
Mata Aninda berbinar saat membuka pesan bergambar dari Carissa. Sebuah foto gaun pernikahan warna putih yang sangat cantik dan elegan.
Aninda segera melakukan panggilan video kepada sahabatnya itu.
"Rissa, itu gaunnya cantik sekali." ucap Aninda senang saat Carissa menerima panggilan videonya.
Carissa membalasnya dengan senyuman manis.
"Kamu yakin mau memberikannya gratis kepadaku? Itu pasti sangat mahal kalau dijual." tanya Aninda yang membuat Carissa terkekeh.
"Kamu tidak mau?" Carissa balik bertanya kepada Aninda.
"Tentu aku mau. Tapi apa kamu serius mau memberiku gaun itu sebagai hadiah? Bagaimana kalau aku membelinya saja?" tanya Aninda memberikan penawaran.
"Kamu pikir sahabatmu ini kekurangan uang?" sahut Carissa dengan nada bercanda yang langsung disambut tawa Aninda.
"Mana mungkin. Suamimu saja seorang CEO, bahkan kamu putri tunggal dari pengusaha sukses." ucap Aninda menggerutu.
"Jadi mau atau tidak?" tanya Carissa menggoda sahabatnya.
"Mau lah." jawab Aninda spontan.
Kedua sahabat itu pun kompak tertawa. Devian yang sedang mengemudi mobil ternyata sedari tadi mendengar obrolan istrinya dengan sahabatnya hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Yasudah, aku kan sudah berjanji akan memberimu hadiah sebuah gaun untuk pernikahanmu. Tidak mungkin aku akan memberi sahabatku barang yang jelek." ucap Carissa.
Aninda tiba-tiba merasa terharu mendengar ucapan Carissa.
"Terimakasih bestie. Kamu memang terbaik." kata Aninda yang membuat Carissa tertawa geli.
"Bagaimana aku akan membalas kebaikanmu ini?" tanya Aninda.
Carissa tampak berpikir sejenak kemudian menoleh melihat Devian yang fokus dengan kemudinya. Carissa menyunggingkan bibirnya.
"Kau bisa memberiku hadiah pernikahan yang spesial sebagai gantinya." jawab Carissa.
"Apa kemarin kadoku tidak sesuai denganmu?" tanya Aninda heran.
"Aku akan mengadakan resepsi bulan depan. Jadi kamu harus memberiku kado lagi." jawab Carissa yang membuat Aninda melongo.
"Jadi acara kemarin itu bukan resepsi pernikahanmu?" tanya Aninda tak habis pikir yang dijawab gelengan kepala Carissa.
Menurut Aninda perayaan pernikahan Carissa kemarin sudah sangatlah mewah lalu bagaimana mewahnya resepsi sahabatnya belum bisa terbayangkan.
"Gila memang. Pernikahan sultan memang beda." ucap Aninda yang disambut gelak tawa Carissa dan juga Devian yang terkekeh pelan.
"Pokoknya kau harus memberiku kado yang spesial." ucap Carissa.
"Siap bossku." sahut Aninda dengan mengangkat tangannya sampai ke pelipis, memberi hormat kepada Carissa kemudian dua sahabat itu kembali tertawa.
"Terimakasih banyak Rissa, maaf sudah merepotkanmu." ucap Aninda kepada sahabat terbaiknya.
"Sudahlah. Kita kan sahabat sudah sewajarnya seperti itu. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan olehmu." sahut Carissa.
Aninda menghela nafas, ia sangat mengenal sifat sahabatnya yang tanpa pamrih itu. Meskipun keras kepala tapi hati Carissa sangatlah lembut.
__ADS_1
"Baiklah baiklah. Yasudah aku tutup ya. Kapan kita bisa nongki lagi?" tanya Aninda yang rindu hangout bersama sahabatnya.
"Kamu merindukanku?" tanya Carissa yang membuat Aninda memanyunkan bibirnya.
"Pastilah. Dulu kita bagaikan amplop dan perangko tau. Kemana-mana pasti berdua." jawab Aninda yang disambut senyuman manis Carissa.
"Ayo kita agendakan." sahut Carissa antusias.
"Tapi sekarang kau harus meminta izin dulu dengan suamimu. Aku tidak mau nanti kena semprot si boss dingin itu." ucap Aninda yang membuat Carissa terkekeh dan juga Devian yang seketika menoleh ke arah Carissa.
Dengan cepat Carissa menghadapkan kamera ponsel ke wajah Devian yang membuat Aninda seketika membisu.
"Ma-maaf Pak Devian saya tadi salah bicara." ucap Aninda gugup. Ia lupa kalau Carissa ternyata bersama dengan Devian, boss berhati dingin di perusahaanya.
Carissa melirik Devian yang memasang wajah datar kemudian mengalihkan kamera ponsel ke wajahnya kembali. Carissa terkekeh melihat wajah sahabatnya yang seketika memucat.
"Rissa sudah dulu ya. Nanti kita bertukar pesan saja. Ada pekerjaan yang belum ku selesaikan." ucap Aninda kemudian mengakhiri panggilan videonya.
Carissa memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
"Sayang bisakah kamu tidak membuat sahabatku ketakutan?" ucap Carissa sambil menatap wajah suami tampannya.
"Aku tidak menakutinya." jawab Devian memandang Carissa sekilas kemudian kembali fokus dengan jalan aspal didepannya.
Carissa menghela nafas sesaat.
"Memang sih kamu tidak menakutinya. Tapi wajah datarmu itu bisa membuat nyali orang menciut." ucap Carissa yang membuat Devian memelankan laju mobilnya.
Devian menatap wajah istrinya dengan kening berkerut.
"Sayang, kamu tau gak semua karyawan di MF Group itu sangat takut kalau bertemu denganmu. Bahkan kamu mendapat beberapa julukan dari mereka." kata Carissa yang membuat Devian menghentikan mobilnya di pinggir taman yang tidak jauh dari komplek perumahan orangtua Carissa.
"Julukan apa itu?" tanya Devian penasaran.
"CEO tampan? Boss baik hati? Atau apa?" ucap Devian yang sontak membuat Carissa tertawa lepas.
"Kok malah tertawa?" tanya Devian heran.
Carissa berusaha menghentikan tawanya. Carissa teringat momen pertemuan pertamanya dengan Devian.
"Pria gila narsis!" umpat Carissa saat itu.
Carissa yang sudah menghentikan tawanya kemudian mengatur nafasnya untuk menjawab pertanyaan suaminya yang penasaran.
"Suamiku ini dijuluki boss berhati dingin, pria kulkas, pria kutub, manusia datar dan masih banyak lagi." kata Carissa yang membuat Devian mengernyitkan dahinya.
"Seperti itukah? Lalu apa julukan yang kau berikan pada suami tampanmu ini?" tanya Devian yang membuat Carissa terdiam.
"Serigala. Pria gila narsis." jawab Carissa polos yang membuat Devian menoleh kemudian dengan cepat melepas seat beltnya. Devian ******* bibir Carissa yang menggunakan lipstik warna nude. Carissa kaget dengan perlakuan Devian yang tiba-tiba memangsanya.
"Ini hukuman karena memberikan julukan itu pada suami tampanmu ini." ucap Devian yang sudah puas ******* bibir istrinya.
"Kau curang Dev! Bahkan kau dulu juga menyebutku rubah wanita, wanita licik!" gerutu Carissa kesal.
Devian terkekeh melihat ekspresi menggemaskan istrinya. Devian menarik tubuh Carissa dan mendekapnya hangat.
__ADS_1
"Maafkan aku istriku. Maaf dulu aku salah menilaimu. Maaf kalau kata-kataku dulu menyakitimu." ucap Devian lembut sembari mengecup kepala istrinya.
Carissa membalas pelukan Devian kemudian membelai lembut punggung lebar suaminya.
"Iya Sayang. Aku juga minta maaf." sahut Carissa.
Setelah puas berpelukan Carissa melepaskan diri dari dekapan Devian.
"Sayang bisakah kamu tidak memasang wajah datarmu itu kepada orang lain?" tanya Carissa kembali melanjutkan pembicaraanya yang sempat tertunda.
Devian mengernyitkan dahinya mencoba memahami maksud istrinya.
"Wajah datar? Ekspresiku memang seperti ini Sayang. Memangnya salah?" ucap Devian yang membuat Carissa menghela nafas.
"Maksudku kalau bertemu orang lain cobalah memasang wajah ramah, tersenyum. Seperti saat kau bersamaku." jawab Carissa yang akhirnya membuat Devian paham.
"Oh jadi itu kenapa aku mendapat julukan aneh-aneh itu dari karyawanku?" tanya Devian yang membuat Carissa mengangguk.
"Jujur saja dulu aku sangat takut denganmu. Suara dinginmu, tatapan tajammu. Aku merasa menjadi mangsa yang akan diterkam oleh pemburu ganas." jawab Carissa yang membuat Devian terkekeh.
"Jadi karena itu kau menjuluki suamimu ini serigala?" tanya Devian memastikan yang dijawab anggukan kepala istrinya.
Devian tertawa yang membuat Carissa tersenyum.
"Apakah aku begitu menyeramkan?" tanya Devian.
"Tentu saja. Apalagi tatapan tajammu itu pasti langsung membuat orang lain mati kutu." jawab Carissa jujur yang membuat Devian kembali tertawa.
Carissa hanya terdiam kemudian tersenyum menatap wajah suaminya yang berkali-kali lipat lebih tampan saat tertawa.
"Aku suka sosok suamiku yang seperti ini." ucap Carissa yang membuat Devian menghentikan tawanya.
"Aku akan seperti ini hanya dengan istriku." ucap Devian yang membuat Carissa sejenak berpikir.
"Maksudmu?" tanya Carissa.
"Iya aku akan tertawa, tersenyum, bercanda hanya denganmu. Kalau di perusahaan aku akan tetap dengan sikap dinginku karena itu membuatku disegani oleh para karyawanku. Dan untuk tatapan tajam, sikap tegasku juga agar aku tidak dikelabui oleh rekan bisnisku." jawab Devian yang membuat Carissa mengangguk-anggukan kepalanya.
"Baiklah. Tapi cobalah untuk lebih sering tersenyum Sayang." ucap Carissa.
"Aku akan tersenyum, tertawa, merayumu, bahkan melakukan apapun hanya untuk istriku tercinta." sahut Devian yang membuat Carissa menghela nafas.
"Memang susah kalau sudah mendarah daging." batin Carissa.
Tampilan luar Devian memang tampak dingin, menakutkan tapi ia akan berubah menjadi lembut, bersikap hangat bila bersama orang yang ia cintai.
Carissa juga tidak menyangka bisa menjadi istri dari pria kutub yang sangat susah ditaklukan. Jodoh siapa yang tau? Jika Tuhan sudah berkehendak maka apapun bisa terjadi bukan?
-BERSAMBUNG
*
*
*
__ADS_1