
Pagi harinya orangtua Devian dan Carissa terlihat sudah berada di ruangan Carissa. Para tetua itu sangat bahagia mendengar kabar tadi malam melalui panggilan suara. Terutama Bunda Tamara yang sangat bersemangat membawa banyak bingkisan pagi ini.
"Bunda membawa apa aja? Banyak sekali?" tanya Devian kebingungan.
"Oh ini ada banyak pakaian ibu hamil untuk menantuku agar lebih nyaman." jawab Bunda Tamara sambil meletakkan beberapa tas diatas sofa yang terdapat di dalam ruang rawat inap VIP itu.
"Semalam setelah mendengar kabar, Bundamu langsung memesan semua ini untuk dibawa kesini." sahut Ayah Adhitama yang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa Bunda repot-repot sekali? Kan bisa Dev yang mengambilnya dirumah saja." ucap Devian yang tak enak hati.
"Apa-apaan kamu ini? Memangnya Bunda gak boleh perhatian sama menantuku? Ini semua hadiah untuk Rissa jadi harus Bunda sendiri yang mengantarnya." kata Tamara tak terima dengan perkataan suami dan putranya.
"Bunda terimakasih ya." sahut Carissa mencoba mencairkan suasana agar tidak semakin memanas.
"Ah kalian dengar itu? Memang cuma Carissa yang mengerti aku." ucap Tamara kemudian menghampiri dan memeluk menantu kesayangannya.
Adhitama dan Devian hanya saling melempar pandang kemudian menghela nafas.
Allisa dan Cakra yang menjadi penonton sedari tadi hanya tersenyum melihat sandiwara di pagi hari.
"Bagaimana keadaanmu, Nak? Ada yang tidak nyaman?" tanya Tamara lembut.
"Rissa sudah baik-baik saja, Bunda." jawab Carissa sopan dengan senyuman manisnya.
"Sudah makan? Atau ingin makan sesuatu? Kalau kau butuh sesuatu bilang saja jangan ditahan, biar Dev yang keluar membelikan untukmu." tanya Tamara lagi yang membuat Devian mengerutkan keningnya.
"Aish... Ada menantu, anak sendiripun terasingkan." gerutu Devian yang membuat orang didalam ruangan tertawa bersama.
"Sabar, Nak. Posisi Ayah pun sama. Lihat sedari tadi Bundamu itu hanya fokus dengan menantunya." ucap Adhitama lirih disambut kekehan Devian.
Melihat interaksi orangtua dan istrinya membuat Devian tersenyum bahagia. Hubungan yang sangat harmonis semoga bertahan selamanya hingga maut memisahkan, harap Devian.
Mama Allisa dan Bunda Tamara asyik mengobrol dengan Carissa seputar kehamilan dan persiapan persalinan. Bagi Carissa pembicaraan ini sangat penting karena ini adalah pengalaman pertamanya. Carissa ingin agar kehamilannya sehat dan bisa memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Sedangkan Papa Cakra dan Ayah Adhitama berbagi pengalamannya dengan Devian. Kedua pria tua itu mengajari Devian bagaimana menjadi suami siaga bagi istri dan anaknya. Tidak lupa mengingatkan Devian agar lebih sabar dan tenang saat mood ibu hamil berubah-ubah.
Waktu berlalu tak terasa sudah siang hari jam 11. Para orangtua berpamitan begitu juga Devian dan Carissa yang sudah bersiap untuk kembali ke rumah. Kondisi Carissa sudah membaik, hanya butuh istirahat dan konsumsi makanan bergizi untuk menunjang tumbuh kemah janin yang ada didalam kandungannya.
"Dev antarkan aku ke butik dulu ya." pinta Carissa.
__ADS_1
"Oke. Tapi jangan lama-lama ya, kau harus banyak istirahat dirumah." ucap Devian mengingatkan.
"Aku baik-baik saja, Dev. Lihat sendiri kan aku sehat begini." kata Carissa menampakan senyum cerahnya.
"Iya aku tahu. Tapi kamu juga harus lebih memperhatikan dirimu. Ingat sekarang kamu sudah bukan seorang diri, tapi ada nyawa lain didalam perutmu." pesan Devian lembut.
"Baik, suamiku. Aku mengingatnya dan akan menjaganya dengan baik." sahut Carissa semangat.
"Bagus. Ayo kita berangkat." ajak Devian yang menggandeng tangan Carissa.
Jarak dari rumah sakit ke butik memakan waktu 20 menit. Dibutik para karyawan sudah sibuk melayani konsumen yang cukup banyak.
"Aku bantu melayani pelanggan dulu ya, Dev." ucap Carissa mendapat anggukan dari Devian.
Devian tersenyum melihat interaksi istrinya dengan para konsumen. Terlihat banyak pakaian yang telah dibeli oleh konsumen yang datang silih berganti.
"Istriku memang berbakat dalam bisnis." gumam Devian bangga.
Devian membuka ponselnya kemudian memesan makan siang untuk dirinya, Carissa sekaligus para karyawan. Itu dilakukan Devian sebagai reward atas kerja keras para karyawan yang sudah membantu bisnis istrinya. Tidak bisa dipungkiri Devian memang memiliki jiwa kepemimpinan yang baik dan sangat menghargai kerja keras para karyawannya. Tidak perlu diragukan lagi kemampuan Devian walau terbilang usianya masih sangat muda dalam dunia bisnis.
Tepat jam makan siang, pesanan Devian sudah datang. Devian memanggil Carissa kemudian memintanya memberitahu para karyawan untuk istirahat dan makan siang. Tepat sekali butik sudah mulai sepi pengunjung.
"Terimakasih Nona Bos dan Tuan Bos." kata karyawan serempak dengan senyum merekah diwajah mereka.
Devian dan Carissa saling berpandangan kemudian tertawa kecil. Setelah membagikan makan siang, barulah Devian dan Carissa menuju ruang pribadi Carissa.
"Dalam acara apa kamu mentraktir para karyawanku, Sayang?" tanya Carissa heran dengan tindakan suaminya.
"Aku hanya menghargai kerja keras mereka. Sepertinya mereka bersemangat sekali bekerja denganmu. Tidak salah kan?" jawab Devian.
"Kau ini walaupun kata orang berwajah datar dan bersifat dingin tapi sebenarnya hatimu lembut sekali. Aku bersyukur memiliki suami seperti kau, Dev." ucap Carissa kemudian mengecup pipi Devian sekilas.
"Itu hal yang wajar dilakukan bukan?" tanya Devian.
"Ya. Aku bangga padamu." jawab Carissa membuat Devian tersipu.
"Aih ternyata Tuan Muda juga bisa merona ya." ledek Carissa memancing tawa Devian.
__ADS_1
"Hmm.. Sudah berani meledekku ternyata." ucap Devian kemudian menggelitiki tubuh istrinya.
"Dev, ampun. Hentikan ini. Aku tidak akan meledekmu lagi." pinta Carissa yang tubuhnya merasa geli.
"Ini hukuman kecil, siapa suruh berani meledekku." ucap Devian yang menghentikan tangannya kemudian langsung memagut bibir ranum Carissa.
Carissa memelotkan matanya karena terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Devian. Namun Carissa sudah terlambat untuk melepaskan diri, hanya bisa pasrah dengan perlakuan suaminya.
Setelah puas merasakan bibir istrinya, barulah Devian melepaskan pagutannya yang membuat Carissa hampir kehabisan nafas.
"Kau mau membunuh istrimu, Dev?" gerutu Carissa dengan memanyunkan bibirnya.
Dengan cepat Devian menciumi wajah Carissa yang terlihat sangat menggemaskan.
"Dev..." erang Carissa.
"Maafkan aku. Salah siapa kau imut sekali kalau sedang kesal." ucap Devian dengan senyum yang membuatnya semakin terlihat tampan.
"Sudahlah. Ayo makan, aku lapar." ajak Carissa yang sudah tidak tahan dengan godaan suaminya. Bisa-bisa Carissa terbang ke angkasa jika terus-terusan mendengar gombalan Devian.
"Oke." sahut Devian menyetujui.
Keduanya saling menyantap makanan masing-masing. Beberapa kali juga keduanya saling menyuapi satu sama lain.
Devian sangat senang bisa menghabiskan momen-momen sederhana bersama Carissa. Devian ingin lebih banyak waktu agar bisa terus bermesraan dengan istri tercintanya.
"Lebih baik aku percepat rencana bulan maduku." batin Devian tidak sabar.
Tapi Devian juga tak lupa untuk memastikan kondisi tubuh Carissa lebih dulu apakah memungkinkan untuk berpergian jauh. Dan tentunya Devian harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya lebih dulu sebelum ia tinggal untuk berlibur dengan istrinya.
"Apa kau sedang memikirkan sesuatu, Sayang?" tanya Carissa yang mendapati Devian tiba-tiba melamun.
"Ah tidak, Sayang." jawab Devian kemudian menampakkan senyumnya.
Carissa hanya mengangguk-anggukan kepala lalu melanjutkan makan siangnya.
"Maaf sayang. Aku hanya ingin memberimu kejutan." ucap Devian dalam hati.
__ADS_1
-BERSAMBUNG