
Pasangan pengantin baru itu sudah sampai di kamar.
"Aku buang air kecil dulu, Sayang." ucap Devian bergegas masuk ke kamar mandi.
Carissa hanya memandangi Devian dan mengulas senyum di bibirnya. Carissa masih tak menyangka jika suaminya saat ini adalah teman masa kecil dan cinta pertamanya. Tapi entah kenapa selama ini dia tidak mengenali Devian.
"Apakah Dev ingat masa kecil kami?" tanya Carissa dalam hati.
Ceklek!
Devian keluar dari kamar mandi, ia melihat Carissa yang sedang melamun. Devian berjalan perlahan kemudian memeluk Carissa yang tengah duduk di tepi ranjang. Carissa terperanjat dan menoleh ternyata suaminya sudah disampingnya.
"Kau melamun, Sayang? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Devian lalu mengecup kening Carissa lembut.
Carissa menatap wajah Devian, ia ingin sekali bertanya namun bimbang. Carissa menghela nafas kemudian merangkul tubuh Devian erat.
"Ceritalah kepada suamimu ini. Jangan ada yang kau tutupi." ucap Devian membelai lembut punggung Carissa.
Carissa mengeratkan pelukkannya, menelusupkan wajahnya pada dada Devian. Setelah mengatur nafasnya Carissa memberanikan diri untuk bertanya pada suaminya.
"Dev, apa kau ingat punya teman kecil perempuan?" tanya Carissa mendongakkan wajahnya menatap Devian.
Devian menundukkan kepalanya melihat wajah penasaran Carissa. Devian mencoba mengingat masa lalunya.
Tanpa menunggu jawaban Devian, Carissa turun dari ranjang kemudian meraih dompetnya yang ia letakkan di atas meja rias. Carissa membuka dompetnya lalu mengambil sebuah foto usang.
"Dev apakah kau tidak penasaran foto siapa ini?" tanya Carissa yang membuat Devian mengingat kejadian tadi siang yang membuat dirinya kesal.
"Mungkin kekasih masa kecilmu." jawab Devian ketus.
"Bukan kekasih tapi dia cinta pertamaku." sahut Carissa membuat Devian semakin terbakar cemburu.
Carissa terkekeh melihat ekspresi Devian yang sangat lucu. Carissa segera duduk di samping Devian.
"Cobalah kau lihat foto ini." ucap Carissa sambil menyodorkan sebuah foto usang.
"Tidak mau. Pasti lebih tampan diriku." sahut Devian percaya diri.
Carissa tertawa kecil lalu mengecup bibir Devian lembut.
"Coba kau lihat dulu, Sayang." paksa Carissa meletakkan foto itu ke telapak tangan Devian.
Devian mengernyitkan dahinya melihat wajah laki-laki yang tidak asing baginya di foto itu. Devian menatap Carissa meminta penjelasan.
__ADS_1
"Apa kau tidak mengenali laki-laki di foto itu?" tanya Carissa membuat Devian berpikir.
"Bukankah ini aku?" tanya Devian bingung.
Carissa terkekeh melihat Devian kebingungan. Carissa meraih tengkuk Devian lalu memagut bibir Devian lembut.
"Kau benar itu adalah dirimu." jawab Carissa yang membuat Devian terkejut.
"Kenapa kau bisa punya foto masa kecilku?" tanya Devian penasaran.
"Tunggu. Tadi kau bilang orang di foto ini adalah cinta pertamamu. Jadi aku?" tanya Devian lagi.
Carissa tersenyum lembut lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Devian mencoba mengingat kembali masa kecilnya.
"Jangan-jangan kau gadis kecil cengeng itu?" tanya Devian teringat pada gadis kecil yang sering ia ganggu.
Carissa tertawa mendengar pertanyaan Devian.
"Ya kau laki-laki yang sangat menyebalkan." jawab Carissa terkekeh.
Devian memeluk Carissa erat, ia baru menyadari ternyata gadis yang ia cari-cari ternyata sudah menjadi istrinya.
"Hentikan Dev, kau membuatku geli." protes Carissa menggerutu.
Devian terkekeh melihat ekspresi menggemaskan istrinya.
"Aku tidak menyangka ternyata istriku adalah gadis kecil yang dulu selalu ku buat menangis. Maafkan aku, Sayang." ucap Devian kembali mendekap tubuh istrinya.
"Aku juga tidak menyangka, Dev. Tadi saat Bunda mengajak ke ruang keluarga tanpa sengaja aku melihat foto masa kecilmu yang tergantung di dinding. Aku juga tidak tau kenapa selama ini tidak menyadari keberadaanmu. Jelas-jelas nama kita tidak berubah." jelas Carissa lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Devian.
"Kau benar, Sayang. Atau mungkin karna diriku yang sebelumnya selalu curiga padamu hingga membuatku tidak menyadari bahwa kau adalah gadis kecilku." ucap Devian.
"Benar juga, Dev. Tapi sifat menyebalkanmu itu memang tidak pernah berubah, kau selalu membuatku kesal." gerutu Carissa yang membuat Devian terkekeh.
"Maafkan aku, Sayang. Mulai sekarang dan seterusnya aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia. Insha Allah aku tidak ingin menyakiti istri cantikku ini." ucap Devian lembut.
"Terimakasih banyak, Sayang." ucap Carissa tersenyum manis.
Malam itu jadi saksi cinta diantara Devian dan Carissa. Terjadi pergulatan panas diantara dua sejoli itu hingga tengah malam. Setelah kelelahan akhirnya mereka terlelap dengan posisi saling berpelukan.
*
__ADS_1
*
*
Pagi hari di MF Group.
"Sayang bagaimana kamu suka desain undangan yang mana?" tanya Alex pada Aninda.
"Aku suka yang ini. Simpel tapi elegan." jawab Aninda memilih undangan warna cream kombinasi coklat dengan hiasan pita emas.
"Kau memang punya selera yang bagus." ucap Alex senang dengan pilihan calon istrinya.
"Sayang, aku hanya ingin mengundang beberapa kerabat dekat saja. Aku tidak ingin terlalu banyak tamu. Kira-kira orangtua kita keberatan gak?" tanya Aninda yang merupakan tipikal orang yang tidak senang dengan keramaian. Bahkan ia hanya memiliki 2 sahabat, Carissa dan Saras.
"Kita coba diskusikan dengan orangtua kita dulu ya. Kamu tau sendiri orangtua kita punya banyak rekan kerja. Semoga saja mereka setuju." jawab Alex kemudian membelai lembut rambut Aninda.
"Hem, baiklah." sahut Aninda pasrah.
"Oh iya, jangan lupa lusa kita ada janji dengan pihak katering jam 3 sore." ucap Alex mengingatkan.
"Astaga! Aku hampir lupa, Sayang. Untung saja kau ingatkan. Baiklah aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku dulu agar bisa izin lusa." ucap Aninda yang kemudian menyalakan komputernya.
Alex tersenyum melihat calon istrinya yang gila kerja.
"Baiklah aku akan kembali ke ruangan. Selamat bekerja, Sayang. Jangan lupa nanti makan siang bareng ya." ucap Alex kemudian mengecup kening Aninda sekilas.
"Oke." sahut Aninda singkat.
Alex meninggalkan Aninda dan segera menuju ke ruangannya. Alex sendiri memiliki pekerjaan menumpuk karena Devian cuti selama satu minggu. Maka Alex yang harus menangani semua pekerjaan Devian.
"Enak sekali jadi Devian mentang-mentang dia bos. Lihat saja besok ketika aku menikah, aku juga akan mengambil cuti 1 minggu. Biar saja dia kewalahan seperti aku saat ini." batin Alex kesal.
Hari ini Alex harus menyiapkan beberapa berkas untuk bertemu dengan klien baru. Alex sudah terbiasa dengan meeting penting karena Devian juga sering memberikan tanggungjawab itu padanya. Alex merupakan sahabat dan asisten kepercayaan Devian. Bahkan Devian dan Pak Adhitama pernah menawarkan Alex untuk memimpin perusahaan cabang namun ia tolak. Bagi Alex bekerja dengan Devian itu lebih menyenangkan.
Alex dan Devian merupakan teman sejak SMP hingga sekarang. Dulu mereka menjadi idola para gadis di bangku sekolah. Tidak sedikit teman laki-laki yang iri pada kepopuleran Alex dan Devian. Tidak jarang pula mereka berdua diganggu, dibully namun sia-sia karena Alex dan Devian bukan laki-laki yang mudah ditindas. Dari segi fisik, materi dan karakter Alex dan Devian memang lebih unggul dari teman-teman sekolahnya.
Persahabatan Alex dan Devian sangat erat, seperti hubungan saudara. Alex sangat dekat dengan orangtua Devian begitu juga sebaliknya. Hubungan dua laki-laki itu tak lekang oleh waktu meskipun terkadang ada perselisihan atau perdebatan namun tak mengurangi rasa persaudaraan diantara mereka.
-BERSAMBUNG
*
*
__ADS_1
*