Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Masa Depan


__ADS_3

Pagi hari di kediaman orangtua Devian.


"Sayang setelah ini kamu akan kembali bekerja ke MF Group atau punya rencana lain?" tanya Devian setelah membersihkan diri bersiap untuk sarapan.


"Aku ingin membuka sebuah butik, Dev. Bagaimana menurutmu?" ucap Carissa meminta pertimbangan suaminya.


"Menurutku itu ide bagus. Kau bisa mengeksplor bakatmu dan punya brand sendiri." jawab Devian tersenyum hangat.


"Kau tidak keberatan? Tidak takut aku menjadi sainganmu?" tanya Carissa penasaran.


Devian terkekeh kemudian menghampiri Carissa yang sibuk menyisir rambut panjangnya.


"Aku akan mendukungmu, Sayang. Lagipula aku tidak takut bersaing denganmu. Justru kita akan menjadi partner bisnis yang saling menguntungkan." jawab Devian kemudian memeluk tubuh Carissa dari belakang.


Carissa mengernyitkan keningnya belum memahami jawaban Devian. Carissa membalikkan tubuh dan menatap wajah Devian yang tersenyum kepadanya.


"Maksudmu?" tanya Carissa bingung.


"Kita akan jadi partner bisnis, aku dengan perusahaan ayahku dan kau dengan butikmu. Lagipula MF Group memproduksi fashion untuk pria dan wanita dengan gaya kasual. Bukannya kamu suka dengan gaun? Jadi kamu bisa membuka butik yang khusus menyediakan gaun wanita hasil rancanganmu." ucap Devian memberi penjelasan pada istrinya.


"Kau benar, Dev. Tapi aku belum punya rekan yang cocok untuk membantuku." Carissa menundukkan wajahnya sendu.


"Apa kau perlu orang-orang dari bagian produksi?" tanya Devian menggenggam erat tangan istrinya.


Carissa mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Devian yang tersenyum hangat.


"Bagaimana bisa? Mereka adalah pekerjamu, Dev. Mungkin aku akan mencoba untuk mencari perekrutan dari medsos. Sebelum itu aku harus menyiapkan tempat dan desain interior butikku." Carissa kembali menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Baiklah. Jika kau perlu bantuanku katakan saja. Suamimu ini akan siaga 24 jam." ucap Devian mengecup bibir Carissa lembut.


"Hem. Baru sehari menikah kau sudah pintar berkata-kata manis." Carissa tertawa kecil.


"Aku akan selalu mengatakan kata-kata manis mulai dari sekarang dan seterusnya, Sayang. Aku akan berusaha untuk selalu membuatmu bahagia. Jadi kau jangan ragu untuk mengandalkan suami tampanmu ini." ucap Devian percaya diri disambut tawa Carissa.


"Baiklah. Mulai sekarang aku akan mengandalkan suami tampanku ini." sahut Carissa mencubit hidung mancung Devian gemas.


Drt Drt


Ponsel Carissa bergetar.


"Aku angkat telpon dulu, Sayang." ucap Carissa segera menyambar ponselnya di atas nakas.


"Assalammu'alaikum, Pa." sapa Carissa lembut.


"Wa'alaikumsalam, Nak. Bagaimana harimu pertama menjadi istri Devian apakah nyaman?" tanya Papa Cakra pada putri semata wayangnya.


"Iya, Pa. Dev sangat baik dan lembut padaku." jawab Carissa lembut.


"Alhamdulillah. Oh iya kalau bisa hari ini ke rumah ya. Papa mau membicarakan sesuatu yang penting." ucap Cakra terdengar sedikit khawatir.


"Baik, Pa. Nanti Rissa dan Dev akan kerumah." sahut Carissa berusaha menenangkan Papa Cakra.


"Sepertinya Mama akan menyiapkan masakan spesial untuk kalian. Yasudah sampai berjumpa nanti, Nak." ucap Papa Cakra antusias.

__ADS_1


"Baiklah. Papa dan Mama tunggu kami ya." tutup Carissa kemudian memutuskan sambungan telponnya.


"Kenapa Sayang?" tanya Devian melihat kening Carissa berkerut setelah menerima telpon.


"Papa minta kita kerumah ada hal penting yang ingin dibicarakan." jawab Carissa menghela nafas.


"Yasudah kita kesana sore ya." ucap Devian membelai lembut kepala Carissa.


"Ayo kita sarapan." ajak Devian yang dijawab anggukan Carissa.


"Selamat pagi anak-anak Bunda. Ayo sarapan bareng." sambut Bunda Tamara yang melihat kedatangan Devian dan Carissa.


"Lho Ayah sama Bunda nungguin kita?" tanya Devian.


"Tentu saja." jawab Bunda tersenyum manis.


"Kenapa Bunda gak manggil Dev sama Rissa?" tanya Devian lagi.


"Bundamu gak mau mengganggu kegiatan kalian. Biar cepat punya cucu." jawab Adhitama yang membuat wajah Carissa bersemu merah dan Devian juga terbatuk.


"Ayah berhenti menggoda mereka." sahut Tamara melihat Devian dan Carissa yang mulai canggung.


"Sudah. Ayo kita sarapan bersama." ucap Tamara mengawali makan bersama di pagi hari itu.


Suasana hangat terjalin di ruang makan itu. Carissa dapat menyesuaikan diri dengan baik karena orangtua Devian yang menerima Carissa dengan senang hati.


"Ayah, Bunda setelah ini Dev sama Rissa pamit ya." ucap Devian setelah selesai makan.


"Kenapa terburu-buru? Apa Rissa gak nyaman disini ya?" tanya Tamara dengan raut sedih.


"Lalu kenapa? Tak bisakah kalian menginap sehari lagi disini?" pinta Tamara.


Carissa menoleh kepada Devian, ia merasa tak masalah jika harus bermalam lagi di rumah mertuanya.


"Yasudah kami menginap lagi disini." jawab Devian yang membuat Tamara tersenyum sumringah.


"Oh iya tapi nanti Dev sama Rissa mau ke rumah Papa dan Mama." ucap Devian.


"Kita kesana bareng saja. Ayah juga mau membahas sesuatu dengan besan." sahut Ayah Adhitama.


"Bunda juga mau ikut." seru Tamara antusias.


"Baiklah nanti kita berangkat jam 2 ya. Pakai mobil Dev saja." ucap Devian.


*


*


*


Mobil Devian sudah melaju menuju rumah orangtua Carissa.


"Rissa, Bunda senang sekali akhirnya kamu benar-benar jadi menantu Bunda. Bunda kira anak Bunda yang sedingin salju itu tidak akan pernah bisa memikat hati seorang wanita." ucap Tamara terkekeh yang memancing tawa Carissa dan juga Adhitama.

__ADS_1


Devian memasang wajah datar dan melirik Bunda Tamara dari spion depan.


"Rissa ingat saat menolong Bunda malah Devian datang memaki-maki kamu. Bunda kesal sekali dengan anak itu. Bisa-bisanya Devian kasar sekali padamu. Bunda takut jika kamu tidak akan mau menikah dengan Devian." ucap Tamara lagi sembari memeluk menantunya.


"Terimakasih sudah mau menerima Devian. Jika dia bersikap kasar ataupun menyakitimu lapor saja biar Bunda jewer kuping Devian sampai putus." ucap Tamara sambil melemparkan tatapan tajam kepada Devian dari kaca spion.


"Benar, Nak. Kalau Devian menyakitimu Ayah akan membantumu untuk menghukumnya." sahut Adhitama menyeringai pada Devian.


"Sebenarnya siapa anak kalian? Kenapa aku jadi terintimidasi?" gerutu Devian membuat Carissa terkekeh pelan.


"Lagipula Dev tidak ada niat sedikitpun untuk menyakiti Carissa. Dev akan membahagiakan istriku." tambah Devian lagi.


Adhitama menepuk pundak Devian pelan.


"Itu baru anak Ayah." ucap Adhitama.


20 menit perjalanan mobil Devian sudah terparkir di halaman rumah orangtua Carissa.


Papa Cakra dan Mama Allisa sudah bersiap menyambut mereka di depan pintu.


"Besan juga ikut kesini apa ada hal yang penting?" tanya Allisa pada Tamara.


"Tidak. Memangnya kami tidak boleh datang kerumah ini?" tanya Tamara menggoda Allisa.


"Bukan begitu. Kan aku bisa menyiapkan hidangannya lebih banyak dan beragam." jawab Allisa tak enak hati.


"Yasudah ayo kita ke dapur. Kita bikin dessert saja." ajak Tamara antusias, ia merindukan momen masak bersama Allisa saat Devian dan Carissa masih kecil. Rasanya sudah lama ia tak melakukan hal itu.


"Baiklah." jawab Allisa mengikuti Tamara yang sudah berjalan menuju dapur.


"Mama apa Rissa boleh ikut?" tanya Carissa.


"Tentu saja." jawab Allisa lalu menggandeng putrinya.


Tinggalah dua paruh baya dan seorang pria muda yang duduk di ruang tamu.


"Kra, ada beberapa hal yang ingin aku bahas denganmu." ucap Adhitama serius.


"Baiklah. Disini saja atau di ruang kerjaku?" tawar Cakra pada besannya.


"Lebih baik di ruang kerjamu saja. Lagipula para wanita itu sudah sibuk masalah perdapuran." jawab Adhitama.


"Baiklah. Ayo ke arah sini." ajak Cakra sambil menuntun arah menuju ruang kerjanya.


"Dev ayo kamu harus ikut. Ini tentang masa depanmu dan juga istrimu." ajak Adhitama yang melihat Devian masih bergeming duduk di soffa.


"Aku kira hanya urusan para tetua. Baik, Yah." sahut Devian kemudian mengikuti langkah kedua pria paruh baya didepannya.


-BERSAMBUNG


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2