Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Menyerah


__ADS_3

"Sayang? Kau dengar dokter tadi bilang apa? Katanya aku akan menjadi seorang ayah. Apa kau juga mendengarnya?" tanya Devian yang masih kaget dengan kabar yang diterimanya.


"Sebentar lagi kau juga akan menjadi seorang ibu. Apa kau menyukainya?" tanya Devian lagi.


"Apa kau baik-baik saja? Apakah bayi kita menyakitimu? Aku tidak tahu harus bahagia seperti apa. Sadarlah sayang, aku ingin berbagi kabar bahagia ini bersamamu." kata Devian lagi yang sudah menitikan airmatanya.


Bagaimanapun seorang pria yang akan menjadi seorang ayah pasti akan merasakan hal yang sama seperti Devian.


Beberapa saat kemudian datang para petugas yang akan membawa Carissa untuk dipindah ke ruang rawat inap. Devian keluar lebih dulu agar tidak mengganggu kinerja para petugas.


"Arya terimakasih sudah membawa istriku kemari." ucap Devian.


"Maaf atas tindakan konyolku tadi." tambah Devian merasa bersalah.


Arya menghampirinya kemudian menepuk pundak Devian.


"Selamat. Jaga Rissa baik-baik." ucap Arya membuat Devian menoleh dan memberikan tatapan tajam.


"Tenang saja aku tidak akan merebut Rissa darimu. Aku tidak sejahat itu untuk memisahkan anak dari kedua orangtuanya. Mengenai kerjasamaku dengannya aku akan bersikap profesional." kata Arya menjelaskan sebelum sebuah tinju melayang diwajahnya.


"Apa kau pernah menyukainya?" tanya Devian memastikan.


"Suka? Ya aku pernah menyukainya. Bahkan sampai saat ini pun aku juga masih menyukainya." jawab Arya jujur.


"Lalu kenapa kau tidak mencoba mencari kesempatan untuk merebutnya dariku?" tanya Devian.


"Hahaha. Kau lucu sekali, Dev. Mana ada seorang suami bertanya seperti itu dengan saingan cintanya. Memangnya kau akan diam saja jika aku berusaha untuk merebutnya?" ucap Arya balik bertanya.


"Tentu saja tidak. Aku tidak akan memberimu celah sedikitpun." jawab Devian dengan tatapan bengisnya membuat Arya terkekeh.


"Aku tahu kau akan berkata seperti itu. Kalian berdua saling mencintai. Aku bisa melihat tatapan penuh cinta dimata Carissa begitu juga dengan dirimu. Mau berusaha sekeras apapun sepertinya aku tidak akan sanggup membuat jarak diantara kalian." kata Arya mengingat beberapa momen saat melihat bagaimana interaksi Carissa dengan Devian.


"Mungkin dulu aku menyukainya tapi hanya sebatas cinta monyet. Aku memang sempat mempunyai pikiran untuk merebutnya darimu, bahkan semalam aku masih berpikir seperti itu. Tapi saat aku bertemu dengannya lagi, aku bisa melihat dia hanya menganggapku tak lebih dari teman di masa lalunya. Dia tidak pernah jatuh cinta padaku."


"Aku bahagia Rissa bisa bertemu dengan pria sepertimu. Aku yakin kau akan selalu membahagiakannya. Kalian berdua memang ditakdirkan untuk bersama." ucap Arya yang menyentuh hati Devian.


"Terimakasih telah mengikhlaskan Carissa padaku." kata Devian.


"Kau memang yang berhak atas dirinya. Aku harap kalian akan menjadi pasangan abadi walau maut memisahkan kalian." ucap Arya setulus hati.


Devian tersenyum kemudian memberi pelukan persahabatan untuk Arya.


"Semoga Tuhan mempertemukan wanita terbaik untukmu." kata Devian mendo'akan.


"Ya, semoga Tuhan memberiku kembarannya Carissa." ucap Arya yang disambut tawa kedua pria itu.


Keduanya kemudian saling berbincang selayaknya dua pria yang sudah akrab sejak lama. Tak berselang lama para petugas yang memindahkan Carissa keluar dan akan menuju ke ruang rawat inap yang sudah disiapkan.


"Aku pamit dulu. Sampaikan salamku pada Rissa kalau sudah sadar nanti." ucap Arya berpamitan.


"Baik. Terimakasih." sahut Devian kemudian mengikuti petugas yang membawa istrinya.


"Aku sudah menyerah. Semoga kalian bahagia." gumam Arya menatap langkah Devian yang mengikuti Carissa.


"Ternyata melepaskanmu tak sesakit yang aku bayangkan, Sa."


Arya mengatur nafasnya kemudian senyuman terlukis diwajahnya.


BRUK!


Saat berbalik badan Arya tidak menyadari jika ada orang sedang berjalan dibelakangnya. Dengan sigap tangan Arya menopang tubuh seorang wanita yang tak lain adalah Mira, dokter cantik yang memeriksa Carissa.


Kedua mata mereka saling bertatapan cukup lama hingga akhirnya Mira lah yang lebih dulu sadar.


"Mau berapa lama Pak Arya mau menahan saya seperti ini?" tanya Mira seketika menyadarkan Arya.


Dengan cepat Arya membantu Mira untuk berdiri dan melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Maafkan saya, Dok." ucap Arya kikuk.


Mira hanya menatapnya sekilas kemudian dengan cepat masuk keruangannya.


Arya yang melihat kepergian Mira begitu saja merasa canggung dan tak enak hati. Arya ingin meminta maaf sekali lagi namun suara dering ponsel menghentikan niatnya.


"Baik, aku akan segera kesana." ucap Arya cepat.


Sekilas Arya menoleh kearah pintu ruangan Mira yang tertutup kemudian menghela nafas.


"Aku akan menemuimu lagi." ucap Arya lirih kemudian bergegas kembali ke perusahaannya.


Didalam ruangannya Mira mencoba mengatur nafasnya yang masih menderu.


"Perasaan apa itu tadi? Aneh sekali saat aku menatap mata Pak Arya." gumam Mira mengingat kejadian tak terduga beberapa menit yang lalu.


"Dia memang tampan sih. Tapi usianya 3 tahun lebih muda dariku."


"Ah apa yang aku pikirkan? Bodoh sekali. Tidak mungkin." ucap Mira kemudian mengusap wajahnya kasar mencoba membuang pikiran yang tidak bisa dia pertanggungjawabkan.


*


*


*


Di MF Group.


Kring Kring


Suara telpon kantor diruangan Saras berbunyi nyaring.


"Halo selamat siang." sapa Saras lembut.


"Siang ini kamu ikut saya menemui klien." suara dari telpon itu seketika membuat Saras membeku.


"Kenapa harus saya, Pak?" tanya Saras bingung.


"Tidak usah banyak tanya. Jam setengah 12 saya tunggu di loby." jawab Dewa ketus membuat Saras ingin sekali mengumpatnya namun tidak berani.


"Baik, Pak." sahut Saras kemudian Dewa mematikan panggilan suara begitu saja.


"Ah sial sial! Kenapa harus bertemu dia lagi sih? Aku sudah berusaha menghindarinya." gerutu Saras kesal.


"Ikut bertemu klien dengannya? Sejak kapan aku berubah posisi menjadi asistennya?" ucap Saras bertanya-tanya.


"Dasar manusia tidak jelas. Suka seenaknya saja. Memangnya dia pikir dia siapa." umpat Saras meluapkan kekesalan yang ada dihatinya.


"Enak sekali memerintah dan harus dituruti kemauannya. Menyebalkan sekali." ucap Saras menggerutu sambil mengacak-acak rambutnya.


Entah Saras sadari atau tidak, akhir-akhir dirinya selalu saja memikirkan tentang Dewa. Memikirkan tingkah laku Dewa yang seenaknya sendiri membuatnya tidak berhenti untuk membicarakannya dengan kesal.


Begitu juga Dewa, entah kenapa dia sering mencari waktu untuk mengganggu Saras. Entah untuk mengerjainya atau sekedar membuat Saras kesal.


Aninda dan Carissa yang mendengar curhatan Saras tentang Dewa hanya menanggapinya dengan tertawa dan sedang menanti perkembangan yang akan terjadi dalam hubungan kucing dan tikus itu.


Rasa benci jadi cinta, sepertinya sudah sering terjadi.


Apalagi jika setiap hari harus bertemu, pasti perasaan itu lama kelamaan akan mulai tumbuh dengan sendirinya. Seperti Saras dan Dewa entah bagaimana nanti kedepannya. Akan banyak drama yang terjadi kalau mereka berdua memang benar-benar ditakdirkan berjodoh.


Waktu berlalu begitu cepat, Saras hampir saja lupa dengan perintah Dewa. langsung bergegas untuk turun ke loby.


"Aduh kenapa aku sampai lupa sih. Pasti kena semprot lagi deh." batin Saras menyadari kesalahannya.


Mendengar omelan Dewa sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Saras. Sifatnya yang ceroboh memang sangat berlawanan dengan Dewa yang sangat teliti dan disiplin akan waktu.


"Telat 2 menit." ucap Dewa dingin tanpa melihat ke arah Saras.

__ADS_1


"Ma-maaf, Pak." suara nafas Saras terdengar tersengal-sengal karena berlari menuruni tangga karena saking paniknya sampai dirinya lupa menggunakan lift.


"Ayo cepat." ajak Dewa kemudian diikuti Saras berjalan dibelakangnya menuju parkiran.


"Kenapa kau berantakan sekali?" tanya Dewa saat sudah berada didalam mobil.


Pandangan mata Dewa tertuju pada rambut Saras yang berantakan dan buliran keringat yang menempel di kening wanita itu.


"Iya Pak. Tadi saking paniknya sampai lupa menggunakan lift. Jadi saya turun lewat tangga dengan berlari." jawab Saras jujur.


"Dasar bodoh!" sahut Dewa yang tidak habis pikir dengan kecerobohan Saras kalau sudah dilanda kepanikan.


Telinga Saras sudah sangat kebal dengan kata-kata makian yang terlontar dari mulut Dewa. Hatinya sudah seperti baja kalau berbicara dengan pria dingin itu.


Tiba-tiba Saras dikejutkan oleh tangan Dewa yang menyeka keringatnya dengan tisu. Bahkan Saras bisa merasakan perlakuan lembut saat Dewa juga merapikan rambutnya yang berantakan.


"Bi-biar saya sendiri, Pak." kata Saras gugup seketika membuat Dewa tersadar dan menarik tangannya kemudian menyerahkan selembar tisu kepada Saras.


Dewa juga terlihat gugup namun mencoba untuk menutupinya kemudian melajukan mobilnya.


"Tadi apakah itu benar-benar Pak Dewa?" tanya Saras dalam hati mengingat kejadian tak terduga beberapa menit yang lalu.


Suasana dimobil menjadi hening, Saras sampai mengatur nafasnya agar tidak terdengar oleh Dewa. Suasana dimobil tiba-tiba berubah mencekam. Dewa pun tidak berani melihat ataupun sekedar melirik Saras, ia lebih memilih fokus pada jalanan yang ada didepannya.


Setelah 20 menit berlalu tanpa kata dalam perjalanan, mobil berhenti disebuah resto bintang lima. Terlihat dari bangunannya saja sudah pasti pengunjung disini adalah orang berkelas papan atas.


"Ayo kita turun." ajak Dewa yang turun dari mobil kemudian baru disusul oleh Saras.


Saras mengikuti langkah Dewa memasuki resto dan langsung menuju ke lantai dua. Mereka berdua langsung duduk di tempat yang sudah dipesan 3 jam sebelumnya.


"Mau makan apa?" tanya Dewa setelah keduanya duduk berhadapan.


"Terserah Bapak saja. Saya tidak tahu selera makanan orang kaya." jawab Saras polos.


Hampir saja Dewa tertawa jika tidak ingat dia sedang menjaga image dirinya.


Seorang pelayan menghampiri kemudian dengan cepat Dewa mengucapkan pesanannya. Saras yang mendengar nama makanan dan minuman itu saja sudah tahu kalau harganya pasti mahal.


"Kliennya belum datang, Pak?" tanya Saras seketika Dewa menjadi gugup.


"Klien apanya? Aku hanya membohongimu. Sebenarnya aku hanya ingin mengajakmu makan siang." jawab Dewa namun hanya berucap dalam hati.


Mana mungkin Dewa akan mengatakan yang sebenarnya. Sungguh tinggi sekali gengsi pria itu.


"Iya mungkin akan datang terlambat." ucap Dewa datar.


Saras yang mendengar jawaban Dewa hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


Setelah menunggu cukup lama pesanan Dewa akhirnya datang. Melihat hidangan yang tersaji dimeja membuat mata Saras berbinar. Terutama saat melihat dessertnya, rasanya Saras ingin menyimpannya saja dilemari kaca.


"Makanan orang kaya memang berbeda." celetuk Saras menimbulkan suara tawa kecil dari mulut Dewa.


"Bapak baru saja tertawa?" tanya Saras memastikan pendengarannya tidak salah dengar.


"Uhuk! Selamat makan." ucap Dewa mencoba mengalihkan pembicaraan. Dewa tidak ingin Saras mengetahuinya kalau tadi dirinya benar-benar tertawa pasti akan menjadi bahan ledekan wanita itu.


Saras mengernyitkan dahinya kemudian mencoba menatap wajah Dewa dengan intens seperti sedang menyelidiki sesuatu.


"Ah mungkin telingaku bermasalah." ucap Saras lirih kemudian meneguk sedikit minuman yang ada dihadapannya. Setelah itu barulah mereka sibuk dengan makanannya masing-masing.


*


*


*


-BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2