
Devian sudah pergi untuk meeting, sedangkan Carissa saat ini sudah berada di ruangan sahabatnya, Aninda.
Kedua wanita itu saling berpelukan untuk melepaskan rasa rindunya. Bagaimana tidak, dulu saat kuliah mereka selalu kemana-mana berdua setiap harinya. Sekarang karena semakin dewasa dan kesibukan mulai bertambah, mereka jarang sekali hangout bersama. Apalagi semenjak Carissa menikah dan Aninda yang juga sudah memiliki kekasih mereka hampir tak punya waktu untuk bertemu. Hanya sekedar melalukan panggilan video jika mereka saling kangen.
"Rissa, aku kangen sekali denganmu." ucap Aninda yang terkejut dengan kedatangan Carissa namun juga sangat bahagia.
"Aku juga kangen dengan sahabatku ini." balas Carissa.
"Duduklah. Tumben sekali kau datang kesini." ucap Aninda.
"Sepertinya kedatanganku tidak diharapkan. Lebih baik aku pulang sajalah." kata Carissa menggoda Aninda.
"Eh, jangan. Bukan begitu, Rissa. Aku sangat berharap kita bisa sering-sering jalan bareng lagi. Hanya tumben saja kamu mau datang ke perusahaan ini." ucap Aninda panik langsung memancing tawa Carissa.
"Iya, butikku sebentar lagi akan dibuka. Lagipula aku sudah lama tidak menggoda sahabatku ini." kata Carissa membuat Aninda memanyunkan bibirnya.
"Bagaimana persiapan pernikahanmu, Nin?" tanya Carissa.
"Alhamdulillah sudah siap semuanya. Aku gugup sekali, Ris. Bahkan aku sekarang juga sangat tak karuan kalau bertemu dengan Alex." jawab Aninda.
"Itu wajar saja, Nin. Pernikahan adalah hal yang semua pasangan tunggu-tunggu. Tapi kamu sudah yakin kan?" tanya Carissa membuat Aninda termenung.
"Hei? Kenapa diam? Kamu tidak sedang berpikir untuk membatalkan pernikahan ini kan?" tanya Carissa lagi saat Aninda tak menjawab pertanyaannya.
"Sembarangan saja kau, Ris. Mana mungkin aku membatalkannya. Itu adalah hal yang aku impikan bisa menikah dengan Alex." gerutu Aninda sambil memukul pelan pundak sahabatnya itu.
"Syukurlah kalau begitu." ucap Aninda terkekeh.
"Hanya saja ada hal yang aku takutkan." mendadak wajah Aninda berubah sendu.
"Apa itu?" tanya Carissa yang langsung menatap sahabatnya itu.
"Aku takut tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Alex." jawab Aninda.
"Kau mencintainya kan?" tanya Carissa yang langsung dijawab anggukan kepala Aninda.
"Lalu apakah Alex mencintaimu?" tanya Carissa lagi yang juga dijawab anggukan kepala Aninda.
"Jika kalian saling mencintai maka tak perlu ada yang kau takutkan, Nin. Manusia itu tidak ada yang sempurna, pasti ada saja kekurangannya. Lagipula kita menikah bukan untuk berkompetisi siapa yang lebih baik, kan?"
Perkataan Carissa seketika membuat Aninda tersadar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika kita menghabiskan hidup bersama dengan orang yang saling mencintai.
"Rupanya setelah menikah, sahabatku ini semakin bijaksana saja." ucap Aninda membuat Carissa terkekeh.
"Gaunnya mau aku antar kapan? Aku tidak mau kalau kau memintaku mengantarnya pas hari H." tanya Carissa.
__ADS_1
"Haish kau ini. Baru saja aku memujimu. Biar aku yang ambil saja 2 hari sebelum acara." jawab Aninda.
"Haha baguslah." sahut Carissa dan keduanya pun tertawa.
Saat mereka berdua asyik bersenda gurau tiba-tiba Saras datang.
"Carissa....!!!" panggil Saras histeris kemudian berlari memeluk sahabatnya itu.
Carissa dan Aninda terkejut dengan kedatangan Saras namun bertiga akhirnya tertawa bersamaan.
"Sejak kapan kau disini? Kenapa tidak memberitahuku? Apa kalian tidak mau bersahabat lagi denganku?" tanya Saras memberondong.
Aninda hanya tertawa mendengar Saras yang memang cerewet itu.
"Aku baru saja datang. Lagipula tadi aku keruanganmu, kau tidak ada disana. Jadi aku kesini saja." jawab Aninda.
"Hah benarkah? Pasti aku tadi masih di kantin." ucap Saras lalu melepaskan pelukannya kemudian menarik kursi dan duduk disamping Carissa.
"Memangnya kau tidak ada pekerjaan?" tanya Carissa.
"Ada sih. Tapi biarlah, nanti saja aku lanjutkan. Aku sangat rindu dengan sahabatku ini." jawab Saras.
"Memang kau tak merindukanku juga?" tanya Aninda.
Carissa hanya tertawa mendengar pertikaian kedua sahabatnya itu.
Trio wanita itu saling bersenda gurau, bercerita kehidupan sehari-harinya bahkan hubungan asmara mereka sampai akhirnya jiwa jomblo Saras pun meronta-ronta. Bagaimana tidak, Carissa sudah menikah dan Aninda sebentar lagi juga akan melepas masa lajangnya sedangkan dirinya masih saja menjadi jomblowati.
"Sudahlah. Kalau masuk masalah percintaan lebih baik aku menjadi pendengar saja." ucap Saras.
"Hei, jangan begitu. Bukannya kau sedang dekat dengan Pak HRD?" tanya Aninda membuat Saras membulatkan matanya.
"Dekat darimananya. Mana mungkin aku bisa dengan pria dingin itu." jawab Saras.
"Kalau tidak salah, aku pernah melihat kau satu mobil dengannya." ucap Aninda membuat Saras seketika menundukkan kepalanya.
"I-itu hanya kebetulan." kata Saras gugup.
Carissa dan Aninda saling melempar pandang kemudian mengedipkan matanya.
"Oh hanya kebetulan ya?" tanya Saras lagi menggoda Saras yang wajahnya sudah memerah.
"Memang begitu kenyataannya." jawab Saras lagi.
"Iya iya. Jangan gugup begitu. Aninda kan hanya bertanya saja." ucap Carissa menambahi membuat Saras semakin menyembunyikan wajahnya.
__ADS_1
"Kalian berhentilah menggodaku!" teriak Saras membuat Carissa dan Aninda terkejut kemudian keduanya tertawa.
"Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh sahabat kita ini." ucap Aninda.
"Haisssh.. Kalian ini. Baiklah aku akan bercerita." kata Saras yang sudah terpojok karena di interogasi kedua sahabatnya itu.
Saras mulai bercerita kejadian awal mereka bertemu dengan Dewa kemudian berlanjut sampai saat dirinya diantar pulang dan diajak makan malam.
"Tapi hanya sebatas itu saja. Dia masih pria yang berwajah datar dan dingin. Aku saja masih ketakutan kalau bertemu dengannya." kata Saras jujur.
"Tapi sebenarnya dia pria yang baik kan?" tanya Carissa.
"Hem, sepertinya begitu. Bagaimanapun juga dia pernah menyelamatkanku." jawab Saras.
"Mendengar ceritamu mungkin saja Dewa mulai tertarik denganmu." kata Aninda seketika membuat jantung Saras berdegup kencang.
"Mungkinkah pria itu tertarik denganku? Sebenarnya dia sangat tampan." batin Saras.
Melihat Saras yang melamun dan tersenyum Carissa pun paham apa yang sedang dialami sahabatnya itu.
"Sepertinya kau juga tertarik kan dengan Pak Dewa?" tanya Carissa mengangetkan Saras.
"Ti-dak mungkin." jawab Saras gugup, wajahnya pun seketika memerah seperti tomat.
"Baiklah. Kau sendiri yang tau isi hatimu itu." kata Carissa membuat Saras semakin tak karuan.
"Aku juga pernah begitu. Setidaknya kalau membenci seseorang jangan berlebihan. Bisa jadi malah kau berbalik jatuh hati padanya." ucap Carissa.
"Lagipula aku rasa, dia pria yang baik kok. Jalani saja siapa tau dia adalah jodohmu." tambah Carissa lagi.
"Entahlah. Benar katamu lebih baik aku jalani saja. Tapi aku benar-benar masih ketakutan jika bertemu dengannya." kata Saras.
"Lagipula kita hanya bertemu dan berbincang beberapa kali saja. Tidak tau kedepannya bagaimana." tambah Saras lagi.
"Yasudah. Setidaknya ada pria yang mau mendekatimu." celetuk Aninda membuat Saras memelototkan matanya.
"Memangnya kau pikir aku tidak laku?" tanya Saras yang dijawab anggukan kepala Carissa dan Aninda secara bersamaan.
"Ah sialan! Untung saja kalian sahabatku." umpat Saras.
Ketiga wanita itu pun seketika tertawa bersamaan. Gelak tawa mereka memenuhi ruangan tersebut.
Begitulah indahnya persahabatan.
-BERSAMBUNG
__ADS_1