Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Mutiara


__ADS_3

Setelah sampai dirumah dan membersihkan diri, Carissa dan Devian segera menuju kerumah orangtuanya.


Tak butuh waktu lama, mereka sampai dan disambut hangat oleh Ayah Adhitama dan Bunda Tamara.


"Menantuku sayang, Bunda kangen sekali denganmu." ucap Bunda Tamara yang langsung memeluk Carissa.


"Rissa juga kangen sama Bunda. Sehat-sehat kan Bunda dan Ayah?" tanya Carissa membalas pelukan hangat mertuanya.


"Tentu saja. Liburan kami sangat menyenangkan." jawab Bunda Tamara.


"Sudah-sudah pelukannya nanti lagi. Ayo ajak menantumu itu duduk." kata Ayah Adhitama.


"Lihatlah, kenapa tidak ada yang menyambutku disini?" protes Devian membuat mereka semua tertawa.


Setelah puas melepas rasa rindu, mereka melakukan makan malam bersama.


"Bagaimana liburannya Bunda dan Ayah?" tanya Devian.


"Tentu saja sangat menyenangkan. Kami orangtua membutuhkan liburan untuk menenangkan pikiran." jawab Bunda Tamara antusias.


"Kalian pengantin baru kapan bulan madu?" tanya Ayah Adhitama membuat Devian tersedak.


"Pelan-pelan makannya." ucap Carissa sambil menyodorkan segelas air putih kepada Devian.


"Kalian tidak melupakan hal penting itu kan?" tanya Ayah Adhitama lagi membuat Carissa dan Devian beradu pandang.


"Ayah tenang saja, Dev sudah menyiapkan semuanya." jawab Carissa berbohong.


"I-iya Ayah, Dev sudah menyiapkan semuanya. Hanya saja tidak dalam waktu dekat ini." sahut Devian merasa bersalah dengan istrinya karena ia memang benar-benar melupakan hal itu.


"Iya, Yah.. Akhir-akhir ini Rissa sedang sibuk dengan butik juga." tambah Carissa lagi.


"Oh iya.. Bagaimana persiapannya, Nak?" tanya Ayah Adhitama.


"Alhamdulillah.. Minggu depan sudah siap dibuka, Yah." jawab Carissa tersenyum.


"Wow, menantu Bunda memang keren." puji Bunda Tamara seraya mengacungkan dua jempolnya.


"Bunda sudah tidak sabar main ke butikmu, Sayang." ucap Bunda Tamara antusias.


"Besok Rissa mau ke butik agak siang, Bun. Kalau Bunda mau berkunjung biar Rissa mampir kesini dulu." ajak Carissa.


"Tidak perlu, Sayang. Besok biar Bunda dan Ayah langsung kesana saja." kata Bunda Tamara membuat Ayah Adhitama mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Ya kan, Yah?" tanya Bunda Tamara dengan tatapan memaksa.


"Hem, baiklah." jawab Ayah Adhitama pasrah mengundang tawa kecil di meja makan.


"Ayah harap usaha menantu sukses dan lancar ya. Kalau ada yang dibutuhkan bisa minta bantuan Ayah dan Bunda saja." ucap Ayah Adhitama.


"Terimakasih banyak, Ayah Bunda." sahut Carissa dengan menampakkan senyum cantiknya.


Setelah makan malam, kedua wanita itu membereskan peralatan makan yang telah digunakan ke dapur meninggalkan dua pria yang sedang beradu pandang.


Ayah Adhitama mendekati Devian dengan tatapan dingin.


"Ayah tau, kau pasti melupakan bulan madu bersama istrimu kan?" tanya Ayah Adhitama mengintimidasi.


"I-iya Ayah, Dev benar-benar lupa." jawab Devian menundukkan kepalanya.


"Dasar bodoh! Ceroboh sekali kau, Dev. Untung saja istrimu tidak protes." ucap Ayah Adhitama memukul pundak putranya.


"Ma-maf Ayah. Dev benar-benar lupa, apalagi Dev dan Rissa sama-sama sibuk kan." sahut Devian sambil memegang pundaknya yang terasa sakit.


"Ayah tau kalian sibuk, tapi bulan madu juga penting. Ayah sudah tidak sabar ingin menggendong cucu." kata Ayah Adhitama membuat Devian meringis.


"Dev dan Rissa baru menikah, Yah. Dev juga ingin menikmati masa pacaran berdua dulu." elak Devian, Ayah Adhitama menghembuskan nafas kasar.


"Ayah, Dev sudah menyiapkannya. Ayah tidak perlu khawatir." sahut Devian.


"Baguslah kalau begitu. Jangan sampai Ayah memecatmu dari posisi CEO karena melupakan waktu bahagia bersama istrimu." kata Ayah Adhitama mengancam.


"Ayah! Kalau aku tidak lagi menjadi CEO bagaimana bisa menghidupi istriku." protes Devian.


"Ya terserah kau. Istrimu saja bisa membuka usaha sendiri." ucap Ayah Adhitama membuat Devian tersadar.


"Istrimu adalah wanita mandiri. Jangan sampai kau mengecewakannya. Dia sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri, jadi kau harus baik-baik mencintai dan menjaganya." ucap Ayah Adhitama menasehati putranya.


"Ayah benar. Dev sangat beruntung mempunyai istri seperti Carissa. Dev akan berusaha yang terbaik." sahut Devian membuat Ayah Adhitama bernafas lega.


"Ayah bersyukur, kau bisa menemukan wanita yang tepat untuk berada di sisimu. Jangan sampai kau menyakitinya lalu kehilangan mutiara sepertinya." batin Ayah Adhitama.


Setelah selesai makan malam dan berbincang-bincang, Devian dan Carissa berpamitan untuk pulang kerumah.


*


*

__ADS_1


*


Esok hari sebelum menuju ke butik, Carissa mampir ke sebuah supermarket untuk membeli kebutuhan harian. Sedangkan Devian sudah berangkat ke perusahaan.


"Lumayan banyak belanja hari ini." gumam Carissa yang sedang mendorong troli.


Setelah puas berbelanja dan membayarnya, Carissa bergegas menuju keluar untuk menunggu taxi.


BRUUK!


"Aaw.." ringis Carissa saat tubuhnya menabrak seseorang membuat belanjaannya jatuh berantakan.


"Ah.. Nona maafkan saya, tadi saya sedang buru-buru jadi tidak melihat Nona." ucap seorang pria yang langsung membantu Carissa berdiri kemudian membereskan barang belanjaanya.


"Tidak apa-apa. Saya juga kurang hati-hati." kata Carissa.


"Apakah Nona terluka?" tanya pria itu.


"Saya baik-baik saja." jawab Carissa tanpa memandang wajah pria itu dan sibuk mengemasi belanjaannya.


"Ini barang anda, Nona." ucap pria itu sembari menyerahkan satu kantong belanjaan milik Carissa.


"Terimakasih." ucap Carissa sesaat ia mengernyitkan keningnya melihat wajah pria yang dihadapannya.


"Kenapa aku merasa familiar dengan wajahnya." batin Carissa.


"Sampai jumpa, Nona. Kita akan bertemu lagi." ucap pria itu berpamitan membuat Carissa tersadar.


"Kata-katanya persis seperti pria misterius itu." batin Carissa kemudian membalikkan badannya namun sudah tidak mendapati keberadaan pria itu lagi.


"Ah sial! Siapa pria itu, apa maksud perkataannya itu!" gerutu Carissa.


"Tapi wajahnya sangat tidak asing bagiku. Mungkinkah aku mengenalnya? Siapa sih pria itu? Jangan-jangan dia punya maksud buruk?" berbagai macam pertanyaan muncul di pikiran Carissa.


Tak berselang waktu lama, taxi berhenti dihadapannya. Carissa pun naik dan melaju menuju butiknya.


Tak jauh dari sana, ada pria yang sedang memperhatikan Carissa dari balik pohon.


"Rissa, jangan memaksakan diri. Pelan-pelan saja, kita akan berjumpa lagi dan lambat laun kau akan mengenaliku." ucap pria itu dengan senyum aneh diwajahnya.


"Aku juga ingin bermain-main dengan suamimu itu dulu. Kita lihat seberapa hebatnya dia." kemudian meninggalkan tempat itu menuju mobil mewahnya yang terparkir tak jauh dari posisinya.


-BERSAMBUNG

__ADS_1


Siapakah pria itu? Apa hubungan sebenarnya dengan Carissa? Akankah membawa pengaruh buruk untuk hubungan Devian dan Carissa?


__ADS_2