Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Posesif


__ADS_3

Pagi hari Devian sudah bersiap untuk berangkat bekerja, sedangkan Carissa memutuskan untuk istirahat dirumah saja. Tubuhnya benar-benar lelah akibat pertempuran ganas dengan suaminya tadi malam.


Saat ini Carissa yang masih sedikit mengantuk memaksakan diri tetap melakukan tugasnya sebagai istri untuk menyiapkan sarapan untuk suami tercintanya.


"Istriku benar-benar akan istirahat dirumah saja? Tidak ingin untuk jalan-jalan atau pergi berbelanja?" tanya Devian yang langsung mendapat tatapan tajam dari istrinya.


"Kamu tidak mungkin lupa apa yang terjadi semalam kan?" tanya Carissa ketus.


"Hehe.. Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bisa menahannya. Maaf jika sudah membuatmu seperti ini." kata Devian lirih merasa bersalah.


"Sudahlah. Lagipula itu sudah kewajiban suami istri. Aku hanya ingin beristirahat hari ini untuk memulihkan tenagaku." ucap Carissa.


"Tapi nanti malam kamu akan menemaniku untuk hadir di pesta perayaan kesuksesan kerjasama dengan rekan bisnisku, Sayang." kata Devian membuat Carissa membulatkan bola matanya.


"Astaga, Dev.. Kenapa kau tidak memberitahuku tadi malam?" tanya Carissa kesal.


"Maafkan aku, istriku. Aku benar-benar lupa. Yang aku ingat hanya petarungan kita semalam." jawab Devian membuat Carissa semakin kesal.


"Huh.. Kamu ini! Yasudahlah. Biarkan aku istirahat saja sampai sore hari." ucap Carissa.


"Maafkan aku, istriku sayang." kata Devian yang merasa bersalah.


Devian menghampiri Carissa kemudian memeluknya. Devian menelusupkan wajahnya ke leher istrinya.


"Istriku, jangan marah ya?" tanya Devian lirih.


Carissa menghembuskan nafasnya kemudian membalas pelukan suaminya itu.


"Aku tidak marah, Sayang. Hanya sedikit kesal. Bisa-bisanya kamu melupakan hal seperti itu. Tidak mungkin kalau aku tidak datang, kan?" tanya Carissa.


"Kalau istriku masih lelah, boleh tidak hadir kok." jawab Devian membuat Carissa melepaskan pelukannya.


"Apa kata orang nanti, Dev? Mana mungkin seorang CEO yang sudah menikah tidak datang bersama istrinya? Yang ada malah akan menjadi omongan orang-orang yang tidak bertanggungjawab, suamiku." kata Carissa bijak.


"Aku tidak peduli apa kata orang, istriku. Lagipula ini semua salahku yang sudah membuatmu kelelahan. Harusnya aku lebih bisa mengendalikan hasratku." ucap Devian bersalah.


Carissa meraih wajah Devian dengan kedua tangannya kemudian menatap lembut wajah suami tampannya itu.


"Tapi aku peduli dengan harga diri suamiku. Aku tidak ingin mempermalukanmu. Jadi nanti jemput aku sore hari ya, Sayang?" kata Carissa membuat Devian tersenyum.


"Kamu yakin tidak apa-apa, istriku? Jangan memaksakan dirimu, Sayang." tanya Devian ragu-ragu.


"Kamu tenang saja, suamiku. Istrimu ini hanya butuh istirahat, nanti pasti akan segera pulih." jawab Carissa meyakinkan suaminya.


"Baiklah, terimakasih banyak istriku." sahut Devian lega kemudian kembali memeluk istrinya erat.


"Aku akan membawakanmu gaun yang sangat cantik." ucap Devian lembut.


"Baiklah, aku akan menjadi wanita cantik yang pantas bersanding denganmu." sahut Carissa seketika Devian melepaskan pelukannya.


"Andai saja bisa, aku tidak akan mengizinkanmu untuk hadir ke pesta. Pasti banyak mata lelaki yang akan mencuri pandang denganmu." gerutu Devian membuat Carissa terkeleh.


"Aduduuh.. Suamiku egois sekali ya?" goda Carissa.


"Tentu saja. Aku tidak rela kecantikan istriku dinikmati oleh pria lain. Hanya boleh aku saja." jawab Devian membuat Carissa gemas.


"Baiklah baiklah.. Nanti malam aku hanya akan berada disisi suami tampanku, oke?" ucap Carissa mencoba memahami keposesifan suaminya.


"Kamu harus terus menggandengku. Tanganmu tidak boleh lepas dariku walau sedetik saja." kata Devian.


"Iya, suamiku." sahut Carissa sembari mencubit pelan pipi suaminya.


"Aw, sakit!" kata Devian mengusap pipinya yang terasa sedikit perih karena cubitan istrinya.


"Kenapa mencubitku, Sayang?" tanya Devian bingung.


"Hehe.. Salah siapa suamiku ini sangat menggemaskan. Sejak kapan sih Devian Mahendra menjadi kekanakan seperti ini?" tanya Carissa membuat Devian tertawa.


"Itu bukan kekanakan, istriku. Tapi menunjukkan hak kepemilikan." jawab Devian membuat Carissa ikut tertawa.


"Dasar. Terserah kamu saja." sahut Carissa yang sudah tidak bisa menanggapi perkataan suaminya lagi.


"Yasudah, aku berangkat ya Sayang. Istirahat yang baik, istriku. Kalau ada apa-apa kabari suamimu ya." pamit Devian karena waktu terus berlalu.


"Baik, suamiku. Hati-hati dijalan. Semangat kerjanya, sayang." balas Carissa mengantarkan kepergian suaminya tidak lupa untuk mencium tangan dan mengecup bibir sesuai permintaan Devian.


"Suamiku semakin hari semakin ada saja tingkahnya." batin Carissa yang sudah melihat suaminya melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Saatnya kembali tidur." ucap Carissa yang langsung mengunci pintu rumahnya kemudian menuju ke kamarnya untuk kembali istirahat.


*


*


*


"Sebentar lagi aku akan pulang menjemputmu, istriku."


Carissa tersenyum saat membaca isi pesan dari suaminya.


"Baiklah.. Istrimu akan menunggumu, suamiku." balas Carissa, tak lupa menambahkan emot cium pada pesan teksnya.


Setelah itu, Carissa bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.


Carissa sudah merasa lebih baik saat terbangun dari tidur. Mandi akan kembali menyegarkan tubuhnya.


Sekitar 20 menit, Carissa baru saja selesai mandi. Saat membuka pintu kamar mandi, ia terkejut dengan sosok pria yang menatap kearahnya yang tak lain adalah Devian, suaminya.


"Sejak kapan kamu pulang, Sayang?" tanya Carissa.


"Baru saja, istriku. Untung saja aku membawa kunci cadangan. Kalau tidak, aku pasti akan melewatkan pemandangan indah ini." jawab Devian membuat Carissa tersadar kalau saat ini ia hanya memakai lingerie tipis yang membalut tubuhnya.


"Dasar mesum!" pekik Carissa kemudian berlari menuju walk in closet miliknya.


"Jangan malu istriku. Aku sudah melihat seluruh tubuhmu, bahkan setiap inci tubuhmu aku sudah mengetahuinya." kata Devian menggoda istrinya.


"Diam kau, Dev!" teriak Carissa yang malu mendengar perkataan suaminya.


"Hey, kemarilah istriku. Aku sudah menyiapkan gaun untukmu. Lihatlah dulu, apakah kau menyukainya?" ucap Devian.


"Sebentar, aku mau ganti pakaian dulu." jawab Carissa memancing tawa kecil Devian.


"Masih saja malu-malu istriku ini." ucapnya.


Tak butuh waktu lama, Carissa sudah berganti pakaian. Kali ini Carissa menggunakan mini dress tidur yang lebih tertutup daripada yang ia kenakan tadi.


"Aku lebih suka tampilan istriku yang tadi. Lebih menggoda." ucap Devian dengan senyum nakal diwajahnya.


"Hentikan itu, Dev. Aku malu." sahut Carissa jujur.


"Tidak perlu malu, Sayang. Kita sudah hidup bersama, harus mulai terbiasa ya?" ucap Devian lembut.


"Lagipula kita sudah sering melakukan hubungan suami istri tanpa sehelai benang pun, bahkan dalam keadaan lampu menyala. Kenapa masih saja merasa malu?" tanya Devian membuat wajah Carissa seketika berubah warna menjadi merah.


"Iya aku tahu itu. Tapi tidak perlu kau menjelaskannya juga kan." ucap Carissa menundukkan kepala mencoba menyembunyikan wajanya.


Devian tersenyum, kemudian mengangkat dagu istrinya.


"Jangan sembunyikan wajahmu, Sayang. Lihatlah wajahmu yang memerah ini, sungguh membuatku hampir kehilangan kendali." ucap Devian membelai lembut wajah Carissa penuh cinta.


"Jangan menggodaku lagi." gerutu Carissa.


"Tenang saja istriku. Aku akan menahan diriku hari ini." ucap Devian mengecup kening dan kedua pipi istrinya.


"Ini gaun yang kusiapkan untukmu. Bagaimana menurutmu?" tanya Devian kemudian mengambil sebuah kotak yang berisi sebuah gaun cantik dan menyerahkan kepada istrinya.


Carissa menerima kotak itu kemudian membukanya dengan hati-hati.


Sebuah gaun panjang berwarna coklat dengan sentuhan sequin yang tampak berkilau namun tetap memberikan kesan elegan.


"Bagaimana? Apakah kamu menyukainya, Sayang?" tanya Devian namun tak mendapat jawaban.


"Kalau kamu tidak cocok, kamu tidak perlu memakainya. Kamu boleh menggunakan gaun milikmu." ucap Devian.


"Maaf, aku belum memahami selera istriku." tambah Devian merasa bersalah.


"Ini cantik sekali. Aku tidak menyangka kalau pilihan suamiku bagus sekali." kata Carissa yang akhirnya membuka suara.


"Benarkah?" tanya Devian ragu.


Carissa meletakkan gaun itu, kemudian memeluk suaminya erat.


"Terimakasih suamiku. Gaunnya cantik sekali, aku sangat menyukainya. Sesuai dengan seleraku. Simpel dan tak terlalu mencolok. Namun benar-benar terlihat berkelas." jawab Carissa dengan wajah gembira.


"Syukurlah, kalau istriku menyukai pilihanku." ucap Devian lega.

__ADS_1


"Apa benar kamu yang memilih gaun ini sendiri?" tanya Carissa yang sudah melepaskan pelukannya.


"Kamu tidak sedang meragukan kemampuan suamimu ini, kan?" tanya Devian mengernyitkan dahinya.


Carissa terkekeh melihat ekspresi suaminya. Carissa yang gemas pun mengecup bibir Devian sekilas.


"Penilaianmu tentang mode memang tidak perlu diragukan lagi, suamiku." jawab Carissa.


"Tentu saja. Kalau tidak, mana mungkin aku bisa menjadi CEO di perusahaan ayahku." kata Devian pernuh percaya diri.


"Iya iya. Memang suamiku pantas jadi CEO. Kemampuannya tidak perlu diragukan lagi." puji Carissa dengan senyum manisnya.


"Sekarang suamiku mandi dulu ya agar tidak datang terlambat. Istrimu ini mau mencoba gaun pilihan si CEO tampan dulu." ucap Carissa sembari mendorong suaminya menuju kamar mandi.


"Apakah tadi Carissa benar-benar memujiku? Atau sedang mengolokku?" tanya Devian dalam hati.


Sedangkan diluar kamar mandi, Carissa terkekeh mengingat perkataan suaminya.


"Suamiku ini memang penyakit narsisnya sudah mendarah daging. Sudahlah, yang penting dia bahagia. Lagipula gaun pilihannya kali ini benar-benar bagus." ucap Carissa kemudian bergegas mencoba gaun coklat tersebut. Tak ketinggalan, Carissa memoles wajahnya dengan tampilan summer make up looks agar senada dengan gaun yang ia gunakan.


15 menit kemudian, Devian sudah keluar dari kamar mandi. Devian juga sudah menyiapkan setelan jas warna senada dengan gaun istrinya. Devian sengaja memilih pakaian couple untuk malam ini selain untuk menunjukkan bahwa ia sudah menikah, juga sebagai tanda kepemilikan. Apalagi rekan bisnisnya kali ini belum pernah bertemu dengan Carissa.


"Sayang sudah siap?" tanya Devian yang melihat istrinya masih sibuk didepan cermin.


"Sebentar lagi selesai, Sayang." jawab Carissa.


Devian memainkan ponselnya sebentar sembari menunggu istrinya selesai berdandan.


"Sayang, aku sudah siap." ucap Carissa.


Devian yang sibuk dengan ponselnya langsung meletakkannya begitu saja karena penasaran dengan tampilan istrinya.


Mata Devian terpana dengan kecantikan istrinya bak seorang bidadari.


"Cantik sekali." gumam Devian.


"Apa kau mengatakan sesuatu, suamiku?" tanya Carissa yang samar mendengar ucapan Devian.


Devian tersadar, kemudian ia mengernyitkan dahinya saat melihat bahu sebelah kanan Carissa yang terekspos karena model gaunnya halter neckline tanpa lengan.


"Astaga! Gaun apa yang sebenarnya aku pilih ini?" tanya Devian pelan.


"Bisakah kau menutupi bagian ini?" tanya Devian sembari menunjuk bahunya sebagai isyarat.


Jujur saja Devian tidak rela jika bahu polos milik istrinya itu dinikmati oleh pria lain.


Carissa menundukkan kepalanya kemudian melihat keduanya bahunya yang terekspos. Carissa yang menyadari sifat posesif suaminya pun tersenyum lalu menghampiri suaminya.


"Siapa yang memilihkan gaun ini?" tanya Carissa.


"Aku." jawab Devian.


"Lalu sekarang ingin aku ganti dengan gaun yang lain?" tanya Carissa membuat Devian diam tak berkutik.


Memang Devian sendiri yang memilih, namun dia juga yang tidak rela.


Carissa menatap lembut wajah suaminya yang terlihat sedikit cemas.


"Kamu tidak rela bahuku dilihat oleh orang lain?" tanya Carissa lagi yang dijawab anggukan oleh Devian.


Carissa pun tersenyum. Carissa tidak keberatan dengan keposesifan Devian. Baginya itu sifat yang memang harus dimiliki oleh sang suami.


"Baiklah. Tunggu sebentar ya." ucap Carissa yang kembali ke meja riasnya.


Devian hanya menatap punggung istrinya dengan tatapan bingung.


Rambut Carissa yang semula sudah tersanggul rapi sudah kembali terurai. Carissa dengan cekatan mengepang rambut bagian atasnya dan membiarkan sisanya terurai. Model rambut waterfall french membuatnya terlihat semakin elegan, rambut panjangnya yang terurai itu pun mampu menutupi bahunya.


"Bagaimana kalau begini?" tanya Carissa membalikkan tubuhnya.


"Hem.. Ini lebih baik." jawab Devian yang sudah kembali menampakkan senyum diwajahnya.


Carrisa tersenyum dan bernafas lega.


"Yasudah ayo kita berangkat, suamiku." ajak Carissa.


"Baik. Mari istriku." ucap Devian mengulurkan tangan sembari membungkukkan badannya.

__ADS_1


Carissa menyambut uluran tangan suaminya dengan senang hati.


-BERSAMBUNG


__ADS_2