
Beberapa bulan berlalu, perut Carissa semakin membesar. Tak terasa hari persalinan sudah dekat. Segala persiapan sudah dilakukan untuk menyambut kelahiran sang buah hati.
Tak terlewat kedua orangtua Devian dan Carissa juga sudah heboh untuk menyambut sang cucu. Sejak usia kandungan Carissa memasuki 7 bulan, Tamara dan Allisa bergantian menginap dirumah untuk gantian berjaga-jaga. Maklum saja keduanya sangat antusias dengan cucu pertama.
"Sayang, kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Devian khawatir.
Menjelang kelahiran si buah hati, Devian sengaja cuti sejak satu bulan yang lalu. Devian ingin menjadi suami dan calon ayah siaga. Hal itu juga tidak luput dari permintaan sang ayah, Adhitama. Terlebih kehamilan tua sangat rentan. Devian harus memberikan perhatian dan dukungan ekstra untuk sang istri tercinta.
"Perutku mulas sekali, Sayang." jawab Carissa merintih.
"Apa jangan-jangan itu yang dinamakan kontraksi?" tebak Devian.
"Entahlah, aku juga tidak tahu." sahut Carissa tak tahan.
"Kita kerumah sakit sekarang." ajak Devian bergegas menggendong istrinya.
"Loh mau kemana? Kenapa kalian terlihat sangat panik?" tanya Allisa yang kebetulan berada diruang tamu.
"Perut Rissa mulas, Ma. Aku mau mengajaknya kerumah sakit." jawab Devian.
"Sudah berapa kali, Nak? Apakah durasinya semakin cepat?" tanya Allisa.
"Entah Ma. Tapi ini semakin sering sakitnya." jawab Carissa asal karena sudah tidak bisa menahan lagi.
"Itu pasti kontraksi. Cepat kau bawa istrimu kerumah sakit. Nanti Mama dan Bunda akan menyusul membawa perlengkapan kalian." titah Allisa.
"Tasnya sudah siap dilemari bagian bawah, Ma." ucap Devian yang diangguki oleh Allisa.
"Sayang, yang kuat ya. Nak sabar dulu, tahan sebentar lagi. Ayah akan membawamu dan ibumu kerumah sakit." ucap Devian dengan mengecup perut buncit istrinya.
"Sayang cepat, rasanya sakit sekali." kata Carissa yang wajahnya sudah berkeringat.
Carissa menggenggam tangan Devian erat seolah menyalurkan rasa sakitnya.
"Oke oke. Ayo Pak, jalan." titah Devian.
Mobil segera dikemudikan oleh Pak Agung menuju rumah sakit bersalin. Atas permintaan Allisa yang tidak memperbolehkan Devian mengendarai mobil sendiri. Allisa tahu jika putrinya membutuhkan support dari suaminya.
15 menit berlalu, dengan cepat Devian menggendong Carissa memasuki rumah sakit.
Sudah terlihat para perawat dan seorang dokter wanita menyambut kedatangan mereka.
"Dok, cepat istriku mau melahirkan." ucap Devian panik.
"Kita ke ruang bersalin sekarang." sahut Mira.
Dengan sigap Devian mengikuti perawat yang mendorong ranjang Carissa. Genggaman tangan keduanya tak terlepaskan karena saling menguatkan.
"Baru bukaan 4, kita harus menunggunya." ucap Mira.
"Berapa lama lagi, Dok? Istriku sudah sangat kesakitan. Aku tidak tega melihatnya." kata Devian khawatir.
"Tuan tenang saja. Ini proses yang wajar menjelang persalinan. Tuan terus semangati istrinya ya." ucap Mira kemudian meninggalkan ruangan.
"Sayang, tahan ya. Kau bisa melampiaskan rasa sakitmu kepadaku." ucap Devian lembut.
"Dev, sakit sekali." rintih Carissa.
"Kalau tahu menyakitkan seperti ini, aku tidak akan menghamilimu." kata Devian yang langsung mendapat pukulan dari Carissa.
__ADS_1
"Jangan sembarang bicara, Dev! Anakmu ini pasti sedih mendengarnya. Kita sudah sepakat untuk bersama merawatnya. Tidak masalah kalaupun aku harus sakit seperti ini, asal anak kita lahir dengan selamat." tegur Carissa sekaligus menasehati suaminya.
"Kau benar-benar wanita tangguh, Sayang. Aku semakin mencintaimu." ucap Devian bersyukur.
"Nak, kau dengar sendiri ucapan ibumu kan? Kami sudah sangat menantimu. Lahirlah dengan mudah agar ibumu tidak kesakitan, oke?" bisik Devian diperut Carissa.
Carissa tersenyum, disaat kesakitan melihat Devian yang penuh perhatian dan bertanggungjawab memberinya kekuatan.
"Aarrggghh!" erang Carissa saat merasakan sakit yang luar biasa.
Kali ini bukan hanya perut tapi seluruh tubuh rasanya ingin remuk.
"Sayang tahan ya." ucap Devian lembut dengan menekan tombol darurat.
Tak berselang lama, Mira berjalan dengan tergesa menghampiri mereka.
"Wah, ini sudah saatnya. Tuan berikan semangat untuk istrinya. Nona bisa mengejan sekarang." kata Mira yang sudah siap melakukan tugasnya.
"Tarik nafas, 1 2 3." ucap Mira memberi aba-aba.
Dengan sekuat tenaga Carissa mengejan dengan nafas yang terputus-putus.
"Sayang ayo kamu bisa." ucap Devian.
Devian menggenggam tangan Carissa erat dan sesekali mengusap bulir keringat dipelipis istrinya.
"Ayo sebentar lagi Nona. Sekali lagi." kata Mira memberikan instruksi.
Carrissa menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menggengam tangan Devian semakin kuat. Tanpa sadar kukunya menembus daging Devian karena hebatnya rasa sakit yang ia derita.
"Aaaarrrrgggh!!!" teriak Carissa disambut suara tangis bayi yang baru saja keluar dari rahimnya.
"Selamat, putra kalian telah lahir." ucap Mira membuat Devian dan Carissa lega.
"Terimakasih sayang sudah berjuang untuk anak kita. Aku mencintaimu." ucap Devian mengecup kening Carissa cukup lama.
Carissa hanya tersenyum menanggapinya karena tubuhnya sudah sangat lemas. Tenaga Carissa sudah terkuras habis demi sang buah hati.
Setelah Carissa dan sikecil dibersihkan, kini Devian sudah tak sabar untuk menggendong si bayi mungil.
"Dia tampan sekali seperti aku." ucap Devian percaya diri.
"Sudah menjadi ayah saja narsismu tetap saja tidak hilang." cibir Carissa yang sudah mulai pulih.
"Hehe.. Terimakasih sayang. Aku mencintaimu." ucap Devian mengecup kening Carissa kemudian si buah hati.
"Selamat datang kedunia Cavin Mahendra." kata Devian.
"Apa itu nama yang sudah kau siapkan untuk anak kita?" tanya Carissa.
"Iya, bagaimana bagus tidak? Atau kau mau mengubahnya?" tanya Devian menawarkan.
"Tidak. Aku setuju dengan namanya." sahut Carissa membuat Devian tersenyum senang.
...****************...
Tak berbeda dengan kehidupan Alex dan Aninda yang juga sedang menanti kehadiran sang buah hati.
"Ternyata anak Devian laki-laki. Sepertinya anak kita tidak bisa bersaing dengannya." ucap Alex yang sudah mengetahui jenis kelamin calon anaknya adalah perempuan.
__ADS_1
"Apa yang kau bicarakan Sayang? Kau pikir anak kita ini apa? Belum lahir sudah kau minta untuk bersaing." protes Aninda tak terima.
"Kalau tidak bisa bersaing kita jodohkan mereka saja sejak dini." ucap Alex konyol.
"Itu lebih baik. Tapi kau yakin bisa membujuk calon besanmu itu?" tanya Aninda.
"Yah, aku tidak perlu membujuknya. Kedepannya aku akan mengajari putriku bagaimana membuat anak Devian itu tergila-gila." jawab Alex percaya diri.
"Terserah kau saja." sahut Aninda sembari menggeleng-gelengkan kepalanya akibat pemikiran aneh suaminya.
Drt Drt
Ponsel Aninda berdering. Melihat panggilan video grup membuat Aninda tersenyum senang.
"Hei, bumil apa kabarmu?" tanya Saras.
"Aku baik. Bagaimana denganmu?" tanya Aninda.
"Aku juga baik." jawab Saras.
"Eh, mana keponakan gantengku? Sudah bisa apa sekarang?" tanya Aninda antusias.
"Beberapa hari ini aku kewalahan mengurusnya. Dia mengajakku begadang." jawab Carissa sembari menunjukkan tingkah Cavin yang sedang mengomel.
"Lucu sekali. Aunty jadi ingin menemuimu lagi." sahut Aninda gemas.
"Ah pasti menyenangkan ya ada sikecil dirumah. Ninda juga sebentar lagi akan menyusul." ucap Saras.
"Nikmati saja dulu waktumu berduaan dengan Dewa." sahut Aninda.
"Tentu saja. Saras sangat menikmatinya, mereka saja sudah tiga kali berbulan madu." seloroh Carissa.
"What?! Seriously? Gila! Kau membuatku iri, Ras." pekik Aninda tak percaya.
"Haha kau pasti kaget kan? Sepertinya setiap bulan mereka akan rutin honeymoon." kata Carissa terkekeh.
"Hei kenapa kalian malah mengolokku? Aku hanya mengikuti kemauan Dewa." protes Saras.
"Yakin hanya suamimu yang mau? Kau pasti juga sangat menikmatinya bukan?" goda Aninda.
"Hentikan, Nin." seru Saras malu.
"Hahaha kau ini. Jangan malu-malu, kita semua sudah mengalaminya. Kau habiskan saja waktumu berduaan dengan Dewa, puas-puaskan itu." kata Aninda.
"Iya, Ras. Nanti kalau sudah ada sikecil begini waktu bermesraan kalian akan berkurang." tambah Carissa.
"Baiklah, baiklah. Setelah pulang ayo kita berkumpul dirumah Rissa. Aku sudah sangat merindukan kalian." ucap Saras yang langsung disepakati oleh Carissa dan juga Aninda.
......................
...TAMAT...
...****************...
Terimakasih Readers yang sudah mengikuti Gejolak Cinta Tuan dan Nona Muda sampai diakhir cerita.
Maaf jika ada kekurangan dalam karangan dan penulisan, semua ini semata-mata untuk menghibur para Readers 🤗
Silahkan tinggalkan komentar dan juga masukan agar Minthor semakin bersemangat untuk novel selanjutnya.
__ADS_1
Sampai jumpa dicerita yang lain ya.
Terimakasih 🖤🖤🖤