Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Hadiah untuk Mertua


__ADS_3

"Loh Bunda dan Ayah sudah disini? Maaf menunggu lama ya.. Bunda kenapa gak ngabarin Rissa dulu?" tanya Carissa yang baru saja turun dari taxi membawa barang belanjaannya lalu melihat kedua mertuanya sudah menunggunya didepan butik.


"Bunda kan mau ngasih kejutan sama menantu Bunda." canda Bunda Tamara dengan senyum cantiknya.


"Ayo masuk Bun, Yah." ajak Carissa setelah membuka kunci pintu butiknya.


Hari ini memang tidak ada pekerja yang masuk, karena semua sudah siap. Carissa pun datang ke butik hanya karena mengingat semalam mertuanya ingin berkunjung ke butik miliknya.


"Indah sekali dekorasinya." puji Bunda Tamara melihat tembok yang sudah terdapat mural cantik namun elegan.


Mata Bunda Tamara langsung terpaku pada sebuah gaun yang terpajang pada patung didalam ruangan itu. Gaun panjang berlengan pendek warna peach dengan aksen floral yang terlihat sederhana namun elegan.


"Gaun ini cantik sekali. Ini karyamu, Sayang?" tanya Bunda Tamara yang dijawab anggukan kepala dan senyuman Carissa yang malu-malu.


"Apa ada ukuran untuk Bunda?" tanya Bunda Tamara lagi.


"Ini cuma satu size, Bun. Karena Rissa cuma buat satu model dan satu ukuran untuk setiap gaun." jawab Carissa membuat wajah Bunda Tamara menjadi lesu.


"Kalau Bunda mau, coba saja dulu ini. Siapa tau pas dengan ukuran Bunda." tambah Carissa seketika Bunda Tamara kembali menampakkan senyumnya.


Carissa melepas gaun dari patung itu lalu menyerahkannya kepada Bunda Tamara. Dengan bersemangat Bunda Tamara membawa gaun peach itu menuju ruang ganti.


"Dasar wanita kalau urusan pakaian pasti seperti itu." ucap Ayah Adhitama.


Carissa yang mendengar ucapan ayah mertuanya hanya bisa terkekeh pelan.


"Aaaaa....." teriak Bunda Tamara membuat Carissa dan Ayah Adhitama bergegas menuju ke ruang ganti.


"Ada apa, Bun?" tanya Ayah Adhitama panik.


"Bunda baik-baik saja kan?" tanya Carissa yang tak kalah panik.


Ceklek!


Pintu ruang ganti pun terbuka. Bunda Tamara keluar mengenakan gaun peach itu dengan senyuman cantik diwajahnya. Bunda Tamara berjalan dengan berlenggak-lenggok bak seorang model di karpet merah.


"Bagaimana penampilan Bunda?" tanya Bunda Tamara.


"Kenapa kalian malah bengong?" tanya Bunda Tamara lagi yang kebingungan melihat ekspresi suami dan menantunya.


"Bunda baik-baik saja?" tanya Carissa yang dijawab anggukan kepala Bunda Tamara dengan cepat.


Carissa pun bernafas lega.

__ADS_1


"Kenapa Bunda tadi berteriak?" tanya Ayah Adhitama yang sudah memasang wajah dingin.


"Hehe.. Tadi Bunda histeris karena gaun ini pas sekali di tubuh Bunda. Lihatlah cantik kan, Yah?" tanya Bunda Tamara tanpa merasa bersalah.


"Kau baru saja membuatku dan menantumu panik karena teriakanmu tadi." ucap Ayah Adhitama kesal.


"Hehe.. Maaf ya Yah, Rissa." kata Bunda Tamara tak enak hati.


"Sudahlah. Kau lanjutkan saja, aku mau duduk dulu." ucap Ayah Adhitama yang memang tadi merasakan detak jantungnya begitu kencang karena mendengar teriakan istrinya.


Tidak bisa dipungkiri, Ayah Adhitama sangat mencintai Bunda Tamara dan tidak ingin hal buruk terjadi pada istrinya. Wajar saja kalau tadi Ayah Adhitama merasakan panik setengah mati.


"Ayah bisa istirahat di ruangan Rissa saja, Yah." tawar Carissa.


"Baiklah." ucap Ayah Adhitama kemudian mengikuti menantunya menuju ke sebuah ruangan yang ada di balik ruang ganti.


"Ayah bisa istirahat disini." kata Carissa lembut menunjukkan sebuah ranjang single yang ada diruangan itu.


Carissa menuju pantry lalu membuatkan minuman hangat untuk mertuanya.


"Ayah, ini teh peppermint untuk menenangkan pikiran. Semoga Ayah merasa lebih baik." ucap Carissa menyerahkan segelas minuman kepada mertuanya.


"Terimakasih banyak, Nak. Bundamu itu memang kalau terlalu bahagia bisa membuat orang jantungan. Untung saja Ayah tidak punya riwayat sakit jantung." kata Ayah Adhitama memancing tawa kecil Carissa.


Saat Carissa keluar dari ruangannya, ia mendapati Bunda Tamara memutar-mutar badannya menghadap kaca besar yang menempel di dinding dengan wajah sumringah. Carissa tersenyum melihat ekspresi mertuanya yang sangat bahagia itu.


"Bunda suka gaunnya?" tanya Carissa menghampiri mertuanya yang masih berputar-putar didepan cermin.


"Tentu saja, Sayang. Lihatlah Bunda jadi terlihat langsing dan lebih cantik, kan?" tanya Bunda Tamara.


"Iya, Bunda memang cantik. Mau pakai apapun tetap cantik." puji Carissa karena memang kenyataan meskipun usia mertuanya sudah hampir setengah abad namun masih terlihat muda dan cantik.


"Kamu bisa aja, Sayang." sahut Bunda Tamara.


"Menantu Bunda memang berbakat. Boleh fotokan Bunda, Sayang?" tanya Bunda Tamara sembari merogoh ponsel di dalam tasnya.


"Tentu, Bunda. Dengan senang hati." jawab Carissa mengambil ponsel mertuanya lalu meminta mertuanya untuk bergeser posisi menuju dinding yang terdapat mural-mural cantik.


"1, 2, 3." ucap Carissa.


Cekrek!


Cekrek!

__ADS_1


Dengan lihai Carissa memotret gambar mertuanya dan juga mengarahkan beberapa gaya kepada mertuanya.


"Lihat hasilnya, Bunda sudah seperti model profesional." ucap Carissa seraya memperlihatkan hasil foto di layar ponsel mertuanya.


"MasyaAllah.. Ini Bunda?" tanya Bunda Tamara tak percaya.


Carissa terkekeh melihat ekspresi terkejut mertuanya.


"Sayang, selain berbakat sebagai desainer ternyata kamu juga berbakat jadi fotografer." puji Bunda Tamara.


"Memang Rissa harus menguasainya Bunda. Karena untuk menghemat budget juga, karena menyewa jasa fotografer sekarang lumayan biayanya." kata Carissa membuat Bunda Tamara semakin kagum dengan menantunya.


"Sepertinya Devian benar-benar menemukan harta karun. Bunda beruntung menjadi mertuamu, Sayang." ucap Bunda Tamara memeluk erat menantunya dan menciumi wajah Carissa dengan penuh kasih sayang.


Carissa dengan senang hati menerima perlakuan hangat ibu mertuanya dan hanya bisa membalas dengan senyuman.


"Bunda ambil gaun ini ya?" tanya Bunda Tamara.


"Kalau Bunda suka, ambil saja." jawab Carissa.


"Berapa harganya? Bunda akan membayarnya." tanya Bunda Tamara lagi.


"Tidak, Bunda. Ini hadiah dari Rissa buat Bunda." tolak Carissa.


"Oh tidak. Gaun ini adalah karyamu, Sayang. Ini adalah bisnis, Bunda tidak mau menerimanya secara gratis." ucap Bunda Tamara.


"Tidak, Bunda. Ini adalah hadiah untuk mertua Rissa yang baik hati." sahut Carissa bersikeras.


"Kalau begitu, Bunda akan tetap membayarnya sebagai wujud penghargaan atas karyamu. Dan rasa terimakasih karena sudah memberikan hadiah yang sangat cantik dan indah untuk Bunda." kata Bunda Tamara tak mau kalah.


"Bundaaa..." rengek Carissa.


"Dilarang menolak. Meskipun kita adalah keluarga tapi bisnis tetaplah bisnis." ucap Bunda Tamara membuat Carissa tak mampu berkata-kata lagi.


"Nanti Bunda langsung transfer ke rekeningmu ya, Sayang." tambah Bunda Tamara.


"Terserah Bunda saja." ucap Carissa pasrah.


"Terimakasih, Sayang." kata Bunda Tamara senang lalu kembali mengeratkan pelukannya.


"Sama-sama, Bunda." ucap Carissa seraya membalas pelukan hangat mertuanya.


Setelah melepaskan gaunnya, Bunda Tamara menyusul Ayah Adhitama yang sedang beristirahat di ruangan menantunya. Sedangkan Carissa sibuk membungkus gaun untuk mertuanya. Tanpa sepengetahuan Bunda Tamara, Carissa juga membungkus sebuah dress warna hijau mint untuk mertuanya.

__ADS_1


-BERSAMBUNG


__ADS_2