
"Risa.."
"Ternyata kau sama sekali tidak mengingatku ya."
Di sebuah kamar di rumah mewah seorang pria sedang bergumam sendiri.
"Carissa, kenapa kau memilih menikahi pria lain?"
"Memang apa kurangnya aku dibandingkan pria itu?"
"Seandainya dulu aku mengungkapkan perasaanku akankah saat ini kau menjadi milikku?"
Pria misterius itu menuju balkon kamarnya.
Langit hitam bertaburan bintang diiringi angin malam sepoi-sepoi membuat pria itu semakin larut dalam kenangan masa lalu.
-Flashback On-
Masa putih abu-abu memang penuh dengan kenangan indah. Saat dimana manusia memasuki masa pubertas, seseorang mulai mengenal apa itu jatuh cinta.
Di kantin sekolah pada jam istirahat.
"Ris, setelah lulus kamu mau lanjut kuliah dimana?" tanya seorang laki-laki berkacamata.
"Aku sudah mendapatkan beasiswa di Universitas X. Kamu sendiri bagaimana?" jawab Carissa kemudian kembali bertanya.
"Haiss.. Kau pasti sangat pintar sampai bisa diterima di universitas itu. Siapalah aku ini yang hanya menjadi beban orangtuaku." kata laki-laki itu.
"Hei, jangan begitu. Kau harus semangat dan berjuang lebih keras lagi. Kau juga harus tahu mana yang menjadi minatmu." sahut Carissa mencoba menghibur dan memberikan dukungan kepada temannya.
-Flashback Off-
Masih teringat jelas senyum cantik Carissa dalam memori pria itu. Entah sejak kapan perasaannya mulai tumbuh. Namun ternyata dia hanyalah seorang pecundang yang hanya bisa memendam perasaannya itu.
"Dia sudah menikah." ucap pria itu lirih.
"Devian Mahendra. Beruntung sekali kau bisa mendapatkannya."
"Tunggu saja. Aku sudah menyiapkan permainan untukmu. Aku ingin lihat apa kehebatanmu." ucap pria itu menyeringai.
*
*
*
Pernikahan Alex dan Aninda tinggal menghitung hari.
Gaun buatan Carissa untuk sahabat tersayangnya pun sudah siap.
"Rissa, kau benar-benar sahabat terbaikku. Aku sangat terpukau dengan hasil karyamu ini. Mana bisa aku mendapatkannya secara cuma-cuma. Aku bayar saja ya?" tawar Aninda yang sedang melakukan panggilan video dengan Carissa.
__ADS_1
"Hei kau ingin membayar? Memangnya kau sanggup membayar jasa sahabatmu ini?" tanya Carissa dengan senyum liciknya.
"Kau ini ya. Aku ingin menghargai karya sahabatku." jawab Aninda yang mengerucutkan bibirnya membuat Carissa terkekeh.
"Sudahlah. Anggap saja ini karya perdanaku khusus untukmu sebelum aku menjadi desainer ternama. Kelak kau harus membayar mahal jika ingin menggunakan jasaku." ucap Carissa.
"Baiklah. Aku yakin kau akan menjadi terkenal suatu hari nanti. Dan aku adalah satu-satunya orang yang bisa menikmati hasil karyamu secara gratis." kata Aninda.
Kedua sahabat itu pun tertawa bersamaan.
"Ngomong-ngomong aku merindukanmu." ucap Aninda.
"Wow. Kau rindu padaku? Sebuah apresiasi untukku." goda Carissa.
"Hei, mulai lagi. Aku benar-benar rindu. Sudah lama kita tidak hangout bareng. Apalagi semenjak kau menikah dengan pria kaku itu." kata Aninda yang memelankan suaranya karena saat ini ia sedang di perusahaan takut ada rekan kerja yang mendengar perkataannya dan mengadu kepada sang CEO, pria yang dimaksud Aninda.
Carissa tertawa kecil mendengar perkataan sahabatnya itu. Tanpa Aninda sadari, disamping Carissa ada Devian yang sedari tadi mendengarkan percakapan heboh kedua wanita itu.
Hari ini memang Devian ada meeting siang hingga sore hari, maka dari itu ia ingin bersantai dirumah terlebih dahulu bersama istri tercintanya.
"Kau bilang aku menikah dengan siapa?" tanya Carissa yang sengaja memancing sahabatnya itu.
"Pria kaku. Memang benar kan suamimu itu sangat kaku. Aku melihatnya tak pernah tersenyum. Menyeramkan sekali." jawab Aninda panjang lebar.
Devian yang mendengar itu pun mengernyitkan dahinya.
"Ternyata dimata orang aku manusia seperti itu?" batin Devian.
"Ris, apa suamimu ada disampingmu?" tanya Aninda panik.
"Iya." jawab Carissa sembari menggeser kamera ponselnya yang menampakkan wajah datar Devian.
Seketika tubuh Aninda menggigil ketakutan.
"Apa yang baru saja aku katakan? Jadi daritadi dia mendengar aku memakinya?" batin Aninda.
"Mati aku. Sial. Bagaimana kalau dia memecatku?"
Tanpa pikir panjang Aninda langsung mematikan ponselnya membuat Carissa tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang membuatmu begitu senang, Sayang?" tanya Devian penasaran.
"Kau lihat wajah Ninda tadi, Dev? Saat dia tahu kalau kau mendengar semua makiannya kepadamu. Ekspresinya lucu sekali." kata Carissa yang masih tertawa mengingat Aninda ketakutan.
Devian menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jadi ternyata istriku ini jahil juga ya?" ucap Devian sambil mencubit pelan pinggang istrinya.
"Aaawww..." ringis Carissa.
"Sakit tau!" gerutu Carissa dengan wajah cemberut.
__ADS_1
Cup!
Devian mengecup bibir Carissa yang sudah maju itu.
"Pagi-pagi sudah mengerjai sahabatmu sendiri. Memangnya menyenangkan?" tanya Devian.
"Salah siapa dia mengatai suamiku seperti itu." jawab Carissa membuat Devian tersenyum.
"Terimakasih sudah membelaku, istriku." ucap Devian lembut membuat Carissa tersipu.
Menyadari istrinya yang tersipu, Devian kembali tersenyum.
Ya. Setelah bertemu dengan Carissa entah sudah berapa kali ia tersenyum. Senyum yang tidak pernah ia tampakkan kepada orang lain, selain kepada orangtuanya. Bahkan dengan Alex, senyumnya bisa dihitung. Apalagi di perusahaan, yang ada seluruh karyawannya tiba-tiba menjadi patung ketika bertemu dengannya.
Memang pantas dijuluki Tuan Muda dingin.
*
*
*
Hari ini rombongan orangtua Devian dan Carissa sudah pulang ke tanah air. Mereka sengaja tidak memberi kabar kepada anak-anaknya.
"Mbak, aku sama Mas Cakra pulang duluan ya." pamit Mama Allisa kepada besannya.
"Baiklah. Aku juga sangat lelah." balas Bunda Tamara.
Tak lama sopir pribadinya pun sudah tiba menjemputnya.
"Aku harap kita bisa agendakan liburan bersama lagi seperti ini." kata Ayah Adhitama.
"Tentunya. Kita sudah berumur saatnya menikmati masa tua. Biar bisnis diurus anak-anak kita." sahut Cakra disambut tawa kedua pria paruh baya itu bersamaan kemudian berpamitan untuk kembali ke kediaman masing-masing.
"Bagaimana kabar putri kita ya, Pa?" tanya Mama Allisa yang saat ini sudah duduk didalam mobil.
"Pasti baik-baik saja. Lagipula sudah ada suami yang menemaninya." jawab Papa Cakra.
"Aih.. Benar sekali, Pa. Putri kecil kita sudah punya kehidupan sendiri." ucap Mama Allisa yang tiba-tiba merasakan sedih campur haru.
"Sudah, Ma. Rissa sudah menemukan pendamping yang tepat. Tidak usah khawatir." kata Papa Cakra.
"Papa benar. Sepertinya kita harus sering-sering liburan lagi, Pa. Jangan kalah dengan anak-anak muda itu." ucap Mama Allisa yang tiba-tiba kembali bersemangat.
"Tentu saja, istriku." sahut Papa Cakra lebih bersemangat.
Sopir yang mengemudi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan majikannya yang tak mau kalah dengan anak dan menantunya.
"Tuan dan Nyonya romantis sekali." batinnya.
-BERSAMBUNG
__ADS_1