Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Pesta Perayaan


__ADS_3

Kedatangan Devian dan Carissa menjadi sorotan bagi para tamu undangan dan karyawan.


"Apakah itu istri Pak Dev? Cantik sekali."


"Mereka berdua memang benar-benar pasangan yang serasi."


Carissa menyapa dengan senyum manisnya sedangkan Devian tetap dengan wajah dinginnya.


"Sayang, aku mau menyapa rekan bisnis sebentar. Kau mau ikut?" tanya Devian.


"Boleh." jawab Carissa.


"Selamat malam, Pak Dev. Apakah ini istri Anda?" sapa rekan bisnis, tak lain adalah Arya Dwitama.


Pesta malam ini memang untuk merayakan kesuksesan kerja sama antara Mahendra Group dengan perusahaan milik Arya.


"Sudah kubilang panggil saja namaku. Kita seumuran." ucap Devian.


"Baiklah. Dev, bolehkah aku berkenalan dengan istrimu?" tanya Arya dengan senyum licik.


Devian merasa tak enak untuk menolak namun juga keberatan jika ada pria lain yang ingin berkenalan bahkan menjabat tangan istrinya.


Carissa menarik lengan Devian dan memberikan kode, Carissa paham apa yang dipikirkan suaminya.


"Arya, ini istri saya, Carissa. Sayang, ini Arya rekan bisnis yang membawa kesuksesan kerjasama besar kali ini." ucap Devian memperkenalkan.


"Nama yang cantik sesuai dengan parasnya. Kamu benar-benar beruntung, Dev." kata Arya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Carissa.


Dengan cepat Devian menerima jabat tangan itu membuat Arya tersenyum sinis.


"Sepertinya Anda benar-benar mencintai istri Anda ya?" tanya Arya mengejek.


"Tentu saja." jawab Devian ketus.


"Nona Anda sangat beruntung mendapatkan suami yang benar-benar menjaga Anda. Kalau saya diposisi Dev, saya pasti juga akan melakukan hal yang sama." ucap Arya membuat Devian merah padam.


Carissa menyadari situasi menegangkan itu.


"Terimakasih atas pujian Anda, Pak Arya. Sepertinya suami saya butuh minum sesuatu, kami permisi dulu." pamit Carissa mengajak suaminya.


Devian menangkap tatapan aneh di wajah Arya membuatnya semakin kesal.


"Sayang, disini banyak sekali rekan bisnis dan para karyawanmu. Jangan terpancing keributan, oke?" bisik Carissa lirih membuat Devian tersadar.


"Maafkan aku, Sayang." ucap Devian lembut membelai tangan istrinya.


"Kita minum dulu, ya." ajak Carissa menuju meja hidangan dan mengambil dua gelas mocktail lalu menyerahkan satu gelas kepada suaminya.


"Ini suamiku, minumlah dulu." ucap Carissa.


"Terimakasih istriku yang sangat pengertian." kata Devian menerima segelas mocktail dengan senyuman tampannya.


Seketika para wanita yang mengikuti pesta itu langsung terpana saat melihat senyuman Devian. Carissa yang mendengar suara bisik-bisik para wanita itu sengaja menggoda suaminya.


"Hem.. Rupanya fans suamiku banyak juga ya." ucap Carissa memasang wajah sedikit kesal.


"Apakah istriku cemburu dengan para wanita itu?" tanya Devian senang.


"Tidak. Lagipula kepopuleranku tidak kalah dengan suamiku." jawab Carissa santai.


Devian yang menyadari perkataan istrinya langsung melihat sekeliling. Benar saja, banyak para pria yang menatap Carissa dengan tatapan kagum membuat Devian kembali kesal. Carissa terkekeh melihat ekspresi lucu suaminya.


"Lain kali aku tidak akan mengajakmu ke pesta seperti ini lagi." ucap Devian.


"Hoho.. Suamiku egois sekali." ucap Carissa sembari menyentil hidung suaminya dengan manja.


Tanpa mereka berdua sadari, Arya yang melihat kemesraan itu merasa sangat tidak suka.


"Dev, ada pebisnis luar negeri yang ingin bertemu denganmu." bisik Alex yang menghampirinya.


"Sayang, aku mau menemui seseorang. Kau mau ikut?" tanya Devian.


"Tidak, Sayang. Aku disini saja, siapa tau orang itu mau bekerja sama denganmu. Aku tidak ingin mengganggumu." tolak Carissa.


"Baiklah, aku pergi dulu ya. Jangan kemana-mana, tunggu aku disini." ucap Devian meninggalkan istrinya.


Arya yang menyadari kepergian Devian langsung mendekati Carissa.


"Selamat malam, Nona Rissa." sapa Arya.


"Malam, Pak Arya." ucap Carissa.

__ADS_1


"Wow, formal sekali. Panggil nama saya saja, A-r-y-a." kata Arya sembari menekan ejaan namanya.


"Maaf, saya rasa kita tidak seakrab itu." sahut Carissa ketus.


Arya terkekeh mendengar perkataan Carissa.


"Bolehkah saya berbincang dengan Nona sebentar?" tanya Arya.


"Apakah ada sesuatu yang penting? Jika Anda ingin membahas bisnis lebih baik menunggu suami saya kembali." jawab Carissa yang sudah mulai risih dengan kehadiran Arya.


"Tentu saja. Saya ingin berbicara beberapa masalah pribadi dengan Nona. Sepertinya Nona benar-benar sudah melupakan saya." ucap Arya.


"Apakah kita pernah saling mengenal sebelumnya?" tanya Carissa.


Tapi sebelum Arya menjawab pertanyaan Carissa, dua orang wanita lebih dulu memanggilnya.


"Rissa...!" panggil dua wanita yang tak lain adalah Aninda dan Saras.


Carissa langsung menoleh ke arah sumber suara begitu juga dengan Arya.


"Kangen, sudah lama tidak bertemu denganmu, Ris." ucap Saras yang langsung memeluk Carissa.


"Hoho, semakin cantik saja istri CEO kita." ucap Aninda disambut tawa kecil ketiga wanita itu.


Arya yang melihat adegan itu hanya ikut tersenyum tipis.


"Maaf, Pak Arya. Kami permisi dulu." pamit Carissa mengajak kedua sahabatnya menuju tempat duduk.


"Baiklah, sampai jumpa lain waktu." sahut Arya namun tidak terdengar oleh Carissa yang sudah berlalu begitu saja.


"Sepertinya kamu benar-benar telah melupakan aku." gumam Arya yang menatap kepergian Carissa dengan wajah sendu.


"Kalian baru datang?" tanya Carissa yang baru melihat dua sahabatnya sedari ia masuk ke ruangan.


"Sudah dari tadi. Tapi wanita ini mengajakku ke toilet untuk berdandan lama sekali. Entah untuk siapa dia berdandan seperti itu." jawab Aninda mengejek Saras.


"Hei, kalian itu kan sudah punya pasangan tidak dandan juga tidak masalah. Beda denganku yang masih sendirian ini, yang arus tampil cantik. Siapa tau ada pria tampan yang terpesona denganku. Ya kan?" ucap Saras.


"Mana ada pria tampan yang mau mendekatimu saat ini? Yang ada buaya darat yang akan memangsamu." kata Aninda membuat Saras memanyunkan bibirnya.


"Sudah-sudah. Kalian berdua kalau ketemu bisa tidak sekali saja akur?" tanya Carissa.


"Huh, coba saja kalau kau berani!" kata Aninda tak takut.


"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu lagi. Aku ingin melepas rindu dengan sahabat cantikku ini." ucap Saras mengakhiri perdebatannya dengan Aninda yang tidak akan pernah usai.


"Siapa juga yang mau berdebat denganmu? Buang-buang tenaga saja." sahut Aninda ketus.


Carissa hanya geleng-geleng kepala mendengar perdebatan dua sahabatnya itu bagaikan kucing dan tikus. Kalau bertemu tidak pernah akur, Carissa hanya menjadi penengah mendengar adu mulut Aninda dan Saras. Tapi kalau kedua wanita itu sudah berbaikan pasti lengket bagaikan sahabat yang terpisahkan. Itulah mengapa persahabatan ketiga wanita ini langgeng.


"Eh, Ris.. Pria tadi bukannya Pak Arya ya?" tanya Aninda.


"Iya memang." jawab Carissa sekedarnya.


"Oh pria tampan itu yang namanya Pak Arya? Sepertinya kalian saling kenal ya? Bisa kenalkan aku dengannya, Ris? Siapa tau jodoh." kata Saras percaya diri.


PUK!


Aninda menepuk pelan jidat Saras agar kembali sadar.


"Mimpi saja kau! Mana mau Pak Arya dengan wanita sepertimu!" ucap Aninda ketus.


"Hey, kan tidak ada yang tau yang namanya jodoh. Lagipula cinta itu tidak butuh alasan bukan?" tanya Saras membuat Aninda dan Carissa terkekeh.


"Sudahlah daripada kau bermimpi terlalu tinggi dengan Pak Arya, lebih baik fokus dengan pria yang sudah ada dihadapanmu." jawab Aninda.


"Hah? Mana pria dihadapanku? Yang duduk didepanku saja Rissa." ucap Saras mengernyitkan dahinya kemudian tersadar satu hal.


"Kau memintaku untuk merebut Pak Devian, suami sahabatku sendiri? Gila kau, Nin!" kata Saras yang tak habis pikir dengan ucapan Aninda.


"Astaga! Dasar bodoh sekali! Pantas saja tidak ada pria yang melirikmu." Aninda menepuk jidatnya sendiri mendengar kebodohan sahabatnya itu.


Sedangkan Carissa tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Maksudku pria yang saat ini dekat denganmu. Memangnya kau tidak sadar?" tanya Aninda.


Saras berpikir sejenak, baginya dia tidak memiliki hubungan spesial dengan pria manapun.


"Apa perlu aku sebut namanya?" tanya Aninda lagi yang tak sabar menunggu jawaban Saras.


Carissa yang melihat kehadiran pria yang dimaksud memberikan kode kepada Aninda.

__ADS_1


"Oh sungguh panjang umur sekali dia." ucap Aninda.


"Kamu benar-benar tidak merasa sedang dekat dengan pria manapun?" tanya Carissa kepada Saras yang dengan cepat dijawab gelengan kepala.


"Kamu yakin?" tanya Carissa lagi.


"Tentu saja." jawab Saras penuh percaya diri.


"Lebih baik saat ini kau menoleh. Eh, tapi jangan sampai teriak ya." ucap Aninda membuat Saras semakin kebingungan.


"Bicara apa sih kalian ini?" tanya Saras sembari memutar kepalanya.


"1, 2, 3..." Carissa dan Aninda menghitung bersama.


"Aaaa! Pa-pak Dewa." pekik Saras melihat sosok pria itu yang berjalan tinggal beberapa langkah kearahnya.


Teriakan itu membuat Dewa dan beberapa tamu yang ada disekitarnya sedikit terkejut.


Carissa dan Aninda menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahnya karena malu dengan reaksi sahabatnya itu.


Saras segera memalingkan wajahnya dengan gugup.


"Ke-kenapa kalian tidak bilang kalau dia ada dibelakangku? Astaga kenapa tadi aku juga berteriak sih? Memalukan!" gerutu Saras merasa malu dengan tingkah bodoh dirinya sendiri.


"Selamat malam, Nyonya muda Mahendra." sapa Dewa dan juga menampakkan senyumnya.


"Malam, Pak Dewa." balas Carissa lembut.


"Rissa, ayo antarkan aku ke toilet." ajak Aninda yang dijawab anggukan kepala Carissa.


"Maaf, Pak Dewa. Saya antar sahabat saya ke toilet dulu. Titip Saras ya." pamit Carissa kemudian bergegas menggandeng Aninda meninggalkan Saras yang masih mematung karena kehadiran Dewa.


"Ehm!" suara deheman Dewa membuat tubuh Saras seketika tersentak.


"Em.. Si-silahkan duduk Pak." ucap Saras gugup tanpa berani melihat wajah Dewa.


"Kenapa tegang sekali?" tanya Dewa yang saat ini duduk disamping Saras.


"A-anu.. Tidak Pak." jawab Saras.


"Kenapa daritadi dia menyembunyikan wajahnya? Apakah dia ketakutan bertemu denganku?" gumam Dewa bertanya dalam hati.


"Apa aku mengganggumu?" tanya Dewa lembut.


Saras dengan cepat menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Apa kamu sakit?" tanya Dewa lagi.


"Tidak, Pak. Saya baik-baik saja." jawab Saras yang suaranya sudah tidak terdengar bergetar.


"Lalu kenapa kamu menyembunyikan wajahmu?" tanya Dewa penasaran.


"Saya malu." jawab Saras singkat.


Dewa menyimpulkan senyum tipis diwajahnya.


"Apakah kehadiranku sangat mengejutkanmu?" tanya Dewa dijawab anggukan kepala Saras.


"Kalau begitu, aku minta maaf." ucap Dewa lembut.


Saras yang mendengar perkataan maaf Dewa seketika mendongakkan kepalanya karena terkejut.


Bersamaan dengan Dewa yang terpana dengan wajah Saras yang sudah terpoles make-up, yang membuatnya terlihat semakin cantik.


Deg Deg Deg


Suara dentuman jantung Dewa terdengar begitu keras, namun hanya Dewa sendiri yang bisa mendengarnya.


"Saya yang seharusnya minta maaf, bukan Pak Dewa." ucap Saras merasa tak enak hati.


"Cantik." ucap Dewa lirih.


"Maaf, Pak? Apa Bapak mengucapkan sesuatu?" tanya Saras memastikan.


"Tadi Pak Dewa bilang cantik. Apakah itu benar-benar ucapannya sedang memujiku malam ini?" tanya Saras dalam hati.


"Ti-tidak." jawab Dewa gugup.


"Ah benar saja, pendengaranku yang salah. Mana mungkin seorang pria dingin begini bisa memujiku?" gumam Saras sadar diri.


-BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2