
Siang hari, Carissa dan Devian telah sampai di kediaman orangtua Carissa.
"Sepertinya Papa dan Mama belum pulang kerumah, pasti langsung ke perusahaan." gumam Carissa melihat rumah yang sepi.
"Nona dan Tuan Muda sudah pulang, kebetulan sekali Mbok baru selesai masak untuk makan siang." sambut Mbok Asih.
"Terimakasih Mbok, Rissa sudah lapar." sahut Carissa riang.
"Dev, ayo kita makan." ajak Carissa yang dibalas senyuman dan juga anggukan kepala Devian.
Di meja makan sudah tersaji nasi, lauk pauk dan juga sayur.
Tanpa menunggu lama, Devian dan Carissa menyantap makanan yang sudah disiapkan Mbok Asih.
Setelah selesai, Carissa dan Devian menuju kamar di lantai atas.
"Perjalanan yang cukup melelahkan." ucap Carissa kemudian merebahkan tubuhnya ke kasur.
Devian tersenyum tipis kemudian duduk di tepi kasur.
"Istirahatlah istriku." ucap Devian lembut.
"Dev..." panggil Carissa.
"Iya sayang?" sahut Devian menatap lembut istrinya.
Carissa bangun dari tidurnya kemudian duduk menghadap Devian. Carissa menatap lekat wajah Devian. Pandangan mata mereka saling bertemu.
"Ada apa?" tanya Devian sembari membelai lembut wajah Carissa.
"Ehm... Tidak ada. Aku hanya ingin menikmati wajah tampanmu." jawab Carissa membuat Devian gemas.
"Istriku sudah pintar menggoda ya." ucap Devian mencubit pelan hidung mancung istrinya.
"Aw, sakit Dev." pekik Carissa sembari mengusap hidungnya yang terasa sakit.
Devian terkekeh melihat ekspresi lucu Carissa.
"Salah siapa kamu begitu menggemaskan. Sekarang sudah berani terang-terangan menggodaku ya." ucap Devian.
"Memangnya tidak boleh menggoda suami sendiri? Kau juga sering menggodaku." sahut Carissa dengan bibirnya yang sudah manyun.
"Tentu saja boleh, Sayang. Aku malah sangat senang digoda istriku. Itu tandanya istriku ini sudah benar-benar terpesona dengan diriku." ucap Devian membuat Carissa tertawa kecil.
"Dasar. Penyakit narsismu itu memang tidak pernah hilang." sahut Carissa gemas dengan kepercayaan diri suaminya.
"Itu kenyataan sayangku." ucap Devian tidak mau kalah.
"Iya, iya. Memang suamiku ini sangat tampan. Sampai membuatku terpikat dan selalu ingin menggodamu." kata Carissa sambil mencubit pelan kedua pipi Devian.
Kedua insan itu serempak tertawa bersamaan.
"Aku bahagia bersamamu, istriku." ucap Devian menarik tubuh Carissa kedalam dekapannya.
__ADS_1
"Aku juga, Dev." sahut Carissa membalas pelukan Devian erat.
"Jangan panggil namaku lagi." protes Devian melepaskan pelukannya.
Carissa terkekeh melihat ekspresi lucu Devian.
"Baiklah. Aku juga bahagia bersamamu, suamiku." ucap Carissa tersenyum manis.
"Mulai sekarang kamu harus memanggilku suami, sayang, tidak boleh memanggil namaku lagi." ucap Devian membuat Carissa semakin gemas dengan suaminya.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan membiasakannya." sahut Carissa kemudian mengecup pipi Devian sekilas.
"Kau menciumku di tempat yang salah, Sayang." kata Devian membuat Carissa mengerutkan keningnya.
"Lalu dimana tempat yang benar?" tanya Carissa polos.
"Aku akan mengajarimu istriku." jawab Devian.
Devian meraih tengkuk Carissa dan memagut bibir merah istrinya itu dengan lembut.
"Kau membohongiku, Dev." ucap Carissa mendorong tubuh Devian.
Devian tertawa kemudian mengecup kening Carissa.
"Itu cara yang benar sayangku. Jadi kedepannya kau harus menciumku seperti tadi." kata Devian.
"Kamu itu Dev. Selalu saja mengambil kesempatan." gerutu Carissa.
"Tidak masalah kan mengambil kesempatan dari istriku sendiri?" tanya Devian dengan senyum nakalnya.
Devian tertawa melihat istrinya yang masih saja malu-malu bermesraan dengannya.
Devian kembali mendekap tubuh istrinya. Carissa bisa merasakan pelukan hangat suaminya itu.
"Terimakasih banyak, Dev. Aku mencintaimu." ucap Carissa dalam hati.
Setelah puas berpelukan, dua sejoli itu pun terlelap di siang hari.
*
*
*
Di kediaman orangtua Devian.
"Ayah, bagaimana kalau malam ini kita mengajak Dev dan Rissa dinner? Bunda sudah lama tidak makan malam bersama diluar." tanya Tamara kepada suaminya.
"Boleh saja. Tapi mungkin saja hari ini mereka lelah, anak dan menantu kita baru saja pulang dari perkebunan." kata Adhitama yang sibuk menonton acara di televisi.
"Bunda coba telpon Dev saja." ucap Tamara kemudian meraih ponselnya dan mendial nomor putranya.
Tut Tut
__ADS_1
Tidak ada jawaban.
Tut Tut
Tidak ada jawaban lagi.
"Dev tidak mengangkat telpon, Yah." ucap Tamara memberitahu suaminya.
"Mungkin saja sedang istirahat. Sudahlah lain kali saja, masih banyak waktu." sahut Adhitama sembari menggengam tangan istrinya yang nampak lesu.
"Ayah benar. Yasudahlah." ucap Tamara kemudian ikut menonton acara televisi bersama suaminya.
*
*
*
Menjelang magribh, Saras baru sampai dirumahnya. Jalanan yang super macet pada saat jam pulang kerja membuatnya menempuh waktu yang lebih lama untuk sampai dirumahnya.
Saras memasuki rumah masih dengan perasaan kesal.
"Apa yang aku harapkan dari pria dingin itu? Bersikap lembut? Mustahil sekali." gerutu Saras.
"Kalau memang tidak suka, kembalikan saja padaku. Tidak perlu membuangnya. Dasar tidak punya hati." ucap Saras melempar kotak makan yang tadi ia berikan kepada Dewa ke sembarang arah.
"Aku sudah tulus memasak untuknya sebagai ucapan terimakasih tapi malah tidak dihargai sama sekali. Lebih baik aku tidak usah berhubungan dengannya lagi. Anggap saja kebaikannya malam itu hanya sebuah kebetulan." gumam Saras yang masih marah dan kecewa dengan perlakuan Dewa.
Saras merebahkan tubuhnya dikasur, masih teringat jelas kejadian malam itu. Kalau saja Dewa tidak datang tepat waktu, mungkin ia tidak akan sanggup lagi untuk menjalani hidup. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya.
Saras mengira setelah kejadian itu, Dewa akan bersikap baik padanya, setidaknya mereka bisa menjadi teman. Namun kenyataannya, itu hanya angan-angan belaka.
"Sudahlah anggap saja sudah impas. Aku tidak perlu merasa berhutang budi lagi kepadanya." gumam Saras.
Saras menghembuskan nafas kasar dan kembali teringat perilaku Dewa yang lembut malam itu. Saras bisa merasakan ketulusan Dewa saat menolongnya.
"Kenapa dia berubah dingin dan menyebalkan lagi? Apakah kebaikannya malam itu hanya pura-pura saja?" tanya Saras dalam hatinya.
"Buat apa aku memikirkan laki-laki tak berperasaan itu? Sudahlah lupakan saja." ucap Saras mengacak rambutnya.
"Lebih baik aku mandi saja agar pikiranku tidak semakin kacau." gumam Saras kemudian bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
20 menit kemudian Saras keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Badannya terasa segar dan pikirannya lebih tenang.
Saras mengambil ponselnya lalu bermain sosial media.
"Apa kabar Carissa ya? Aku merindukan anak itu." gumam Saras yang tiba-tiba teringat dengan sahabatnya.
"Aku mengirim pesan saja padanya." ucap Saras.
Sebenarnya Saras ingin melakukan video call, namun ia ingat kalau sahabatnya itu baru saja menikah. Saras takut mengganggunya. Apalagi suami Carissa adalah atasannya ditempat ia bekerja. Saras tidak mau menyinggung atasan yang terkenal dingin dan tidak bisa diganggu itu.
"Hai, Rissa... Bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu. Kalau ada waktu ayo kita bertemu."
__ADS_1
Tulis Saras kemudian mengirimkan pesan teks itu kepada Carissa.
-BERSAMBUNG