Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Kejutan dari Suami


__ADS_3

"Terimakasih malam ini mengingatkanku pada waktu kau menyatakan cintamu kepadaku, Dev. Tapi malam ini berbeda, kita sudah menjadi suami istri bahkan sebentar lagi kita akan menjadi orangtua. Sungguh waktu sangat cepat berlalu." ucap Carissa.


"Sebenarnya malam ini aku punya kejutan untukmu." bisik Devian.


"Kejutan? Apa lagi? Bukankah ini sudah cukup sebagai kejutan?" tanya Carissa penasaran.


"Kau akan mengetahuinya sebentar lagi." jawab Devian.


Carissa dan Devian kembali berdansa hingga musik terhenti barulah mereka ikut berhenti.


Cup!


"Malam yang indah untuk istri cantikku." ucap Devian mengecup kening Carissa dengan lembut.


Carissa tersenyum kemudian berhambur kedalam pelukan Devian. Carissa menelusupkan wajahnya ke dada bidang Devian cukup lama.


"Ayo duduk." ajak Devian yang diangguki Carissa.


"Bukalah." pinta Devian sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna merah berukuran sedang kepada Carissa.


"Apa lagi ini, Dev?" tanya Carissa terkejut.


"Bukalah. Semoga kau menyukainya." jawab Devian tersenyum.


Carissa menghela nafas kemudian membalas senyuman Devian. Carissa perlahan membuka kotak lalu matanya berbinar saat mendapati sebuah kalung yang sangat cantik. Kalung berlian putih dengan batu ruby berbentuk hati.


"Dev, kalung ini pasti sangat mahal bukan? Kau jangan membuang-buang uangmu." ucap Carissa sadar akan mewahnya kalung dan harganya yang pasti sangat fantastis.


"Sayang, untukmu aku tidak akan perhitungan. Apa kau menyukainya?" tanya Devian merangkul pinggang istrinya.


"Aku suka. Tapi aku tidak begitu tertarik dengan barang-barang mewah seperti ini. Lain kali kau lebih baik berinvestasi kepadaku saja, Dev." ucap Carissa jujur.


Devian terkekeh mendengar ucapan istrinya yang hanya memikiran bisnis. Devian tidak mempermasalahkannya, justru ia senang dengan keterbukaan istrinya.


"Baiklah, selanjutnya aku akan memberikan kejutan seperti yang kau inginkan." ucap Devian setuju.


"Sekarang biarkan aku membantu memakai kalungnya." kata Devian.


Carissa menganggukkan kepala kemudian memutar tubuhnya. Devian mengalungkannya dileher Carissa dan memasangkannya dengan hati-hati.


"Apakah ini cocok untukku?" tanya Carissa yang sudah kembali menghadap Devian.


"Kau sangat cantik, Sayang." puji Devian kemudian dengan cepat merengkuh tengkuk Carissa.


Devian ******* bibir Carissa dengan ganas. Entah kenapa hasrat Devian selalu saja menggebu saat bersama dengan Carissa. Seluruh bagian tubuh Carissa merupakan candu bagi Devian. Carissa mengikuti gerakan Devian dan menikmatinya. Keduanya baru melepaskan diri saat sudah mulai kehabisan nafas.

__ADS_1


"Sayang, setelah ini kita menginap dihotel yuk." ajak Devian setengah berbisik.


"Astaga, Dev. Tadi kan sudah." ucap Carissa yang tak habis pikir dengan nafsu suaminya.


"Tubuhmu itu sangat menggodaku, Sayang. Aku tidak bisa menahannya." kata Devian dengan memasang ekspresi menyedihkan agar Carissa menurutinya.


"Huh.. Aku tidak pernah bisa menolakmu." ucap Carissa yang akhirnya menyetujui ajakan suaminya.


"Sebenarnya masih ada kejutan lagi. Tapi aku akan memberimu dihotel saja." kata Devian sengaja membuat istrinya penasaran.


"Kejutan lagi? Apa itu?" tanya Carissa tidak sabar.


"Sabar, Sayang. Ayo ke hotel dulu. Aku sudah tidak bisa menahannya." ajak Devian.


"Dasar kau ini." ucap Carissa mengikuti Devian turun.


Devian dan Carissa sudah masuk kedalam mobil lalu keduanya mencari hotel terdekat. Setelah check in keduanya langsung masuk kedalam kamar hotel.


Setelah mengunci pintu Devian dengan cepat menarik Carissa dan ******* bibir ranum istrinya dengan brutal. Carissa yang sudah memahami tingginya nafsu Devian pun mengikuti permainan suaminya dengan sukarela. Ciuman yang berubah semakin panas dan penuh gairah membuat hasrat keduanya semakin membuncah. Devian mendorong tubuh istrinya hingga menempel ke dinding sambil terus memagut bibir Carissa dengan lihai. Carissa yang sudah hampir kehabisan nafas memukul dada Devian agar melepaskannya. Devian tersenyum kemudian mengecup kening istrinya. Keduanya mengatur nafas dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


"Sayang.. I love you." ucap Devian menatap Carissa penuh cinta.


"I love you too suamiku." balas Carissa.


Dengan lihai tangan Devian meraba punggung dan membuka resleting dress Carissa. Devian sengaja membukanya hanya setengah sehingga menampakkan dua buah gundukan milik Carissa. Dengan cepat Devian menciumi Carissa dari bibir, leher hingga ke bagian dada istrinya.


Carissa menekan kepala Devian untuk lebih memperdalam ciumannya. Tangan Devian dengan perlahan menurunkan dress Carissa hingga menyisakan kain yang membungkus dua buah kenyal dan kain segitiga dibagian bawah berwarna putih.


Malam itu, Devian dan Carissa kembali bergulat dalam permainan panas hingga keduanya saling menuntaskan hasrat masing-masing.


*


*


*


"Saras bisakah kita bicara berdua?" tanya Dewa.


Saras menatap penuh selidik, tidak bisa dipungkiri setelah hari-hari berlalu hubungan keduanya memang menjadi semakin dekat.


"Silahkan." jawab Saras santai.


"Bagaimana kalau kita makan malam bersama?" tanya Dewa menawarkan.


"Boleh. Bukannya kita sudah biasa makan bersama?" tanya Saras polos.

__ADS_1


"Iya aku tahu. Tapi kali ini aku ingin makan malam yang berbeda bersamamu." jawab Dewa yang terus berusaha menghilangkan kegugupannya.


Saras tersenyum tipis.


"Baiklah." ucap Saras.


"Kau setuju begitu saja?" tanya Dewa tak percaya.


"Lalu? Apa aku harus menolakmu?" tanya Saras membuat Dewa gelagapan.


"Tidak. Jangan. Baiklah besok malam aku akan menjemputmu. Oh iya besok pagi akan ada orang yang mengantarkan gaun kerumahmu, aku harap kau akan memakainya untuk makan malam besok." kata Dewa memberitahu membuat Saras melongo.


"Saras, kau baik-baik saja?" tanya Dewa yang melihat Saras hanya terdiam.


"Ah... Iya, baiklah. Kalau begitu sampai jumpa besok." ucap Saras yang masih kebingungan.


"Untuk apa dia menyiapkan gaun untukku? Jangan-jangan... Ah tidak mungkin." gumam Saras dalam hati.


"Aku akan mengantarmu." kata Dewa menawarkan.


"Ehm.. Oke." sahut Saras.


Kebetulan keduanya mendapatkan kerja lembur dan waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dewa memilih untuk sekalian mengantarkan Saras. Bagaimanapun Dewa khawatir jika kejadian buruk kembali menimpa gadis yang sudah mulai memiliki tempat khusus didalam hatinya.


"Bagaimana pekerjaanmu? Apakah melelahkan?" tanya Dewa, kali ini keduanya sudah berada didalam mobil.


"Begitulah. Tapi mau bagaimana lagi, terkadang sedikit membosankan tapi harus tetap menyelesaikannya." jawab Saras.


"Kau benar." sahut Dewa setuju.


Tidak ada lagi obrolan diantara keduanya, Saras dan Dewa sudah sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Kenapa perasaanku mendadak tak karuan saat Dewa tiba-tiba mengajakku makan malam ya? Biasanya juga tidak begini." tanya Saras dalam hati.


"Aduh.. Besok bagaimana aku memulai pembicaraan dengan Saras? Kenapa aku jadi gugup begini." gumam Dewa.


"Apakah Dewa ingin menyatakan perasaanya padaku? Tapi mana mungkin dia jatuh cinta padaku? Mimpi saja kau, Ras." batin Saras mencoba menepis segala pikiran aneh yang muncul di otaknya.


"Apakah ini tidak terlalu cepat? Bagaimana kalau ternyata aku yang merasakannya sendiri." batin Dewa.


"Ah sial!" ucap Saras dan Dewa serempak.


Keduanya saling berpandangan, kemudian saling membuang muka. Saras memilih menoleh ke jendela mobil sedangkan Dewa kembali fokus dengan jalanan didepannya.


"Apa yang sedang kupikirkan?" tanya Saras dan Dewa didalam hati.

__ADS_1


-BERSAMBUNG.


__ADS_2