Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Belanja Alat Tempur


__ADS_3

Devian melajukan mobilnya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di mall pusat kota. Devian dan Carissa memasuki mall dan seketika menjadi pusat perhatian pengunjung.


"Sepertinya pesona suamiku ini memang tak diragukan lagi." bisik Carissa saat mendapati banyak wanita yang memandang takjub pada Devian. Bukan hanya wanita muda namun wanita paruh baya semua kalangan tak luput menatap Devian.


Mendengar bisikan Carissa, Devian segera merangkul pinggang istrinya agar menunjukkan kepada para wanita itu bahwa ia adalah pria yang sudah beristri. Carissa terkejut dengan perlakuan Devian seketika menoleh dan mendapatkan senyuman dari suaminya.


"Sepertinya aku akan dikutuk habis-habisan oleh para wanita pemujamu ini." gerutu Carissa pelan yang terdengar sangat lucu bagi Devian.


Namun Devian tetaplah berwajah datar tidak peduli dengan tatapan para wanita yang memuja dirinya. Dimata Devian hanya ada satu wanita yang pantas ia perhatikan yaitu Carissa, istrinya. Devian dan Carissa menaiki eskalator menuju lantai 2 yang menjual berbagai mode pakaian dan merk.


Devian mengajak Carissa ke salah satu outlet yang menyediakan pakaian pria. Carissa dengan patuh mengikuti Devian.


"Sayang, kamu bisa pilihkan gaya yang pas untukku." pinta Devian kepada istrinya.


Carissa tersenyum senang.


"Baiklah. Tapi jangan protes dengan pilihanku ya." sahut Carissa bersemangat.


Carissa memilih beberapa t-shirt polos warna monochrome, celana pendek dan panjang, kemeja, dan juga jaket.


"Mbak ini semua ya, bayar pakai ini." ucap Devian kepada seorang pramuniaga wanita.


"Baik Pak. Mohon tunggu sebentar." sahut pramuniaga itu kemudian membawa beberapa helai pakaian yang sudah dipilih Carissa untuk dikemas.


Carissa sontak terkejut dengan suaminya.


"Kamu serius Dev ingin membeli semua itu? Tidak ingin mencobanya dulu? Bagaimana kalau tidak cocok denganmu?" tanya Carissa panik.


"Aku percaya dengan pilihan istriku. Lagipula istriku pasti paling tau apa yang cocok untukku." jawab Devian tersenyum hangat.


"Kamu itu Dev selalu saja bisa membuatku terbang dengan kata-katamu." ucap Carissa yang membuat Devian terkekeh.


"Sepertinya kau harus membeli sneakers dan sandal agar lebih santai dan sporty." ucap Carissa lagi yang dibalas anggukan dan senyuman hangat Devian.


"Ini belanjaan Anda. Terimakasih atas kedatangan Bapak dan Ibu. Silahkan kembali lagi." ucap pramuniaga wanita sambil menyerahkan beberapa paperbag kepada Devian.


Carissa dan Devian menuju outlet yang menjual sepatu.


"Ini bagus gak?" tanya Carissa menunjukkan sepatu sneakers low cut denim.


"Bagus. Aku suka." jawab Devian kemudian mengambil sepatu itu dan mencobanya yang kebetulan ukurannya pas dengan kaki Devian.


"Mas ini ya." ucap Carissa kepada pramuniaga yang berdiri tak jauh dari Devian.


Mata Carissa kembali tertuju pada sneakers boots warna coklat.


"Dev coba yang itu." kata Carissa sembari menunjuk sepatu yang berada di rak bagian atas dibelakang Devian.


"Yang ini?" tanya Devian meraih sepatu yang dimaksud istrinya dan dijawab anggukan Carissa.


"Mas size 41 ada?" tanya Devian kepada pramuniaga yang baru saja mengemas sepatu pilihan Carissa tadi.


"Sebentar saya cek dulu, Pak." pramuniaga itu berlalu untuk memeriksa ketersediaan stok sepatu.


Beberapa saat kemudian, laki-laki pramuniaga itu pun kembali dengan membawa sepatu yang ukurannya sesuai dengan permintaan Devian.


Dengan sigap Devian mencoba sepatu itu membuat Carissa sesaat terpesona dengan tampilan Devian yang sedikit berubah.


"Sama yang ini ya Mas." ucap Carissa semangat.

__ADS_1


"Gak usah dibungkus, biar langsung dipakai saja boleh kan?" tanya Carissa yang mendapat anggukan laki-laki itu.


Devian segera mengeluarkan kartu hitam miliknya dan menyerahkan ke kasir.


"Sepertinya kamu senang sekali aku memakai sepatu ini? Kenapa?" tanya Devian yang sedari tadi penasaran.


"Kamu ganteng tau, Dev. Apalagi dengan tampilan seperti ini. Biasanya kan aku selalu melihat gaya formalmu dengan jaz dan pantofel." jawab Carissa tersenyum puas.


"Baiklah. Mulai sekarang aku akan berpenampilan seperti ini dihadapan istriku. Lagipula aku sudah punya fashion stylist pribadi." ucap Devian yang membuat Carissa terkekeh.


"Tentu saja. Tapi biaya jasanya tidak murah." goda Carissa.


"Aku akan membayarmu dengan kepuasan." bisik Devian yang seketika membuat Carissa tersipu.


Carissa memukul pelan dada bidang suaminya.


"Jangan sembarangan bicara nanti didengar orang!" gerutu Carissa kesal dengan sikap mesum suaminya yang tidak tau tempat.


Devian tertawa kecil melihat ekspresi menggemaskan Carissa.


"Ayo sekarang giliranmu membeli alat tempur." ajak Devian yang membuat Carissa termenung sejenak.


"Alat tempur apa yang sebenarnya dimaksud Devian?" batin Carissa.


Devian menggandeng tangan Carissa kemudian menuju sebuah outlet yang terdapat pakaian tipis dan seksi khusus untuk wanita.


"Astaga! Apa yang dipikirkan Devian? Bisa-bisanya mengajakku ke toko seperti ini." batin Carissa.


"Mbak tolong tunjukkan bahan yang paling nyaman." perintah Devian kepada pekerja wanita di toko itu.


Seketika suara bariton Devian menyita perhatian beberapa wanita yang ada di toko itu membuat Carissa semakin malu.


"Tidak. Harus aku yang memilihnya. Karena aku yang akan menikmatinya." ucap Devian pelan yang membuat desiran aneh mengalir ditubuh Carissa.


"Dev jangan bersikap mesum di tempat umum!" umpat Carissa kesal dengan suara pelan.


Devian tertawa pelan mendengar umpatan Carissa. Baginya sekarang ia memiliki hobby baru yaitu menggoda istrinya.


Karyawan wanita itu sudah kembali membawa beberapa mode lingerie yang agak tertutup sampai yang sangat terbuka.


Devian memilih beberapa model dan warna yang cocok untuk tubuh istrinya. Carissa hanya diam memperhatikan suaminya yang sudah memilih pakaian dinas untuk dirinya tanpa protes.


Setelah membayar Devian menenteng paperbag kemudian keluar dari toko pakaian khusus wanita itu.


"Bagaimana kalau kita makan dulu?" tawar Devian kepada istrinya.


"Iya aku sudah lapar." jawab Carissa yang memang sudah merasakan perutnya terasa kosong.


"Makanan jepang mau?" tanya Devian lagi yang dijawab anggukan Carissa.


Carissa meraih lengan Devian yang membawa beberapa tentengan paperbag hasil belanjaannya.


"Biar aku bantu bawa ya?" tanya Carissa namun ditolak oleh Devian dengan gelengan kepala.


Carissa menghela nafas kemudian menyenderkan kepalanya ke bahu suaminya. Dua sejoli itu kembali menaiki eskalator menuju food court di lantai empat.


Devian dan Carissa menuju tempat makan yang menyediakan khusus masakan jepang. Mereka berdua disambut pramusaji dengan ramah kemudian duduk di sebuah kursi kayu khas gaya jepang yang ada di restoran itu.


"Aku mau sushi gekkikara salmon roll, matcha smoothie less ice." ucap Carissa bersemangat.

__ADS_1


"Kamu mau apa Sayang?" tanya Carissa kepada suaminya.


"Half boiled egg gyudon dan mugicha." jawab Devian.


Dengan cekatan pramusaji pria itu mengetik pesanan ditablet kemudian meninggalkan Devian dan Carissa.


"Sepertinya kamu penikmat japanesse food ya?" tanya Carissa kepada Devian.


"Iya. Dulu aku sempat melakukan perjalanan bisnis ke Harajuku yang merupakan pusat fashion anak muda Jepang. Kesanku saat disana negara itu sangat bersih dan juga perilaku warganya yang ramah. Jadi ketika aku merindukan suasana disana maka aku akan mencari restoran jepang." jawab Devian yang membuat Carissa takjub.


"Jadi saat ini kamu sedang merindukan jepang?" tanya Carissa yang dijawab anggukan kepala Devian.


"Kenapa kamu tidak berlibur kesana saja?" tanya Carissa lagi.


"Mana mungkin aku bisa pergi begitu saja kalau bukan perjalanan bisnis. Lagipula pekerjaan suamimu ini sangat banyak tidak punya waktu untuk berlibur. Meskipun sekarang aku CEO, Ayah pasti akan memamarahiku. Ini saja aku mendapat libur satu minggu karena menikah denganmu." jawab Devian panjang kali lebar yang membuat Carissa terkekeh.


Devian mengernyitkan dahinya dan menatap istrinya penuh selidik.


"Kenapa tertawa?" tanya Devian.


"Baru kali ini aku mendengarmu mengeluh." jawab Carissa terkekeh.


Devian pun ikut tertawa kecil.


Tak lama kemudian pesanan Devian dan Carissa sudah tersaji di meja. Devian dan Carissa segera menghabiskan hidangan itu karena hari sudah menjelang sore. Setelah selesai makan dan membayarnya Devian dan Carissa kembali menuju eskalator untuk turun ke lantai dasar.


"Sayang kita ke lantai dua dulu ya." ajak Devian kepada istrinya.


"Oke." jawab Carissa mengikuti ajakan suaminya.


Devian menggandeng tangan Carissa kemudian berjalan menuju outlet yang menyediakan pakaian wanita.


"Pilihlah beberapa pakaian yang kau sukai." ucap Devian.


"Aku sudah membawa cukup baju di koperku." sahut Carissa.


"Tidak. Aku tadi sudah kau pilihkan banyak pakaian sekarang giliranmu untuk memilih pakaianmus sendiri." kata Devian memaksa istrinya.


"Kan tadi kamu sudah membelikanku pakaian." sahut Carissa yang mengingat Devian sangat antusias memilih beberapa lingerie.


"Itu berbeda, Sayang. Memangnya kamu mau pergi keluar dengan pakaian itu?" tanya Devian yang membuat wajah Carissa bersemu merah.


"Ti-tidak mau." jawab Carissa gugup.


Carissa bergegas masuk ke outlet itu dan memilih beberapa setel pakaian santai dan mini dress.


"Sekalian kita beli sepatu." ajak Devian saat Carissa sudah selesai memilih pakaian.


"Tidak perlu, Sayang. Lebih baik kita sekarang segera ke kebun. Hari sudah sore takutnya nanti sampai disana gelap." kata Carissa mengajak Devian untuk segera keluar dari mall dan melanjutkan perjalanan menuju perkebunan.


Kebun milik Papa Cakra berada di dataran tinggi. Karena dikampung maka lampu dimalam hari pun tidak begitu terang untuk menyoroti jalan yang berkelak-kelok. Sangat berbahaya jika terlalu larut melewati jalan itu. Villa milik orangtua Carissa pun berada di area perkebunan.


"Yasudah ayo kita berangkat." ucap Devian.


Dua sejoli itu segera memasukkan paper bag ke dalam bagasi mobil. Setelah itu Devian melajukan mobilnya keluar dari area parkir mall kemudian melanjutkan perjalanan menuju villa yang membutuhkan waktu satu setengah jam lagi.


"Kamu masih ingat jalannya Dev?" tanya Carissa memastikan.


"Tentu saja, Sayang." jawab Devian mengulas senyum kemudian kembali fokus dengan jalanan didepannya.

__ADS_1


-BERSAMBUNG


__ADS_2