Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Hari yang Dinanti


__ADS_3

Alex, Aninda dan juga Saras sudah pulang, tinggalah Carissa dan Devian di butik.


"Dari siapa ini, Sayang?" tanya Devian saat matanya tertuju pada sebuah bucket bunga diatas meja.


"Entahlah." jawab Carissa tak acuh.


Karena rasa penasaran Devian mengambil kartu ucapan yang ada di bucket bunga itu.


"Congratulation.. I'm proud of you."


Mata Devian membulat saat melihat inisial pengirim bucket tersebut.


"Sialan." umpat Devian.


"Ada apa, Sayang?" tanya Carissa kaget.


"Tidak ada apa-apa, Sayang." jawab Devian.


"Kenapa kamu terlihat kesal?" tanya Carissa menyadari perubahan ekspresi suaminya.


Hanya helaan nafas Devian yang terdengar, Carissa memutuskan untuk menghampiri suaminya.


Carissa melihat kartu ucapan yang sudah tergeletak di lantai, ia pun memungutnya. Carissa mengernyitkan dahinya saat mendapati huruf A pada nama pengirim bucket bunga itu. Carissa berpikir sejenak kemudian baru memahami satu hal.


"Kamu sudah menebak siapa pengirim bunga ini?" tanya Carissa memancing Devian.


"Pasti si Arya, siapa lagi kalau bukan dia." jawab Devian menggerutu.


"Kau yakin?" tanya Carissa tak percaya.


"Tentu saja." jawab Devian dengan memalingkan wajahnya.


Carissa terkekeh melihat suaminya mulai cemburu.


"Aku tidak mengundangnya. Lagipula darimana dia bisa tahu?" tanya Carissa heran.


"Bagi seorang laki-laki jika sedang mengejar wanita yang ia sukai pasti akan melakukan segala cara untuk mengetahui apapun tentang wanita itu." jawab Devian menjelaskan.


"Benarkah? Sepertinya dulu kau tidak pernah melakukan itu?" tanya Carissa mengingat hubungannya dengan Devian sebelum menikah.


"Tentu saja aku melakukannya. Hanya saja aku tidak memberitahumu." jawab Devian.


"Sungguh?" tanya Carissa penasaran.


"Iya. Sudahlah ayo kita pulang." ajak Devian mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Devian tidak ingin istrinya mengetahui tingkah konyolnya saat dulu mengejar cinta Carissa.


Carissa tertawa kecil karena tingkah suaminya. Carissa menuruti ajakan suaminya tanpa bertanya lebih lanjut.


Dari seberang jalan ternyata Arya sedang mengawasi kedua insan itu dari dalam mobil. Mengetahui Devian dan Carissa keluar dari butik, Arya hanya tersenyum kemudian bergegas melajukan mobilnya.


*


*


*


Hari pernikahan Alex dan Aninda sudah tiba. Carissa dan Devian sudah hadir lebih dulu sebelum acara dimulai. Bagaimanapun Carissa mempunyai tanggungjawab dengan gaun pernikahan Aninda, ia ingin memastikan bahwa gaun itu sudah benar-benar siap tanpa kendala apapun. Setelah selesai berhias, Carissa membantu Aninda untuk memakai gaunnya.


"Cantik sekali." puji Carissa.


"Tanganmu benar-benar berbakat, Ris. Kau lihat, aku menjadi lebih cantik seribu kali lipat." kata Aninda dengan tawa senang.


"Jangan lebay, Nin. Kau memang sudah cantik." sahut Carissa terkekeh.


"Terimakasih sekali lagi, Ris. Aku benar-benar suka dengan gaunmu ini." ucap Aninda kemudian memeluk erat Carissa.


"Sudah-sudah, jangan memelukku terlalu erat nanti make up mu bisa rusak." kata Carissa melepaskan pelukan sahabatnya.


Ceklek!


"Sepertinya sudah waktunya. Aku keluar dulu ya. Permisi, Om Tante." pamit Carissa kemudian meninggalkan ruangan itu.


"Terimakasih, Nak." jawab orangtua Aninda serempak.


"Cantik sekali anak Mami Papi." ucap Clara yang terpukau dengan penampilan putrinya.


"Terimakasih, Mi. Mami juga sangat cantik hari ini." balas Aninda memuji penampilan ibunya.


"Tentu saja, Mami juga ingin terlihat cantik dihari bahagia anak Mami." sahut Clara bersemangat.


"Ingat umur, Mi." celetuk Pandu.


"Papi kenapa sih? Meskipun sudah tidak muda lagi apa salahnya tampil cantik." gerutu Clara sambil memanyukan bibirnya.


"Ya ya, terserah Mami saja. Tidak perlu dandan Mami juga sudah cantik kok." sahut Pandu membuat Clara tersipu.


"Cie, Mami malu tuh Pi." goda Aninda.


"Ayo kita keluar, acaranya akan segera dimulai." ajak Mami yang wajahnya sudah memerah.

__ADS_1


Aninda dan Pandu tertawa serempak mendapati Mami yang salah tingkah. Setelah puas barulah mereka bertiga keluar dari ruangan menuju tempat yang telah disediakan untuk melaksanakan akad.


Halaman rumah Aninda sudah dipenuhi oleh tamu undangan, kebetulan rumah orangtua Aninda memang memilik taman yang luas jadi acara pernikahan dilaksanakan dirumah saja.


Jantung Aninda berdebar sangat kencang saat melihat punggung Alex yang sudah berada di meja akad. Aninda dan Mami Clara duduk di kursi belakang yang tidak jauh dari posisi Alex. Papi Pandu berjalan menuju meja akad menghadap Alex didampingi dua orang saksi.


"Sudah siap, Nak?" tanya Pandu kepada laki-laki yang sebentar lagi akan sah menjadi suami putri kesayangannya.


"InsyaAllah siap, Om." jawab Alex gugup.


"Papi, setelah ini kamu harus panggil saya Papi." ucap Pandu yang dijawab anggukan kepala Alex.


Pandu menarik nafas diikuti Alex kemudian kedua lelaki itu saling berjabat tangan dan mengucapkan akad yang diikuti kata sah dari saksi. Suasana yang mulanya tegang sekarang menjadi ramai karena tepuk tangan para undangan.


Alex dan Aninda mampu bernafas lega dan saling mengucap syukur. Akhirnya kedua insan yang saling mencintai terikat dalam janji yang suci.


"Sekarang kamu sudah sah menjadi istri, Sayang. Waktu benar-benar cepat berlalu." ucap Mami Clara memeluk putrinya erat diikuti airmata yang luruh begitu saja.


"Terimakasih banyak, Mi. Sudah membesarkan dan menyanyangi Ninda sepenuh hati. Ninda sayang Mami." ucap Aninda membalas pelukan disusul suara isak tangis kedua wanita itu.


"Sudah-sudah, jangan ada airmata di hari bahagia ini." kata Pandu memecahkan suasana haru ibu dan anak.


"Suamimu sudah menunggu, Nak. Ayo ikut Papi." ajak Pandu menjemput putri semata wayangnya.


"Baik, Pi." sahut Aninda menguraikan pelukannya kemudian melingkarkan tangan dilengan Papi Pandu.


Aninda berjalan beriringan mengikuti langkah pria yang telah menjadi cinta pertama dalam hidupnya. Aninda menatap kedepan, ia mendapati wajah Alex yang tersenyum kepadanya. Aninda kembali gugup, setelah ini ia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan pria pilihannya.


"Kuserahkan putriku Aninda Putri kepadamu, Nak. Tolong jaga dan cintai dia sepenuh hatimu. Ninda adalah satu-satunya putriku, aku besarkan dia dengan penuh kasih sayang. Jika suatu saat kamu sudah tidak mencintainya lagi, jangan sakiti dia tapi pulangkanlah dia kerumah dengan baik seperti saat hari ini kau akan membawanya pergi." ucap Pandu menyerahkan tangan putrinya kepada menantunya.


"Saya berjanji akan menjaga dan mencintai Aninda dengan sepenuh hati. Terimakasih Papi sudah merawat dan membesarkan putri yang cantik dan baik hati. Doakan yang terbaik untuk rumah tangga kami ya, Pi?" kata Alex membuat Carissa dan Papi Pandu terharu.


"Berbahagialah kalian." ucap Pandu kemudian memeluk anak dan menantunya bergantian.


"Terimakasih Pi." sahut Aninda dan Alex bersamaan.


Setelah puas berpelukan, Pandu menyusul ke tempat duduk istrinya. Tak terasa airmata Pandu pun jatuh, ia bergegas memeluk istrinya.


"Tugas kita membesarkan putri kita sudah selesai, Mi." ucap Pandu bergetar.


"Iya, Pi. Kita tinggal mendoakan yang terbaik untuk anak dan menantu kita. Semoga rumah tangga mereka selalu penuh kebahagian dan keberkahan. Aamiin." kata Clara penuh harap.


"I-iya, Mi." sahut Pandu terisak pelan.


"Papi jangan menangis, malu sama tamu undangan nanti. Tadi kan Papi yang bilang jangan ada airmata di hari bahagia putri kita." ucap Clara mengingatkan diikuti anggukan kepala suaminya.

__ADS_1


Bagaimanapun sekuat-kuatnya seorang ayah, wajar jika menangis saat melepaskan putri semata wayangnya kepada pria lain.


-BERSAMBUNG


__ADS_2