Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Masa lalu Carissa


__ADS_3

Devian dan Carissa tiba di sebuah resto khas makanan Jepang. Kedatangan pasangan ini disambut ramah oleh pelayan yang akan bertugas melayani mereka. Setelah mendapatkan tempat duduk, Devian langsung memesan beberapa menu untuknya dan juga istrinya.


Setelah selesai memesan, pelayan itu pun bergegas menuju ruang kitchen agar koki segera membuat masakan sesuai pesanan pelanggannya.


"Sayang, kamu tahu siapa nama lengkapnya Arya?" tanya Carissa tiba-tiba membuat Devian langsung mengerutkan keningnya.


"Kenapa tiba-tiba kau bertanya tentangnya?" tanya Devian tak suka.


"Tenanglah. Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku hanya merasa tidak asing dengannya." jawab Carissa mencoba menenangkan suaminya.


"Kenapa kau ingin tahu nama lengkapnya?" tanya Devian lagi dengan wajah cemburunya.


"Suamiku ini pecemburu sekali rupanya." jawab Carissa menyentil hidung mancung suaminya.


"Sayang, aku hanya ingin tahu saja. Aku seperti pernah bertemu dengannya. Tapi mungkin hanya perasaanku saja. Yasudah kalau kau tidak mau memberitahu." ucap Carissa lagi dengan memalingkan wajahnya.


"Sayang, bukan aku tidak ingin memberitahumu. Aku hanya penasaran kenapa tiba-tiba kau ingin tahu namanya." kata Devian yang meraih tangan Carissa.


Dengan cepat Carissa menarik tangannya lalu melipatnya didepan dada.


"Jangan marah ya istriku. Aku akan memberitahumu." ucap Devian merayu istrinya.


Sebenarnya Carissa ingin sekali tertawa tetapi ia mencoba menahannya karena dirinya memang sama sekali tidak marah dengan suami tercintanya itu.


"Namanya Arya Dwitama." ucap Devian membuat Carissa membulatkan matanya.


"Arya Dwitama? Tidak mungkin." batin Carissa tak percaya.


"Kenapa Sayang? Apa kau mengenalnya?" tanya Devian penasaran yang melihat perubahan ekspresi istrinya.


Belum sempat menjawab tiba-tiba pelayan sudah datang menyajikan beberapa hidangan di meja mereka.


"Kita makan dulu ya. Nanti aku akan ceritakan padamu." jawab Carissa mencoba menetralkan perasaannya yang masih tak percaya mendengar nama lengkap sosok yang tidak asing baginya.


"Baiklah." sahut Devian yang semakin dihinggapi rasa penasaran.


Kedua insan itu pun langsung menyantap hidangan yang sudah tersaji dihadapan mereka. Sesekali Carissa nampak melamun, begitu juga dengan Devian.


Setelah keduanya selesai makan dan membayarnya, mereka beranjak dari resto untuk segera pulang kerumah.


"Sayang, bolehkah kita mampir ke taman sebentar?" tanya Carissa ketika sudah duduk didalam mobil.


"Hem. Kenapa istriku?" tanya Devian penasaran.


"A-aku ingin menceritakan sesuatu." jawab Carissa gugup.


Devian menatap lekat wajah istrinya dan menyadari ada kegelisahan yang tersirat didalam hati istrinya itu.


"Baiklah." ucap Devian sembari membelai lembut rambut istrinya.


Carissa menoleh dan mendapatkan senyuman dari suami tampannya itu. Seketika membuat Carissa menghilangkan kegugupannya kemudian memeluk suaminya dengan erat.


"Ada apa, Sayang?" tanya Devian yang hanya dijawab gelengan kepala Carissa.


"Kita jalan sekarang?" tanya Devian lagi dijawab anggukan kepala Carissa.


"Lalu bagaimana aku mengemudi kalau masih dipeluk seperti ini?" goda Devian.


"Biarkan aku memelukmu seperti ini, bolehkan?" tanya Carissa dengan wajah imutnya yang terlihat sangat menggemaskan bagi Devian.


"Baiklah. Tapi kau harus membayarnya." jawab Devian dengan senyum liciknya.


"Oke, aku setuju." sahut Carissa tanpa basa-basi membuat Devian tersenyum menang.


Cup!


Devian mengecup bibir merah istrinya itu membuat Carissa memelototkan matanya.


"Ini uang mukanya, istriku. Sisanya kau harus membayarnya dirumah." bisik Devian dengan nada menggoda.


Carissa dapat merasakan hembusan nafas Devian yang membuat tubuhnya tiba-tiba meremang. Carissa pun baru menyadari kalau dirinya sudah terjebak dengan permainan suaminya.


"Ah, kau curang Dev!" umpat Carissa yang langsung melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Devian terkekeh melihat istrinya yang kesal dengan bibirnya yang sudah maju.


"Tidak ingin memelukku lagi?" goda Devian menawarkan.


Carissa menatap suaminya lalu beralih ke lengan kekar milik suaminya itu. Carissa segera menyandarkan kepalanya dibahu suaminya.


"Sudah terlanjur dengan uang mukanya. Sekalian saja." ucap Carissa membuat Devian tertawa puas.


Devian memeluk kemudian mencium kening istrinya. Setelah itu, barulah ia mengemudikan mobilnya menuju taman terdekat yang searah dengan jalan pulang.


Tak butuh waktu lama sampailah mobil Devian di pinggir taman. Terlihat ada beberapa pengunjung ditaman itu. Ada pasangan muda mudi, ada keluarga kecil yang sedang mengabadikan momen dan juga beberapa pedagang kaki lima.


Carissa yang menyadari mobil sudah berhenti, ia pun berniat untuk segera turun namun ditahan oleh Devian.


"Pakai ini." ucap Devian memakaikan jasnya kepada istrinya.


Carissa melirik gaun yang ia kenakan kemudian memahami maksud suaminya.


"Terimakasih suamiku." ucap Carissa mengecup pipi kanan suaminya sekilas.


"Kenapa singkat sekali? Ditempat yang salah lagi." protes Devian tak terima.


Carissa terkekeh melihat ekspresi lucu suaminya itu.


"Nanti kita lanjutkan dirumah ya, S-u-a-m-i-k-u." ucap Carissa lembut sengaja menekankan kata suamiku untuk menggoda Devian.


Suara Carissa terdengar sangat menggoda ditelinga Devian, dengan cepat ia menarik tubuh istrinya untuk berada dipangkuannya.


"Dev, apa yang..." belum selesai protes bibir Carissa sudah dibungkam oleh bibir Devian.


Ciuman itu begitu ganas membuat Carissa kewalahan. Ciuman yang cukup lama sampai Carissa memukul dada Devian agar melepaskan pagutannya karena dirinya sudah hampir kehabisan nafas.


"Huh huh.. Kau mau membunuhku ya?" tanya Carissa yang berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya karena kelakuan suaminya.


Devian terkekeh kemudian mengecup lembut bibir merah istrinya yang sedikit bengkak karena ulahnya.


"Maaf istriku. Terimakasih ya." ucap Devian lembut kemudian memeluk istrinya sekali lagi.


"Hem. Baiklah. Ayo kita turun." ajak Carissa yang dijawab anggukan kepala Devian.


Kedatangan Devian dan Carissa sempat menjadi sorotan para pengunjung dan pedagang kaki lima. Namun karena mendapat tatapan tajam dari Devian membuat mereka segera mengalihkan padangan mereka. Carissa yang menyadari sikap suaminya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Carissa berjalan menuju pedagang kaki lima untuk membeli dua botol air mineral. Setelah itu barulah mereka duduk dikursi taman yang kosong. Carissa segera meneguk air hingga menyisakan setengah botol, tak lupa ia memberikan satu botol lagi kepada suaminya.


"Sepertinya istriku sangat haus ya." goda Devian yang langsung mendapat tatapan tajam dari Carissa.


"Berhentilah menggodaku, Dev." ucap Carissa.


"Baiklah." sahut Devian yang tidak ingin mengubah suasana hati istri tercintanya itu.


Malam ini terasa hening, dibawah pijaran lampu taman yang remang-remang dan kedatangan beberapa nyamuk yang kadang hinggap untuk mencari makan.


"Dev.." panggil Carissa lirih.


"Iya sayang." sahut Devian yang langsung menoleh dan tatapan kedua insan itu pun saling bertemu.


Carissa mengatur nafasnya sejenak kemudian barulah ia melanjutkan pembicaraannya.


"Maukah kau mendengarkan kejujuranku?" tanya Carissa dengan berat hati.


Devian tersenyum kemudian menarik tubuh istrinya. Jadilah posisi duduk berdampingan dengan kepala Carissa bersandar pada bahu Devian.


"Katakanlah. Aku akan mendengarkannya agar membuatmu tenang." jawab Devian lembut sembari menggenggam erat tangan istrinya itu.


Tak bisa dipungkiri didalam hati Devian sebenarnya juga bergejolak, ada rasa penasaran dan juga ketakutan yang sama besarnya. Devian takut jika tidak bisa menerima kejujuran istrinya itu.


"Dulu waktu SMA, aku punya teman laki-laki. Kami selalu berdua kemana saja." ucap Carissa hati-hati kemudian menjeda ucapannya.


Carissa mengatur nafasnya kemudian melirik ke arah Devian untuk melihat ekspresi suaminya.


"Lanjutkan." pinta Devian yang semakin mengeratkan genggamannya.


Carissa paham apa yang saat ini suaminya rasakan.


"Banyak teman-teman bahkan guru-guru mengira kami adalah sepasang kekasih."

__ADS_1


Carissa melihat dada Devian yang sudah naik turun karena mengatur nafasnya.


"Hingga tiba hari kelulusan, temanku itu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri."


"Apakah dia pernah menyatakan perasakannya padamu?" tanya Devian.


"Tidak pernah." jawab Carissa.


"Lalu bagaimana dengan perasaanmu?" tanya Devian penasaran.


Carissa mengangkat wajahnya kemudian kedua tangannya memegang wajah suaminya.


"Lihat mataku, Dev. Kamulah pria pertama yang membuatku jatuh cinta." jawab Carissa sungguh-sungguh.


Devian dapat melihat kejujuran dan ketulusan di bola mata istri cantiknya itu.


"Perasaanku padanya hanyalah sebatas teman. Tidak lebih. Entah bagaimana perasaannya kepadaku, aku pun tidak tahu." tambah Carissa membuat Devian paham.


"Apakah kamu pernah berharap untuk menjadi kekasihnya?" tanya Devian memastikan.


Carissa tampak terdiam sejenak kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Apa temanmu itu adalah Arya?" tanya Devian membuat Carissa tersentak.


"A-aku tidak yakin, Dev. Karena penampilannya sekarang sangat berbeda sekali. Dulu waktu sekolah dia adalah pria yang culun." jawab Carissa jujur.


"Apakah dia sekarang terlihat keren?" tanya Devian tak suka.


"Iya dia terlihat keren." jawab Carissa sengaja.


Devian membuang muka karena tidak suka mendengar jawaban istrinya.


"Tapi lebih keren suamiku, Devian Mahendra. Sudah tampan, kaya, penyayang lagi. Aku sangat beruntung mempunyai suami seperti dirinya." puji Carissa membuat Devian tersipu.


Carissa terkekeh melihat ekspresi suaminya yang salah tingkah.


"Bagaimana mungkin seorang CEO yang terkenal dingin mempunyai sifat malu-malu kucing seperti ini? Benar-benar sangat menggemaskan." batin Carissa.


"Masih ingat pria misterius yang pernah menemuiku?" tanya Carissa membuat Devian kembali teringat.


"Tentu saja." jawab Devian.


"Sepertinya dia adalah Arya. Aku tidak begitu yakin sih, tapi mengingat postur tubuh dan suaranya benar-benar sangat mirip dengannya." ucap Carissa lagi.


"Dan saputangan yang pernah aku temukan itu adalah saputangan yang pernah kuberikan padanya. Tapi aku tidak tahu kenapa ada bordiran inisial A dan R. Dulu itu hanyalah saputangan polos." tambah Carissa.


"Mungkin saja inisial itu adalah namanya dan namamu? Arya dan Rissa?" tanya Devian.


"Aku tidak yakin sih." jawab Carissa.


"Mungkin Arya memang punya perasaan khusus terhadapmu?" tanya Devian lagi.


"Entahlah, sejak lulus SMA kami tidak pernah kontak. Dia diluar negeri, aku juga sibuk dengan pendidikan dan pekerjaanku disini. Bagiku sangat wajar kalau teman akan menjauh jika sudah menemukan kehidupan masing-masing bukan?" ucap Carissa membuat Devian menganggukkan kepalanya.


"Lagipula kalaupun dia memiliki perasaan khusus padaku, tak kan pernah mengubah kenyataan kalau aku sekarang adalah istrimu kan?" tanya Carissa membuat Devian bernafas lega.


"Kau benar. Lagipula apapun yang terjadi denganmu dan dia dulu adalah masa lalu. Dan jika saat ini dia berniat ingin merebutmu maka aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak akan memberikan dia kesempatan kecil sedikitpun." ucap Devian yang begitu protektif pada istrinya.


Carissa terkekeh mendengar ucapan suami posesifnya yang sangat lucu itu.


"Kau tidak marah denganku kan?" tanya Carissa.


"Untuk apa aku marah dengan istriku? Kau tidak membuat kesalahan apapun." jawab Devian kemudian meraih pinggang ramping istrinya dan memeluknya.


"Terimakasih, suamiku." ucap Carissa lembut.


"Tapi aku masih penasaran kenapa dia menemuiku dengan cara misterius seperti itu?" tanya Carissa yang disetujui oleh Devian.


"Pertanyaan sama yang sedang kupikirkan." gumam Devian.


*Nah, ternyata pria misterius itu tak lain adalah Arya Dwitama, sahabat masa SMA Carissa. Kira-kira apa ya tujuannya Arya? Benarkah ia akan jadi pebinor? Menciptakan huru-hara dirumah tangga Carissa dan Devian? Lalu bagaimana Devian menjaga istrinya dari godaan si Arya?


Terus ikuti kelanjutan novel ini ya, maaf Minthor agak lelet updatenya karena memang lagi sibuk 😢

__ADS_1


Terimakasih para Readers yang setia 🖤*


__ADS_2