
Menjelang sore, Ayah Adhitama dan Bunda Tamara sudah pulang dari butik sedangkan Carissa masih menunggu Devian karena tadi suaminya memberi kabar akan menjemputnya.
"Bagaimana kabar istriku hari ini?" tanya Devian yang tiba-tiba masuk ruangan membuat Carissa yang sedang merebahkan diri terkejut dengan kehadiran suaminya.
"Sudah datang, Sayang? Kenapa aku tidak mendengar suara mobilmu?" tanya Carissa yang langsung menyambut kedatangan Devian.
"Sepertinya istriku ini sangat lelah ya, sampai-sampai tidak fokus." jawab Devian sedikit menggoda istrinya.
"Iya ternyata lelahnya baru terasa sekarang." sahut Carissa tersenyum tipis.
"Mau aku pijat?" tawar Devian.
"Tidak perlu, Sayang. Kau pasti juga lelah kan." tolak Carissa yang mengerti bahwa suaminya juga lelah karena kesibukannya di perusahaan.
"Berbaringlah. Aku akan memijatmu, istriku. Ini adalah perintah suami, oke?" kata Devian sehingga Carissa tidak mampu menolak lagi.
Carissa pun berbaring di atas kasur dengan posisi tengkurap. Dengan cepat Devian menyentuh punggung Carissa dengan pijatan-pijatan kecil yang mampu membuat tubuh istrinya kembali rileks.
"Sayang, kau kan suamiku. Harusnya tugasku yang memijatmu, bukan malah seperti ini." ucap Carissa tak enak hati sembari menikmati sentuhan suaminya.
"Sayang.. melakukan ini bukanlah tugas seorang istri saja. Suami juga wajib untuk membuat istrinya nyaman dan bahagia. Jadi wajar saja jika aku memijatmu seperti ini. Kita menikah bukan untuk saling membebani, tapi saling melengkapi." kata Devian lembut.
"Terimakasih banyak suamiku." sahut Carissa.
"Lagipula kamu bisa menebus jasa pijat ini nanti malam." goda Devian.
"Aih.. Baru saja tadi bilang apa, ujung-ujungnya juga minta imbalan." gerutu Carissa.
"Itu kan juga kewajiban, istriku." ucap Devian mendekatkan bibirnya ke telinga Carissa.
"Dev, jangan menggodaku!" teriak Carissa yang merasakan desiran aneh pada tubuhnya.
Devian terkekeh melihat reaksi istrinya yang sangat menggemaskan.
Carissa dengan cepat membalikkan badannya dan segera duduk diatas ranjangnya.
"Ayo kita pulang." ajak Carissa.
"Pulang sekarang? Apa istriku sudah tidak sabar untuk memberi bayaran atas jasa pijatanku?" tanya Devian membuat Carissa semakin jengkel.
"Dev! Ah kau ini! Aku lapar, ayo kita pulang sebelum hari semakin gelap." jawab Carissa menggerutu.
Devian terkekeh, baginya ekspresi Carissa yang kesal justru menambah kecantikan istrinya itu.
"Kita makan malam diluar saja ya." ajak Devian.
"Kau membuatku menjadi istri yang kurang berguna, Dev. Apakah kemampuan masakku tidak sebanding dengan masakan restoran?" tanya Carissa cemberut.
"Bukan begitu, istriku. Aku sangat suka dengan masakanmu, keahlian memasakmu tidak perlu diragukan lagi. Kalau mau, aku siap membukakan restoran dan kau yang akan jadi chef-nya." jawab Devian penuh semangat.
"Kau terlalu menyanjungku. Pasti sebenarnya bukan begitu kan?" tanya Carissa lagi.
"Aku seratus persen jujur, Sayang. Tapi hari ini kau sangat lelah kan, aku tidak ingin menambah lelahmu. Jadi kita makan diluar saja ya?" ajak Devian lagi.
__ADS_1
"Iya, iya. Baiklah suamiku. Aku hanya menggodamu saja." jawab Carissa tertawa kecil.
"Oke, kita impas ya." sahut Devian disambut tawa pasangan muda itu.
*
*
*
Setelah selesai makan malam, Devian dan Carissa sudah kembali ke rumah dan segera membersihkan diri.
Devian yang terlebih dulu mandi sudah keluar dengan rambutnya yang masih basah. Devian keluar dengan setengah telanjang, hanya handuk yang melilit dipinggangnya. Tetesan air mengenai dada bidangnya membuatnya terlihat sangat seksi. Mata Carissa tak bisa luput dari pemandangan indah itu.
"Hem.. Apakah sudah puas menatapnya, istriku?" tanya Devian menyadarkan Carissa.
Seketika wajah Carissa memerah kemudian melarikan diri menuju kamar mandi dan mengunci pintunya dengan cepat.
"Astaga, cepat sekali larinya istriku. Apakah dia dulunya seorang sprinter?" tanya Devian yang kaget.
"Wajahnya kalau malu sangat lucu sekali. Padahal sudah setiap hari dia melihatku telanjang." gumam Devian dengan tawa kecilnya mengingat tingkah lucu istrinya.
"Baiklah aku akan menunggunya dengan begini saja." ucap Devian nakal kemudian merebahkan dirinya keatas kasur.
"Sial. Kenapa tubuh Devian menggoda sekali. Padahal sudah setiap hari aku melihatnya. Kenapa mata ini tidak bisa menahannya?" gerutu Carissa sembari mengusap wajahnya mengingat bayangan tubuh suaminya.
Carissa menyalakan shower untuk mengguyur tubuhnya.
"Pakaianmu sudah aku siapkan, Sayang. Kau tidak melihatnya?" tanya Carissa heran.
"Aku lihat kok." jawab Devian santai.
"Lalu kenapa masih belum pakai baju?" tanya Carissa lagi namun tidak ada jawaban.
Carissa menghembuskan nafas kasar kemudian menuju nakas hendak mengambil pakaian yang telah disiapkan untuk Devian. Namun sebelum sampai mengambil pakaian itu, tangan Carissa lebih dulu ditarik oleh suaminya.
"Aaaaa....!!!" teriak Carissa terkejut.
Saat ini tubuhnya sudah terbaring dikasur dengan posisi Devian mengungkung diatasnya.
"A-pa apaan ini, Dev?" tanya Carissa gugup.
"Aku sudah tidak bisa menahannya, istriku. Bolehkah aku meminta imbalanku sekarang?" tanya Devian dengan wajah penuh harap.
Carissa menatap wajah suaminya dengan lembut kemudian mengangguk dengan malu-malu membuat hasrat Devian langsung memuncak.
Sejujurnya Carissa juga sudah tidak bisa menahan sejak saat melihat tubuh suaminya yang sangat menggiurkan.
Malam itu terjadilah pergulatan panas dua sejoli yang saling memadu kasih.
*
*
__ADS_1
*
Drt Drt
Ponsel Carissa bergetar, dengan mata yang setengah tertutup ia mengambil ponselnya. Malam ini Carissa benar-benar kewalahan dengan gairah suaminya. Tubuhnya terasa sangat lelah setelah memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.
Sebuah notif transfer masuk ke rekeningnya membuat mata Carissa terbuka lebar. Carissa mengucek matanya untuk memastikan bahwa nominal yang ia lihat salah. Namun tetap saja jumlah uang 3 digit yang ia lihat.
"Astaga! Ini serius?" tanya Carissa tak percaya.
Suara Carissa yang sedikit berteriak membuat Devian kaget.
"Ada apa, Sayang?" tanya Devian panik.
"Ini lihatlah, suamiku." jawab Carissa sambil menyodorkan ponsel kepada suaminya.
Kening Devian mengernyit saat membaca notifikasi di layar ponsel istrinya.
"Kenapa Bunda mentransfer uang padamu, Sayang?" tanya Devian penasaran.
Carissa pun menjelaskan kejadian di butik siang tadi.
"Ini terlalu banyak untukku, Dev. Lebih baik aku kembalikan saja ke Bunda ya?" tanya Carissa tak enak hati.
"Jangan, istriku. Bunda akan kecewa kalau kamu menolak pemberiannya." jawab Devian.
"Lalu untuk apa uang itu? Aku sudah cukup dengan nafkah darimu. Lagipula gaunku harganya tidak sefantastis itu." tanya Carissa lagi dengan wajah menunduk.
"Hey, jangan begitu istriku. Bunda sendiri yang bilang itu hadiah dan bentuk rasa terimakasihnya padamu, kan?" tanya Devian yang dijawab anggukan kepala Carissa.
"Nah jadi sekarang uang itu adalah milikmu. Itu sudah menjadi hakmu. Kamu bebas menggunakannya untuk apa saja." ucap Devian.
"Tapi Dev.. Ini terlalu banyak untukku." kata Carissa lirih.
"Bagaimana kalau uang itu kau jadikan investasi?" tawar Devian.
"Maksudmu?" tanya Carissa bingung.
"Kau bisa menanam saham di perusahaanku." jawab Devian membuat Carissa langsung mengerti.
"Tapi aku tidak begitu tertarik dengan saham. Terlalu ribet untukku." ucap Carissa.
"Kalau begitu, kau jadikan saja modal untuk menjalankan butikmu, Sayang." sahut Devian membuat Carissa tersenyum.
"Kau benar, suamiku. Terimakasih banyak ya." jawab Carissa kemudian memeluk erat Devian.
"Sama-sama, istriku." sahut Devian sembari membalas pelukan istrinya.
"Istriku manis sekali." batin Devian.
"Tapi aku mau telpon Bunda dulu. Mau mengucapkan terimakasih." kata Carissa yang langsung mendial nomor ibu mertuanya.
-BERSAMBUNG
__ADS_1