Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Nyidam


__ADS_3

Sebuah foto pantai yang indah dikirim oleh Aninda dalam grup yang beranggotakan dirinya, Carissa dan juga Saras.


"Aku berlibur dulu bestie." caption dalam foto itu.


"Wow.. menakjubkan. Havefun ya." balas Carissa.


"Kau curang. Aku tidak diajak." tulis Saras dengan emot sedih.


"Aku akan mengajakmu kalau kau sudah punya pasangan. Tidak mungkin kan kau menjadi obat nyamuk disini." balas Aninda dengan emot tertawa.


Carissa juga mengirim emot orang tertawa terbahak-bahak.


"Kalian jahat menindas orang jomblo. Awas saja sebentar lagi aku akan menikah." tulis Saras lagi.


"Serius? Aku penasaran siapa pria bodoh yang mau menikahimu." balas Aninda meledek Saras.


"Mungkin Pak Dewa." tulis Carissa menebak.


"Benarkah? Sebuah kemajuan besar. Ternyata kau sudah jadian dengan HRD galak itu?" tanya Aninda dengan mention Saras.


"Hey! Kenapa kalian membahas pria itu lagi sih. Seperti tidak ada yang lain." balas Saras dengan emot marah.


"Memang kau dekat dengan siapa lagi kalau bukan dirinya? Ya kan Ris?" tanya Aninda mengajak Carissa untuk membenarkan tanggapannya.


"Menurutku juga begitu. Apalagi kemarin baru saja makan siang bersama." tulis Carissa.


"Aduh baru beberapa hari aku sudah melewatkan gosip seru ini. Tunggu aku pulang ya. Aku akan bertanya banyak hal denganmu Saras." balas Aninda yang semakin penasaran.


"Sudahlah. Aku lebih baik lanjut bekerja." pamit Saras dengan emot melambaikan tangan.


"Yaah kabur." tulis Aninda sedih.


"Haha gara-gara kamu, Saras melarikan diri. Selamat berbulan madu ya Nin, semoga pulang membawa kabar baik." tulis Carissa sembari mengirimkan emot peluk.


"Oke.. See you Rissa." balas Aninda emot hati berwarna merah.


"Sepertinya hubungan Saras dan Pak Dewa sudah mulai tahap menggunakan hati." gumam Carissa tertawa kecil.


"Ada apa Sayang? Tampaknya ada kabar bahagia diponselmu?" tanya Devian yang mendengar tawa kecil istrinya.


"Hem.. Ini temanku yang sudah lama menjomblo akhirnya sudah akan memiliki kekasih." jawab Carissa sembari tersenyum simpul.


"Oh begitu." sahut Devian yang tak begitu tertarik dengan pembahasan para wanita.


"Dev, malam ini aku ingin makan yang dimasak olehmu." pinta Carissa tiba-tiba.


"Masakanku? Kau yakin?" tanya Devian tak percaya.


"Iya sayang. Entah kenapa tiba-tiba terpikir ingin makan buatan tangan suami sendiri. Boleh kan?" pinta Carissa lagi dengan mata berbinar.

__ADS_1


Devian menghela nafas kemudian tersenyum dan membelai wajah istrinya.


"Baiklah. Aku akan mengabulkan permintaan istri dan anakku ini." sahut Devian sembari mengelus perut Carissa yang masih datar.


"Terimakasih suamiku." ucap Carissa yang langsung memeluk erat Devian.


Devian hanya tersenyum melihat tingkah manja istrinya. Mungkin karena hormon kehamilan jadi Devian memakluminya. Tapi didalam hati, Devian tidak mempermasalahkan perubahan Carissa yang lebih sering meminta perhatian darinya. Jadi Devian dengan senang hati menuruti permintaan istri tercintanya.


Setelah butik tutup, Devian dan Carissa menuju supermarket untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan dan juga untuk stok dirumah.


"Kau ingin makan apa, Sayang?" tanya Devian saat sudah masuk ke supermarket.


"Apa saja yang penting buatanmu." jawab Carissa.


"Baiklah." sahut Devian sembari mencubit pelan pipi Carissa yang menggemaskan.


"Aku mau memilih buah dulu ya." kata Carissa yang diangguki oleh Devian.


Devian meninggalkan yang Carissa yang sedang sibuk memilih buah-buahan segar yang ada dihadapannya. Devian menuju tempat daging kemudian sayuran segar. Dalam pikiran Devian sudah muncul masakan yang akan ia buat untuk istrinya. Pastinya Devian juga memikirkan kualitas gizi untuk kesehatan istri dan juga calon anaknya.


Setelah dirasa cukup, Devian kembali menyusul Carissa yang terlihat sudah membawa beberapa kantong plastik yang berisikan buah-buahan.


"Apa ada yang kau butuhkan lagi?" tanya Devian sambil membantu istrinya memasukan buah ke troli yang ia bawa.


"Sepertinya cukup." jawab Carissa.


"Mau susu hamil?" tawar Devian.


Devian tersenyum lalu mengajak istrinya berjalan menuju etalase yang menyediakan susu untuk ibu hamil. Carissa memilih kemasan yang kecil terlebih dahulu karena takut jika dirinya tidak menyukainya. Devian tidak mempermasalahkannya, karena setelah dari rumah sakit Carissa sudah mendapatkan banyak vitamin untuk kehamilannya.


Setelah membayar dikasir, Devian meminta Carissa untuk menunggu didepan supermarket saja. Devian tidak ingin membuat istrinya kelelahan karena tempat parkir mobilnya yang lumayan jauh. Tadi saat masuk ke supermarket saja, Devian sudah menawarkan Carissa agar diantar ke lobby lebih dulu namun ditolak. Alasan Carissa karena akan merepotkan harus membuat suaminya bolak-balik. Kali ini Devian tidak ingin penolakan dari Carissa lagi.


"Suamiku ini benar-benar perhatian sekali." batin Carissa tersenyum menatap suaminya yang sudah berjalan menuju tempat parkir.


"Rissa!" panggil seorang pria.


Carissa menoleh kearah suara dan mendapati Arya sedang berjalan kearahnya.


"Pak Arya??" tanya Carissa memastikan.


"Jangan terlalu formal kita tidak sedang membahas bisnis. Panggil namaku saja, seperti dulu waktu kita jadi teman sekolah." ucap Arya kemudian tersenyum ramah.


"Ah baiklah." sahut Carissa membalas senyuman.


"Sudah selesai belanja? Dimana suamimu?" tanya Arya yang melihat troli berisi belanjaan disamping Carissa.


"Devian mengambil mobil dan menyuruhku menunggunya disini." jawab Carissa menjelaskan.


"Sepertinya suamimu memperlakukanmu dengan baik ya. Aku senang mendengarnya." ucap Arya.

__ADS_1


"Terimakasih." sahut Carissa.


Sebuah mobil hitam berhenti didepan Carissa dan Arya, terlihat Devian yang keluar dari mobil dan bergegas menghampiri Carissa.


"Arya? Kau juga disini?" sapa Devian.


"Iya, aku mau belanja bulanan." sahut Arya.


"Oh kalau begitu aku dan istriku duluan ya." pamit Devian sembari memasukan barang ke bagasi.


"Kau tunggu saja dimobil." ucap Devian membukakan pintu mobil untuk istrinya.


Arya tersenyum melihat interaksi pasangan suami istri yang harmonis dihadapannya.


"Maaf ya kami duluan." ucap Devian selesai memasukkan barang belanjaannya kedalam bagasi.


"Santai saja. Hati-hati dijalan." sahut Arya yang diangguki kepala Devian.


Devian segera masuk dan melajukan mobilnya.


"Devian memang laki-laki yang tepat untukmu, Ris." gumam Arya mengingat perlakuan Devian kepada Carissa.


Arya dapat melihat kasih sayang yang besar dimata Devian untuk Carissa. Begitu juga sebaliknya. Arya sudah mengurungkan niatnya. Kali ini Arya akan mendoakan kebaikan untuk hubungan Carissa dan Devian. Arya tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang lain.


Arya tahu kalau Carissa mencoba menghindarinya saat bertemu dengannya. Arya dengan besar hati memakluminya. Arya tahu kalau Carissa tidak ingin terjadi kesalahpahaman diantara mereka dan membuat Devian curiga. Bagaimanapun Carissa merupakan wanita bersuami, menjaga jarak dengan pria lain merupakan hal yang wajib dilakukan.


"Kau tidak perlu terlalu menjaga jarak dengannya, Sayang." kata Devian setelah keluar dari supermarket.


"Maksudmu Arya?" tanya Carissa melirik suaminya yang fokus menyetir.


"Iya, Sayang. Dia dulu teman sekolahmu kan? Tidak baik jika kamu terlalu tak acuh padanya." ucap Devian menasehati.


"Harusnya kamu cemburu kan? Kenapa malah berkata sebaliknya?" tanya Carissa heran.


"Atau jangan-jangan kau mau mengujiku?" tebak Carissa penuh selidik.


"Haha.. Kau lucu sekali. Untuk apa aku menguji istrikus seperti itu." ucap Devian terkekeh dengan pemikiran absurd istrinya.


"Lalu?" tanya Carissa penuh curiga.


"Kau sudah bekerjasama dengannya, Sayang. Tidak terlalu baik kalau kau tak acuh padanya. Kalian harus menjaga hubungan baik bukan?" kata Devian sesekali melirik istrinya kemudian kembali fokus dengan kemudinya.


"Kau ini, Dev. Hubunganku dengan Arya hanyalah bisnis. Jadi diluar kerjasamaku maka aku tidak perlu terlalu dekat dengannya. Apalagi kalau sifat suamiku yang super protektif itu kambuh, aku tidak mau ribet." ucap Carissa sembari menyindir suaminya.


"Hem.. Kau meledekku." kata Devian meringis.


"Sudahlah. Ayo cepat sampai rumah, aku sudah tidak sabar makan malam hasil masakan suamiku." ucap Carissa tidak sabar.


"Baik permaisuriku." sahut Devian memberikan senyuman kepada istrinya lalu menambah kecepatan agar lebih cepat sampai dirumah.

__ADS_1


-BERSAMBUNG


__ADS_2