
Matahari sudah menunjukkan sinarnya. Cahaya yang memasuki ruangan melalui celah tirai jendela mulai mengusik Devian.
"Kamu pasti sangat lelah, Sayang." ucap Devian yang menatap Carissa masih tertidur pulas lalu mengecupnya lembut.
Devian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
15 menit kemudian ia sudah berganti pakaian santai. Kaos oblong warna hitam dan celana pendek warna khaki. Devian memesan makanan kepada petugas hotel untuk diantarkan ke kamar.
"Sayang, bangun." bisik Devian lembut lalu merapikan rambut Carissa yang menutupi sebagian wajahnya.
Carissa hanya menggeliatkan tubuh enggan membuka matanya. Carissa merasa badannya sangat remuk.
"Sayang ayo bangun. Mandi lalu sarapan." ucap Devian lagi sembari mengecupi wajah Carissa.
"Badanku sakit semua, Dev. Aku sangat lelah." ucap Carissa yang mulai terusik dengan tingkah Devian.
"Mandi dulu biar badanmu segar. Aku siapkan air hangat ya." ucap Devian kemudian menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat dalam bathup.
Carissa masih tak beranjak dari kasur, belum membuka matanya. Terpaksa Devian menggendong tubuh Carissa lalu membantunya membersihkan diri. Carissa sesekali menguap, mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat namun tak berhasil. Devian hanya tersenyum melihat wajah Carissa yang benar-benar kelelahan.
"Hebat juga. Sepertinya diriku telah menghisap seluruh tenaganya." batin Devian terkekeh geli.
15 menit kemudian, Devian sudah selesai memandikan Carissa kemudian memasang pakaian pada tubuh istrinya itu. Pagi ini Carissa seperti bayi yang diurus Devian.
Ting Tong
"Room service." terdengar suara pria dari luar kamar.
Devian segera membuka pintu dan membiarkan pelayan menata hidangan di meja ruang tamu yang ada di dalam kamar mewah yang ia tempati bersama Carissa. Setelah mengantar makanan pelayan itu pun pergi dengan menerima sejumlah tips dari Devian.
Devian menghampiri Carissa yang kembali meringkuk diatas kasur. Devian mengambil sisir lalu mendudukkan Carissa dan menyisir rambut panjang Carissa dengan lembut.
"Ayo kita makan." ajak Devian.
"Nanti saja, Dev. Aku masih mengantuk." tolak Carissa malas.
"Kau harus mengisi tenagamu, Sayang. Atau kau mau aku menyantapmu lagi pagi ini?" goda Devian jurus terakhir untuk membangunkan Carissa.
Carissa seketika membuka matanya lalu beranjak dari tidurnya membuat Devian tertawa kecil.
"Ssshhhh.." desis Carissa merasakan sakit saat hendak melangkah.
"Kenapa, Sayang?" tanya Devian panik yang langsung menangkap tubuh Carissa yang sedikit oleng.
"Ini semua ulahmu, Dev. Kau sangat ganas." gerutu Carissa kesal.
Devian hanya terkekeh mendengar ocehan Carissa.
"Aku akan menggendongmu." ucap Devian yang langsung mengangkat tubuh Carissa menuju ruang tamu. Devian menurunkan tubuh Carissa lalu membantunya duduk dengan hati-hati.
"Mau aku suapi?" tanya Devian yang dibalas anggukan kepala Carissa.
__ADS_1
"Buka mulutmu." ucap Devian dengan telaten menyendokkan makanan ke dalam mulut Carissa dan bergantian ke mulutnya.
"Sudah kenyang, Sayang?" tanya Devian saat makanan yang ada dipiring habis tanpa sisa.
Carissa menganggukkan kepalanya.
"Aku merasa lebih bertenaga sekarang." ucap Carissa yang sudah bangun sepenuhnya.
"Bagus, Sayang. Karena nanti malam kau harus punya tenaga lebih." bisik Devian menggoda yang membuat Carissa bergidik ngeri.
"Apa kau belum puas sudah membuatku seperti ini, Dev?" tanya Carissa yang tak habis pikir dengan stamina suaminya.
"Aku rasa aku takkan pernah puas menikmati tubuh indahmu ini, Sayang." jawab Devian yang mendekatkan bibirnya untuk mencium leher Carissa.
"Kau kejam, Dev!" umpat Carissa kesal namun hanya dibalas tawa kecil Devian.
"Sepertinya aku sudah menikahi seorang hiper seksual." umpat Carissa yang memancing gelak tawa Devian.
"Teganya kau menuduh suamimu, Sayang." ucap Devian sambil memeluk manja tubuh Carissa.
"Memang kenyataan. Aku sudah seperti ini tapi kau masih sangat bugar." protes Carissa memukul pelan dada Devian.
"Hem...sepertinya kau harus sering berolahraga untuk mengimbangi fisik prima suamimu ini." ucap Devian lalu mengecup kening Carissa lembut.
"Terimakasih, Sayang untuk malam pertama yang memuaskan." ucap Devian lalu ******* bibir Carissa cukup lama.
"Sudah hentikan, Dev. Nanti kau kebablasan." Carissa mendorong tubuh Devian pelan yang membuat pagutan mereka terlepas.
"Aku memang berharap seperti itu." ucap Devian menyeringai.
"Aku tidak akan menyakitimu, Sayang." ucap Devian lembut lalu menghujani wajah Carissa dengan ciuman.
"Hari ini mau kemana, Sayang?" tanya Devian menatap lembut wajah istrinya.
"Sepertinya aku ingin tidur saja mengembalikan tenagaku yang sudah kau kuras habis." jawab Carissa membuat Devian tertawa.
"Apakah aku sekuat itu, Sayang? Sampai kau lemas seperti ini?" tanya Devian tak berdosa yang membuat Carissa kesal.
"Kau menyebalkan, Dev." umpat Carissa meninggalkan Devian dengan cara berjalan yang aneh.
Carissa segera menuju kasur dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Sayang jangan marah." rayu Devian yang menyusul Carissa ke kasur.
Tak ada jawaban. Devian pun ikut masuk kedalam selimut lalu memeluk tubuh Carissa memunggunginya.
Devian membelai lembut punggung Carissa dan berulang kali mengecup tengkuk Carissa.
"Dev, biarkan aku tidur." ucap Carissa pelan yang merasa terusik dengan perlakuan Devian.
"Baiklah. Selamat memulihkan tenaga istriku ." ucap Devian lalu menelusupkan kepalanya ke tengkuk Carissa. Tak lama kemudian pengantin baru itu kembali terlelap.
__ADS_1
*
*
*
MF Group.
Saras sedang sibuk dengan pekerjaannya di layar laptop. Ia harus selalu aktif di media sosial untuk mempromosikan produk-produk perusahaannya.
Beberapa jam dia fokus bekerja membuatnya sangat lapar tepat di waktu istirahat makan siang.
Saras mematikan laptopnya lalu membawa tas selempangnya untuk menuju ke kantin.
Ting!
Pintu lift terbuka, Saras pun langsung masuk dan menekan lantai dasar. Saras sibuk memainkan ponselnya untuk memantau sosial media. Ketika lift terbuka ia pun melangkah keluar dan tanpa sengaja menabrak tubuh seseorang. Dengan sigap tubuh Saras ditopang oleh tangan kekar.
"Pak Dewa?" Saras terkejut kemudian segera melepaskan diri dari tangan Dewa.
"Apakah kamu jalan tidak bisa pakai mata?" tanya Dewa ketus.
"Kalau jalan ya pakai kaki, Pak." jawab Saras enteng.
Dewa memelototkan matanya namun Saras masih asyik dengan ponselnya. Dewa semakin kesal dan merebut ponsel Saras.
"Pak, ponselku!" teriak Saras kaget.
"Makanya kalau jalan jangan main ponsel." ucap Dewa dingin.
"Maaf, Pak." ucap Saras takut tak berani menatap wajah garang Dewa.
"Hanya itu?" suara Dewa semakin dingin membuat bulu kuduk Saras seketika berdiri.
"Kalau aku tidak menangkapmu sepertinya kepalamu itu akan terbentur lantai. Mungkin saja kau jadi semakin bodoh." ucap Dewa dengan ekspresi datar.
"Sialan! Beraninya pria dingin ini mengatai aku bodoh. Menyebalkan!" umpat Saras namun hanya dalam hati.
"Te-terimakasih, Pak." ucap Saras memaksakan senyumnya kepada Dewa.
Dewa tak menjawab lalu masuk ke dalam lift untuk kembali ke ruangannya.
"Ah sial ponselku!" ucap Saras yang baru ingat ponselnya masih di tangan Dewa.
"Nanti saja aku ambil di ruangannya. Lebih aku mengisi perutku yang kelaparan ini." gumam Saras lalu segwra menuju kantin perusahaan.
"Lebih baik aku tak berurusan dengan pria menyeramkan itu." batin Saras dalam hati.
-BERSAMBUNG
*
__ADS_1
*
*