Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Pria Dingin


__ADS_3

Di sebuah resto bintang lima.


Kedua orangtua Devian dan Carissa sedang makan siang bersama. Mereka sengaja bertemu untuk membahas hubungan anak mereka.


"Jadi bagaimana, Kra? Kapan kita langsungkan pernikahan anak kita? Aku sudah tak sabar ingin menggendong cucu." ucap Adhitama di sela-sela suapan makan siangnya.


"Yah, biar Devian dan Carissa yang memutuskannya. Mereka yang pantas menentukan masa depan mereka sendiri." ucap Tamara yang mendengar perkataan yang terkesan memaksa dari suaminya itu.


"Aku setuju dengan Kak Tamara. Biarkan anak kita yang memutuskan kapan mereka menikah. Kita sebagai orangtua hanya bisa mendukung tanpa mencampuri urusan mereka." ucap Allisa mendukung calon besannya.


"Sepertinya aku salah mengajak orang dalam diskusi ini." ucap Adhitama mendengar penolakan dari kedua wanita yang ada di hadapannya.


Cakra hanya terkekeh mendengar perkataan Adhitama.


"Dhi, aku juga tidak sabar untuk segera menimang cucu. Tapi benar kata isteriku dan isterimu, kalau keputusan menikah biar anak kita sendiri yang menentukan." ucap Cakra.


"Sejak kapan kau jadi tidak mendukungku, Kra?" tanya Adhitama yang kesal karena usulannya juga ditolak oleh sahabatnya.


"Ayah.. yang dibilang Cakra dan Allisa benar. Kita tak perlu ikut campur. Lagipula yang menjalani pernikahan itu kan Devian dan Carissa." jawab Tamara yang mencoba menenangkan suaminya.


"Benar, Dhi. Sudahlah kita sudah setua ini. Tak usah repot-repot memikirkan urusan anak kita yang masih muda. Nanti kalau ada masalah, baru kita turun tangan." sahut Cakra yang menepuk pundak Adhitama.


Adhitama menghembus nafas kasar. Sejenak ia berpikir, benar yang dikatakan ketiga orang itu.


"Baiklah. Tapi kalau bisa secepatnya kita buat Devian menikahi Carissa." ucap Adhitama yang masih kekeh dengan keinginannya.


"Terserah Ayah saja." ucap Tamara pasrah.


Cakra dan Allisa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan Adhitama yang keras kepala.


*


*


*


"Sayang, apa kau sudah memilih gaun pernikahan?" tanya Alex yang saat ini berada di ruangan Aninda saat jam istirahat.


Aninda menganggukan kepalanya.


"Aku sudah meminta Carissa untuk membuatkan gaun khusus untukku. Bahkan dia tidak mau aku bayar, dia bilang itu hadiah pernikahanku." ucap Aninda berbinar.


"Syukurlah." sahut Alex lega.


"Kenapa? Apa kau ada masalah? Atau kesulitan?" tanya Aninda yang mendapati Alex sedang gundah.


"Tidak. Aku hanya sudah tidak sabar menanti hari bahagia kita." ucap Alex yang melemparkan senyum nakal pada Aninda.


"Dasar kau ini. Bersabarlah." ucap Aninda yang seketika wajahnya bersemu merah.


"Hemm baiklah. Aku tidak sabar menunggu malam pertamaku." seru Alex bersemangat.


"Alex! Dasar mesum!" umpat Aninda yang kemudian mendorong tubuh Alex untuk segera keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"Kenapa kau mengusirku?" protes Alex yang sudah berdiri di depan pintu ruangan Aninda.


"Aku masih banyak pekerjaan. Lebih baik kau segera menyelesaikan pekerjaanmu sebelum Devian memarahimu." ucap Aninda yang langsung menutup pintu ruangan dan menguncinya.


"Sayang kenapa kau tega sekali mengusirku?" ucap Alex memelas.


Seketika para karyawan yang berlalu lalang di depan ruangan Aninda langsung menoleh ke arah Alex.


"Jangan menertawakanku!" seru Alex dengan wajahnya yang kembali dingin kemudian berlalu untuk kembali ke ruangannya.


"Apakah tadi itu, Pak Alex?" bisik seorang karyawan wanita pada rekannya.


"Ternyata seorang pria dingin dan jutek akan lemah juga jika bersama pawangnya." sahut karyawan yang lain seketika disambut tawa kecil para karyawan.


*


*


*


Ting!


Pintu lift terbuka.


Saras memasuki lift dengan tergesa-gesa. Tanpa ia sadari didalam lift itu sudah berdiri seorang pria.


Ketika Saras keluar lift ia tidak sadar jika menjatuhkan sebuah berkas penting.


"Panggil Saras untuk segera ke ruangan saya!" perintah seorang pria yang membawa berkas yang dijatuhkan Saras ketika di lift tadi kepada bawahannya.


Kring!


Kring!


"Hallo, Mbak Saras diminta untuk ke ruangan Pak Dewa segera!" ucap seorang karyawan wanita.


"Hah? Aku? Serius?" tanya Saras memastikan.


"Iya, Mbak. Segera ya! Sudah ditunggu Pak Dewa." ucap karyawan itu lalu memutuskan sambungan telponnya.


"Ada apa ini? Kenapa aku merasa akan terjadi sesuatu yang buruk?" gumam Saras yang sudah berprasangka buruk.


Saras menghela nafas kemudian segera menuju ruangan HRD.


Tok Tok!


"Masuk!" suara bass dari dalam ruangan itu seketika membuat tubuh Saras merinding.


Saras membuka pintu dengan perlahan lalu melangkahkan kakinya dengan hati-hati, ia seperti sangat takut sepatunya yang menginjak lantai akan menimbulkan suara di ruangan itu.


"Duduk!" perintah Dewa.


Saras segera menuruti perintah Dewa tanpa mendongakkan kepalanya.

__ADS_1


"Kamu tau apa kesalahanmu?" tanya Dewa tanpa basa-basi.


Saras menggelengkan kepalanya. Saras merasa tidak melakukan kesalahan.


"Lalu kenapa kau tidak berani mengangkat wajahmu seperti kamu sudah melakukan kesalahan fatal saja?" tanya Dewa yang melihat Saras sedari tadi menundukkan kepalanya.


Saras hanya menjawab dengan gelengan kepala. Tak Saras pungkiri, ia memang sangat takut dengan satu orang ini.


"Coba lihat ini!" ucap Dewa lalu meletakkan sebuah map di depan Saras.


Saras mencoba melihat map yang ada didepannya saat ini. Saras membuka dan membaca sedikit isi dari kertas yang ada dalam map itu.


"Bagaimana berkas ini bisa sama Bapak?" tanya Saras yang saat ini menatap wajah Dewa.


"Kamu masih bertanya bagaimana?" jawab Dewa ketus yang membuat Saras menundukkan pandangannya lagi.


"Ma-maaf, Pak." ucap Saras dengan tubuh bergetar, ia sangat ketakutan.


"Untung saja aku yang menemukan berkas ini di lift tadi. Jika tidak, gara-gara kecerobohan kamu bisa saja berkas ini jatuh ke tangan yang tidak bertanggungjawab." ucap Dewa dengan nada yang menembus jantung Saras.


Saras merasa tertusuk dengan perkataan Dewa.


"Ma-maaf, Pak. Saya mengaku salah. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi." ucap Saras pasrah. Sebenarnya Saras sangat takut jika kecerobohannya ini membuatnya dipecat dari pekerjaannya.


Dewa memandang Saras yang ketakutan. Dewa sangat kesal namun ada perasaan iba pada Saras.


"Keluarlah! Simpan berkas itu dengan baik. Jangan sampai terulang lagi!" seru Dewa.


"Baik. Terimakasih Pak Dewa." ucap Saras yang bergegas membawa map yang ada dihadapannya dan segera meninggalkan ruangan pria dingin itu.


Saras menutup pintu ruangan Dewa dengan sangat hati-hati. Saras menghembuskan nafas lega.


"Alhamdulillah, ya Allah..." ucap Saras penuh syukur karena bisa keluar dari ruangan Dewa dengan selamat.


"Jangan sampai aku berurusan dengan dia lagi." batin Saras kemudian segera melangkah untuk kembali keruangannya.


*


*


*


(Hai Readers! Terimakasih yang sudah setia menunggu kelanjutan kisah "GEJOLAK CINTA TUAN DAN NONA MUDA" ❤ Minthor masih baru ya, maaf jika penggunaan bahasanya monoton dan banyak typo! Hehehe


Ide cerita ini masih berjalan ya, jadi updatenya masih sedikit-sedikit. Minthor usahakan setiap hari up episode! 😁😁


Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya! Jadikan favorit, kasih vote dan rating bintang ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ ya Readers DeVRissa Lovers🤭🤭)


-BERSAMBUNG


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2