
Hari yang ditunggu telah tiba. Sore ini di sebuah resort, pesta pernikahan Carissa dan Devian akan dilaksanakan. Konsep rustic garden party yang terlihat sederhana dan menyatu dengan alam namun tetap elegan dan mewah.
"Rissa sayang, kamu sudah siap nak?" tanya Mama Allisa.
"Sudah, Ma." jawab Carissa dengan senyum manisnya.
"MasyaAllah anak Bunda cantik sekali." sahut Bunda Tamara yang juga menemani menantunya diruang rias pegantin.
"Devian memang pintar sekali memilih istri." ucap Bunda Tamara lagi membuat Carissa tersipu.
"Tentu saja anak siapa dulu dong." sahut Mama Allisa yang membuat tiga wanita itu tertawa bersamaan.
"Papa sudah menunggu diluar, acaranya sudah mau dimulai." ucap Mama Allisa yang kemudian menggandeng tangan Carissa.
"Tanganmu kenapa dingin, Sayang?" tanya Mama Allisa panik merasakan dingin pada telapak tangan putrinya.
Carissa tersenyum kikuk kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Rissa gugup, Ma." jawab Carissa membuat Mama Allisa dan Bunda Tamara saling melempar senyum.
"Kamu ini, kan sudah menikah dengan Dev. Kalian juga sudah hidup bersama hampir sebulan." sahut Bunda Tamara sambil terkekeh melihat menantunya yang masih saja malu-malu.
"Bunda duluan ya. Bunda harus mendampingi Dev." pamit Bunda Tamara kemudian mencium kening menantunya dan juga memeluk besannya.
Carissa keluar dari ruang rias bersama Mama Allisa dan langsung disambut Papa Cakra yang sudah menunggu mereka.
"Papa tampan sekali." puji Carissa kepada Papa Cakra.
"Tentu saja. Papa juga harus mengimbangi kecantikan anak Papa dong." ucap Papa Cakra sontak membuat Carissa dan Mama Allisa tertawa geli.
Carissa menggandeng tangan Papa Cakra dan Mama Allisa menuju tempat dilangsungkan pesta pernikahannya. Berjalan beriringan dengan senyum mengembang dan juga rasa haru diantara mereka.
Perlahan langkah kaki mereka menuju ketempat acara dan menapaki karpet yang sudah terbentang diatas rumput dihalaman resort mewah. Kedatangan pengantin wanita disambut riuh tepuk tangan para tamu undangan. Mata Carissa tertuju pada sosok pria tampan yang sudah menunggunya diatas panggung.
Seketika Devian terpesona dengan penampilan istrinya.
Deg Deg Deg
"Padahal aku sudah menikahinya. Tapi tetap saja aku masih gugup melihat kecantikannya." batin Devian.
Langkah kaki Carissa semakin mendekat dan disambut uluran tangan Devian.
"Jaga dan cintai Rissa sampai maut memisahkan kalian ya Dev." pesan Papa Cakra kepada menantunya.
"Tentu, Pa. Dev akan selalu berusaha membuat Rissa bahagia." sahut Devian yang disambut dengan tepukan tangan Papa Cakra pada pundak Devian.
"Mama titip Rissa ya Dev." ucap Mama Allisa yang tak kuasa menahan haru dan menitikkan airmata.
"Baik, Ma." sahut Devian santun.
"Sudah, ini hari bahagia. Jangan ada airmata." bisik Papa Cakra yang melihat istrinya menangis kemudian undur diri dan bergabung di kursi duduk bersama besannya.
"Kamu cantik sekali, Sayang." bisik Devian membuat Carissa tersipu malu.
"Gaunnya sangat pas untukmu." puji Devian kepada istrinya.
Gaun buatan Carissa berwarna abu model A-line dengan potongan off the shoulder berbahan tulle yang terlihat simple namun tetap elegan.
Riasan natural dan gaya rambut sanggul kepang ditambah aksesoris bunga semakin mempercantik tampilan Carissa.
"Terimakasih, Sayang. Kamu juga sangat tampan." ucap Carissa sambil merapikan dasi kupu-kupu milik Devian.
Tuxedo berwarna abu dipadukan dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu warna senada. Gaya rambut pompadour menambah tampilan maskulin Devian.
Pesta pernikahan sangat meriah dan dihadiri banyak tamu undangan dari teman-teman Devian dan Carissa, kolega bisnis, dan kerabat. Pesta berlangsung hingga pukul 8 malam.
"Lelah, Sayang?" tanya Devian kepada istrinya yang baru saja duduk di kursi pengantin saat selesai berjaabat tangan dengan para tamu undangan.
__ADS_1
"Hemm.. Padahal bulan lalu sudah pernah seperti ini, tapi tetap saja sangat melelahkan." jawab Carissa menghembuskan nafas kasar.
"Setelah ini suamimu akan memberikanmu servis." ucap Devian.
"Servis?" tanya Carissa bingung.
"Apa itu?" tanya Carissa lagi.
"Servis spesial, Sayang." bisik Devian membuat Carissa merinding.
"Dasar mesum!" umpat Carissa kemudian memukul pelan pundak kekar suaminya.
"Mesum dengan istri sendiri memangnya tidak boleh?" tanya Devian dengan senyum nakalnya.
"Dev, kamu ini..." gerutu Carissa.
"Aku sudah puasa 1 minggu, Sayang." ucap Devian memelas.
"Hentikan, Dev. Masih ada tamu yang belum pulang nanti ada yang mendengarnya." sahut Carissa malu.
"Bolehkan malam ini?" tanya Devian lagi membuat Carissa menganggukan kepalanya malu-malu.
"Terimakasih istriku." ucap Devian kemudian mengecup pipi istrinya yang sudah memerah.
"Dev, jangan disini." protes Carissa membuat Devian tertawa geli dengan tingkah istrinya yang masih saja malu-malu.
Setelah semua tamu pulang, Carissa dan Devian menghampiri meja dimana Papa Mama dan Ayah Bunda sedang berbincang.
"Kalian pasti lelah kan?" tanya Bunda Tamara yang dijawab anggukan Carissa dan Devian.
"Kalian istirhat saja dulu, kamar kalian juga sudah disiapkan." ucap Ayah Adhitama.
"Iya kalian pasangan muda istirahat saja. Kami para orangtua masih ingin berbincang-bincang." sahut Papa Cakra yang disambut tawa keluarga.
"Baiklah, Rissa dan Dev pamit dulu." ucap Carissa berpamitan kemudian disusul Devian menuju kamar yang sudah dipesan di resort mewah itu.
Ceklek!
"Indah sekali." ucap Carissa dengan senyum manisnya.
"Kita mandi dulu, Sayang." ajak Devian.
"Iya, kamu duluan saja." ucap Carissa membuat Devian mengerutkan keningnya.
"Tidak mandi bersama?" tanya Devian membuat Carissa terkekeh.
"Tidak, aku butuh waktu lama untuk membersihkan riasanku ini. Jadi kamu duluan ya." jawab Carissa membuat Devian kecewa.
Carissa menyadari wajah suaminya yang suram kemudian menghampirinya.
"Sudah sana mandi dulu. Katanya mau memberiku servis spesial?" ucap Carissa sembari membantu melepaskan tuxedo suaminya seketika membuat Devian tersenyum dan kembali bersemangat.
"Baiklah. Aku mandi duluan." sahut Devian bergegas masuk ke kamar mandi.
Carissa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya.
Carissa membuka tas yang berisi pakaian dan mengambil sebuah gaun malam peighnoir berwarna putih kemudian memakainya. Setelah berganti pakaian, Carissa menuju meja rias untuk membersihkan make up diwajahnya dan juga mengurai rambutnya.
15 menit kemudian, Devian sudah keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk dipinggangnya.
"Pakai ini, Sayang." ucap Carissa sembari menyerahkan setelan piyama pendek warna hitam kepada Devian.
Tanpa sengaja mata Devian melihat belahan dada Carissa yang sedikit terekspos membuatnya langsung menarik tangan istrinya kemudian ******* bibir istrinya.
"Dev, tahan dulu. Aku belum mandi." kata Carissa kesal dengan serangan tiba-tiba Devian lalu mendorong tubuh suaminya.
"Siapa suruh menggodaku." ucap Devian membela diri.
__ADS_1
"Huh, kamu ini!" gerutu Carissa kemudian bergegas masuk ke kamar mandi meninggalkan Devian yang belum puas.
"Lihat saja istriku, jangan harap setelah ini kamu bisa melepaskan diri." gumam Devian dengan seringai nakalnya.
"Dasar suami tidak sabaran." umpat Carissa setelah berada dikamar mandi kemudian bergegas membersihkan diri.
Tak butuh waktu lama, Carissa sudah selesai membersihkan diri dengan rambutnya yang masih basah.
"Kamu pasti lapar kan? Kita makan dulu ya." ajak Devian kemudian menarik kursi untuk istrinya duduk.
"Wow, sepertinya enak." ucap Carissa melihat hidangan yang tersaji didepannya menggoda selera.
"Selamat makan." kata Devian kemudian dua sejoli itu pun menikmati makan malam romantis ditemani dekorasi kamar yang indah.
Setelah selesai makan malam, Devian menarik tangan Carissa menuju tempat tidur.
"Duduklah." ucap Devian kemudian berlari ke kamar mandi.
"Kenapa, Dev?" tanya Carissa bingung.
"Rambutmu masih basah, aku keringkan dulu ya." jawab Devian yang sudah kembali membawa hair dryer ditangannya.
"Terimakasih, Dev." ucap Carissa yang takjub pada inisiatif suaminya.
Dengan telaten Devian mengeringkan rambut Carissa.
"Sudah kering, Sayang." kata Devian kemudian merapikan rambut Carissa.
"Terimakasih, Sayang." ucap Carissa kemudian mengecup pipi Devian.
"Hemm.. Sepertinya istriku sudah tidak sabar untuk menerima servis dariku." goda Devian membuat wajah Carissa seketika memerah.
"Dev.. berhentilah menggodaku." protes Carissa yang menyembunyikan wajahnya.
"Jangan sembunyikan wajahmu, Sayang." ucap Devian kemudian menarik wajah istrinya.
"Aku malu, Dev." kata Carissa yang berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Aku suka wajah istriku yang memerah. Terlihat sangat menggemaskan." goda Devian membuat Carissa semakin tersipu.
Carissa menelusupkan wajahnya ke dada bidang suaminya.
"Dev, jangan terus-terusan menggodaku." ucap Carissa membuat Devian terkekeh.
"Istriku, kita sudah menikah sebulan kenapa masih malu-malu seperti ini. Bukankah setiap hari kita sellau seperti ini?" kata Devian kemudian memeluk tubuh istrinya dan membelai rambut panjangnya.
"Entahlah. Padahal setiap hari kau menggodaku, tapi tetap saja aku merasa malu." jawab Carissa membuat Devian semakin tertawa.
"Kenapa kamu tertawa, Dev?" tanya Carissa heran kemudian melepaskan diri dari pelukan Devian.
"Memang ada yang lucu?" tanya Carissa lagi sambil menatap wajah Devian penuh selidik.
"Istriku ini benar-benar menggemaskan." ucap Devian kemudian mencubit pelan hidung Carissa.
"Aduuh, Dev. Sakit." gerutu Carissa.
"Maaf, Sayang." ucap Devian kemudian mengecup hidung mancung istrinya.
"Aku bersyukur memiliki istri sepertimu, Sayang." kata Devian membuat Carissa tersenyum.
"Terimakasih, Dev. Aku juga beruntung memilikimu." sahut Carissa kemudian mengecup bibir Devian sekilas.
"Hemm.. Sudah berani menggodaku ya?" ucap Devian.
"Memangnya tidak boleh menggoda suami sendiri?" tanya Carissa kemudian kembali ******* bibir suaminya itu.
"Kamu yang memulai ya, Sayang. Jangan harap kamu bisa melepaskan diri." ucap Devian memberikan serangan balik.
__ADS_1
Malam itu kedua sejoli itu pun kembali bertempur dan memadu kasih. Seperti malam pertama, kegiatan itu berlangsung hingga dini hari kemudian barulah pasangan muda itu terlelap dengan saling berpelukan.
-BERSAMBUNG