Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Kejutan


__ADS_3

Drt Drt


Ponsel Devian bergetar, ia segera membuka sebuah pesan yang masuk dan membacanya. Seketika membuatnya menyunggingkan senyum di bibirnya.


Aku juga sangat merindukanmu, Sayang.


Balas Devian cepat namun pesan itu hanya ceklis satu.


Devian menghembuskan nafas kasar lalu meletakkan ponselnya diatas kasur. Devian menuju balkon kamar untuk menghirup udara malam dan menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang.


"Mungkin Rissa sedang sibuk dengan tugasnya. Setidaknya dia selalu merindukanku." gumam Devian dalam hati.


Tiba-tiba Devian teringat sesuatu, dengan secepat kilat ia keluar kamar. Devian bergegas menuju ruang kerja ayahnya untuk membahas hal yang sangat penting.


Tok Tok


Ketuk Devian pelan pada pintu ruang kerja Ayah Adhitama.


"Masuklah, Dev." sahut Adhitama dari dalam ruangan.


Devian membuka pintu perlahan lalu masuk menghampiri ayahnya yang sedang sibuk dihadapan layar laptop.


"Apakah Dev mengganggu Ayah?" tanya Devian hati-hati.


Adhitama mendongakkan kepalanya lalu menatap wajah putra semata wayangnya.


"Tidak. Duduklah, Nak. Ada masalah apa?" tanya Adhitama mencoba membaca raut wajah Devian.


Devian menarik kursi dan duduk dihadapan Adhitama.


"Ayah, Devian ingin segera menikah dengan Carissa." jawab Devian setelah mengatur nafasnya.


Adhitama mengernyitkan dahinya, ia sudah tau tentang rencana Devian namun mencoba untuk berpura-pura tidak tau.


"Kamu yakin?" tanya Adhitama memastikan.


Devian menganggukkan kepalanya cepat.


"Kenapa terburu-buru?" tanya Adhitama lagi mencoba mencari tau apa yang ada dalam pikiran putranya.


"Dev tidak tahan harus berjauhan dengan Rissa, Yah. Ini sangat menyiksa. Makanya Dev ingin segera menikah dengan Rissa. Dev ingin membuat Rissa selalu berada disamping Dev." jawab Devian mantap.


Adhitama terkekeh mendengar jawaban putranya yang terkesan sangat posesif.


"Nak, menikah itu bukan berarti membuat kalian akan selalu berdampingan. Jika kamu mengekang Rissa apakah dia nanti tidak keberatan? Lagipula Rissa pasti punya impian yang ingin dia wujudkan." ucap Adhitama memberi pengertian Devian.


"Tapi Yah, kan seorang istri harus menurut dengan suami. Jika aku tidak mengizinkan Rissa berarti dia harus mengikutinya bukan?" tanya Devian lagi.


Adhitama menghela nafas pelan lalu menatap serius wajah Devian.


"Nak, dengerin Ayah. Memang benar seorang istri harus mengikuti kata suami. Tapi bukan berarti istri tidak boleh mewujudkan impiannya kan? Jangan menjadi suami yang zholim. Tugas suami istri adalah saling menjaga, mendukung dan saling menghormati keputusan masing-masing agar tercipta hubungan yang harmonis. Kelak jangan bosan untuk selalu berunding dengan istrimu dalam mengambil setiap keputusan. Jangan memaksakan kehendak yang akan membuatmu menyakiti istrimu, Nak." Adhitama menepuk pelan pundak Devian, ia sangat berharap putranya bisa menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab.


Devian terdiam lalu mencoba merenungkan setiap perkataan ayahnya.


"Ayah benar. Dev terlalu egois." ucap Devian yang disambut senyuman hangat Adhitama.


"Untuk masalah pernikahanmu dengan Rissa bukankah semuanya sudah siap? Hanya tinggal menunggu Rissa pulang kan?" tanya Adhitama yang memang sudah mempersiapkan acara pernikahan putranya.


"Ya Ayah. Semuanya sudah siap." Devian menjawab dengan penuh semangat.


"Ayah berharap kau bisa menjadi pria yang selalu bisa diandalkan oleh istrimu. Jadilah pria yang bertanggungjawab." pesan Adhitama penuh harap.


"Tentu Ayah. Dev akan mencintai Rissa sepenuh jiwa dan raga, Dev tidak akan pernah membiarkan Rissa terluka." sahut Devian mantap.


"Bagus. Ini baru anak Adhitama Mahendra." ucap Adhitama bangga lalu memeluk putra semata wayangnya itu.


"Terimakasih banyak Ayah." Devian membalas pelukkan hangat ayahnya.


"Aku akan selalu berusaha untuk membahagiakan calon istriku." ucap Devian dalam hati.


*


*

__ADS_1


*


Esok hari Devian sudah berada di perusahaan. Jam 09.00 Devian akan ada meeting dengan klien penting.


"Alex, kau sudah menyiapkan semua dokumen yang kita butuhkan di meeting kita kali ini?" tanya Devian memastikan.


"Tenang saja, Dev. Semua sudah siap." jawab Alex sembari menyerahkan dokumen yang Devian maksud.


"Bagus. Ayo kita segera menemui calon rekan bisnis besar kita." ucap Devian penuh semangat.


Devian bergegas menuju ruang meeting, disusul Alex yang berjalan dibelakangnya. Devian duduk sambil menyiapkan beberapa dokumen. Devian dan Alex sengaja masuk lebih awal agar bisa menyambut kliennya dengan baik.


10 menit kemudian ruang meeting terbuka. Masuk seorang pria muda yang mungkin seumuran Devian. Pria itu bertubuh tegap, tingginya sama dengan Devian. Kulitnya sawo matang, rambut hitam yang berjambul didepannya.


"Pagi, Pak Arya." sambut Devian yang berdiri diikuti Alex lalu mempersilahkan tamunya duduk.


"Jangan terlalu formal. Panggil saja aku Arya. Sepertinya kita seumuran." ucap Arya Dwitama sembari menjabat tangan Devian.


"Saya pikir itu kurang sopan, Pak." ucap Devian melemparkan tatapan penuh selidik.


"Jangan sungkan, Devian. Bukankah kita berharap kerjasama kita berjalan dengan baik? Ada baiknya hubungan kita bisa akrab seperti sahabat agar tidak ada kecanggungan." sahut Arya melemparkan senyum pada Devian.


Devian masih menatap Arya bingung.


"Baiklah, Arya. Seperti yang kau inginkan. Tapi aku berharap kita tetap profesional." ucap Devian mencoba menepis semua pikirannya tentang rekan bisnisnya itu.


"Tentu, Dev. Kau tak perlu meragukan kemampuanku." sahut Arya penuh keyakinan.


Hubungan kerjasama kedua pria muda itu telah disepakati. Tak lama kemudian Arya meninggalkan Devian setelah menandatangani surat perjanjian kerja.


"Aku harap kerjasama kita akan sangat menguntungkan." ucap Arya dengan senyum seringainya.


Devian hanya menganggukkan kepalanya lalu tersenyum tipis.


"Kenapa firasatku merasakan sesuatu yang buruk dengan rekan kerja kita kali ini?" tanya Alex pada Devian yang juga merasakan hal yang sama.


"Husss! Tutup mulutmu! Bagaimana kalau dia mendengarnya." sahut Devian menatap Alex nyalang.


"Sebaiknya kau selidiki dulu siapa Arya Dwitama. Memang dia rekan bisnis yang sangat menjanjikan. Namun jangan sampai kita kecolongan. Coba selidiki kehidupan pribadinya, keluarganya bahkan masalah yang sedang ia hadapi saat ini." perintah Devian pada Alex dengan berbisik.


"Siap, Bos!" sahut Alex cepat lalu meninggalkan Devian.


Devian merogoh ponselnya yang berada di dalam saku celananya lalu membuka aplikasi pesan. Tak ada balasan dari Carissa, bahkan pesan yang dikirim Devian kemarin malam masih saja centang satu.


"Aku sangat merindukanmu, Carissa." ucap Devian dalam hati.


Hari sudah menjelang siang, Devian memutuskan untuk makan siang di resto dekat MF Group. Devian sesekali membuka ponselnya berharap ada kabar dari Carissa. Namun sampai Devian selesai menyantap makan siangnya, belum ada kabar sama sekali dari Carissa. Bahkan berulang kali Devian melakukan panggilan tak ada satupun yang tersambung. Dengan hati gelisah, Devian kembali ke perusahaannya. Devian ingin sejenak istirahat untuk menghilangkan kegundahannya.


Devian sudah memasuki ruangannya, kemudian ia melepaskan jasnya dan merebahkan tubuhnya ke atas kasur yang ada di ruang istirahatnya.


Pada jam yang sama, pesawat Carissa sudah mendarat di bandara ibukota. Carissa keluar dari pesawat dengan langkah pasti, ia sudah tidak sabar untuk bertemu orangtuanya. Terlebih lagi sang pujaan hatinya, Devian. Setelah Carissa berada ditempat pengambilan bagasi, ia pun mengaktifkan ponselnya. Terdapat pesan masuk dari Mama Allisa dan juga Devian. Tanpa pikir panjang Carissa menelpon Mama Allisa.


"Assalammu'alaikum, Ma." sapa Carissa lembut.


"Wa'alaikumsalam, Nak. Sudah sampai di Jakarta?" tanya Mama Allisa tak sabar.


"Alhamdulillah, Ma. Ini masih di tempat pengambilan bagasi." jawab Carissa.


"Mama sama Papa sudah menunggu di pintu kedatangan, Sayang." ucap Mama Allisa memberitahu putrinya.


"Baik, Ma. Tunggu Rissa." sahut Carissa penuh semangat.


20 menit kemudian Carissa sudah menyeret kopernya menuju pintu kedatangan. Dari kejauhan bola matanya menangkap dua pasangan paruh baya yang sudah menunggunya dengan wajah penuh kerinduan. Carissa mempercepat langkah kakinya menghampiri kedua orangtuanya. Cakra dan Allisa menyambut kedatangan putrinya dengan pelukan hangat dan perasaan haru. Ketiga insan itu sedang mengobati rasa rindu mereka.


"Alhamdulillah kamu kembali dengan selamat, Nak. Selamat atas kelulusanmu." ucap Cakra bangga kemudian mengecup kening putrinya.


"Terimakasih banyak, Ayah." Carissa semakin mengeratkan pelukannya pada pria yang akan selalu menjadi cinta pertama dalam hidupnya. Tubuh Cakra masih kekar walau usianya sudah setengah abad.


"Mama sangat merindukanmu, Sayang." ucap Allisa yang merebut Carissa dari pelukan Cakra.


Carissa terkekeh dengan perilaku wanita cantik yang telah memberinya kehidupan.


"Rissa juga sangat merindukan Mama." ucap Carissa yang memeluk manja tubuh Mama Allisa.

__ADS_1


Alissa memeluk Carissa erat dan menghujani wajah putrinya dengan kecupan. Carissa terkekeh geli dengan perlakuan Mama Allisa.


"Sudah, Ma. Rissa geli." ucap Carissa yang disambut tawa kedua orangtuanya.


"Baiklah. Ayo kita pulang." ajak Cakra setelah puas meluapkan rasa rindu pada putrinya.


"Pa, Ma. Rissa gak ikut pulang ya." tolak Carissa dengan hati-hati.


"Kau mau kemana, Sayang?" tanya Mama Allisa heran.


"Kemana lagi kalau bukan menemui Devian." sahut Cakra yang bisa membaca niat putrinya.


Carissa terkekeh mendengar ucapan Papa Cakra yang benar 100 persen.


"Sepertinya Papa akan punya saingan berebut waktu untuk bersama putriku. Pria paruh baya ini sudah tercampakkan." gurau Papa Cakra dengan memasang ekspresi sesedih mungkin.


"Bu-bukan seperti itu, Pa." ucap Carissa tak enak hati.


"Sudah jangan dengarkan papamu, Sayang. Lebih baik kau temui Devian sekarang." ucap Mama Allisa segera mengganden tangan Cakra yang sudah menyeret koper Carissa.


"Baik, Mama Papa hati-hati dijalan." Carissa melambaikan tangan kepada kedua orangtuanya yang sudah menuju parkiran mobil.


Tut Tut Tut


Carissa menelpon Devian namun tak ada jawaban. Carissa segera menaiki taksi yang sudah berhenti dihadapannya. Carissa berniat untuk langsung menemui Devian di perusahaannya.


30 menit kemudian, Carissa sudah tiba di MF Group. Carissa bergegas menuju lobby dan menyapa Tiara.


"Loh, Rissa? Kamu sudah kembali?" Tiara terkejut melihat kedatangan Carissa.


Carissa segera menghampiri Tiara dan menempelkan jari telunjuknya pada bibir Tiara.


"Jangan keras-keras. Aku tidak ingin terjadi keributan." bisik Carissa yang dibalas anggukan kepala Tiara.


"Maaf. Aku sangat senang kamu sudah kembali. Si kutub utara kembali ke mode dinginnya sejak kau ke luar negeri." bisik Tiara yang disambut tawa kecil Carissa.


"Kau ini beraninya mengatai atasanmu yang juga kekasih temanmu ini. Kau tidak takut aku mengadu?" ucap Carissa.


Tiara seketika terdiam lalu menepuk pelan jidatnya.


"Bodohnya diriku!" umpat Tiara ketika menyadari sikapnya yang mengundang tawa Carissa.


"Tenang saja aku tak sejahat itu." ucap Carissa masih terkekeh melihat ekspresi panik Tiara.


Carissa memasuki lift lalu menekan angka 10.


Ting!


Pintu lift terbuka, Carissa bergegas menuju ruangan Devian, CEO MF Group.


Carissa mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam.


"Mungkinkah Devian sudah pulang?" gumam Carissa yang membuka pintu dengan perlahan.


Carissa mendapati ruangan yang kosong. Ia melangkah dengan sangat hati-hati. Mata Carissa tertuju pada pintu ruang istirahat Devian yang sedikit terbuka.


Benar saja, Carissa mendapati Devian tertidur. Carissa menghampiri tempat tidur Devian dan menatap wajah tampan pria yang ia rindukan. Carissa mengurungkan niatnya untuk membangunkan Devian yang terlihat sangat lelah. Carissa memilih untuk duduk di soffa lalu meluruskan kakinya yang sedikit pegal sambil menunggu Devian bangun.


Waktu sudah menunjukkan jam 4 sore, namun belum ada tanda-tanda Devian akan bangun dari tidurnya.


"Apakah dia sangat lelah? Kenapa belum bangun juga." gerutu Carissa yang sudah mulai bosan menunggu Devian bangun.


Carissa menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Bunyi keran air membangunkan Devian.


"Siapa yang ada di toilet?" tanya Devian dalam hati.


-BERSAMBUNG


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2