
Carissa berpamitan pada Georgia, lalu kembali ke homestay. Carissa meletakkan tasnya ke atas meja lallu duduk bersandar di tempat tidurnya. Carissa mengambil ponselnya, ia ingin berbagi kabar bahagianya dengan orangtuanya, sahabat dan tentunya Devian. Namun Carissa mengurungkan niatnya karena di Indonesia masih dini hari.
Carissa membuka kopernya dan mulai mengemasi beberapa helai baju di lemari pakaiannya. Carissa sangat bersemangat untuk segera pulang ke Indonesia. Setelah barangnya sudah terkemas rapi, Carissa beristirahat sebentar.
Sore ini, Carissa memutuskan untuk berjalan-jalan dulu sebagai tanda perpisahan dengan kota New York. Carissa mengganti pakaiannya dengan outfit yang lebih simpel. Tak lupa ia menggunakan jaket tebal untuk membuatnya tetap hangat. Carissa memilih untuk berjalan kaki menuju pusat perbelanjaan yang dekat dengan homestay yang ia tempati. Carissa berjalan santai dengan perasaan bahagia. Carissa juga sudah tidak sabar untuk bertemu sang pujaan hati.
Selama 30 menit, Carissa berjalan kaki lalu memutuskan untuk duduk di bangku pinggir jalan. Carissa sangat menikmati suasana kota menjelang senja di New York. Carissa sengaja berlama-lama duduk di bangku pinggir jalan sambil merasakan cuaca dingin sebelum makan malam bersama Georgia.
"Aku sudah tidak sabar menanti hari bahagiaku." gumam Carissa dengan senyum merekah.
Pukul 18.00 Carissa memutuskan untuk menuju restoran yang sudah ditentukan bersama Georgia.
Butuh 10 menit jalan kaki menuju resto itu, Carissa segera masuk dan menemui Georgia yang sudah menunggu kedatangannya.
"Hi, Rissa." sapa Georgia melambaikan tangannya pada Carissa.
"Madam sudah lama menunggu?" tanya Carissa bergegas duduk di kursi depan Georgia.
"Baru 5 menit." jawab Goergia melemparkan senyum tipis pada Carissa.
"Baiklah. Madam boleh pesan apa saja, aku yang akan membayarnya." ucap Carissa seraya memanggil pelayan.
"Tentu. Aku akan memilih makanan yang paling enak dan paling mahal." sahut Georgia bersemangat yang disambut tawa kecil Carissa.
Meskipun usia Georgia dan Carissa cukup jauh namun tak mengurangi keakraban mereka. Georgia sudah menganggap Carissa sebagi adik perempuannya, begitu juga sebaliknya. Namun Carissa tak mengurangi rasa hormatnya kepada Georgia, terutama saat di kampus.
"Apakah kamu sudah bersiap pulang ke negaramu?" tanya Georgia yang sudah memesan makanan dan minuman untuk ia santap malam ini.
Carissa menjawabnya dengan anggukan kepala dan senyuman cerah.
"Cepat sekali. Kau tidak ingin lebih lama lagi disini? Mungkin saja liburan." kata Georgia.
"Tidak, Madam. Aku sudah tidak sabar untuk pulang." jawab Carissa tersenyum tipis.
"Apa kau sangat merindukan kekasihmu itu?" tanya Georgia yang disambut senyum malu-malu Carissa.
Georgia terkekeh melihat wajah tersipu Carissa, mahasiswa yang dibimbingnya selama 1 bulan penuh.
"Madam, kalau aku menikah maukah Madam datang ke pesta pernikahanku?" tanya Carissa menatap wajah cantik bule yang ada dihadapannya.
Georgia terkejut menatap wajah Carissa dengan serius.
"Kau mau menikah?" tanya Georgia.
Carissa menganggukkan kepalanya.
"Anak muda, pantas saja kau bersemangat sekali agar cepat lulus. Ternyata hubungan dengan kekasihmu sudah sejauh itu." ucap Georgia mengingat kerja keras Carissa yang selalu meminta tugas kepadanya.
Carissa menggarukkan kepalanya yang tidak gatal lalu melemparkan senyum kepada Georgia.
"Maaf, mungkin aku tidak bisa datang. Kau tau sendiri bagaimana sibuknya aku disini. Apalagi menjelang akhir semester. Tapi aku selalu mendoakan kebaikan untukmu." ucap Georgia lalu memeluk Carissa erat.
"Terimakasih, Madam. Itu sudah cukup." jawab Carissa membalas pelukan Georgia.
Tak lama kemudian, makanan dan minuman sudah tersaji di depan dua wanita itu. Mereka menyantapnya sambil diiringi obrolan kecil sebelum mereka berpisah.
*
*
__ADS_1
*
Pagi hari di Jakarta.
Devian sudah bangun dari tidurnya kemudian membersihkan diri lalu melaksanakan shalat subuh.
Selesai shalat, Devian membuka ponselnya yang terdapat notif sebuah pesan masuk dari wanita ia tunggu.
Devian sayang, maaf kemarin seharian aku sibuk dengan tugas. Aku lupa mengaktifkan ponselku. Maaf sudah membuatmu khawatir, aku baik-baik saja. Aku janji akan menyelesaikan tugasku secepatnya. Tunggu aku pulang ya! Carissa Elvina ❤
Devian tersenyum saat selesai membaca pesan teks dari Carissa. Devian akhirnya bisa tenang, tak seperti kekhawatiran semalam yang ia rasakan. Devian memutuskan untuk bersiap ke perusahaan lalu menelpon Carissa saat sudah di ruangannya. Tak lupa Devian sarapan dulu.
"Pagi, Sayang. Mau sarapan apa?" tanya Bunda Tamara yang sudah berada di meja makan.
"Roti panggang aja, Bun." jawab Devian penuh semangat.
Tamara menatap wajah putranya yang terlihat sangat bahagia pagi ini. Padahal semalam Devian seperti orang yang tidak punya semangat hidup.
"Kau ceria sekali pagi ini, Nak?" tanya Tamara penuh selidik.
Devian terkekeh pelan melihat raut kebingungan pada wajah wanita yang sudah memberikannya kehidupan.
"Rissa sudah mengirim pesan pada Dev, Bun." ucap Devian semangat.
Tamara tersenyum lega dan melatakkan setumpuk roti panggang ke piring kosong dihadapan Devian.
"Alhamdulillah. Akhirnya anak Bunda semangat lagi." ucap Tamara dengan senyum menggoda Devian mengingat ekspresi putranya seperti ayam pucat.
Devian terkekeh kecil lalu menyantap roti panggang cokelat keju dan meneguk segelas jus jeruk.
"Dev berangkat dulu ya, Bun. Assalammu'alaikum." pamit Devian sembari mencium punggung tangan Tamara.
"Wa'alaikumsalam." sahut Tamara mengulas senyum bahagia.
Tut Tut
"Hallo, Dev." sapa Carissa.
Devian mengernyitkan keningnya ketika mendengar suara berisik.
"Kamu dimana?" tanya Devian.
"Aku masih dijalan, Dev. Ini mau pulang ke homestay." jawab Carissa.
"Jam berapa ini? Bukannya disana sudah malam? Kenapa masih keluyuran?" tanya Devian memberondong.
Carissa terkekeh mendengar pertanyaan Devian.
"Aku habis dinner sama pembimbingku, Sayang." jawab Carissa yang semakin menambah kekesalan Devian.
"Dinner dengan pembimbing? Hanya berdua?" tanya Devian yang merasakan dadanya semakin sesak.
Terdengar suara tawa Carissa yang semakin membuat Devian kesal.
"Sebentar jangan marah dulu. Aku buka pintu dulu ya." jawab Carissa yang sedang menekan 6 digit angka untuk membuka pintu homestaynya.
Carissa mengubah panggilannya menjadi panggilam video yang memperlihatkan wajah cemberut Devian.
"Boleh aku memberikan penjelasan dulu?" tanya Carissa menatap wajah Devian yang kesal namun sangat menggemaskan.
__ADS_1
Devian hanya menganggukkan kepalanya.
"Hem.. Baiklah, sepertinya kekasihku ini terlalu pencemburu bahkan dengan seorang wanita." ucap Carissa dengan tawa kecilnya.
"Maksudmu?" tanya Devian yang menatap bingung pada Carissa.
"Iya, pembimbingku itu Madam Georgia yang selama ini menemani studiku selama 1 bulan penuh. Dan dia seorang wanita." jawab Carissa yang tersenyum manis.
"Kau sengaja menggodaku?" tanya Devian tersadar dengan cemburu butanya.
Carissa terkekeh melihat wajah kesal Devian.
"Kau ini. Terlalu posesif, Dev. Aku tidak punya kenalan pria disini." ucap Carissa meyakinkan.
"Memang harus seperti itu." sahut Devian yang membuat Carissa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Baiklah. Aku tidak akan berkenalan dengan pria lain." ucap Carissa yang membuat Devian tersenyum puas.
"Dev, setelah aku menyelesaikan studiku. Kau akan menikahiku bukan?" tanya Carissa.
"Tentu! Aku sedang mempersiapkannya." jawab Devian semangat.
"Baiklah. Sepertinya kau harus segera mempersiapkannya." Carissa menatap wajah Devian dengan lembut.
"Apa kau sudah setuju untuk menikah denganku?" tanya Devian tak percaya.
Carissa menganggukkan kepalanya dengan wajah tertunduk malu yang membuat Devian bersorak gembira. Devian ingin sekali berteriak agar semua orang tahu kebahagiaannya saat ini.
"Baiklah. Aku sudah mempersiapkannya. Tinggal menunggumu pulang maka kita akan melangsungkan pernikahan." sahut Devian antusias.
"Sepertinya aku ragu, semuanya sudah siap ketika aku kembali." ucap Carissa dengan terkekeh pelan.
"Kau bisa mengandalkanku, Sayang. Kita lihat saja. Persiapannya sudah 90%" Devian menyahut dengan sangat yakin.
"Baiklah aku mengandalkanmu, Dev. Jangan membuatku kecewa." ucap Carissa penuh harap.
"Serahkan semuanya padaku. Kau hanya perlu menjaga dirimu dan menyiapkan staminamu di malam pertama kita." ucap Devian terkekeh yang disambut tatapan tajam Carissa.
"Dasar mesum!" umpat Carissa mengundang gelak tawa Devian.
"Kita impas bukan?" tanya Devian dengan tatapan menggoda.
"Terserah kau saja. Sudah aku mengantuk, mau tidur sebelum pembicaraanmu semakin melantur." gerutu Carissa.
"Jangan melarikan diri, Sayang." goda Devian lagi.
"Jangan menggodaku, Dev. Kau masih ingin menikahiku bukan?" tanya Carissa dengan nada mengancam.
"Tentu. Baiklah. Selamat istirahat calon istriku. I miss you so much." ucap Devian dengan mengulas senyum lembut dan tatapan penuh kasih sayang.
"Baik. Semangat bekerjanya, Sayang. Miss you too." balas Carissa kemudian mengakhiri panggilan videonya dengan Devian.
Devian mengulas senyum cerah.
"Aku takkan mengecewakanmu, Rissa. Aku akan memberi pernikahan terindah untukmu." batin Devian penuh semangat.
-BERSAMBUNG
*
__ADS_1
*
*