.
Saras hanya menatap heran pada Carissa. Ia tak habis pikir dengan pemikiran wanita cantik dihadapannya itu.
"Aku balik kerja dulu ya." ucap Carissa hendak beranjak dari ruang kerja Saras.
"Nanti siang makan bareng di kantin ya! Aku yang traktir." teriak Saras.
Carissa hanya mengangkat jempolnya sejajar telinga tanpa menoleh dan menutup pintu ruang kerja Saras.
Carissa kembali ke ruang pantry, ia membuat secangkir teh peppermint. Lalu ia membawanya memasuki lift.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai 10.
Carissa mengetuk pintu namun tidak ada jawaban. Carissa memutuskan untuk memutar handle pintu dengan perlahan. Lalu ia meletakkan cangkir yang ia bawa ke atas meja kerja Devian.
DUG!
"Awww..." seru Carissa lalu memegang jidatnya yang terbentur pintu karena tiba-tiba saja terbuka dari luar.
Devian terlonjak kaget dengan sosok dihadapannya yang sedang meringis kesakitan.
"Kamu ngapain diruang kerja saya?" tanya Devian dengan suara dinginnya.
"Anu.. tadi nganterin teh buat bapak." ucap Carissa yang masih memegang jidatnya yang terasa muncul benjolan kecil.
"Terus ini kamu kenapa?" tanya Devian yang melihat Carissa mengelus-elus jidatnya dengan poninya.
"Gara-gara Bapak buka pintu gak hati-hati." jawab Carissa lalu mendongak menatap Devian dengan kesal.
Devian yang melihat wajah Carissa itu langsung tertawa keras namun segera menghentikan tawanya.
"Apa yang lucu, Pak?" tanya Carissa.
"Itu... seperti ikan lohan." kata Devian yang berusaha menahan tawanya lalu mengacungkan telunjuknya ke arah dahinya sebagai isyarat kepada Carissa.
Carissa bergegas menuju cermin yang digantung dekat ruang istirahat Devian untuk melihat jidatnya yang terpentok pintu lumayan keras.
"Aaa.. jidatku!" jerit Carissa namun suaranya tak sampai memenuhi ruangan itu. Carissa memanyunkan bibirnya, kesal dengan Devian yang malah menertawakan dirinya. Carissa langsung menatap tajam ke arah Devian meminta pertanggungjawaban. Devian yang menyadari itu seketika menghentikan tawanya. Devian mengatur nafasnya lalu berjalan mengambil sesuatu didalam laci kerjanya.
"Maaf." ucap Devian lalu mendekati Carissa. Devian menyibakkan poni Carissa menampakkan benjolan kecil di dahi Carissa.
"Tahan ya, biasanya agak perih." ucap Devian seraya mengoleskan salep ke dahi Carissa dengan jari telunjuknya. Carissa merasakan sensasi dingin namun setelah itu ia merasakan sedikit perih.
"Ssshh..." desah Carissa.
Fuh! Fuh!
Devian spontan meniup lembut dahi Carissa.
Tanpa mereka sadari, Alex yang masuk memergoki kemesraan Devian dan Carissa.
__ADS_1
"Cieee..." ledek Alex tanpa dosa.
Devian dan Carissa langsung tersadar. Mereka mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak.
"Maaf, aku cuma mau ambil dokumen penting. Silahkan lanjut lagi." ucap Alex yang sudah mengambil dokumen lalu menatap genit ke arah Devian yang dibalas dengan tatapan tajam. Alex dengan gesit keluar ruangan lalu menutup pintu perlahan.
"Ehmm.." suara deheman Devian yang berusaha menghilangkan kecanggungan di ruangan itu.
"Te..terimakasih." ucap Carissa gugup.
"Hmm.." jawab Devian lalu duduk di kursinya. Ia menyeruput teh yang ada dimejanya.
"Apa ini?" tanya Devian ketika merasakan minuman hangat yang menyentuh tenggorokannya.
"Teh peppermint, Pak. Kemarin saya ingat Bapak pernah bilang kalau tidak terlalu suka dengan kopi." jawab Carissa canggung.
"Enak. Lain kali buatkan lagi." ucap Devian lalu melemparkan senyum tipis pada Carissa.
"Ya minuman ini sangat baik untuk kesehatan. Syukurlah kalau Bapak suka." ucap Carissa lalu segera beranjak keluar dari ruangan Devian. Carissa sangat gugup.
15.00
Hari ini sangat melelahkan bagi Carissa. Dia harus membersihkan gudang, toilet dan beberapa ruang kerja. Carissa merebahkan badannya ke lantai, ia benar-benar sangat lelah buktinya sekejap saja ia terlelap.
Devian mencari-cari keberadaan Carissa karena daritadi menelpon tidak diangkat. Devian meminta dibuatkan kopi oleh Carissa. Devian menuju ruang office girl, ia tidak melihat keberadaan Carissa. Devian celingukan, tanpa sengaja matanya tertuju pada sepasang kaki dibawah lantai yang menggunakan sepatu pantofel hitam dibalik meja pantry. Devian melangkah mendekat, ia terbelalak melihat wanita yang tergeletak di lantai itu.
"Dasar rubah! Bisa-bisanya tidur begini." gumam Devian yang heran melihat Carissa yang tertidur pulas. Devian merogoh ponsel dari saku celananya.
Cekrek!
Devian memotret pemandangan langka dihadapannya.
Suara jepretan kamera membangunkan Carissa, ia membuka matanya perlahan. Devian yang menyadari gerakan Carissa langsung memasukkan ponselnya kedalam sakunya.
"Aaaaa...." teriak Carissa saat ia mendapati Devian berdiri menatapnya.
"Ke-kenapa Bapak disini?" tanya Carissa mencoba mengumpulkan kesadarannya lalu bangkit dari tidurnya.
"Lap dulu air liurmu." ucap Devian.
Carissa spontan mengangkat tangannya untuk menyeka bibirnya dengan gugup.
Devian terkekeh pelan.
"Aku hanya menggodamu." ucap Devian yang seketika membuat Carissa memonyongkan bibirnya 5 cm.
"Rese!" seru Carissa kesal.
"Maaf. Tadinya saya mau memintamu untuk membuatkan kopi. Sepertinya kamu sangat lelah...."
"Baik, akan saya buatkan, Pak." kata Carissa menyela ucapan Devian. Carissa bergegas membasuh wajahnya di wastafel, lalu segera membuatkan kopi untuk atasannya itu.
"Nanti akan saya antar ke ruangan Bapak." ucap Carissa yang sedang merebus air.
"Tidak usah, saya minum disini saja." ucap Devian yang duduk di kursi dekat meja pantry.
Carissa menatap Devian sejenak lalu menganggukkan kepalanya.
Carissa menyodorkan segelas kopi dan sepiring pisang goreng yang kebetulan ia buat tadi siang untuk mengganjal perutnya nanti setelah selesai bekerja.
"Emm.. ini kamu buat sendiri?" tanya Devian yang merasakan sensasi cokelat lumer menyentuh lidahnya.
Carissa mengangguk lalu tersenyum tipis.
"Dulu saat saya kuliah, pernah bekerja jadi waiters di sebuah caffe, meskipun hanya 1 bulan tapi lumayan mengajari saya masalah dapur. Pisang goreng ini merupakan menu best seller di caffe itu." jawab Carissa yang kemudian menyesap tehnya.
Devian menganggukkan kepalanya sambil menikmati pisang goreng buatan Carissa.
"Wanita yang mandiri." batin Devian.
"Oh iya, bukankah kamu lulusan fashion designer?" tanya Devian.
Carissa mengangguk.
"Lalu kenapa kamu mau saja saya posisikan sebagai OG?" tanya Devian penasaran.
Carissa sesaat menghela nafas.
"Sebenarnya apapun pekerjaannya asalkan halal tidak masalah. Karena saya ingin meraih kesuksesan dengan cara saya sendiri. Jadi darimanapun saya memulainya saya harus siap. Termasuk menjadi OG. Mungkin beberapa orang menilai ini pekerjaan rendahan, tapi saya merasa beruntung pekerjaan ini tidak membutuhkan pemikiran yang rumit, tapi lumayan melelahkan fisik. Ya hitung-hitung saya berolahraga." jawab Carissa disambung dengan tawa kecilnya.
Devian tertegun mendengar jawaban Carissa, ia kagum dengan pemikiran wanita cantik dihadapannya.
"Siapa sebenarnya wanita ini? Kenapa pemikirannya begitu cemerlang?" tanya Devian dalam hati. Ia tiba-tiba merasa sangat tertarik untuk semakin mengenal Carissa.
"Hebat juga kamu." puji Devian.
"Setiap orang pasti punya kehebatan masing-masing. Bapak juga hebat. Dengan usia yang terbilang masih sangat muda, Bapak bisa membawa MF Group sampai ke titik ini." ucap Carissa.
"Saya hanya meneruskan bisnis orangtua saya." jawab Devian.
"Tuh kan Bapak merendah. Meskipun ini bisnis orangtua Bapak, tapi Bapak membuktikan hanya dalam kurun waktu 2 tahun, MF Group masuk ke perusahaan fashion Top 5 di Asia bahkan pasarnya sudah sampai ke beberapa negara. Bapak juga dinobatkan sebagai pria muda tersukses di negeri ini. Kemampuan Bapak sangat luar biasa dan tidak diragukan lagi." ucap Carissa yang membuat Devian tersentuh.
"Terimakasih." ucap Devian dengan senyum yang sangat menawan, yang belum pernah Carissa lihat sebelumnya.
"Bapak tampan lho kalau tersenyum seperti ini." ucap Carissa.
"Eh, maaf..." ucap Carissa spontan merutuki dirinya yang sudah keceplosan.
Devian terkekeh pelan.
"Jadi selama ini aku jelek?" tanya Devian.
"Bu-bukan begitu. Hanya saja Bapak biasanya memasang wajah horor. Orang mau menyapa sudah takut duluan karena melihat tatapan Bapak yang menyeramkan." cerocos Carissa sambil mengedikkan bahunya.
Hahahahaha
Tawa Devian memenuhi ruangan kecil itu.
Deg!
__ADS_1
Carissa tertegun melihat tawa Devian yang menurutnya menambah ketampanan pria itu. Tiba-tiba jantungnya berdetak sangat cepat. Carissa memandang Devian tak berkedip.
"Ris.. Rissa? Kamu melamun?" panggil Devian.
Carissa tergagap sadar saat mendengar namanya dipanggil.
"Eh Bapak tadi manggil nama saya?" tanya Carissa untuk memastikan kalau telinganya tidak salah dengar.
"Iya, kenapa kamu malah melamun?" tanya Devian.
"Anu.. aneh aja baru kali ini saya lihat Bapak bisa tertawa. Lalu memanggil nama saya." jawab Carissa dengan pipinya yang sudah bersemu merah.
Deg!
"Iya ya, kenapa kalau berada di dekat si rubah ini aku merasa tenang. Selalu ada kejadian yang membuatku tertawa bersamanya." batin Devian yang bingung dengan dirinya sendiri.
"Padahal kalau Bapak sering tertawa seperti tadi Bapak terlihat sangat tampan. Tertawa juga bisa jadi pengisi daya supaya kita lebih semangat bekerja. Dan yang paling penting tertawa itu jadi imun kita untuk selalu bahagia." ucap Carissa yang kemudian mulai membereskan meja pantrynya.
"Nah kan pasti selalu ada kejutan dari wanita ini. Semakin aku sering berinteraksi dengannya, semakin dalam pula aku terjerat dengan pesonanya. Mengapa kamu begitu memikat?" batin Devian dengan tatapan mendamba.
"Terimakasih untuk hari ini, Pak. Saya duluan ya." pamit Carissa kepada Devian.
"Baiklah. Hati-hati." ucap Devian lalu mengikuti langkah Carissa.
Carissa menuju lobby dan keluar perusahaan sedangkan Devian memasuki lift eksekutif untuk kembali ke ruangannya.
*
*
*
Esok hari.
"Pagi, Tiara." sapa Carissa pada rekan kerjanya yang sudah berada di meja resepsionis.
"Pagi, Rissa. Oh iya tadi Pak Dewa menyampaikan kalau sekarang kamu gak usah lagi jadi office girl." ucap Tiara.
"Hah? Kenapa?" tanya Carissa panik.
"Katanya itu keputusan Pak CEO. Jadi kamu nanti...."
"Emang aku salah apa? Aku sangat butuh pekerjaan ini." ucap Carissa dengan ekspresi sedihnya. Ia tak habis pikir kenapa ia dipecat, padahal kemarin hubungannya dengan Devian baru saja hangat.
"Dengerin aku selesai bicara dulu. Jadi kata Pak Dewa, kamu gak usah jadi office girl lagi. Dan sekarang kamu dipindahkan ke bagian produksi." jelas Tiara.
Carissa mengerjapkan matanya, lalu mencubit pipinya.
"Awww.. sakit." ringis Carissa lalu mengelus bekas cubitannya.
"Ternyata ini bukan mimpi? Ini nyata, Ti?" tanya Carissa pada Tiara untuk meyakinkan lagi kabar bahagia yang ia dengar.
Tiara mengangguk lalu tersenyum pada Carissa.
"Horeeee... Alhamdulillah!!" seru Carissa ia melonjak kegirangan lalu memeluk Tiara erat.
"Selamat ya, Riss." ucap Tiara yang juga mengeratkan pelukannya, ia turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan rekannya.
"Terimakasih, Ti." balas Carissa.
"Setelah ini kamu diminta ke ruangan CEO." kata Tiara seraya menguraikan pelukannya.
"Ke ruangan Pak Devian? Ada apa?" tanya Carissa penasaran.
"Entahlah. Cepat naik sebelum kamu disembur si kulkas." bisik Tiara pelan agar tidak ada yang mendengarnya.
Carissa terkekeh pelan dengan ucapan rekannya itu lalu ia berjalan memasuki lift dan menekan angka 10.
Ting!
Pintu lift terbuka.
Tok Tok!
"Masuk." suara Devian dari dalam ruangan.
"Bapak memanggil saya?" tanya Carissa.
Devian mengangguk dan mempersilahkan Carissa untuk duduk.
Didalam ruangan itu juga ada Alex. Alex menatap heran pada dua insan itu, namun ia segera kembali fokus meniliti data keuangan yang ada di laptopnya.
"Ada tugas baru buat kamu. Melihat riwayat pendidikan dan pengalamanmu di dunia fashion, saya akan memberimu kesempatan untuk bekerja di bagian produksi. Jadi kamu bisa jadi designer sekaligus mengontrol kualitas bahan mentah dan produk yang sudah jadi. Kamu juga bisa saja jadi model iklan untuk produk yang akan kami launching bulan depan." jelas Devian pada Carissa.
"Kalau kamu setuju, tandatangani kontrak ini. Disini juga tertulis kewajiban membayar pinalti jika kamu melanggar isi kontrak."
Carissa membaca kontrak dengan perlahan dan teliti. Lalu Carissa mengambil pena dan menggoreskan tinta hitam diatas materai yang ada didalam kontrak.
"Satu lagi, selama kamu bekerja disini wajib membuatkan kopi atau apapun untukku setiap hari." imbuh Devian dengan nada gugup dan penuh harap.
Carissa menatap Devian dan mencerna kata-kata pria yang duduk dihadapannya itu.
Uhuk!
Alex terbatuk mendengar ucapan Devian.
"Sejak kapan designer kita juga melakukan pekerjaan office girl?" celetuk Alex begitu saja.
Devian melemparkan tissue ke arah Alex dan melemparkan tatapan membunuh. Alex hanya membalas dengan menjulurkan lidahnya kepada Devian.
"Baiklah." jawab Carissa untuk meredakan permusuhan diantara dua lelaki yang berada dalam satu ruangan bersamanya.
"Kamu bisa membuatnya diruang pantry dalam ruangan ini saja." ucap Devian lagi.
Alex yang mendengar itu, seketika mengernyitkan dahinya.
"Sejak kapan Devian memperbolehkan orang lain menggunakan ruang pantrynya? Apalagi seorang wanita?" tanya Alex dalam hati.
Lalu tanpa sengaja ia mendapati Devian yang terus menatap Carissa. Alex yang menyadari itu langsung tersenyum.
__ADS_1
"Akhirnya si kutub menemukan matahari yang bisa melelehkan kebekuan hatinya." batin Alex senang dengan perubahan sahabatnya itu.
-BERSAMBUNG