
"Bagaimana kalau Mbak Marni jadi rekan Rissa, Pak? Apakah Pak Hasan keberatan kalau Mbak Marni ke kota?" tanya Carissa.
"Maksud Non?" tanya Pak Hasan bingung.
"Rencananya Rissa mau buka butik, Pak. Kebetulan belum punya partner." jawab Carissa mengulas senyum.
"Wah boleh itu, Non. Daripada Marni di kampung terus. Saya juga ingin Marni punya masa depan yang cerah." ucap Pak Hasan bahagia.
"iya nanti coba Rissa tawarin Mbak Marni dulu, Pak." sahut Carissa.
"Terimakasih banyak, Non." ucap Pak Hasan gembira.
Carissa mengulas senyum yang diikuti senyuman Papa Cakra dan juga Devian.
Langkah mereka berlanjut mengelilingi kebun apel dan sesekali membantu memetik apel yang sudah masak. Devian dan Carissa juga cepat beradaptasi dan berinteraksi dengan para buruh sangat baik. Tak jarang juga tertawa ketika mendengar lelucon para buruh yang terlihat sangat menikmati pekerjaan mereka.
Hari sudah menjelang siang, para buruh beristirihat dan membuka bekal makan siang mereka. Ada yang membawa rantang berisi nasi serta sayur dan lauk pauk. Ada yang membawa singkong, pisang rebus dan yang lainnya. Makanan yang sederhana namun sangat nikmat dalam suasana istimewa.
"Non Rissa mau?" tawar ibu-ibu paruh baya kepada Carissa. Wanita itu menyodorkan sebuah tepak makan yang berisi singkong rebus.
"Boleh, Bu." jawab Carissa sembari mengambil satu potong singkong.
Carissa menggigit singkong itu dan mengunyahnya.
"Wah ternyata Nona cantik suka makanan kampung seperti ini." ucap ibu itu dengan tersenyum senang.
"Kamu mau coba Dev?" tanya Carissa kepada Devian.
"Boleh." ucap Devian lalu merebut sisa gigitan singkong milik Carissa.
"Dev! Kan itu punyaku!" gerutu Carissa kesal.
Papa Cakra, Pak Hasan dan juga para buruh tertawa melihat kelakuan pasangan muda itu.
"Ini masih banyak, Non. Buat Non semua." ucap wanita paruh baya tadi.
"Tidak usah, Bu. Saya mau minta 1 lagi boleh?" pinta Carissa dengan senyum manisnya.
"Tentu saja, Non." jawab wanita itu.
"Ibu namanya siapa?" tanya Carissa.
"Panggil saja Bu Yanti, Non." jawab wanita paruh baya yang terlihat masih sangat bugar.
"Ibu sudah lama kerja disini?" tanya Carissa penasaran.
"Iya Non. Kurang lebih 15 tahun saya kerja disini bersama suami saya." jawab Bu Yanti.
"Wah lama sekali, Bu." sahut Carissa.
"Iya, Non. Sejak ada kebun ini sangat membantu warga kampung disini, Non. Kami jadi punya pekerjaan untuk menyambung hidup." ucap Bu Yanti bangga.
"Alhamdulillah. Ibu punya anak?" tanya Carissa yang dijawab anggukkan kepala Bu Yanti.
"Sekarang sudah kuliah di kota Non. Baru saja masuk semester 2." jawab Bu Yanti.
Perbincangan itu terus berlanjut. Carissa sangat mudah untuk berkomunikasi dengan para buruh panen itu. Ada juga yang mengajaknya bercanda, curhat dan lain-lain.
Papa Cakra melihat arlojinya yang sudah menunjukkan jam 1 siang.
"Ayo kita kembali ke villa." ajak Papa Cakra yang serempak dijawab anggukkan Carissa, Devian dan juga Pak Hasan.
Tak lupa mereka berpamitan dulu kepada para buruh panen kemudian beranjak menuju villa. Tak banyak obrolan diantara mereka. Hari sudah sangat terik membuat cacing diperut mulai berlomba untuk konser.
"Pak Hasan ikut makan siang bareng ya." pinta Carissa dengan senyum manisnya.
"Baik Non. Terimakasih." sahut Pak Hasan tersenyum hangat.
__ADS_1
Tak lama kemudian mereka sampai di villa.
Carissa dan Devian langsung menuju kamarnya di lantai dua. Papa Cakra juga kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Sedangkan Pak Hasan menuju taman belakang.
"Lelah sayang?" tanya Devian kepada istrinya.
"Lumayan sih. Tapi menyenangkan juga kok." jawab Carissa sumringah.
Devian membelai lembut kepala istrinya.
"Aku mau mandi, mau ikut?" tawar Devian dengan senyum nakalnya.
Carissa dengan cepat menggelengkan kepalanya disambut kekehan kecil Devian.
Devian segera membersihkan diri di kamar mandi.
Carissa membuka cardigannya dan melepas ikat rambutnya. Carissa merebahkan tubuhnya ke atas kasur kemudian tak berselang lama ia pun terlelap.
Ceklek!
Devian keluar dengan wajah segar dan setengah telanjang. Devian hanya melilitkan handuk ke pinggangnya. Tetesan air masih menempel ditubuhnya.
"Sayang?" panggil Devian kemudian berjalan mendekati ranjang.
Devian mendapati istrinya sudah terlelap.
"Padahal aku ingin menggodamu. Tapi sepertinya kamu sangat lelah." gumam Devian.
"Istirahatlah istriku. Anggap saja ini keberuntunganmu, Sayang. Aku akan menagihnya nanti malam." bisik Devian kemudian mengecup kening istrinya lembut.
Devian segera mengambil pakaian, t-shirt abu misty dan celana pendek warna hitam. Setelah berganti pakaian, Devian meraih ponselnya kemudian menuju balkon kamar.
Devian mendial nomor Alex dan melakukan panggilan suara.
"Ada kendala, Lex?" tanya Devian tanpa basa-basi.
"Baguslah." ucap Devian lega.
"Dev kau ingat partner kerjasama kita yang seumuran denganmu?" tanya Alex.
"Iya, Arya bukan?" tanya Devian memastikan ingatannya.
"Iya betul, Arya ya namanya. Tadi dia sempat datang ke MF Group." jawab Alex.
"Untuk apa dia datang? Memang ada janji meeting?" tanya Devian penasaran.
"Tidak ada sama sekali, Dev. Aku sepertinya curiga dengan Arya itu." jawab Alex.
"Sudahlah. Jangan berpikiran yang tidak-tidak." sahut Devian yang sebenarnya mempunyai pemikiran sama dengan Alex.
"Lebih baik kau fokus dengan pekerjaanmu saja." ucap Devian lagi.
"Baiklah. Bagaimana rasanya menikah, Dev?" tanya Alex penasaran.
"Kau akan mengetahuinya setelah menikah." jawab Devian.
"Berbagilah sedikit cerita dengan sahabatmu ini." ucap Alex memaksa.
"Tidak. Aku menelponmu karena urusan pekerjaan bukan untuk masalah pribadi." jawab Devian ketus.
"Ah kau ini, Dev. Dasar kanebo kering!" umpat Alex kesal.
"Sudah lanjutkan pekerjaanmu kalau kau ingin tetap bisa menghidupi istrimu nanti." ucap Devian dengan suara dinginnya seketika membuat Alex menghela nafas kasar.
"Baik. Maafkan saya Bos." ucap Alex terpaksa.
Tanpa menjawab Alex, Devian mematikan ponselnya begitu saja.
__ADS_1
Hal itu membuat Alex mengumpat dan mengucapkan sumpah serapah di ruangan kerjanya.
"Devian awas saja kau!" umpat Alex kesal.
Namun kekesalannya itu takkan bisa membuat hubungan persahabatannya dengan Devian luntur. Dengan sikap dinginnya Devian yang bertolak belakang dengan dirinya menjadi warna tersendiri untuk persahabatan mereka. Bahkan sudah seperti saudara kandung.
Devian yang berada di balkon mengamati pemandangan hijau yang ada dihadapannya. Devian mengatur nafasnya kemudian menenangkan pikirannya. Mau tidak mau setelah ini ia akan pusing memikirkan dua perusahaan. Devian harus mempersiapkan segalanya.
Tok Tok!
Suara ketukan pintu terdengar.
"Non, Den sudah waktunya makan siang." terdengar suara Bu Elis dari pintu kamar.
Devian segera menuju pintu kemudian membuka sedikit.
"Iya Bu. Tapi Rissa baru saja tidur. Kami nyusul saja." ucap Devian dan dibalas anggukan Bu Elis.
Setelah Bu Elis pergi, Devian kembali menutup pintu kamarnya.
Devian menuju ranjang kemudian merebahkan tubuhnya disamping Carissa.
"Mana Rissa dan Devian?" tanya Papa Cakra saat sudah berada di ruang makan.
"Itu Tuan, Non Rissa tidur. Kata Den Devian makan siangnya nanti saja." jawab Bu Elis yang sudah kembali ke ruang makan menata beberapa hidangan di meja makan.
"Sepertinya Rissa kelelahan." gumam Papa Cakra.
Makan siang itu dilakukan bersama Papa Cakra, Mama Allisa dan Pak Hasan sekeluarga. Papa Cakra dan Mama Allisa tidak pernah memandang rendah para pekerjanya. Makan siang bersama para pekerjanya bukanlah hal yang tabu dan sudah sering dilakukan bahkan satu meja bersama mereka tidak menjadi masalah.
"Hasan kamu sudah bilang ke Marni?" tanya Papa Cakra kepada Pak Hasan saat para wanita sudah ke dapur untuk membereskan peralatan makan yang telah digunakan.
"Belum, Tuan. Setelah ini saya baru akan membicarakannya." jawab Pak Hasan.
Papa Cakra menganggukkan kepalanya.
"Ada lagi, Tuan?" tanya Pak Hasan kepada majikannya.
"Tidak. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu." jawab Papa Cakra.
"Saya mau membersihkan halaman belakang dulu, Tuan." pamit Pak Hasan yang dijawab anggukan kepala Papa Cakra.
Selang beberapa menit, Mama Allisa sudah duduk disamping Papa Cakra.
"Sudah selesai?" tanya Papa Cakra kepada istrinya.
"Sudah. Elis dan Marni juga sudah pulang." jawab Mama Allisa yang menyenderkan punggungnya ke kursi.
"Ayo ke kamar." ajak Papa Cakra bersemangat.
Mama Allisa membulatkan matanya melihat suaminya yang sudah menginjak usia paruh baya masih memiliki ekspresi nakal seperti itu.
"Ayo, kita jangan kalah dong sama anak menantu kita." bisik Papa Cakra membuat Mama Allisa meremang.
"Astaga, ingat umur Pa!" ucap Mama Allisa kesal dengan tingkah kekanakan suaminya.
"Ayo!" ajak Papa Cakra meraih tangan istrinya erat.
"Mau kugendong?" tanya Papa Cakra saat istrinya tidak beranjak dari kursinya.
"Tidak perlu!" tolak Mama Allisa tegas.
Dengan cepat Mama Allisa berdiri kemudian berjalan menuju kamar meninggalkan suaminya.
Papa Cakra terkekeh melihat istrinya yang melarikan diri dan menyembunyikan wajah merahnya.
"Sudah mau punya cucu masih saja malu-malu. Istriku memang menggemaskan." batin Papa Cakra dalam hati kemudian bergegas menyusul istrinya menuju kamar.
__ADS_1
-BERSAMBUNG