Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Kehidupan Suami Istri


__ADS_3

"Terimakasih, Pak." ucap Saras.


"Panggil namaku saja." kata Dewa.


"Ehm..baik." sahut Saras gugup.


"Terimakasih, Dewa." kata Saras dengan menundukkan kepalanya karena malu.


Dewa tersenyum melihat tingkah lucu wanita yang saat ini dihadapannya.


Setelah makan di resto tadi, Dewa mengantarkan Saras ke rumahnya. Dan saat ini mereka sudah berada di depan rumah Saras.


"Lama-lama juga terbiasa." kata Dewa.


Saras turun dari mobil, lalu melambaikan tangannya dengan menampakkan senyum canggungnya.


"Aku pulang dulu ya." pamit Dewa lalu melajukan mobil.


Saras menatap kepergian mobil Dewa cukup lama.


"Kenapa aku merasa aneh dengan sikap pria itu sekarang?" tanya Saras dalam hati.


"Dia tidak salah minum obat kan?"


*


*


*


Pukul 20.00, Devian baru saja tiba di rumah.


Devian tidak mendapati Carissa menyambutnya, ia pun bergegas menuju kamar.


Benar saja, Devian melihat istrinya sedang duduk memeluk lututnya dengan tatapan kosong.


"Sayang.." panggil Devian membuat Carissa terperanjat.


"Ka-kamu sudah pulang?" tanya Carissa kemudian bergegas berdiri lalu mengambil tas kerja milik Devian dan membantu melepaskan jas suaminya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Devian.


"Ehm. Iya." jawab Carissa singkat.


Devian dengan lembut membelai pucuk kepala istrinya.


"Kau bisa menceritakan apapun kepadaku. Aku adalah suamimu, kau bisa percaya dan mengandalkan aku." ucap Devian membuat Carissa tercengang.


"Apakah Dev mengetahui sesuatu?" tanya Carissa dalam hati.


"Aku mau mandi dulu. Aku lapar bisakah kau menyiapkan makan untukku?" tanya Devian membuat Carissa tersadar atas kelalaiannya sebagai seorang istri.


"Hem. Kebetulan tadi aku memasak, aku akan menghangatkannya lagi untukmu." jawab Carissa.


Carissa lebih dulu menyiapkan pakaian santai untuk suaminya, setelah itu menuju ke dapur.


15 menit kemudian Devian sudah selesai mandi segera menyusul ke dapur.


"Wow.. Ini masakan istriku?" tanya Devian yang terpukau melihat makanan yang tersaji terlihat menggiurkan.


"Iya." jawab Carissa dengan tersipu.


"Aku tidak sabar mencobanya." ucap Devian yang langsung menarik kursi lalu duduk.


Dihadapan Devian sudah ada ayam saus lada hitam dan juga tumis brokoli yang menggoda selera.


"Silahkan makan." kata Carissa menyerahkan piring yang sudah terisi penuh kepada Devian.

__ADS_1


Devian segera mencicipinya dan merasakan sensasi rasa di lidahnya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Carissa penasaran dengan hasil masakannya.


Devian masih terus memasukkan makanan ke mulutnya dan tidak menjawab.


"Mungkin rasanya tidak enak?" tanya Carissa dalam hati.


Carissa tertunduk lesu.


Dulu saat dirinya memilih untuk mandiri memang ia sering memasak sendiri untuk mengasah kemampuan. Carissa merasa dulu masakannya enak namun saat melihat suaminya tidak menjawab pertanyaannya, ia pun mengira kalau masakannya telah gagal.


Devian yang sudah menghabiskan makanannya baru menyadari perubahan ekspresi di wajah istrinya. Devian pun menghampiri Carissa lalu menggenggam tangannya lembut.


"Eh.. Sudah selesai makannya?" tanya Carissa melihat piring Devian yang sudah bersih.


"Terimakasih, sayangku." ucap Devian kemudian mengecup kening istrinya.


"Apa sih, Dev.." protes Carissa yang masih saja malu dengan perlakuan suaminya.


"Boleh aku nambah lagi?" tanya Devian membuat Carissa terkejut.


"Hah?"


"Masakan istriku sangat lezat. Aku mau merasakannya lagi." jawab Devian membuat mata Carissa berbinar.


"Jadi masakanku enak?" tanya Carissa penasaran.


"Tentu. Sepertinya aku memang beruntung memiliki istri yang berbakat dalam segala hal." jawab Devian membuat Carissa tersipu.


"Sudah jangan menggodaku. Duduklah, aku tambahkan lagi." kata Carissa kemudian mengisi piring Devian dengan nasi, ayam lada hitam dan juga brokoli.


"Kamu tidak makan?" tanya Devian dijawab gelengan kepala Carissa.


"Melihatmu makan lahap seperti ini membuatku kenyang." jawab Carissa membuat Devian mengernyitkan keningnya.


"Kamu belum makan kan? Ayo makan bersama." ajak Devian namun dijawab gelengan kepala Carissa.


"Aku akan menyuapimu." ucap Devian membuat Carissa tersenyum.


"Bagaimana nanti kalau kamu sakit? Kamu memperhatikanku tapi tidak peduli dengan dirimu sendiri." kata Devian membuat Carissa terkekeh.


"Apa yang lucu?" tanya Devian bingung.


"Kamu ini sudah seperti ibu-ibu yang memarahi anaknya. Sejak kapan suamiku menjadi cerewet seperti ini sih?" kata Carissa gemas dengan tingkah suaminya.


Devian tersadar kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku mengkhawatirkanmu. Ayo buka mulutmu." ucap Devian yang diikuti Carissa membuka mulutnya.


"Terimakasih, Dev." kata Carissa.


Setelah selesai Carissa mengambil piring kotor dan hendak menuju wastafel namun ditahan oleh Devian.


"Biar aku saja." ucap Devian.


"Sebagai pasangan kita harus bekerjasama bukan? Kamu sudah memasak, aku yang mencucinya." tambah Devian membuat Carissa terdiam.


"Hem, baiklah." jawab Carissa pasrah membiarkan Devian melakukan keinginannya.


PRAANG!!


Carissa terkejut kemudian menoleh dan bergegas menuju wastafel.


"Astagaaa Devian!" teriak Carissa.


Carissa mendapati piring yang pecah berserakan di lantai. Lalu matanya membulat saat melihat pakaian Devian yang basah dan busa sabun yang memenuhi bak wastafel.

__ADS_1


"Ma-maaf. Tadi tanganku licin." ucap Devian merasa bersalah.


Carissa menggaruk kepalanya kemudian menghembuskan nafas kasar.


"Kamu baru pertama kali cuci piring?" tanya Carissa yang dijawab anggukan kepala Devian.


"Kenapa kamu tidak bilang dari awal sih?" kata Carissa lagi yang mengambil sapu dan cingkrak untuk membersihkan pecahan piring terlebih dahulu.


"Matikan kran airnya." perintah Carissa yang langsung dilakukan Devian dengan patuh.


Setelah bersih dan membuang pecahan piring ke tempat sampah, Carissa menghampiri Devian.


Mata Carissa melotot saat melihat sabun cuci piring tinggal setengah botol.


"Astaga suamiku. Apakah dia benar-benar bodoh tentang hal seperti ini?" batin Carissa.


"Bantu aku menghilangkan busa ini lebih dulu." ajak Carissa yang diikuti Devian.


"Maaf ya istriku." ucap Devian lirih.


"Sudahlah. Wajar saja seorang CEO tidak bisa melakukan hal seperti ini." sahut Carissa.


"Bisakah kamu mengajariku?" tanya Devian yang dijawab senyuman manis Carissa.


Setelah busa di bak bersih, Carissa mengambil dua buah piring yang bersih untuk digunakan mengajari suaminya mencuci piring.


"Begini caranya." ucap Carissa dengan mempraktekkan cara cuci piring yang benar dengan perlahan agar Devian mengerti.


"Ini pegang ujung piringnya dan tahan dengan ibu jarimu agar tidak jatuh."


"Tangan kanan pegang sponsnya. Lalu putar di bagian depan piring baru bagian belakang."


"Nyalakan air, bilas sampai bersih."


Prok Prok Prok


Carissa bertepuk tangan saat Devian dapat menyelesaikannya dengan baik.


"Terimakasih istriku." ucap Devian kemudian memeluk istrinya.


"Kau ini membuatku kaget saja." kata Carissa lalu membalas pelukan suaminya.


"Sayang, aku punya satu permintaan." ucap Devian sembari membelai lembut rambut panjang istrinya.


"Hem. Katakan." sahut Carissa yang menelusupkan wajah pada dada bidang suaminya.


Devian melepas pelukannya kemudian menatap wajah istrinya dengan lekat.


"Bolehkah aku meminta kamu untuk menyiapkan bekal makan siangku setiap hari?" tanya Devian hati-hati.


Carissa tersenyum kemudian menyentil hidung mancung suaminya.


"Tentu saja boleh. Kau ini.." jawab Carissa membuat senyum di wajah Devian mengembang.


"Tapi kita belum punya stok, kita harus pergi berbelanja bahan makanan." kata Carissa.


"Lusa kita akan ke supermarket." ucap Devian bersemangat.


"Baiklah."


"Terimakasih istriku." ucap Devian senang kemudian menciumi wajah Carissa.


"Hentikan, Dev. Kau membuatku geli." protes Carissa segera Devian menghentikan aksinya.


"Maaf. Aku terlalu bahagia. Ternyata begini rasanya bisa merasakan masakan istri." ucap Devian membuat Carissa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kemana sisi CEO yang dingin itu? Kenapa sekarang menjadi tak terkendali seperti ini." batin Carissa yang tak habis pikir dengan perubahan sikap suaminya.

__ADS_1


"*Sepertinya dia punya kepribadian ganda."


-BERSAMBUNG*


__ADS_2