
"Dev..." panggil Carissa lirih.
"Iya istriku.. Ada apa?" tanya Devian kemudian meletakkan ponselnya ke nakas.
"Ehm.. Aku ingin bercerita." jawab Carissa ragu-ragu.
"Ceritalah, aku akan mendengarkannya." ucap Devian lembut dengan tatapan dalam.
Melihat istrinya yang masih terdiam, Devian menggenggam tangan Carissa dengan lembut.
"Ceritakan saja agar tak mengganggu pikiranmu." kata Devian.
Carissa mengatur nafasnya kemudian menata kata-kata yang akan diutarakan kepada suaminya.
Lalu membalas genggaman tangan Devian dan menampakkan senyum manisnya.
Sebenarnya Carissa tidak berniat menyembunyikan kejadian yang ia alami tadi siang. Carissa masih terkejut dan berusaha untuk mengingat siapa sosok pria yang ia temui tadi, namun nihil. Carissa tidak mengingatnya sama sekali.
Carissa pun mulai menceritakan pertemuannya dengan pria misterius itu kepada suaminya.
"Maaf jika aku tidak langsung menceritakannya padamu daritadi. Jangan marah padaku ya?" kata Carissa merasa bersalah.
Devian tersenyum kemudian membelai lembut kepala Carissa. Lagipula tanpa Carissa bercerita pun, Devian sudah tahu apa yang dialami istrinya tadi siang.
"Aku tidak marah, Sayang. Apakah kau benar-benar tidak mengingatnya?" tanya Devian memastikan.
Carissa mengernyitkan dahinya sembari mengingat kembali wajah pria misterius itu.
"Dia menggunakan kacamata dan topi. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas." jawab Carissa membuat Devian ikut berpikir keras.
"Apa dia mengatakan sesuatu kepadamu?" tanya Devian membuat Carissa termenung sejenak.
"Dia berkata bahwa aku tidak hanya mengenalnya bahkan lebih.." ucap Carissa hati-hati sambil melihat ekspresi suaminya.
"Mungkinkah dia mantan kekasihmu sebelum berhubungan denganku?" tanya Devian yang terlihat penasaran.
Carissa mencoba mengingat kembali, namun ia tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang pria manapun. Devian merupakan cinta dan kekasih pertama Carissa. Bahkan mereka pun langsung menikah.
Carissa menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak pernah jatuh cinta kepada pria sebelum bertemu denganmu, Dev. Mana mungkin aku mempunyai mantan kekasih?" jelas Carissa dengan yakin kalau ingatannya tidak bermasalah.
Devian mengernyitkan dahinya mencerna jawaban istrinya. Kemudian senyuman diwajahnya mengembang.
"Jadi aku adalah pria satu-satunya yang bisa memenangkan hatimu?" tanya Devian dengan senyum menggoda Carissa.
__ADS_1
"Huuh.. Jangan menggodaku, Dev. Memang seperti itu kenyataannya." jawab Carissa dengan wajahnya yang sudah semerah tomat.
Devian terkekeh melihat istrinya yang malu-malu.
"Jangan malu, Sayangku. Kau juga wanita satu-satunya yang bisa mencairkan kebekuan dalam hatiku." ucap Devian membuat Carissa hampir tersedak air liurnya.
Carissa terkejut darimana suaminya mendapatkan kata-kata menggelikan itu.
"Kau waras kan, Dev?" tanya Carissa.
"Tidak. Aku sudah gila. Tergila-gila oleh pesonamu istriku." jawab Devian membuat Carissa semakin terkejut.
"Darimana kau belajar kata-kata seperti ini, Dev? Kau tidak salah minum obat kan?" tanya Carissa yang semakin merasa aneh dengan sikap suaminya.
"Ini kejujuran hatiku, Sayang." jawab Devian yang membuat Carissa semakin bergidik ngeri.
"Hentikan, Dev. Jadilah normal kembali." ucap Carissa dengan memukul pelan dada Devian sontak membuat pria itu tertawa.
"Bukankah wanita senang digombali oleh pria seperti itu?" tanya Devian yang masih terkekeh.
"Iya, senang. Tapi aneh jika gombalan itu keluar dari mulutmu, Dev." jawab Carissa membuat Devian tertawa lagi.
"Tapi aku menggombal hanya kepada istriku. Memangnya tidak boleh?" tanya Devian.
"Memangnya kau tidak menyukainya?" tanya Devian memastikan.
Dalam hati seorang wanita pasti akan senang saat mendapatkan gombalan dari orang tercintanya. Hanya saja Carissa tidak terbiasa mendengarnya. Terlebih Devian yang dikenalnya dari awal adalah pria yang dingin. Jadi melihat suaminya berubah 180 derajat membuatnya merasa aneh.
"Suka sih. Tapi aku tidak terbiasa mendengar kau mengatakan hal-hal aneh seperti itu." ucap Carissa jujur.
"Maka dari itu kau harus membiasakannya mulai sekarang. Karena suamimu ini sudah menghafalkan ribuan gombalan untuk istri tercintanya." kata Devian membuat Carissa membulatkan matanya.
"Terserah kau sajalah, Dev." sahut Carissa tak ingin suaminya menjadi lebih gila lagi.
Devian tersenyum senang kemudian memeluk tubuh istrinya. Carissa pun membalas pelukan itu dengan senang hati.
Tiba-tiba Carissa teringat sesuatu, ia pun melepaskan pelukannya dan turun dari ranjangnya. Devian hanya menyimak apa yang dilakukan istrinya.
Carissa meraih tasnya kemudian membuka dan mengeluarkan sebuah kain.
"Oh iya, Dev. Aku tadi menemukan ini. Mungkin saja milik pria tadi." sambil menyerahkan sebuah sapu tangan kepada suaminya.
Mata Devian tertuju pada bordiran nama diujung kain itu kemudian menoleh kepada istrinya.
"Kau sungguh tidak mengenalnya?" tanya Devian lagi yang langsung dijawab dengan gelengan kepala Carissa.
__ADS_1
"Aku sudah mencoba mengingatnya, Dev. Namun aku yakin tidak pernah punya hubungan dengan pria manapun selain denganmu." jawab Carissa yakin.
"Kau tidak mempercayaiku?" tanya Carissa.
Devian tersenyum kemudian kembali mendekap istrinya sembari mengusap lembut punggung Carissa.
"Tentu aku percaya denganmu, istriku." jawab Devian membuat Carissa bernafas lega.
Carissa menelusupkan wajahnya ke dada suaminya. Perasaannya menjadi tenang setelah bercerita dengan Devian.
Memang benar, saat sudah mempunyai pasangan maka kita harus saling terbuka satu sama lain. Berbagi kisah bisa menumbuhkan kepercayaan pasangan.
"Terimakasih suamiku." ucap Carissa lirih.
"Iya istriku. Kau bisa berbagi suka dukamu denganku. Kau bisa mengandalkanku." sahut Devian membuat Carissa semakin tenang.
"Aku beruntung memilikimu, Dev." kata Carissa lagi.
"Aku juga beruntung mempunyai istri sepertimu, Sayangku." sahut Devian.
Carissa yang mendengar panggilan mesra itu semakin tak bisa menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
"Jadi malam ini aku dapat jatah kan?" tanya Devian membuat tubuh Carissa meremang sontak melepaskan dirinya dari pelukan suaminya.
"Kau ini ya. Ujung-ujungnya tetap saja." gerutu Carissa menyentil hidung mancing suaminya.
"Tentu saja. Kau selalu saja bisa menggodaku." ucap Devian dengan senyum liciknya.
"Hei.. Kapan aku menggodamu? Jelas-jelas daritadi kau yang mengucap kata-kata gombal. Harusnya aku yang tergoda denganmu." protes Carissa namun segera menutup mulut menyadari ucapannya.
"Hemm.. Jadi istriku sudah tidak tahan lagi ya?" goda Devian tersenyum menang.
"Huh.. Kau ini benar-benar menyebalkan, Dev!" ucap Carissa kesal namun malah membuat dirinya terlihat menggemaskan bagi Devian.
"Jadi boleh kan malam ini?" tanya Devian membuat wajah Carissa kembali merah.
Carissa tak menjawab dan segera turun dari ranjang berlari menuju kamar mandi dan menguncinya.
"Hei istriku jangan kabur." panggil Devian namun tak mendapat sahutan dari Carissa.
"Istriku ini ternyata sangat pemalu ya." ucap Devian tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dia semakin terlihat menggemaskan jika tersipu seperti itu. Membuatku tak sabar untuk menerkamnya." gumam Devian mengingat pipi istrinya yang sudah semerah tomat.
-BERSAMBUNG
__ADS_1