
Hari sudah gelap, Devian masih setia menemani Carissa yang belum sadarkan diri. Dengan lembut Devian mengusap-ngusap tangan istrinya dan juga beberapa kali menciumi kening Carissa berharap agar istrinya terganggu dan segera membuka matanya.
"Ayo bangun, Sayang. Aku ingin segera berbagi kabar bahagia ini. Aku tidak tahu harus bagaimana jika harus memendamnya sendiri." ucap Devian lirih.
Tangan Carissa mulai ada pergerakan dan membuka matanya secara perlahan namun Devian tidak menyadarinya.
"Uuuh..."
Devian yang mendengar suara lenguhan Carissa segera mendekatkan telinganya untuk memastikan.
"Akhirnya kamu bangun, istriku." ucap Devian lega.
Carissa menatap langit-langit ruangan dengan bingung.
"Aku dimana, Dev? Kenapa kamu disini?" tanya Carissa yang samar-samar mengingat bahwa dirinya sebelumnya berada di cafe bersama Arya.
"Ayo minum dulu." tawar Devian kemudian membantu Carissa untuk duduk dan menyerahkan segelas air putih kepada istrinya.
Carissa meneguknya dengan perlahan sembari memulihkan kesadarannya.
"Apakah aku sudah lama terlelap, Dev?" tanya Carissa yang melihat dari jendela ruangannya kalau hari sudah gelap.
"Lumayan. Kurang lebih 4 jam kamu tidak sadarkan diri. Bagaimana apakah ada bagian tubuhmu yang masih tidak nyaman? Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu kembali." ucap Devian yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Aku sudah baik-baik saja, suamiku. Hanya saja aku tidak tahu kenapa tadi tiba-tiba merasa mual dan kepalaku mendadak pusing sekali." kata Carissa menjelaskan.
Devian menatap Carissa dengan lekat. Kini kedua pasang mata dua sejoli itu saling bertemu dan seperti menyiratkan berbagai macam makna didalamnya.
"Ada apa, Dev? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Carissa memahami ada sesuatu yang disembunyikan oleh Devian.
Devian hanya diam dan tak bergeming sedikitpun.
"Apa ada masalah dengan kesehatanku?" tanya Carissa lagi mencoba menebak-nebak.
Devian menggenggam tangan Carissa kemudian menciuminya membuat Carissa semakin kebingungan.
"Aku tidak tahu harus mulai memberitahumu darimana dan bagaimana." jawab Devian yang terlihat gusar.
Carissa mengelus tangan Devian kemudian memberikan senyuman termanisnya.
"Tenanglah. Aku akan mendengarkanmu." ucap Carissa seketika Devian perlahan mulai tenang.
"Tadi dokter yang memeriksamu bilang kalau kau sedang mengandung." kata Devian menatap Carissa dengan lembut.
"Apa? Me-mengandung?" tanya Carissa tidak percaya.
"Iya sayang. Katanya aku sebentar lagi akan menjadi seorang ayah." jawab Devian bersemangat namun berbeda dengan Carissa yang terlihat menundukkan pandangannya.
"Kenapa sayang? Apa kau tidak bahagia mendengarnya?" tanya Devian sedih namun tidak ada jawaban dari Carissa.
__ADS_1
"Maafkan aku. Aku yang menyebabkan kau mengalami kondisi ini. Aku tidak akan memaksamu. Kalau kau tidak ingin..."
Tiba-tiba mulut Devian dibungkam oleh ciuman Carissa sebelum menyelesaikan ucapannya.
Ciuman itu berlangsung cukup lama hingga keduanya melepaskan diri setelah kehabisan nafas masing-masing. Keduanya mulai mengatur nafasnya dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Devian memandang Carissa lekat kemudian merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya.
"Apakah istriku baik-baik saja?" tanya Devian kembali bertanya.
Carissa memberikan senyum terbaiknya kemudian mengelus perutnya yang masih rata.
"Aku tidak percaya kalau dia akan hadir secepat ini, Dev." jawab Carissa.
"A-aku tidak tahu harus mengekspresikan kebahagiaanku seperti apa." tambah Carissa lagi, matanya terlihat berbinar.
"Jadi kau tidak keberatan dengan kehadirannya? Kau menerimanya?" tanya Devian seketika membuat Carissa mengernyitkan keningnya.
"Apa maksudmu, Dev? Apa kau tidak mengharapkan kehadiran anak kita? Jangan bilang kau..." tiba-tiba jari telunjuk Devian menempel di bibir Carissa sehingga tidak bisa melanjutkan perkataannya.
"Ssst! Bukan begitu. Aku sangat bahagia mendengar aku akan menjadi seorang ayah. Tapi saat melihat responmu tadi, aku pikir kamu tidak menyukai kabar ini." ucap Devian jujur, Carissa pun paham dengan maksud perkataan suaminya itu.
"Aku sangat bahagia, Dev. Tidak menyangka Allah menitipkan si kecil kepada kita secepat ini. Aku akan menjadi seorang ibu." kata Carissa yang diikuti dengan airmata bahagianya.
"Kenapa kau menangis, Sayang?" tanya Devian sembari menghapus tetesan airmata yang ada mengalir diwajah Carissa dengan kedua ibu jarinya.
"Apakah dirinya menyakitimu?" tanya Devian lagi sambil melirik ke arah perut Carissa.
"A-aku hanya terlalu bahagia, Sayang. Bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamaku. Aku sungguh sangat bahagia." jawab Carissa jujur yang masih menangis haru.
"Iya. Aku juga begitu, istriku." sahut Devian yang tak terasa juga ikut menitikan airmata bahagia namun segera menghapusnya.
Carissa terkekeh karena tingkah laku suaminya.
"Airmata tidak akan membuatmu terlihat lemah, suamiku. Jangan menahannya." ucap Carissa seketika Devian menarik istrinya itu kedalam pelukannya.
Carissa bisa merasakan pundaknya yang mulai basah. Carissa membelai lembut punggung Devian sebagai tanda peduli dan kasih sayang.
"Istriku.. Terimakasih." ucap Devian kemudian perlahan mengurai pelukannya.
"Maaf.. Kau pasti akan melewati masa-masa sulit untuk beberapa bulan kedepan. Maaf menyusahkanmu." kata Devian membuat Carissa mengulas senyum tipis diwajahnya.
"Apa yang kau bicarakan, Sayang? Anak kita tidak mungkin akan merepotkanku. Kehadirannya adalah anugerah untuk kita bukan?" tanya Carissa yang dijawab anggukan kepala Devian.
"Ayo kita jaga dan rawat anak kita bersama ya?" ajak Carissa membuat Devian tersenyum bahagia.
Devian mencium kening Carissa cukup lama kemudian beralih ke perut datar Carissa.
"Nak, kau harus baik pada ibumu ya. Jangan membuatnya tidak nyaman. Kami sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu di dunia ini." ucap Devian membuat perasaan Carissa semakin bahagia melihat interaksi Devian dengan buah hati mereka.
__ADS_1
"Apa orangtua kita sudah tahu kabar ini?" tanya Carissa.
"Belum. Aku menunggumu sadar dan ingin bertanya dulu padamu sebelum berbagi kabar bahagia ini kepada mereka." jawab Devian yang menambahkan rasa bahagia dihati Carissa.
"Kau memang suami terbaik, Dev." puji Carissa jujur.
"Apa kau sedang tersipu, Dev?" tanya Carissa yang melihat telinga Devian memerah.
Devian yang mendengarnya menjadi canggung.
"A-aku tidak.." ucap Devian gugup.
Carissa terkekeh melihat tingkat suaminya yang terkenal dingin dan kejam bisa memiliki sifat malu-malu kucing seperti itu.
"Itu terlalu menggemaskan." kata Carissa dengan tawa kecilnya.
"Hemm.. Sepertinya istriku sudah mulai berani meledek suaminya sendiri ya." ucap Devian dengan seringai nakalnya.
"Ah tidak. Aku hanya menggodamu saja." kata Carissa mengamankan diri.
"Aku senang bisa melihat sisi lain dari dirimu yang sangat menggemaskan ini, Dev." tambah Carissa sembari menarik kedua pipi Devian.
Devian dapat melihat binar kebahagiaan diwajah cantik istrinya.
"Aku tidak keberatan menunjukkan sisi lain yang lebih menggemaskan daripada ini. Khusus hanya untukmu, istriku." ucap Devian yang terdengar sangat ambigu di telinga Carissa.
"Kau ini!" umpat Carissa saat menangkap senyuman licik diwajah suaminya.
"Ayo aku akan menunjukkan hal yang lebih menggemaskan lagi, Sayangku." kata Devian menggoda istrinya.
"Jangan macam-macam kau, Dev. Ini dirumah sakit!" hardik Carissa yang seketika membuat Devian melepaskan tawanya.
Carissa tertegun melihat Devian bisa tertawa selepas itu. Memang jarang sekali Devian menampakkan sisi lain dari dirinya. Bahkan walaupun sudah menikah beberapa bulan dengan Devian, Carissa bisa menghitung berapa kali suaminya itu bisa menunjukkan kebahagiaannya apalagi tertawa lepas seperti tanpa beban. Paling hanya sekedar senyuman yang Devian tampakkan. Tapi meskipun begitu dihadapan orang lain Devian tidak akan mungkin memperlihatkan senyumannya. Hanya wajah datar dan dingin yang ia perlihatkan. Jadi memang hanya Carissa dan orangtua Devian yang bisa melihat sisi lain dari pria putra Mahendra itu.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Devian menyadari Carissa melihatnya tanpa mengedipkan mata.
"Aku suka dengan dirimu yang seperti ini, Dev. Aku harap kedepannya kau akan lebih sering tertawa. Kau benar-benar terlihat sangat tampan." jawab Carissa.
"Ehm. Apakah istriku sedang memujiku?" tanya Devian membuat Carissa tersadar.
"Uhuk! Ah itu.. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." jawab Carissa kikuk kemudian menundukkan wajahnya yang sudah memerah.
Devian tersenyum mendapati istrinya yang masih saja bertingkah malu-malu dihadapannya.
"Baiklah aku akan lebih sering tertawa dengan istriku. Aku tidak ingin istri cantikku melirik pria lain karena aku jarang tertawa." ucap Devian terdengar menggoda Carissa namun yang dikatakan adalah murni dari kata hatinya.
Memang benar Devian mampu menjadi dirinya sendiri hanya saat bersama dengan Carissa. Bagi Devian hanya Carissa lah yang mampu memahami dan menerima segala sisi yang Devian miliki. Maka Devian akan selalu berusaha untuk membahagiakan Carissa dengan cara apapun. Baginya kebahagiaan istrinya adalah segalanya. Sepertinya perkataan cinta membuat seseorang berubah menjadi lebih baik itu benar.
"Terimakasih, suamiku." ucap Carissa kemudian keduanya kembali berpelukan.
__ADS_1
-BERSAMBUNG