Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Dewa Penyelamat


__ADS_3

"Dev bisakah kamu tidak menggodaku di depan orangtua?" gerutu Carissa saat sudah berada di kamarnya.


"Memang kenapa? Kan memang kita sudah suami istri. Kenapa kamu masih malu? Apa kamu tidak senang menjadi istriku?" tanya Devian memasang wajah sedih.


Carissa menghela nafas kemudian duduk di tepi ranjangnya.


"Bukan begitu, Dev. Sudahlah terserah kamu saja. Aku akan mulai membiasakannya." jawab Carissa pasrah yang membuat Devian tersenyum nakal kemudian duduk disamping istrinya.


"Terimakasih istriku." ucap Devian kemudian mengecup kening Carissa.


Carissa merangkul pinggang Devian dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya.


"Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Devian sembari membelai lembut rambut istrinya.


Carissa menggelengkan kepalanya mengeratkan rangkulannya pada tubuh suaminya.


"Oh iya tadi Papa tanya, apakah kamu sudah punya gambaran dimana tempat untuk membuka butik?" tanya Devian teringat percakapannya dengan Papa Cakra.


Carissa mendongakkan kepalanya lalu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Bagaimana kalau kita besok survei lokasi?" tanya Devian kepada istrinya.


"Boleh. Sekalian kita jalan-jalan." jawab Carissa senang.


"Tentu istriku." sahut Devian seketika mengangkat tubub Carissa ke pangkuannya.


"Dev!" teriak Carissa terkejut.


Devian hanya terkekeh kemudian meraih tengkuk Carissa dan ******* bibir istrinya. Carissa tidak bisa menolak ia mengikuti permainan suaminya.


"Aku ingin lebih." bisik Devian setelah melepaskan pagutan bibirnya membuat tubuh Carissa meremang.


"Tapi kita kan mau makan malam bersama." ucap Carissa mencoba menghilangkan kegugupannya.


Walaupun sudah menjadi suami istri tetap saja Carissa masih merasa gugup saat kontak fisik dengan suaminya.


"Masih ada waktu. Hanya sekali boleh ya?" pinta Devian lembut kembali menatap wajah istrinya yang sudah memerah.


Carissa menganggukkan kepalanya dengan wajah tertunduk. Devian tersenyum melihat istrinya yang masih malu-malu membuatnya semakin tergoda.


"Aku akan bermain lembut, Sayang." bisik Devian yang memancing hasrat Carissa.


Sore itu terjadi lagi kegiatan bercinta Devian dan Carissa.


"Kau bohong, Dev! Tadi kamu bilang hanya sekali." gerutu Carissa kepada suaminya yang ternyata tidak cukup sekali bercinta dengannya.


"Maaf, Sayang. Kau terlalu menggoda, aku tak bisa menahannya." ucap Devian membela diri.


"Kau menyebalkan, Dev!" Carissa memberi pukulan berulang pada dada Devian.


Devian terkekeh melihat wajah kesal Carissa kemudian mengingat dirinya yang tak bisa menahan diri.


Devian memeluk tubuh Carissa yang berbaring disampingnya kemudian menciumi puncak kepala istrinya itu dengan lembut.


"Terimakasih, Sayang. Aku mencintaimu." ucap Devian penuh cinta.


"Kau bilang apa, Dev?" tanya Carissa mendongakkan wajahnya menatap Devian untuk memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.


"Yang mana?" tanya Devian kembali bertanya.


"Yang baru saja kau bilang tadi." jawab Carissa kemudian bangkit dari tidurnya dan mengukungkan tubuhnya diatas tubuh Devian.


"Terimakasih, Sayang." ucap Devian sembari memalingkan wajahnya ke samping.


"Bukan yang itu." sahut Carissa masih berharap ingin mendengar perkataan Devian lagi.


"Yang mana? Aku tidak mengingatnya." ucap Devian sengaja menggoda istrinya.


Carissa semakin kesal kemudian berguling ke samping Devian kemudian berbalik memunggungi Devian dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Devian terkekeh melihat istrinya yang sedang merajuk. Devian menggeser tubuhnya mendekati istrinya kemudian memeluk Carissa erat. Devian menelusupkan wajahnya pada ceruk leher istrinya kemudian mengecupnya dengan lembut.


"Aku mencintaimu istriku, Carissa Elvina." ucap Devian kemudian kembali membenamkan wajahnya ke cengkuk leher Carissa. Devian memeluk perut Carissa erat.


Carissa tersenyum bahagia mendengar ucapan Devian kemudian membelai lembut tangan Devian yang melingkar di perutnya.


Devian segera membalikkan tubuh Carissa kemudian Devian merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya. Devian melihat senyuman manis Carissa yang menampakkan cekungan pada sudut bibir istrinya.


"Kau sangat cantik istriku." puji Devian mengagumi paras Carissa apalagi saat tersenyum.


Carissa tersenyum manis kemudian menarik tengkuk Devian dan memagut bibir suami tampannya.


"Terimakasih suamiku. Aku juga mencintaimu." ucap Carissa setelah melepaskan bibirnya dari bibir Devian.

__ADS_1


Carissa menelusupkan wajahnya pada dada kekar suaminya dan memeluknya erat. Devian membelai lembut punggung polos istrinya dan mengecupi keningnya berulang kali.


Setelah puas berpelukan, dua sejoli itu beranjak dari kasurnya untuk membersihkan diri kemudian melaksanakan ibadah kepada Sang Pencipta.


1 jam setelahnya Devian dan Carissa turun untuk makan malam bersama Papa Mama dan Ayah Bunda.


"Papa katanya mau ada hal penting yang diomongin sama Rissa?" Carissa bertanya setelah acara makan malam selesai.


"Iya, Sayang habis ini ikut ke ruang kerja Papa ya." jawab Cakra melemparkan senyum hangat pada putrinya.


Carissa hanya menganggukkan kepalanya kemudian membantu membereskan piring dan gelas yang telah digunakan.


Beberapa menit kemudian Cakra dan Carissa sudah berada di ruang kerja.


"Duduklah, Nak." ucap Cakra.


Carissa duduk di soffa yang terdapat di ruangan kerja papanya kemudian menatap wajah pria baruh baya yang masih terlihat tampan.


"Ada apa, Pa?" tanya Carissa penasaran.


"Sayang, sebenarnya Papa sangat ingin kamu meneruskan bisnis Papa dan Mama." jawab Cakra kemudian memberikan tatapan hangat pada putrinya.


Carissa menggenggam tangan Papa Cakra lembut.


"Pa, Rissa akan meneruskannya tapi bukan sekarang. Papa dan Mama kan masih sehat, Carissa ingin membuka butik dulu." ucap Carissa memberi penjelasan pada papanya.


Cakra menghela nafas, ia pun tidak ingin memaksakan kehendak kepada putrinya.


"Bagaimana kalau bisnis Papa dilanjutkan Devian apakah kamu keberatan?" tanya Cakra pada putrinya.


"Papa sudah tanya sama Devian sendiri?" Carissa kembali bertanya pada Papa Cakra.


"Tadi Papa sudah bicara dengan Ayah Adhitama tapi belum dengan Devian sendiri. Papa mau minta persetujuan dari kamu, Nak." jawab Cakra kemudian mengelus kepala putrinya.


"Bagaimana penilaian Papa sendiri tentang Devian?" tanya Carissa ingin tau.


"Papa sangka Devian merupakan pria bekerja keras dan bertanggung jawab. Kemampuan dia berbisnis sudah tidak diragukan lagi. Memang usianya masih muda tapi dia hebat." jawab Cakra yang membuat Carissa tersenyum.


"Papa kan bisa menilai sendiri. Rissa gak masalah kok. Tapi Papa harus bicarakan dulu dengan Devian, mau bagaimanapun Devian sendiri sudah sibuk dengan MF Group. Apa Papa mau membiarkan putri Papa ini dicuekin suaminya karena banyaknya pekerjaan?" ucap Carissa yang membuat Cakra terkekeh.


"Baiklah. Papa nanti coba bicara dengan Devian." Cakra memeluk Carissa, putrinya yang sudah punya kehidupan sendiri.


"Papa kangen putri kecil Papa." ucap Cakra teringat masa kecil Carissa yang menggemaskan.


"Rissa akan sering-sering main ke rumah, Pa. Papa jangan khawatir. Tapi Papa dan Mama harus jaga kesehatan ya. Harus happy terus." ucap Carissa merasakan kesedihan orangtuanya.


"Terimakasih Papa sudah menjadi orangtua yang hebat buat Rissa." ucap Carissa bangga yang membuat Cakra terharu.


Hubungan cinta seorang ayah dan putri memang tak lekang dimakan usia. Seorang ayah akan menjadi cinta pertama bagi putrinya. Sosok pria yang akan selalu melindungi putri kecilnya.


*


*


*


Di jalanan yang sudah gelap, Saras baru pulang bekerja dengan menaiki sepede motor maticnya. Masuk ke jalanan yang mulai sepi Saras merasakan sesuatu yang aneh pada ban motornya. Saras menepikan motornya kemudian menstandarkan motornya.


"Ah sial!" umpat Saras melihat ban belakang motornya bocor.


Saras melihat sekeliling yang sangat sepi, tak ada kendaraan yang lewat. Saras memang sengaja mengambil jalan itu karena lebih cepat sampai ke rumahnya. Namun siapa sangka kesialan menimpanya di tengah jalan. Saras terpaksa menuntun motornya berharap menemukan bengkel tambal ban terdekat di daerah itu. Hanya beberapa kendaraan bermotor yang melewati jalanan itu. Saras memang bukan wanita penakut sehingga dijalanan gelap dan sepi ia tidak masalah. Namun tetap saja rasa khawatir menyelimuti dirinya. Bukan takut akan bertemu hantu tapi takut ada orang yang punya niat jahat.


Sudah berjalan 2km Saras belum juga menemukan bengkel tambal ban. Saras merasa sedikit lelah akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat. Setelah menstadarkan motornya, Saras duduk di trotoar kemudian meluruskan kakinya yang terasa pegal.


"Lumayan capek juga." ucap Saras pelan.


Tak jauh dari dirinya ada dua orang pria yang setengah mabuk sedang berjalan. Dua pria dibawah pengaruh minuman keras itu yang melihat Saras dihinggapi pikiran jahat. Dua pria itu berjalan mendekati Saras agak sempoyongan. Saras yang juga mengetahui dua pria yang berjalan ke arahnya mengawasi gerak geriknya.


"Hai cantik kenalan dong." ucap pria yang sepertinya seumuran dengan Saras. Pria itu punya tindik di telinga kanannya dan beberapa tato di tangan kanan dan kirinya.


Saras tak menjawab ia harus sangat waspada apalagi saat ini tidak ada kendaraan yang melintas. Hanya pohon-pohon besar dan lampu jalan yang menjadi saksinya.


"Kok diam saja sih? Sendirian ya kaka temenin mau?" tanya pria yang satunya. Pria itu tampak lebih muda dari Saras, rambutnya berwarna pirang.


"Kakak? Menjijikkan." batin Saras ingin muntah mendengar ucapan pria mabuk itu.


Pria itu mencoba menyentuh pipi Saras namun Saras segera menepisnya kemudian seketika berdiri dan mundur beberapa langkah.


"Wow, menarik. Aku suka wanita yang galak." ucap pria yang bertato.


"Jangan macam-macam!" hardik Saras kesal.

__ADS_1


"Ayolah jangan begitu, Kakak hanya ingin bermain dengan gadis cantik sepertimu." ucap pria bertato lagi.


"Benar-benar menjijikkan." umpat Saras lagi.


Saras masih menunggu apa yang akan dilakukan dua pria itu sambil berharap semoga ada orang yang lewat dan bisa menolongnya.


"Sial kalau aku berlari masih jauh ke keramaian. Aku hanya bisa mengulur waktu sambil menunggu bantuan." batin Saras.


Tiba-tiba pria berambut pirang mencoba menarik tangan Saras membuatnya mendapat tendangan jitu di benda pusaka miliknya. Perlakuan itu memancing emosi dua pria itu.


"Berani ya kamu. Baiklah aku akan bermain kasar denganmu." ucap pria bertato melihat temannya yang kesakitan kemudian menarik tangan Saras kuat.


"Ah sial! Aku malah memancing jiwa binatang mereka. Siapapun tolong selamatkan aku." batin Saras.


Saras mencoba menepis tangan pria itu kemudian berlari untuk menyelamatkan diri.


"Kenapa tidak ada satupun kendaraan yang lewat." ucap Saras sambil terengah-engah.


Saras berlari sekuat tenaga namun tak bisa terlalu jauh dari dua pria yang jangkauan kakinya lebih panjang dari darinya. Pria pirang itu menarik tas selempang Saras membuat Saras terhenti.


"Kalian jangan macam-macam! Kalau kalian berani menyentuhku aku pastikan kalian akan menyesal!" hardik Saras berbalik badan namun tak membuat dua pria itu takut.


"Hahaha. Gadis sepertimu sebaiknya jangan melawan kami akan melakukannya dengan lembut." ucap pria berambut pirang yang sudah melemparkan tas milik Saras ke sembarang arah.


"Sial. Aku tidak sempat untuk meminta bantuan. Bodoh sekali!" umpat Saras dalam hati.


Dua pria itu berjalan semakin mendekati Saras. Saras memutar tubuhnya untuk kembali berlari namun tubuhnya sudah ditarik pria bertato dan melemparkannya ke trotoar yang membuatnya terduduk.


"Sakit sekali. Lihat saja kalian akan benar-benar menyesal." batin Saras kesal.


Saras mencoba untuk bangkit namun ia tidak bisa. Saras merasakan pergelangan kakinya sakit. Ia menyadari itu karena ia berlari dengan sepatunya yang memiliki hak 5cm dan juga karena dibanting pria sialan itu.


Dua pria itu duduk berjongkok didepan Carissa.


"Kau sudah tidak bisa lari, Cantik." ucap pria berambut pirang yang membuat Saras meludah di depan wajahnya.


Plak!


"Berani sekali kamu!" pria itu menampar pipi Saras.


"Baiklah. Aku tidak akan segan lagi. Ayo kita bermain, aku akan memuaskanmu, Sayang." ucap pria pirang itu membuat Saras semakin jijik.


Pria itu menerjang tubuh Saras sehingga terjatuh di trotoar ia memegang tangan Saras kuat. Kemudian ia menyuruh rekannya untuk membuka pakaian Saras. Saras sudah berusaha sekuat tenaga namun tidak berhasil.


"Tidak! Jangan sampai dua binatang ini melecehkanku." ucap Saras dalam hati yang membuatnya mendapatkan kekuatan kembali. Saras menendang pria bertato yang sudah berhasil membuka dua kancing bagian atas kemejanya. Kemudian menyerang pria berambut pirang yang masih memegang tangannya. Saras berhasil melepaskan diri dari cengkraman pria mabuk itu. Saras mengambil tasnya yang tergeletak di tengah jalan tak lupa ia melepas sepatunya dan melemparkannya ke pinggir jalan kemudian berlari berbalik arah menuju motornya yang tertinggal. Saras berpikir jika ia kembali akan ada kendaraan yang akan lewat untuk membantunya. Saras berlari sekuat tenaga dengan kaki polos yang sedikit pincang. Benar saja ada lampu kendaraan yang terlihat dari kejauhan. Saras bergegas berlari dan setelah jaraknya semakin mendekat ia menghentikan sebuah mobil dengan berdiri di tengah-tengah mobil itu.


Ckit!


Pengemudi mobil itu mengerem mendadak karena terkejut dengan sosok wanita yang tiba-tiba berdiri didepan mobilnya. Pengemudi itu segera keluar dari mobil.


"Kau sudah gila? Kalau mau bunuh diri jangan disini!" umpat pria itu.


Saras seketika mengenali suara bass yang tidak asing baginya. Saras mendongakkan kepalanya untuk memastikan.


"Pak Dewa tolong saya." ucap Saras seketika memeluk pria yang berdiri dihadapannya meminta perlindungan.


"Lepaskan! Jangan kurang ajar ya." ucap Dewa yang terkejut karena ternyata wanita gila itu adalah Saras.


"To-tolong saya, Pak." ucap Saras lirih.


Dewa merasakan tubuh Saras yang gemetar kemudian melihat dua pria yang sedang berlari ke arahnya.


"Hei, lepaskan wanitaku! Aku yang akan duluan bermain dengannya." ucap pria berambut pirang tak tau malu.


Dewa yang mendengar itu seketika menyadari bahwa wanita yang saat ini memeluknya sedang dalam bahaya. Dewa menggendong Saras ke dalam mobil kemudian menutup kembali pintu mobilnya, Dewa akan sedikit bermain dengan dua pria kurang itu.


"Heh kalian ini laki-laki atau bukan? Beraninya mencari mangsa di pinggir jalan dan ingin berlaku tidak senonoh dengannya. Aku rasa kejantanan kalian perlu dipertanyakan." ucap Dewa yang membuat dua pria itu terpancing emosi.


Dua pria mabuk yang terpengaruh dengan ucapan Dewa itu langsung menyerang tanpa pikir panjang. Namun Dewa yang terlatih ilmu diri jelas lebih hebat dari dua pria bodoh itu. Dewa mematahkan salah tangan kedua pria itu yang membuat dua pria itu kesakitan.


"Ampun. Ampun kami salah." ucap kedua pria itu serempak sembari meringis kesakitan.


"Jangan sampai kalian melakukan hal menjijikkan seperti ini lagi. Kalau tidak aku akan mengebiri kalian berdua!" ucap Dewa dingin membuat dua pria itu bergidik ngeri.


"Ba-baik, kami janji." kata dua pria itu ketakutan.


Dengan secepat kilat dua pria itu berlari terbirit-birit meninggalkan Dewa.


-BERSAMBUNG


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2