Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Maafkan Aku


__ADS_3

Devian dan Carissa sudah kembali ke villa. Mereka berdua mengemas pakaian dan bersiap untuk kembali ke kota.


"Sudah semuanya, Sayang?" tanya Devian.


"Sudah. Mau pulang sekarang?" tanya Carissa.


"Iya, atau kamu masih ingin berkeliling dulu?" tawar Devian yang dijawab gelengan kepala Carissa.


"Ayo kita pulang." ajak Devian menyeret koper dan menggandeng tangan Carissa.


Carissa dan Devian sudah berada dalam mobil. Devian melajukan mobilnya menuju kota.


Keduanya saling menikmati pemandangan yang mereka lewati.


"Dev aku ingin melihat pemandangan dari bukit itu." ucap Carissa sambil menunjuk pada bukit yang tidak terlalu tinggi di pinggir jalan.


"Baik istriku." sahut Devian kemudian memarkirkan mobilnya pada lapangan hijau yang kosong dipinggir jalan.


Carissa bergegas menaiki bukit yang tidak tinggi itu membuat Devian tersenyum kecil.


Devian mengumbah sebotol air mineral dan juga cemilan kemudian menyusul istrinya.


Setelah sampai dipuncak bukit, Carissa duduk diatas rerumputan hijau itu dan meluruskan kakinya.


"Minumlah, Sayang. Kamu pasti haus." ucap Devian sembari menyodorkan botol air kepada istrinya.


"Astaga. Aku terlalu bersemangat tadi. Maafkan aku, Dev." ucap Carissa tak enak hati kemudian meneguk air dalam botol itu.


"Aku suka dirimu yang penuh energi seperti tadi, Sayang." kata Devian lembut kemudian mengecup kening istrinya.


Carissa menatap lekat wajah Devian kemudian mengulas senyum manis. Carissa memeluk tubuh Devian yang duduk disampingnya lalu menyandarkan kepalanya pada bahu bidang suaminya. Devian tersenyum dan membelai lembut rambut panjang Carissa.


"Dev, maafkan aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu. Maafkan sikapku yang belum dewasa, egois dan selalu merepotkanmu." ucap Carissa.


Devian menangkup wajah Carissa kemudian menariknya mendekat. Wajah dua sejoli itu saling bertemu. Mereka bisa merasakan hembusan nafas saling menerpa wajah mereka.


"Sayang, kamu istriku. Aku akan menerima semua kekurangan dan kelebihanmu. Seperti dirimu yang selalu bisa sabar dengan diriku yang menyebalkan ini. Kamu membuat hidupku lebih berwarna dan mengajariku banyak hal yang belum pernah kutau sebelumnya. Jadi, kita harus saling mencintai sampai maut memisahkan ya?" ucap Devian lembut dengan tatapan penuh cinta.


Carissa menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.


"Maafkan kesalahanku dimasa lalu, Sayang. Aku akan menebusnya dan selalu berusaha membuatmu bahagia seumur hidupku." ucap Devian membuat Carissa menitikkan air mata haru.


"Terimakasih, Dev. Aku bahagia bersamamu." kata Carissa kemudian memeluk Devian erat.


Devian membalas pelukkan itu lebih erat.


"Maafkan kebodohanku dulu, Sayang. Kedepannya aku berjanji akan selalu bersikap baik padamu apapun yang terjadi." tekad Devian dalam hati.


"Alhamdulillah, semoga Allah mengizinkan aku dan Devian berjodoh dunia akhirat." ucap Carissa berdo'a dalam hati.

__ADS_1


Hari semakin terik, Devian dan Carissa memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya menuju kota.


*


*


*


MF Group


Tok Tok!


Ketukan pintu terdengar.


"Masuk." ucap suara bass dari dalam ruangan.


Dengan perasaan sedikit gugup Saras membuka pintu dengan hati-hati.


"Kamu. Ada perlu apa?" tanya Dewa dingin.


"Anu, Pak. Saya mau mengembalikan ini dan sebagai ucapan terimakasih saya membuatkan makan siang ini untuk Bapak." ucap Saras gugup.


"Hem. Bagaimana keadaanmu?" tanya Dewa tanpa memandang wajah Saras.


"Baik, Pak. Semua karena pertolongan Bapak 3 hari yang lalu." jawab Saras dengan tersenyum.


"Ada hal lain lagi?" tanya Dewa dengan sorotan tajam membuat Saras seketika menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Ba-baik, Pak. Permisi." ucap Saras terbata kemudian bergegas keluar dari ruangan laki-laki menyeramkan itu.


Saras mengelus dadanya yang masih berdegup kencang.


"Kamu berharap apa sih, Saras? Kelembutannya malam itu mungkin hanyalah kebetulan karena dia merasa iba denganmu. Dia tetaplah pria dingin yang sangat menyeramkan." batin Saras sembari mengatur nafasnya yang sedari tadi tertahan karena ketakutan saat bertemu Dewa.


"Sudahlah, yang penting aku sudah berterimakasih padanya dan mengembalikan jasnya. Jadi aku sudah tidak punya urusan dengannya. Lebih baik aku tidak bertemu lagi dengan Pak Dewa." gumam Saras yang berjalan kembali ke ruang kerjanya.


"Ck! Dasar gadis aneh!" gumam Dewa saat melihat kotak makan dimejanya.


Dewa mengambil jasnya yang tercium aroma wangi persis aroma parfum Saras kemudian meletakkannya kembali ke meja.


Dewa meraih kotak makan itu dan membukanya kemudian mencicipinya.


"Rasanya lumayan. Tidak buruk juga kemampuan masaknya." gumam Dewa yang menyunggingkan senyumnya sesaat namun tersadar segera mendatarkan kembali wajahnya.


"Untuk apa aku memuji wanita itu?" tanya Dewa dalam hati yang terus mengunyah makanan buatan Saras hingga tak tersisa.


"Tunggu! Bahkan aku menghabiskan masakan buatannya? Sudahlah nanti bilang saja tidak enak, jadi aku membuangnya." batin Dewa lagi.


Hari menjelang sore, para pekerja sudah bersiap untuk meninggalkan perusahaan.

__ADS_1


"Ah iya kotak makanku. Sudahlah aku tidak perlu mengambilnya. Biarkan saja." gumam Saras saat dirinya hendak meninggalkan ruang kerjanya.


Saat akan membuka pintu, sosok pria gagah sudah berdiri dihadapan Saras.


"Pa-Pak Dewa." ucap Saras terkejut.


"Ini, masakanmu tidak enak jadi aku membuangnya." kata Dewa sembari menyodorkan kotak makan yang sudah bersih.


Saras menatap wajah Dewa dengan tatapan sendu kemudian dengan cepat meraih kotak makan dari tangan laki-laki itu.


"Kalau memang tidak enak, Bapak bisa mengembalikannya kepada saya tanpa perlu membuangnya. Saya membuat itu dengan sungguh-sungguh sebagai tanda terimakasih saya karena pertolongan Bapak malam itu. Saya kira Bapak adalah pria yang baik, tapi sepertinya saya sudah salah menilai. Permisi." ucap Saras pergi meninggalkan Dewa begitu saja.


Dewa tertegun dengan ucapan Saras yang menusuk hati kecilnya.


"Apa aku sudah keterlaluan?" tanya Dewa dalam hati.


Dewa membalikkan tubuhnya dan mendapati Saras berjalan sambil mengangkat tangannya kewajah.


"Dia menangis?" tanya Dewa pelan.


Rasanya Dewa ingin menyusul wanita itu dan meminta maaf kepada Saras, namun gengsi didalam hati membuat Dewa mengurungkan niatnya.


"Untuk apa aku peduli padanya?" ucap Dewa sembari mengacak kasar rambutnya.


Saras memasuki lift dengan perasaan kecewa. Saras sudah repot-repot memasak sebagai ucapan terimakasih namun malah dibuang begitu saja.


"Seharusnya aku tidak memiliki niat baik ini dari awal. Berharap Pak Dewa bersikap baik padaku? Haha dasar bodoh! Kebaikannya malam itu mungkin hanya khilaf." gumam Saras berusaha menghapus kekecewaannya.


Saras menaiki taxi online untuk pulang ke rumah. Masih ada rasa trauma, sehingga Saras belum berani mengendarai motornya sendiri.


Saras kembali mengingat perlakuan lembut Dewa pada malam itu.


"Aih, apa yang kau pikirkan Saras? Tidak mungkin dia menjadi pria lembut seperti itu." gumam Saras sembari menepuk-nepuk kepalanya sendiri.


"Sepertinya aku tadi sangat keterlaluan. Apa aku harus minta maaf padanya?" gumam Dewa yang merasa tak enak hati kepada Saras.


"Tidak. Tidak." batin Dewa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tapi ucapanku tadi memang keterlaluan sih. Seharusnya aku tidak bilang seperti itu." gumam Dewa.


"Apa aku minta maaf padanya saja dan jujur kalau aku sudah menghabiskan makanan itu?" tanya Dewa dalam hati.


"Ah tidak. Dia pasti akan besar kepala." ucap Dewa lagi.


Begitulah pergolakan batin yang terjadi pada Dewa. Entah kenapa saat melihat Saras menangis, Dewa merasa bersalah. Apalagi mengingat nasib malang dan kejadian malam itu, membuatnya ingin melindungi wanita itu. Namun keegoisan dan gengsi lebih besar dihati Dewa, ia juga belum tau pasti apa yang terjadi pada perasaannya saat ini.


-BERSAMBUNG


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2