
Malam hari di kediaman Carissa.
"Sayang, kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Mama Allisa yang saat ini duduk di kasur Carissa.
"Insha Allah, Ma." angguk Carissa mantap.
"Kamu gak takut akan membuat Devian kecewa? Bagaimana kalau nanti dia salah paham padamu?" tanya Mama Allisa lagi dengan menatap wajah putrinya.
"Ma.. dari awal ini adalah bagian dari rencana Rissa. Jika ingin berhasil maka ini harus diselesaikan sesuai rencana." jawab Carissa yang menggenggam erat tangan Mama Allisa.
"Mama rasa dia benar-benar tulus padamu, Nak. Jangan gegabah ambil keputusan yang akan membuatmu menyesal." ucap Mama Allisa menasehati putrinya yang keras kepala.
Carissa menghela nafas, ia juga bisa merasakan ketulusan Devian. Namun ia tetap harus menjalankan rencananya.
"Ma, satu langkah lagi. Biarkan Rissa melakukan ini ya?" kata Carissa menatap wajah Mama Allisa.
Mama Allissa membelai lembut kepala Carissa.
"Baiklah. Mama hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk hubungan kalian berdua." jawab Mama Allisa yang kemudian berpelukkan dengan Carissa.
*
*
*
Esok hari di MF Group.
Carissa menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Pak Dewa.
"Kamu yakin akan mengundurkan diri dari perusahaan ini? Bukankah karirmu baru saja dimulai?" tanya Dewa.
Carissa mengangguk.
"Baiklah. Terimakasih atas kerja kerasmu selama bergabung di MF Group. Uang pesangonmu bisa kamu ambil di bagian keuangan." ucap Dewa yang menerima surat Carissa.
"Tidak perlu, Pak." ucap Carissa menolak.
"Kalau begitu biar nanti di transfer ke rekeningmu." ucap Dewa memaksa.
"Baiklah. Terimakasih, Pak." kata Carissa terpaksa.
Carissa keluar ruangan HRD, di depan pintu sudah mendapati Aninda dan Saras yang menunggunya, menatapnya penuh selidik.
"Aku tau kalian pasti akan mengajukan banyak pertanyaan. Kita ke kantin saja." ajak Carissa kepada dua sahabatnya itu.
Ketiga wanita itu memasuki lift, lalu menuju lantai dasar untuk ke kantin perusahaan. Mereka duduk di kursi bagian pojok kantin.
"Kamu serius, Ris?" tanya Aninda tak percaya.
Carissa mengangguk.
"Bagaimana kalau Pak Devian salah paham?" tanya Saras.
"Biarlah. Aku melakukan ini karena memang aku ingin tau pria seperti apa dia." jawab Carissa sambil menyedot es teh manisnya.
"Pak Devian gak tau semua ini?" tanya Aninda lagi.
Carissa menggeleng.
"Kenapa kamu tidak jujur saja pada Pak Devian, Ris? Aku rasa dia benar-benar tulus padamu." ucap Aninda.
"Ya memang sih awalnya aku sedikit kecewa padamu karena menutupi identitasmu yang sebenarnya." tambah Aninda lagi.
Carissa memeluk Aninda erat.
"Maafkan aku, Nin." ucap Carissa merasa bersalah.
"Gakpapa. Tapi sekarang kamu melakukan ini pada Pak Devian, bagaimana kalau nanti dia membencimu?" tanya Aninda memastikan.
Carissa menghela nafas. Carissa menatap Aninda dan Saras bergantian.
"Aku berharap keputusan ini sudah kau pikirkan dengan matang, Ris." ucap Saras.
Sebenarnya Carissa juga berat melakukan ini. Tapi ini harus ia lakukan.
"Aku minta dukungan kalian. Aku juga minta jangan katakan yang sebenarnya pada Devian, termasuk Alex." ucap Carissa lalu menatap Aninda.
Aninda menghela nafas.
"Baiklah. Akan kami lakukan sesuai perintahmu." ucap Aninda.
Carissa terkekeh pelan.
"Kami pasti akan sangat merindukanmu." ucap Saras, ia memeluk Carissa begitu juga Aninda.
"Jangan menangis. Aku hanya pergi 2 bulan." ucap Carissa yang melihat Aninda menitikkan air mata.
"Kamu jahat, Ris." ucap Aninda yang malah tersedu.
Carissa langsung memeluk erat Aninda.
"Aku berharap ketika kamu kembali, kamu dan Pak Devian akan memberiku undangan pernikahan." ucap Saras penuh harap.
Carissa hanya menjawabnya dengan senyuman tipis. Carissa melihat jam sudah menunjukkan pukul 11 siang.
"Yasudah. Aku harus segera pulang untuk bersiap. Pesawatku jam 4 sore." ucap Carissa seraya berpamitan dengan kedua sahabatnya.
Aninda dan Saras melambaikan tangannya pada Carissa.
Carissa menaiki taxi yang sudah berhenti dihadapannya.
Tut
Tut
Carissa menelpon Devian.
"Hai, Sayang." sapa Devian.
"Dev, kamu sedang apa?" tanya Carissa.
"Emm.. aku sedang santai saja di balkon kamar. Ada apa?" jawab Devian lalu bertanya pada Carissa.
"Tidak apa-apa." jawab Carissa lalu sesaat menghela nafas.
"Dev, jika sesuatu terjadi dan aku meninggalkanmu dalam jangka waktu cukup lama, maukah kau setia menungguku?" tanya Carissa dengan nada bergetar.
"Maksud kamu apa, Ris?" tanya Devian dengan nada meninggi.
__ADS_1
"Apa yang terjadi denganmu? Kamu mau meninggalkan aku?" tanya Devian yang sangat terkejut dan khawatir.
Carissa menghela nafas, tak terasa ia menitikkan airmatanya.
"Maafkan aku, Dev." ucap Carissa.
"Aku harus pergi. Maaf aku tidak bisa menjelaskannya sekarang." ucap Carissa kemudian menutup ponselnya.
Devian menelponnya berkali-kali namun tidak Carissa angkat. Carissa kemudian mengaktifkan mode pesawat ponselnya.
Devian yang masih berada di balkon kamar, saat ini mencoba menelpon lagi Carissa. Namun justru tidak bisa dihubungi.
"Rissa sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku?" gumam Devian.
Devian bergegas menuju perusahaan untuk menemui Carissa dan mencoba bertanya langsung pada Carissa.
Devian mengendarai mobil dengan pikiran berkecamuk.
30 menit, Devian sudah sampai di perusahaan. Devian langsung menuju ruangan Carissa. Devian tak mendapati Carissa malah seorang OB yang membersihkan ruangan Carissa.
"Dimana Carissa?" tanya Devian.
OB itu tersentak, ia kaget dengan kehadiran tiba-tiba Devian.
"Tidak tau, Pak. Katanya Ibu Carissa sudah tidak bekerja disini lagi, saya diminta untuk membersihkan ruangannya." jawab OB gugup.
"Apa?" tanya Devian, ia sangat terkejut. Devian segera menuju ruang HRD.
"Dewa, apa benar Carissa berhenti bekerja disini?" tanya Devian pada Dewa.
Dewa mengangguk.
"Ya baru tadi pagi ia menyerahkan surat pengunduran diri." jawab Dewa yang menunjukkan sebuah surat pada Devian.
Devian langsung mengambil surat itu dan membukanya. Devian membacanya dengan teliti. Memang benar Carissa mengundurkan diri.
"Rissa apa yang kau lakukan? Apa yang kau sembunyikan?" batin Devian yang langsung pergi meninggalkan Dewa yang masih kebingungan.
Devian segera menuju mobilnya dan mengendarainya untuk ke rumah Carissa.
Drt
Drt
Ponsel Devian bergetar.
"Hallo.." sapa Devian.
"Dev, dimana kau?" tanya Ayah Adhitama.
"Aku di perusahaan, Pa. Ada apa?" tanya Devian.
"Ada sesuatu yang ingin Ayah sampaikan." jawab Adhitama.
"Nanti saja, Yah. Devian ada hal penting yang harus Devian selesaikan."
"Ini tentang Carissa." jawab Adhitama yang membuat Devian mengernyitkan keningnya.
"Carissa? Kenapa, Yah?" tanya Devian penasaran.
"Temui Ayah di Nusantara Resto."
Devian mendapati Ayah Adhitama sedang berbincang dengan pria yang kurang lebih seumuran dengan ayahnya.
"Pa, ada apa dengan Carissa?" tanya Devian yang menghampiri meja Adhitama.
Adhitama mendongak lalu menatap wajah Devian yang terlihat kusut.
"Duduklah." jawab Adhitama yang langsung dituruti Devian.
"Dev kenalkan ini sahabat ayah, Pak Cakra." ucap Adhitama memperkenalkan pria paruh baya yang ada disampingnya.
"Hallo, Om. Saya Devian." ucap Devian menjabat tangan Cakra.
Cakra mengamati penampilan Devian.
"Mirip sekali dengan dirimu dulu yang masih muda, Dhi." ucap Cakra terkekeh.
Adhitama ikut tertawa kecil.
"Yah, hal penting apa yang Ayah ingin sampaikan?" tanya Devian yang sudah tidak sabar.
Adhitama menghela nafas lalu melirik Cakra.
"Ini tentang Carissa." jawab Adhitama.
Devian langsung menatap wajah ayahnya.
"Carissa kenapa, Yah?" tanya Devian yang sudah tidak tahan lagi.
"Tolong katakan, Yah." seru Devian.
"Kamu kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Adhitama yang melihat Devian gusar.
"Carissa mengundurkan diri dari MF Group, Yah. Dia juga tadi telpon Devian katanya dia mau pergi ninggalin Devian dengan waktu cukup lama." ucap Devian terbata.
"Tenanglah, Dev." ucap Adhitama yang menepuk pelan pundak Devian. Adhitama menghela nafas lalu menatap Cakra.
"Nak Devian, jangan khawatir. Carissa hanya sedang melanjutkan studinya yang sempat tertunda." ucap Cakra.
Devian yang mendengar jawaban itu langsung menoleh menatap Cakra.
"Ba-bagaimana Om tau?" tanya Devian penuh selidik.
Cakra tersenyum tipis. Lalu melirik Adhitama yang dibalas anggukan.
"Sebenarnya ada sebuah rahasia yang Om dan ayahmu sembunyikan, Dev." jawab Cakra.
Devian menatap wajah Adhitama dan Cakra bergantian. Devian kebingungan.
"Carissa pasti pernah bercerita padamu tentang perjodohannya bukan?" tanya Cakra memastikan.
Devian mengangguk.
"Sebenarnya Carissa saat itu menolak. Namun setelah ia tahu siapa pria yang akan ia jodohkan dengannya, Carissa memilih untuk bersandiwara." ucap Cakra lagi.
Saat ini Devian semakin tak mengerti. Devian menatap ayahnya untuk mendapatkan penjelasan.
"Biarkan om Cakra menyelesaikannya." ucap Adhitama melihat raut kebingungan pada wajah Devian.
__ADS_1
Devian hanya menghela nafas.
"Ya sebenarnya Carissa bukanlah anak ART, melainkan anak Om." ucap Cakra yang membuat Devian tersentak.
"Om Cakra ini adalah pemilik perkebunan apel terbesar di negeri ini. Bahkan ia juga memiliki perusahaan minuman sari buah apel yang sudah memasarkan produknya ke beberapa negara." tambah Adhitama yang semakin membuat Devian terkejut dan mulutnya menganga lebar.
"Jadi sebenarnya pria yang dijodohkan dengan Carissa tak lain adalah dirimu, Devian Mahendra." ucap Adhitama.
"Ayah serius?" tanya Devian memastikan.
Adhitama tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Apakah Carissa sudah tau, Om?" tanya Devian kepada Cakra.
"Rissa sudah tau. Tapi mengingat sifatnya yang keras kepala dan ia ingin memiliki pasangan yang benar-benar tulus menerimanya tanpa melihat latar belakangnya, Carissa memilih untuk bersandiwara. Bahkan ia bersikeras meminta untuk menyembunyikan identitas aslinya." jawab Cakra.
Devian masih tak percaya dengan kenyataan yang didengarnya saat ini. Devian sejenak berpikir.
"Lalu kalau memang Rissa sudah dijodohkan dengan Dev, kenapa ayah waktu itu seperti meragukan Rissa? Bahkan seperti tidak menyetujui hubungan kami." tanya Devian yang menatap Adhitama dengan mengernyitkan dahinya.
Adhitama terkekeh pelan.
"Itu adalah permintaan Carissa. Om yang menghubungi ayahmu waktu itu, untuk mengikuti sandiwara yang sudah Carissa rencanakan." ucap Cakra lalu menepuk pelan pundak Devian.
"Dev, Rissa adalah satu-satunya putri yang Om miliki. Om hanya ingin Rissa mendapatkan yang terbaik. Jika saja pria yang dicintai Rissa bukan kamu, maka Om akan mendukungnya juga. Tapi sepertinya takdir memang sudah menetapkan kalian berdua." ucap Cakra lalu menatap Adhitama.
"Pesawat Carissa akan berangkat jam 4 sore. Lebih baik kita makan siang disini saja lalu menunggunya di bandara." ucap Adhitama yang saat ini sedang memesan makanan.
Ketiga pria itu melanjutkan perbincangan kemudia menyantap makan siangnya.
"Sudah siap semuanya, Sayang?" tanya Mama Allisa.
"Sudah, Ma. Papa dimana ya, kok belum pulang?" tanya Carissa yang sedari tadi tidak melihat Papa Cakra.
"Nanti Papa akan langsung ke bandara." ucap Mama Allisa.
Carissa menghela nafas lalu memeluk erat tubuh Mama Allisa.
"Rissa pasti akan sangat merindukan Mama." ucap Carissa.
Mama Allisa menatap wajah Carissa yang berubah sendu.
"Sepertinya bukan Mama lagi yang akan kamu rindukan." goda Mama Allisa.
"Maa.." rengek Carissa yang sudah tau maksud Mama Allisa.
"Kenapa kamu gak jujur saja sama Devian? Biar dia gak salah paham." ucap Mama Allisa.
Carisa menggelengkan kepalanya. Kemudian berpamitan kepada Mama Allisa.
Butuh 1 jam perjalanan untuk sampai di bandara. Carissa sampai di bandara jam 15.00, ia sengaja berangkat lebih awal agar tidak terlambat. Carissa segera duduk di kursi tunggu.
"Rissa!" panggil seorang pria yang suaranya sangat Carissa kenali.
Seketika Carissa menoleh dan mendapati dirinya sudah berada dalam dekapan pria itu.
"Dev, bagaimana kamu...." ucap Carissa terpotong saat melihat dua orang pria paruh baya berjalan di belakang Devian.
"Papa, Om, kok bisa...." Carissa menguraikan pelukan Devian lalu menatap ketiga pria itu bergantian.
"Aku sudah tau semuanya, Sayang." ucap Devian yanh tersenyum lembut pada Carissa.
Carissa mendongakkan kepalanya lalu menoleh menatap Papa Cakra.
"Jangan-jangan, Papa..." ucap Carissa terpotong yang langsung disahut Devian.
"Kamu sudah tau semuanya, kenapa tak jujur saja denganku? Apa kamu pikir aku pria yang akan memilihmu karena status sosialmu?" tanya Devian dengan ekspresi kesal.
Carissa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ma-maaf, Dev." ucap Carissa yang menundukkan kepalanya, ia sudah siap jika Devian akan marah padanya.
Devian langsung menarik tubuh Carissa ke dalam pelukkannya lagi.
"Sekarang aku sudah tau semuanya. Kamu tidak akan bisa kabur dariku lagi. Setelah kamu menyelesaikan studimu, kita akan langsung melakukan pernikahan." ucap Devian tegas.
Uhuk!
Carissa tersedak air liurnya sendiri, lalu disambut tawa Ayah Adhitama dan Papa Cakra.
"Bagaimana bisa kamu mengambil keputusan sendiri, Dev? Aku juga belum menyetujuinya." protes Carissa pada Devian yang menepuk dada Devian.
"Aku tidak mau tau. Itu hukuman karena kamu sudah membohongiku." ucap Devian sambil mengeratkan dekapannya.
Carissa yang mulai kesulitan bernafas meninju pelan dada bidang Devian berkali-kali.
"Kamu mau membuatku mati muda, Dev?" gerutu Carissa kesal dengan Devian.
"Maafkan Papa sudah mengatakan yang sesungguhnya pada Devian tanpa persetujuanmu, Nak." ucap Papa Cakra yang menghampiri Carissa lalu memeluk erat tubuh putrinya.
"Semua sudah terjadi, Pa. Lagipula lama kelamaan Devian juga akan tau." ucap Carissa yang melemparkan senyum tipis pada Devian.
Papa Cakra melepaskan pelukannya, kemudian menatap Devian.
"Maafkan Om ya Nak Rissa." ucap Ayah Adhitama yang juga memeluk Carissa.
"Gakpapa, Om. Ini semua kan rencana Carissa." balas Carissa.
"Sudah cukup, Yah. Gantian Devian." protes Devian yang melihat ayahnya memeluk wanita yang ia cintai cukup lama.
"Kenapa sih, Dev? Carissa kan akan jadi menantu Ayah." gerutu Adhitama melihat kecemburuan putranya.
Devian tak menggubris perkataan ayahnya, Devian membenamkan wajah Carissa pada dada bidangnya.
"Jangan lupa untuk selalu memberiku kabar." ucap Devian yang dijawab Carissa dengan anggukan.
"Kamu tidak boleh membuka hatimu untuk pria lain. Kamu tidak boleh melirik pria bule disana. Aku akan menunggumu disini dengan setia. Jika kamu disana macam-macam maka aku takkan segan untuk menyusulmu dan membawamu pulang." ucap Devian.
Carissa menyentil batang hidung Devian.
"Dasar bawel!" ucap Carissa sambil terkekeh dengan keposesifan Devian.
"Sejak kapan anakku yang dingin bisa berubah jadi secerewet ini?" ucap Adhitama pelan yang didengar oleh Cakra.
"Begitulah jika jatuh cinta. Persis sepertimu, Dhi." sahut Cakra terkekeh.
"Sialan! Kau mengejekku." umpat Adhitama yang menepuk pundak Cakra dilanjutkan dengan tawa dua pria paruh baya itu.
(Akhirnya terungkap, ternyata pria yang dijodohkan dengan Carissa adalah Devian. Lalu bagaimana kisah selanjutnya ya? Apakah hubungan mereka berdua akan mulus tanpa halangan? Atau sudah banyak rintangan yang sudah menunggu mereka berdua? Yuk ikuti terus kisah "GEJOLAK CINTA TUAN DAN NONA MUDA" jangan lupa tinggalkan like dan komen. Bantu rating bintang 5 juga ya Readers!)
__ADS_1
-BERSAMBUNG