
"Apa ini Dev?" tanya Carissa bingung.
"Kau buka saja." pinta Devian dengan tersenyum lembut.
"Hmm.." sahut Carissa.
Carissa membuka sebuah amplop yang diberikan Devian. Mata Carissa memicing saat mendapati dua lembar tiket didalamnya. Dengan teliti Carissa membaca tiket penerbangan yang membuatnya terkejut.
"Ini serius?" tanya Carissa tak percaya.
Devian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tapi bukannya perjalanan kesana butuh biaya yang tidak murah? Lalu kita berangkat 1 minggu lagi, kau yakin? Kapan kau menyiapkan ini, Dev?" tanya Carissa penasaran.
Devian terkekeh melihat ekspresi Carissa yang menggemaskan. Devian mengecup kening istrinya cukup lama.
"Aku sudah memikirkannya sejak lama. Tapi maaf baru sekarang aku bisa mengajakmu bulan madu disaat dirimu sudah mengandung." ucap Devian merasa bersalah.
Carissa tersenyum lalu memeluk Devian erat.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Kau tidak melakukan kesalahan sama sekali." ucap Carissa.
"Selama ini bukankah kita sudah sering bulan madu dirumah? Malam ini juga bisa dihitung sebagai kegiatan bulan madu." kata Carissa lagi membuat keduanya terkekeh bersamaan.
Devian memeluk erat Carissa dan membelai lembut punggung istrinya.
"Tunggu dulu, Dev." ucap Carissa yang tiba-tiba melepaskan pelukannya membuat Devian kaget.
"Ada apa, Sayang?" tanya Devian bingung.
"Kenapa kau memilih tempat ini? Lalu darimana kau tahu tempat ini?" tanya Carissa serius.
"Memangnya kenapa? Kau tidak suka? Kalau begitu aku akan menggantinya. Katakan saja tempat mana yang kamu inginkan." kata Devian panik.
Carissa malah tertawa kecil yang membuat Devian kebingungan.
"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang salah dari perkataanku?" tanya Devian heran.
"Tidak tidak. Lucu saja melihat wajahmu yang panik itu, Dev. Aku hanya penasaran saja kenapa kau memilih tempat ini sebagai tujuan bulan madu kita. Tempat ini memang bagus tapi jarang orang-orang memilihnya." jawab Carissa.
"Ehm.. Aku mencari rekomendasi tempat bulan madu dari internet. Banyak sih tempat yang lebih bagus, tapi kurang privat. Aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua denganmu tanpa diganggu orang lain." kata Devian dengan tatapan lembut.
"Tapi kalau kau tidak cocok, aku akan menggantinya. Apa kau punya tujuan tempat lain yang ingin kau kunjungi? Apa kau ingin ke luar negeri?" tanya Devian menawarkan.
Carissa menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Aku menyukai pilihanmu." jawab Carissa.
"Lalu berapa hari kita akan pergi?" tanya Carissa antusias.
__ADS_1
"2 minggu." jawab Devian mantap.
"Hah? Kau serius Dev?" tanya Carissa tak percaya.
"Iya. Aku rasa itu waktu yang sangat singkat untuk kita bulan madu. Apa kau ingin lebih lama lagi?" tanya Devian.
"2 minggu itu sudah sangat cukup, Dev. Lagipula bagaimana dengan perusahaan jika kau meninggalkannya terlalu lama?" tanya Carissa khawatir.
"Tenang saja. Ada Alex dan juga Ayahku pasti akan menjaga perusahaan dengan baik. Kau tahu orangtuaku sangat cerewet dan akan memarahiku terus-terusan kalau tidak segera mengajakmu bulan madu. Ayahku pasti akan senang mendengarnya." jawab Devian.
"Baiklah, aku setuju." sahut Carissa.
"Kau tidak khawatir dengan butikmu? Aku kira kau akan menolak ajakanku karena butik yang baru saja berkembang." tanya Devian memastikan.
Carissa tersenyum kemudian menelusupkan kepalanya ke dada bidang Devian.
"Kau sudah menyiapkan bulan madu ini, bahkan kau juga sudah berkorban demi waktu kita berdua. Butikku sudah ada Mbak Marni yang bisa kupercaya. Aku memang ingin mengembangkan butikku menjadi besar dan terkenal tapi aku tidak mau kehilangan waktu bersamamu. Terlebih lagi beberapa bulan lagi akan ada tambahan anggota baru dikeluarga kecil kita. Jadi ayo kita bulan madu, sepuasnya kita habiskan waktu hanya ada kita berdua. " jawab Carissa bersemangat.
Devian tersenyum senang kemudian mengangkat wajah Carissa lalu mengecupinya hingga istrinya kewalahan.
"Dev, kau ini." gerutu Carissa.
"Kau menggemaskan sekali, Istriku. Aku mencintaimu." ucap Devian mendekat Carissa erat.
"Aku juga mencintaimu, suamiku." sahut Carissa kemudian mengecup pipi Devian.
"Sayang.. Kau membangunkanku lagi." bisik Devian lirih.
Devian terkekeh kemudian mencium kening istrinya dengan lembut.
"Aku akan menahannya malam ini. Tapi saat kita bulan madu jangan harap aku bisa mengampunimu. Setiap malam aku akan membuatmu tidak sanggup untuk berjalan." ucap Devian dengan seringai nakal.
"Astaga, kau gila Dev! Itu sama saja kau menyiksaku." gerutu Carissa memasang wajah cemberut.
"Aku akan melakukannya dengan lembut dan menggendongmu kemanapun kau mau." kata Devian percaya diri.
"Terserah kau saja." kata Carissa yang tak bisa lagi meladeni kebuasan suaminya.
Devian tersenyum kemudian memeluk Carissa cukup lama dan membelai lembut rambut panjang istrinya.
"Terimakasih, Rissa. Sudah mau menerimaku. Aku benar-benar mencintaimu." bisik Devian membuat Carissa terharu.
"Kau menangis? Apakah aku memelukmu terlalu erat?Maaf aku menyakitimu." tanya Devian panik saat merasakan dadanya basah dan mendengar isak tangis Carissa.
"Kenapa kau malah tersenyum?" tanya Devian bingung.
Carissa menghapus airmatanya, kemudian menangkup wajah tampan Devian dengan kedua tangannya.
Kedua manik mata mereka saling bertemu.
__ADS_1
"Aku menangis karena haru, Dev. Aku tidak menyangka pria yang awalnya sangat menyebalkan ternyata bisa memiliki sisi yang sangat romantis. Aku bersyukur karena mendapatkan cintamu, Dev. Aku bahagia bersamamu." kata Carissa jujur.
Devian tertegun mendengar perkataan istrinya. Dengan cepat Devian memeluk Carissa kemudian memberikan ciuman dipuncak kepala istrinya.
"Aku yang lebih bersyukur karena kau mau menerimaku, Sayang. Aku tidak tahu jika bukan dirimu, mungkin aku tidak akan sebahagia ini. Terimakasih karena kau mau bersabar dengan keegoisanku, kebodohanku, dan ketidakpekaanku. Aku harap kau selalu menjaga hatimu untukku. Aku akan melakukan yang terbaik demi rumahtangga kita." ucap Devian membuat Carissa tersentuh.
"Terimakasih, Dev. Aku bahagia bersamamu." sahut Carissa.
Kedua sejoli itu saling berpelukkan untuk mencurahkan perasaan masing-masing.
*
*
*
"Sial, kenapa pria itu memilihkan gaun seperti ini sih? Apa maksudnya?" gerutu Saras.
Saras mencoba gaun pemberian Dewa yaitu gaun hitam sepanjang lutut dengan potongan v-neck tanpa lengan. Aksen yang simple nan elegan membuat Saras terlihat cantik dan memiliki kesan seksi.
"Aku malu jika harus bertemu dengannya seperti ini. Pasti dia akan mengira aku macam-macam." gumam Saras panik sendiri.
Tin Tin
Suara klakson mobil terdengar, Dewa sudah tiba dirumah Saras.
"Begini sajalah. Terasa lebih baik." ucap Saras meraih sebuah cardigan abu-abu.
Jantung Saras tiba-tiba berdegup kencang saat hendak keluar dari rumah.
"Sial, kenapa aku jadi gugup begini sih." gumam Saras kesal.
Mata Saras memicing saat mendapati Dewa berdiri dipintu mobil dengan setelan jaz berwarna senada dengan gaunnya.
"Dia terlihat tampan juga." batin Saras.
"Ehm." Saras berdehem membuat Dewa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
Dewa tertegun melihat penampilan cantik Saras. Malam ini Saras terlihat sempurna dimata Dewa.
"Pak Dewa?" panggil Saras saat mendapati Dewa tidak meresponnya.
"Ah iya.. Ayo berangkat." ucap Dewa kikuk.
"Sial, aku sudah terhipnotis dengan wanita ini." batin Dewa bergegas membukakan pintu mobil untuk Saras.
Mobil Dewa melaju menuju sebuah resto yang telah ia pesan. Tidak ada percakapan diantara keduanya, hanya suasana hening dalam perjalanan.
Dewa dan Saras fokus dengan jalanan dan pikirannya masing-masing.
__ADS_1
-BERSAMBUNG