
"Apa kau sudah menyiapkan jawabanmu?" tanya Dewa saat Saras mengajaknya bertemu disebuah kafe.
"Iya, sudah." jawab Saras.
"Aku tidak ingin mendengar penolakan." ucap Dewa tegas.
"Aih.. Pria ini benar-benar." batin Saras menghela nafas.
"Apa yang akan aku dapatkan jika kau menerimamu?" tanya Saras bernegosiasi.
"Kalau kita menikah, aku pastikan kau mendapatkan semua hakmu sebagai istri. Aku tahu kau belum memiliki perasaan kepadaku jadi tidak masalah kalau kita berjuang bersama dalam hubungan ini." jawab Dewa.
"Bukankah itu terdengar sangat mudah sekali. Kau tidak ingin melakukan perjanjian pernikahan?" tanya Saras tak percaya.
"Tidak perlu. Aku serius dengan hubungan ini. Tak masalah kalau kau belum bisa membuka hatimu untukmu tapi kau harus setuju menikah denganku." jawab Dewa.
"Itu berarti kau memaksaku. Dasar pria aneh." batin Saras.
"Apa yang perlu aku lakukan selama menjadi istrimu?" tanya Saras lagi.
"Kau hanya perlu melakukan tugasmu sebagai istri." jawab Dewa santai.
"Termasuk... Emm...itu?" tanya Saras gugup.
"Itu apa?" tanya Dewa bingung.
"Itu.. Hubungan suami istri?" tanya Saras malu-malu.
Saras tidak berani menatap wajah Dewa saat mengatakan hal itu membuat Dewa tersenyum tipis.
"Jangan khawatir, aku tidak akan memaksamu. Kita akan melakukannya jika suka sama suka." jawab Dewa membuat Saras lega.
"Untunglah dia masih waras." batin Saras.
"Jadi kau setuju menikah denganku?" tanya Dewa memastikan.
"Iya, aku setuju." jawab Saras.
"Baiklah. Besok kita akan menikah. Resepsi akan diadakan minggu depan." ucap Dewa membuat Saras terkejut.
"Hey, bukankah itu terlalu cepat? Bahkan aku saja belum mengenal keluargamu." protes Saras.
"Kau tenang saja, keluargaku pasti akan menerimamu. Aku akan menjemputmu besok pagi untuk ke kantor agama. Aku sudah menyiapkan pakaian untuk kita menikah besok." ucap Dewa lagi.
"Ini terdengar seperti kau sudah tahu jawabanku dan menyiapkan semuanya. Bukankah kau sudah menebaknya dan menjebakku?" kata Saras tersadar.
"Kau sendiri yang menyetujuinya. Aku hanya berpikir kalau lebih cepat maka lebih baik." jawab Dewa santai.
"Sialan, aku benar-benar tidak bisa melawan pria ini. Apakah kehidupanku kedepannya akan aku habiskan dengan pria seperti ini?" tanya Saras dalam hati.
Dewa mendengar hembusan nafas kasar dari mulut Saras.
"Kau sudah menyetujuinya, jadi kau tidak bisa membatalkannya." ucap Dewa memberi peringatan.
__ADS_1
"Ya, aku tahu." sahut Saras.
...****************...
"Aku tidak menyangka tempat ini benar-benar bagus lebih dari yang aku bayangkan." ucap Carissa senang.
"Kita bisa berkunjung setiap sebulan sekali kalau kau mau." kata Devian.
"Ah itu tidak perlu. Lagipula perutku akan semakin membesar. Pasti akan tidak nyaman melakukan perjalanan." tolak Carissa.
"Baiklah. Ini sudah menjadi tempatmu, kau bebas mengunjunginya kapan saja." ucap Devian.
"Iya, terimakasih suamiku." sahut Carissa yang dibalas dengan belaian lembut Devian dikepalanya.
"Ah, mataharinya sudah mulai turun. Ayo pergi ke bagian sana, aku ingin melihat sunset lebih dekat." ajak Carissa antusias.
"Baiklah. Hati-hati berjalanlah dengan pelan." ucap Devian mengingatkan istrinya yang berlari kecil karena terlalu bersemangat.
"Aaa.." pekik Carissa saat kakinya terkena batu karang yang berada dipasir pantai.
"Sudah kubilang jalan pelan-pelan kan. Sini aku lihat kakimu dulu." kata Devian lembut.
Devian mengajak Carissa duduk dipasir kemudian mengangkat kaki istrinya yang tergores batu karang.
"Tadi kan aku sudah mengingatkanmu untuk memakai alas kaki kenapa tidak memakainya?" tanya Devian serius.
"Itu membuatku tidak nyaman. Maaf aku kurang berhati-hati karena terlalu bersemangat." jawab Carissa bersalah.
"Haih.. Kau juga harus ingat kalau sekarang ada nyawa lain didalam tubuhmu. Berhati-hatilah." ucap Devian mengingatkan.
Devian tersenyum kemudian membersihkan telapak kaki Carissa yang tertempel pasir.
"Aku akan menggendongmu." ucap Devian.
"Tidak. Aku mau berjalan sendiri lagipula ini hanya luka kecil." tolak Carissa.
"Nanti kalau kemasukan pasir lagi akan infeksi. Jangan keras kepala, oke? Biarkan aku menggendongmu." kata Devian tak mau dilawan.
"Bukankah dirimu yang keras kepala? Kau minta saja seseorang untuk membawakan sandal untukku." ucap Carissa membuat Devian menghela nafas.
"Kau ini benar-benar ya. Untung saja aku mencintaimu." kata Devian.
"Baguslah." sahut Carissa santai membuat Devian tidak bisa berkata-kata lagi.
Tak lama seseorang datang membawakan satu pasang sandal wanita kepada Devian.
"Pakailah. Ingat, berjalan pelan dan hati-hati." ucap Devian serius.
"Oke, suamiku sayang." sahut Carissa kembali mengecup pipi Devian membuat pria itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sial, ternyata aku benar-benar telah kalah dengan rubah kecil ini." batin Devian.
Devian tersenyum saat Carissa berjalan dengan riang ditepi pantai. Langit yang mulai memerah menambah kesan romantis dihari pertama bulan madu mereka. Devian tidak lupa untuk mengabadikan momen itu. Devian sudah menyiapkan 3 orang fotografer di posisi yang berbeda untuk mengambil foto keduanya secara candid.
__ADS_1
"Semoga aku selalu bisa membuatmu seperti ini, Sayang." gumam Devian yang melihat senyum kebahagiaan terpancar diwajah Carissa.
"Dev, ayo." panggil Carissa menyadari suaminya masih dibelakangnya.
"Ya, tunggu aku." sahut Devian kemudian bergegas menyusul istrinya.
Setelah puas bermain dipinggir pantai, Devian mengajak Carissa kembali ke villa. Hari juga sudah mulai gelap, Devian meminta Carissa untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
"Sayang, kau yakin membiarkan aku mandi duluan?" tanya Carissa menggoda.
"Jangan memancingku. Malam ini masih ada hal yang harus kita lakukan." jawab Devian.
"Aih.. Baru kali ini kau menolakku. Aku merasa sangat kecewa." ucap Carissa memasang wajah sedih.
"Tahanlah sebentar. Setelah makan malam, aku akan memuaskanmu." bisik Devian seketika membuat tubuh Carissa meremang.
"Ah baiklah. Aku mandi dulu." ucap Carissa kemudian segera menutup dan mengunci pintu kamar mandi membuat Devian terkekeh.
"Sial! Niatku mau menggodanya malah justru aku yang tergoda dengannya. Pesona Devian benar-benar kuat sekali." gerutu Carissa merutuki dirinya sendiri.
15 menit berlalu, Carissa sudah keluar dengan balutan bathrobe ditubuhnya.
"Aku sudah menyiapkan gaunmu, pakai dan bersiaplah." ucap Devian kemudian masuk ke kamar mandi.
"Wah, selera Devian keren juga. Cantik sekali." gumam Carissa saat melihat sebuah gaun malam tergantung dilemari dalam kamar.
Sebuah gaun panjang berwarna hitam dengan potongan v-neck rendah tanpa lengan dan ada belahan dibagian bawahnya membuat kesan seksi namun tetap elegan.
"Apakah dia yakin ingin aku memakai gaun ini?" tanya Carissa lagi saat menyadari gaun itu cukup mengekspos bentuk tubuhnya.
"Lebih baik aku memoles wajahku dulu." ucap Carissa sembari menunggu suaminya selesai mandi.
Carissa menyanggul tinggi rambutnya sehingga menampakkan leher jenjangnya.
"Sayang, kau sudah siap?" panggil Devian.
"Iya, tunggu sebentar." sahut Carissa.
Devian menelan salivanya saat melihat tampilan istrinya.
"Sial, sepertinya aku salah memilih gaun. Kalau begini bagaimana bisa aku menahannya." gumam Devian kesal dengan gaun pilihannya sendiri.
"Ada apa, Sayang? Kenapa diam saja? Apakah penampilanku buruk?" tanya Carissa sembari berjalan mendekati Devian.
"Kau sangat cantik dan seksi." jawab Devian jujur.
"Jadi apa yang akan kita lakukan? Kenapa kau memintaku memakai pakaian seperti ini?" tanya Carissa dengan gerakan sengaja menggoda Devian.
"Sayang, jangan menggodaku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku lepas kendali. Aku tidak menyangka kalau gaun yang kupilih ternyata membuatmu terlihat sangat seksi." jawab Devian bersalah.
"Tidak masalah. Lagipula kau sudah menikmati tubuhku bukan bahkan kau sering melihatnya tanpa sehelai benangpun." ucap Carissa sengaja menggoda suaminya.
"Sayang, hentikan. Ayo kita pergi." ajak Devian cepat sebelum dirinya tidak lepas kendali jika terus mendengar godaan Carissa.
__ADS_1
"Baiklah." sahut Carissa terkekeh.
-BERSAMBUNG