Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Malam Dingin


__ADS_3

1 jam menempuh perjalanan mobil Devian sudah memasuki jalan yang mulai berkelok. Langit berwarna jingga menambah keindahan perjalanan Devian dan Carissa. Kanan dan kiri jalan sudah mulai terlihat perkebunan milik warga. Jalanan pun mulai menanjak.


"Kamu masih sangat hafal jalan ini Dev?" tanya Carissa.


"Iya aku masih sangat ingat meskipun aku sudah cukup lama tidak berkunjung kesini." jawab Devian yang tidak melepas pandangannya dari jalanan didepannya.


"Memang kapan terakhir kali kamu kesini?" tanya Carissa penasaran.


"Aku tidak ingat pasti. Mungkin sekitar 5 tahun yang lalu." jawab Devian.


"5 tahun yang lalu? Ingatanmu cukup bagus ya." ucap Carissa membuat Devian menoleh sekilas kemudian kembali fokus dengan kemudinya.


"Entah berapa lama aku tidak berkunjung kesini. Papa dan Mama selalu memaksaku untuk mengurus kebun dan perusahaan mereka. Tapi entah kenapa aku malah tertarik dengan fashion. Padahal aku juga ingin membahagiakan mereka." curhat Carissa kepada suaminya.


"Aku tidak ingin dinilai sebagai anak yang durhaka tapi di sisi lain aku juga punya impian sendiri. Menurutmu bagaimana Dev?" tanya Carissa meminta pendapat suaminya.


"Ikuti saja kata hatimu. Jangan memaksa melakukan hal yang tidak kamu sukai. Masalah perusahaan Papa kemarin sempat menawarkanku untuk meneruskannya. Tapi aku saja sudah pusing dengan MF Group. Maaf aku belum sempat cerita." jawab Devian.


Carissa menghela nafas kemudian melirik suaminya yang masih fokus dengan kemudinya.


"Aku tidak keberatan Dev kalau kau mau meneruskan perusahaan Papa. Lagipula aku belum punya ilmu bisnis apalagi harus mengurus sebuah perusahaan besar." ucap Carissa.


"Bagaimana kalau kita urus bersama? Nanti aku akan mengajarimu mengelola perusahaan." sahut Devian.


"Lalu butikku?" tanya Carissa.


"Butikmu juga tetap jalan. Tenang saja jangan diambil pusing. Nanti kita bahas lagi dengan Papa." jawab Devian.


"Hem..baiklah." sahut Carissa.


Kurang lebih 30 menit kemudian mobil Devian sudah memasuki kawasan perkebunan milik orangtua Carissa.


Mereka disambut seorang pria paruh baya penjaga gerbang.


"Terimakasih Pak Hasan." ucap Carissa lembut.


"Sama-sama Non Rissa." sahut Pak Hasan yang merupakan penjaga kebun milik orangtua Carissa.


Pak Hasan adalah warga asli kampung disitu. Beliau sudah menjaga kebun kurang lebih 23 tahun sejak kebun hanya sepetak dan sekarang sudah menjadi 2000 hektar. Pak Hasan merupakan pekerja yang sudah mengabdikan separuh hidupnya pada keluarga Carissa.


Bahkan istrinya Pak Hasan yaitu Bu Elis juga ikut membersihkan kebun dan juga membantu panen apel. Begitu juga dengan anaknya, Mbak Marni yang membantu membersihkan villa milik orangtua Carissa.


Devian memarkirkan mobilnya di garasi villa mewah yang berkonsep gaya tropis. Bangunan dua lantai yang didominasi warna coklat dari material alam yaitu kayu dan juga kombinasi batu alam.


"Akhirnya kalian sampai juga." sambut Mama Allisa di depan pintu masuk villa.


"Ayo masuk, sudah mau gelap udaranya akan dingin." ajak Mama Allisa lagi.


"Iya Ma." sahut Carissa sambil menenteng beberapa paperbag belanjaannya tadi, disusul Devian yang membawa koper.


"Kalian bersih-bersih dulu saja. Setelah itu kita makan malam." ucap Mama Allisa.


"Papa dimana Ma?" tanya Carissa yang tidak mendapati Papa Cakra menyambutnya.


"Papa masih di kebun. Sebentar lagi juga pulang." jawab Mama Allisa.


"Kalian gunakan kamar di atas aja ya." sambung Mama Allissa.


"Oke Ma." sahut Carissa.


"Dev dan Rissa bersih-bersih dulu ya Ma." ucap Devian yang dibalas anggukan Mama Alissa.


Devian dan Carissa bersama menaiki tangga kemudian memasuki kamar yang sangat luas.


"Dev kamu duluan yang mandi." ucap Carissa sembari merapikan barang bawaannya.


Dev berjalan mendekati Carissa dan memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Dev ada apa?" tanya Carissa yang terkejut saat tangan Devian tiba-tiba melingkar diperutnya.


"Bagaimana kalau kita melakukannya sekali?" ucap Devian yang hembusan nafasnya menerpa tengkuk Carissa.


"Badanku lengket Sayang. Mandi dulu ya. Kita lakukan nanti malam saja." jawab Carissa.


"Tidak. Kita lakukan sekarang satu kali setelah itu kita mandi bersama." ucap Devian yang membuat Carissa tidak bisa menolak.


"Hemm.." jawab Carissa setuju yang membuat Devian bersemangat.

__ADS_1


Devian menciumi tengkuk Carissa sambil meremas dua bongkah daging kenyal milik istrinya. Suara erangan Carissa membuat hasrat Devian semakin memuncak. Devian membalikkan tubuh istrinya kemudian meraih tengkuk Carissa ******* bibir merah istrinya dengan ganas.


"Pe-pelanlah sedikit sayang." ucap Carissa sambil mendesah.


Dengan cepat Devian membopong tubuh Carissa dan membawanya ke ranjang king size yang ada di kamar itu. Pergulatan suami istri itu pun terjadi. Mana mungkin Devian puas melakukannya hanya sekali? Jelas saja pasti nambah 😅😅


"Terimakasih istriku." ucap Devian sambil mengecupi wajah Carissa yang kelelahan.


"Kamu curang Dev. Katanya cuma sekali." gerutu Carissa kesal dengan suaminya.


Meskipun Carissa tau saat Devian mengatakan sekali itu tidak akan pernah terjadi. Tetap saja stamina Carissa tidak bisa menandingi Devian. Bahkan suaminya saat ini terlihat masih sangat bugar tidak seperti dirinya yang sudah lemas.


"Ayo mandi." ajak Devian.


"Gendong." rengek Carissa sambil mengangkat kedua tangannya persis seperti balita yang meminta gendong orangtuanya membuat Devian gemas.


"Baik Tuan Putriku." ucap Devian sembari menggendong istrinya ala bridal style.


20 menit kemudian mereka sudah selesai dengan ritual mandinya. Carissa mengambil t-shirt warna maroon dan celana high waist kulot hitam pendek sepanjang lutut. Carissa menguraikan rambutnya yang masih basah. Carissa mengambilkan t-shirt warna abu-abu dan celana pendek warna hitam untuk Devian.


"Suamiku punya tubuh yang sangat keren." puji Carissa.


"Tentu saja. Aku akan terus berolahraga untuk menjaga tubuhku ini agar istriku selalu puas denganku." ucap Devian dengan seringai nakalnya.


"Sudah-sudah. Ayo kita turun. Mama sudah menunggu." ajak Carissa mencoba menghindari godaan suaminya.


Devian terkekeh kemudian mengecup pipi Carissa.


"Aku mencintaimu istriku." ucap Devian kemudian berlari kecil meninggalkan Carissa yang masih didalam kamar.


"Dia itu Devian? Ternyata dia bisa kekanakan juga." gumam Carissa.


"Dev tunggu." teriak Carissa saat menyadari sudah tertinggal oleh Devian.


Carissa bergegas keluar kamar dan mendapati Devian menunggunya di depan tangga. Carissa segera merangkul lengan kekar suaminya itu dan menuruni tangga beriringan.


"Kalian gak pakai jaket? Kita mau makan malam barbeque di belakang villa." ucap Mama Allisa.


"Rissa ambil jaket dulu. Dev kamu bantuin Mama sama Papa bawa peralatannya tuh." kata Carissa kemudian kembali ke kamarnya.


Tak lama kemudian Carissa menyusul ke halaman belakang villa yang juga terdapat sebuah kolam renang. Carissa memakai hoddie warna merah maroon dan juga membawa hoddie warna army untuk Devian.


Makan malam itu sangat berkesan ditambah kehadiran Pak Hasan sekeluarga yang memang diundang Papa Cakra untuk makan malam bersama.


Carissa sangat menikmati kebersamaan yang sudah sangat lama ia rindukan di tempat yang sudah cukup lama tidak ia kunjungi. Kesibukan kuliah dan bekerja sebelumnya membuat Carissa tidak sempat untuk sekedar datang ke perkebunan orangtuanya. Carissa merasakan kebahagiaan malam ini ditambah kehadiran orang spesial yang saat ini menjadi suaminya.


Setelah acara barbeque selesai, Mama Allisa dan Carissa dibantu Bu Elis dan Mbak Marni membereskan peralatan kotor yang telah digunakan.


"Dev, Papa mau bicara sebentar bisa?" tanya Papa Cakra kepada menantunya yang sibuk mematikan arang di alat pemanggang.


"Bisa Pa. Sebentar Dev selesaikan ini dulu Pa." jawab Devian yang disambut anggukan kepala Papa Cakra.


"Hasan ayo duduk." ajak Papa Cakra di kursi panjang pinggir kolam renang.


"Baik Tuan." sahut Pak Hasan kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Papa Cakra.


Tak lama kemudian Devian menyusul dan duduk disamping Papa Cakra.


"Dev ini Pak Hasan. Beliau yang sudah menjaga kebun ini dari sejak pertama kali Papa menanam apel disini." ucap Papa Cakra kepada menantunya.


Devian mengulurkan tangannya kepada Pak Hasan sebagi perkenalan dan disambut dengan hangat oleh pria baruh baya yang masih terlihat bugar itu.


"Saya sepertinya masih ingat. Den Devian dulu kecilnya sering main kesini juga kan? Putranya Pak Adhitama dan Bu Tamara?" tanya Pak Hasan yang sudah familiar dengan Devian.


"Betul Pak." ucap Devian mengulas senyum tipis.


"Pasti Den Devian tidak ingat saya." sahut Pak Hasan yang bisa melihat raut kebingungan Devian.


Devian menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum merasa tak enak hati.


"Bagaimana mau ingat, dia kan sibuk gangguin Rissa terus." ucap Papa Cakra terkekeh disambut tawa Pak Hasan.


Devian menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu tersenyum canggung.


"Oh iya Dev kamu sudah membicarakan masalah perusahaan dengan Rissa? Kamu gak keberatan kan?" tanya Papa Cakra kembali ke inti pembicaraan.


"Dev insha Allah siap Pa. Tapi Dev masih harus banyak belajar kan ini bidangnya berbeda dengan yang selama ini Dev geluti Pa." jawab Devian sopan.

__ADS_1


"Kamu tidak usah khawatir. Kalau masalah kebun sudah ada Pak Hasan yang bisa kamu percaya. Kamu hanya tinggal fokus di perusahaannya saja." ucap Papa Cakra sambil menepuk pundak menantunya.


"Tetap saja Dev harus belajar juga di kebun kan Pa? Biar Dev juga tau apel yang berkualitas." sahut Devian.


"Tentu saja. Besok pagi kamu bisa keliling kebun dengan Pak Hasan." kata Papa Cakra.


"Iya Den. Kebetulan ini sedang musim panen jadi Den Devian besok pagi biar saya temani." sahut Pak Hasan antusias.


"Baik Pa, Pak Hasan." ucap Devian tersenyum tipis.


"Besok ajak istrimu sekalian. Dia juga sudah lama tidak berkunjung kesini biar dia juga ikut belajar." kata Papa Cakra.


"Besok jam 6 pagi ya Den." tambah Pak Hasan yang dijawab anggukan Devian.


Perbincangan berlanjut cukup lama. Devian merasa nyaman bisa berbincang santai dengan mertuanya. Devian merasa Papa Cakra seperti ayahnya sendiri begitu juga sebaliknya. Papa Cakra juga sudah menganggap Devian sebagai anaknya sendiri. Hubungan menantu dan mertua yang hangat dan juga harmonis adalah impian banyak orang. Devian merasa sangat beruntung telah memiliki istri seperti Carissa dan juga mertua yang sangat baik dan perhatian.


Angin malam terasa semakin dingin, Papa Cakra dan Devian memutuskan untuk kembali kedalam villa. Pak Hasan kembali ke rumah yang tidak jauh dari villa itu bersama istri dan anaknya. Papa Cakra memang khusus membangun sebuah rumah untuk Pak Hasan yang berjarak 100 dari villa dan dekat dengan pintu gerbang kebun. Sebenarnya Pak Hasan memiliki rumah di daerah perkampungan warga. Namun Papa Cakra sengaja membangunkan rumah untuk Pak Hasan di area perkebunannya agar tidak repot bolak-balik yang memakan waktu dan jarak yang lumayan jauh.


Devian langsung menuju kamar di lantai dua karena tidak mendapati Carissa di lantai bawah. Begitu juga Papa Cakra yang langsung masuk ke kamar.


Ceklek!


Devian membuka pintu kamar namun tidak mendapati istrinya. Mata Devian tertuju pada pintu kamar mandi yang tertutup dan mendengar suara gemercik air yang menandakan keberadaan Carissa.


"Sudah selesai ngobrolnya sama Papa?" tanya Carissa saat keluar kamar mandi mendapati Devian sudah duduk di soffa kamar.


"Sudah sayang. Diluar sangat dingin." jawab Devian.


"Kamu ganti baju dulu. Pasti bau kena asap tadi." ucap Carissa sembari menyodorkan piyama tidur suaminya.


"Aku mau mandi air hangat sekalian." sahut Devian bergegas menuju kamar mandi namun menghentikan langkahnya saat berada di pintu kamar mandi.


"Jangan tidur dulu ya sayang. Kita lanjutkan yang tadi sore." ucap Devian yang membuat Carissa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dasar maniak!" umpat Carissa.


Devian terkekeh mendengar umpatan istrinya kemudian segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Carissa menuju meja rias untuk melakukan rutinitas skincare malam. Setelah itu ia berganti pakaian dinas yang sudah dibelikan suaminya. Carissa sebenarnya merasa tidak percaya diri menggunakan gaun tipis yang hanya menutupi bagian vitalnya saja namun ia harus bisa membuat suaminya senang.


Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Devian keluar hanya dengan lilitan handuk dipinggangnya. Hasrat Devian seketika memuncah saat mendapati Carissa yang menggunakan pakaian tipis warna hitam duduk di kursi meja rias. Dari cermin Devian bisa melihat jelas kemolekan tubuh istrinya itu. Devian menelan salivanya saat Carissa mengibaskan rambut yang semula menutupi dadanya menjadi terlihat jelas membuat hasrat Devian semakin menggelora.


Dengan tidak sabar Devian menghampiri istrinya. Devian mengecup pucuk kepala Carissa dengan lembut.


"Kau sudah selesai sayang?" tanya Carissa terkejut.


"Sudah. Kamu berani sekali menggodaku begini." bisik Devian membuat darah Carissa berdesir.


"Kamu yang semangat sekali membelikan ini. Mana mungkin aku tidak memakainya." gerutu Carissa yang merasa dijebak suaminya.


Devian terkekeh pelan kemudian menarik Carissa untuk berdiri dihadapannya.


"Hem. Aku sangat suka. Istriku terlihat semakin cantik. Kamu sangat seksi sayang." ucap Devian tepat di telinga Carissa yang membuatnya merasakan gelenyar aneh di tubuhnya.


Devian menciumi leher istrinya dengan lembut membuat Carissa memejamkan matanya. Setelah itu Devian menatap wajah Carissa membuat manik mata kedua insan itu saling bertemu tatap.


"Aku mencintaimu sayangku." ucap Devian penuh cinta.


"Aku juga mencintaimu suamiku." balas Carissa yang membuat Devian kembali bersemangat.


Devian menarik pinggang istrinya membuat tubuh mereka saling menempel tanpa jarak. Devian memagut bibir istrinya semakin lama semakin panas. Keduanya melepaskan pagutan itu setelah merasa kehabisan oksigen. Setelah meraup oksigen sebanyak-banyaknya Devian menggendong tubuh Carissa dan membaringkannya ke kasur.


Malam itu entah berapa kali Devian menggempur istrinya. Carissa yang kelelahan seketika terlelap begitu saja.


"Terimakasih istriku. Tidurlah yang nyenyak. Aku mencintaimu." ucap Devian sambil mengecup lembut kening Carissa yang sudah memejamkan mata.


"Sepertinya istriku harus sering berolahraga agar bisa mengimbangiku." ucap Devian sambil terkekeh.


Tak berselang lama Devian pun ikut terlelap dengan posisi memeluk istrinya erat.


-BERSAMBUNG


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2