
Hari sudah malam, Devian dan Carissa sedang asyik menikmati malam dengan duduk dibangku yang ada di balkon kamar. Pasangan muda ini selalu menyempatkan waktu untuk bersantai dan membicarakan banyak hal berdua. Mulai dari kesibukan masing-masing hingga rencana masa depan rumah tanggga. Bagi mereka, saling berkomunikasi adalah cara untuk menghindari kesalahpahaman dan menjaga hubungan mereka tetap harmonis. Dan tentu saja membuat mereka semakin nyaman dan merasa dibutuhkan satu sama lain.
"Dev, beberapa gaunku sudah laku terjual. Sepertinya aku harus membuat lebih banyak lagi." ucap Carissa mengawali percakapan.
"Alhamdulillah. Selamat istriku, aku tau kau memang wanita berbakat." puji Devian dengan senyum tampannya yang masih saja membuat hati Carissa berdebar.
"Apa ada yang kau butuhkan, sayang?" tanya Devian lembut menyadari ada sesuatu yang menganggu pikiran istrinya.
"Hehe.. Kau memang suamiku yang sangat pengertian." kata Carissa senang dengan kepekaan suaminya.
"Aku kehabisan bahan. Bisakah kau memberitahuku dimana aku bisa mendapat bahan dengan kualitas yang bagus?" tanya Carissa tanpa basa-basi lagi.
Devian terdiam sejenak kemudian ingat dengan perusahaan suplier yang baru saja bekerjasama dengannya.
"Aku tahu perusahaan suplier bahan yang bagus. Tapi...." Devian menghentikan ucapannya membuat Carissa mengerutkan kening.
"Tapi apa, Sayang?" tanya Carissa penasaran.
Devian menatap lekat wajah istrinya kemudian menghembuskan nafas kasar.
"Perusahaan itu milik Arya." jawab Devian lirih.
Carissa mendapati raut kekhawatiran diwajah suaminya kemudian menggenggam tangan Devian dengan lembut.
"Kalau kau tidak ingin aku bekerjasama dengannya, aku tidak keberatan, Sayang. Aku bisa cari suplier yang lain." kata Carissa menenangkan hati suaminya.
Devian senang mendengar perkataan istrinya, namun disisi lain dia tidak ingin menjadi suami yang egois. Biar bagaimanapun perusahaan milik Arya memanglah pemilik bahan yang berkualitas. Devian tidak ingin mempersulit bisnis istrinya.
"Aku akan coba menghubungi beberapa temanku." ucap Carissa hendak mengambil ponselnya namun segera ditahan oleh Devian.
"Tidak perlu, Sayang. Kau bisa bekerjasama dengan Arya. Besok aku akan menghubunginya untuk mengatur waktu bertemu denganmu." kata Devian membuat Carissa terkejut.
"Kau serius, Dev?" tanya Carissa tak percaya.
Devian menganggukkan kepalanya.
"Kau akan baik-baik saja jika aku bertemu dengannya?" tanya Carissa lagi memastikan karena ia paham betul bagaimana sifat posesif suaminya itu.
"Ya. Aku percaya padamu." jawab Devian dengan senyumnya yang selalu saja membuat hati Carissa terpukau.
"Sepertinya suamiku ini sudah mulai dewasa." goda Carissa sambil menyentil hidung mancung suaminya.
"Jangan meledekku. Bagaimanapun aku harus mendukung impian istriku. Aku tidak ingin menjadi suami yang egois." ucap Devian lembut.
"Tidak perlu memaksakan jika itu membuat hatimu tidak nyaman, suamiku." kata Carissa membuat Devian terdiam sejenak kemudian menatap lekat wajah istrinya yang semakin cantik setiap harinya.
"Dev... aku adalah istrimu, apapun yang menjadi keputusanmu akan aku patuhi. Jadi tidak perlu memaksakan kebahagianku jika itu menyakitimu. Kita adalah suami istri, kebahagiaan kedua belah pihak itu lebih penting dari segalanya, bukan?" ucap Carissa membuat Devian tertegun.
Devian kagum dengan kedewasaan istrinya yang selalu saja memikirkan kebahagiaan untuk mereka berdua.
__ADS_1
"Aku sangat beruntung memilikimu, istriku." ucap Devian bersyukur kemudian merangkul pinggang istrinya dan mengecup lembut kening Carissa.
"Terimakasih sudah selalu mementingkan kebahagiaan rumah tangga kita." tambah Devian lagi.
"Sudah seharusnya seperti itu, suamiku." ucap Carissa memeluk tubuh suaminya erat.
"Tapi aku tetap mengizinkanmu untuk bekerjasama dengan Arya. Aku sudah bekerjasama dengan perusahaannya, dan aku tahu kualitas bahan yang ia miliki. Bisnismu tetap harus berjalan, istriku." kata Devian, kali ini ia mengatakannya tanpa ragu-ragu.
"Hem, baiklah. Kau atur saja, Dev. Terimakasih suamiku." ucap Carissa kemudian mengecup pipi suaminya.
"Sepertinya ini belum cukup sebagai hadiah terimakasih." goda Devian.
Carissa yang menyadari maksud ucapan itu dengan cepat mencubit pipi suaminya membuat Devian meringis.
"Dasar perhitungan sekali. Selalu saja mengambil kesempatan dalam kesempitan." gerutu Carissa membuat Devian terkekeh.
"Mau bagaimana lagi, sentuhan istriku ini selalu saja membuatku candu." ucap Devian sukses membuat tubuh Carissa meremang.
"Deevv!! Kau ini..." Carissa bergegas bangkit dari duduknya kemudian masuk ke kamar meninggalkan suaminya yang sedang tertawa bahagia.
"Aduh istriku kenapa masih malu-malu? Kita kan sudah sering melakukannya?" goda Devian lagi.
"Diam! Kalau kau masih menggodaku akan aku kunci pintu kamar ini. Biar kau menjadi santapan para nyamuk." ucap Carissa kesal.
Mendengar ucapan istrinya membuat Devian bergidik ngeri kemudian bergegas menyusul istrinya masuk kedalam kamar.
Bola mata Devian memutar mencari keberadaan istrinya. Melihat pintu kamar mandi tertutup dan mendengar suara gemericik air membuat Devian bernafas lega. Devian takut kalau istrinya akan tidur di kamar tamu karena kesal dengan dirinya.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, mata Devian membulat saat mendapati pemandangan menakjubkan yang ada dihadapannya.
Carissa keluar kamar mandi berbalut lingerie hitam terlihat sangat mempesona. Kain tipis yang membalut tubuh wanita itu menampakkan bagian-bagian tubuh Carissa yang membuat Devian menegang.
"Sa-sayang..." panggil Devian terbata.
"Kemarilah suamiku. Ayo kita bermain." goda Carissa dengan memasang wajah genit dan mengedipkan matanya membuat gairah Devian memuncak.
"Kau yang memancingku, jangan menyesal ya." kata Devian bergegas menghampiri Carissa dan mengangkat tubuh istrinya itu menuju ranjang.
"Aaa! Tu-tunggu, Dev.. Aku hanya menggodamu. Tolong lepaskan aku." pinta Carissa mencoba melepaskan diri.
"Tidak akan. Kau harus bertanggungjawab karena membangunkan gairahku." tolak Devian membuat Carissa menyesal atas tingkahnya tadi.
"Ah sial! Aku tidak akan pernah menggodamu lagi." ucap Carissa pasrah membuat Devian terkekeh dan bersemangat melanjutkan aksinya.
*
*
__ADS_1
*
Hari berganti, sang mentari sudah menampakkan sinarnya. Perlahan Carissa membuka matanya, ia melihat Devian sudah tidak ada disampingnya.
"Semalam Devian ganas sekali." gerutu Carissa merasakan sekujur tubuhnya lemah sekali.
"Aku tidak akan lagi berpakaian seperti tadi malam." batin Carissa yang masih merutuki kebodohannya sendiri. Niatnya yang hanya ingin menggoda suaminya malah terperangkap sendiri dengan permainannya.
"Selamat pagi, istriku." sapa Devian yang membawa nampan berisi segelas susu dan dua potong sandwich.
Wajah Devian terlihat segar dengan rambutnya yang masih basah.
"Kenapa kau masih saja terlihat bugar? Apa kau monster?" tanya Carissa membuat Devian tertawa.
"Kenapa kau berkata seperti itu, istriku?" tanya Devian heran.
"Lihat saja badanku rasanya sangat remuk. Sedangkan kamu masih saja terlihat segar. Seperti tidak melakukan apa-apa semalam." gerutu Carissa.
"Aduh, maafkan aku istriku." ucap Devian merasa bersalah dengan keganasannya tadi malam.
Devian mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Sepertinya istriku harus memulai berolahraga agar bisa mengimbangi stamina suamimu ini." ucap Devian membuat Carissa memanyunkan bibirnya.
Devian terkekeh gemas dengan wajah imut istrinya itu.
"Istriku mau mandi atau sarapan dulu?" tanya Devian.
"Mandi dulu saja, badanku lengket." jawab Carissa yang dibalas anggukan Devian.
"Dev.." panggil Carissa lirih.
"Gendong aku ke kamar mandi." pinta Carissa malu-malu.
"Oh sepertinya istriku sudah mulai terbuka untuk bermanja-manja dengan suaminya." ucap Devian menggoda istrinya.
Wajah Carissa sudah memerah membuat Devian semakin semangat menggoda istrinya.
"Mau aku gendong belakang atau depan?" tanya Devian menawarkan.
"Dev, ayolah. Berhenti menggodaku. Kau sudah melihat wajahku kan sudah seperti apa?" ucap Carissa menyadari suaminya sengaja menggoda dirinya.
"Baiklah. Maafkan aku, istriku. Ayo aku bantu kamu mandi." jawab Devian kemudian menggendong istrinya ala bridal style korea.
-
-
-BERSAMBUNG
__ADS_1