
Grand opening Butik Carissa diadakan hari ini. Terlihat sudah banyak tamu undangan yang memenuhi butik milik Carissa. Orangtua Carissa dan Devian juga turut hadir untuk menyaksikan pembukaan bisnis baru milik putri dan menantu kesayangan mereka. Beberapa wartawan juga hadir untuk mengabadikan momen tersebut, bahkan ada stasiun tv dan akun gosip yang sudah melakukan siaran langsung. Ruangan itu juga dipenuhi dengan beberapa model gaun yang sudah terpajang di patung busana.
"Sudah siap untuk hari ini, Sayang?" tanya Devian kepada istrinya.
Carissa terlihat gugup, bagaimanapun juga ini merupakan bisnis pertama yang akan ia tangani sendiri. Melihat banyak sekali yang antusias dengan bisnisnya membuat Carissa sedikit khawatir.
"Aku sedikit gugup, Sayang." jawab Carissa yang berusaha mengatur nafasnya untuk menghilangkan kegugupannya.
Devian paham apa yang dirasakan istrinya. Devian menggenggam tangan Carissa dan mengusapnya dengan lembut.
"Tenanglah Sayang, kamu pasti bisa melaluinya. Hari ini adalah hari yang kamu tunggu, mewujudkan salah satu impianmu. Istriku hebat." puji Devian yang berusaha menghilangkan kegugupan istrinya, namun perkataannya benar-benar jujur dari dalam hati Devian.
Carissa merasa lebih tenang saat mendengar perkataan suaminya. Memang benar kita butuh seseorang yang menemani dan memahami kita apapun kondisinya.
"Terimakasih suamiku." ucap Carissa membalas genggaman suaminya.
Waktu sambutan pun tiba, Carissa berdiri dihadapan para tamu yang sudah sangat menantikan kehadirannya. Tamu-tamu itu diantara lain adalah teman dan sahabat Carissa, rekan bisnis Devian dan beberapa rekan bisnis dari orangtua dan mertua Carissa.
Carissa mengambil nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya. Matanya tertuju pada Devian yang tersenyum dan mengacungkan jempol kepadanya. Seketika membuat kepercayaan diri Carissa naik dan memulai pidato sambutannya.
Selesai sambutan, saatnya pemotongan pita sebagai tanda butik Carissa telah resmi dibuka. Carissa ditemani Devian bersama orangtua dan mertuanya memotong pita itu dengan gunting yang langsung disambut riuh tepuk tangan orang-orang yang ada diruangan.
Setelah acara tersebut, orangtua dan mertua Carissa sudah sibuk bercengkerama dengan para rekan bisnisnya, tak ketinggalan juga Devian.
"Rissa, selamat ya. Kamu keren sekali." kata Saras yang juga turut hadir diacara itu. Saras tidak ingin melewatkan peristiwa penting milik sahabatnya itu.
"Terimakasih, Ras." sahut Carissa kemudian kedua wanita itu saling berpelukan.
Tak lama munculah Aninda yang juga mengucapkan selamat kepada Carissa, diikuti oleh Alex yang juga turut hadir dalam acara penting milik sahabat calon istrinya sekaligus istri dari bos dan juga sahabatnya, Devian.
"I'm proud of you, Ris." ucap Aninda yang langsung memeluk Carissa tak mau kalah dengan Saras.
"Thankyou, Nin." sahut Carissa membalas pelukan sahabatnya itu.
Saras hanya mendengus kesal, namun bukan kekesalan yang sebenarnya. Aninda melirik kemudian tersenyum mengejek kepada Saras. Carissa yang paham dengan perselisihan kedua sahabatnya itu hanya terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Karakter ketiga wanita itu memang sangat berbeda, namun tak membuat hubungan persahabatan mereka berkonflik. Justru menjadi semakin unik.
__ADS_1
Setelah acara berlangsung selama kurang lebih 2 jam, beberapa tamu undangan silih berganti berjabat tangan dengan Carissa untuk mengucapkan selamat dan berpamitan kepada pemilik butik tersebut.
Hanya tinggal keluarga inti, kedua sahabatnya dan juga Alex yang masih tinggal di ruangan itu.
"Mama dan Papa bangga kepadamu, Nak. Semoga bisnismu lancar ya, Sayang." ucap Mama Alissa yang langsung memeluk putri tunggalnya itu.
"Terimakasih, Ma Pa. Semua ini juga berkat kalian." sahut Carissa dengan senyum manisnya menyambut pelukan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya.
Papa Cakra ikut mengelus puncak kepala putrinya kemudian mengecupnya sekilas.
"Terimakasih, Pa." ucap Carissa lagi yang langsung memeluk Papa Cakra.
Pemandangan harmonis itu membuat orang yang tersisa diruangan menjadi terharu. Terutama Devian, ia menyadari kalau istrinya itu sangat dicintai orangtuanya bahkan orangtuanya sendiri pun sudah mulai menaruh cinta yang sama dengan istrinya. Hal itu tidak membuat Devian iri, justru ia sangat senang karena orangtuanya sudah menerima Carissa seperti anaknya sendiri. Devian bertekad untuk selalu berusaha membahagiakan Carissa dan tak ingin menyakiti istri tercintanya itu.
"Bunda dan Ayah juga bangga padamu, Nak." ucap Tamara menghampiri menantunya diikuti oleh Adhitama.
Carissa melepaskan pelukannya dari kedua orangtuanya kemudian memeluk mertua yang cantik dan baik hatinya itu.
"Terimakasih, Bunda." ucap Carissa yang disambut pelukan hangat dari mertuanya.
"Kalau begitu Bunda akan datang lagi besok bersama teman-teman Bunda. Bunda juga gak mau kalah untuk memiliki gaun cantik karya anak menantu Bunda." kata Tamara antusias.
"Bunda bisa bilang sama Rissa gaun mana yang Bunda sukai, atau mau Rissa buatkan khusus untuk Bunda?" tawar Carissa membuat mata Tamara berbinar.
"Boleh juga. Tapi itu mungkin lain kali, Bunda akan memilih gaun karyamu yang ready stok dulu. Besok Bunda akan kesini lagi." jawab Tamara bersemangat.
"Tapi ingat ya, besok Bunda datang kesini statusnya adalah pembeli bukan mertuamu. Jadi Bunda harus membayarnya, tidak mendapatkan gaunmu dengan cuma-cuma." tambah Tamara mengingatkan.
"Tapi, Bun.."
"Kita memang sudah menjadi keluarga, Sayang. Tapi bisnis tetaplah bisnis. Bunda suka dengan gaun-gaun karyamu, dan Bunda sangat mengapresiasi itu. Jadi Bunda tidak ingin membuat bisnis menantu Bunda bangkrut hanya karena kamu merasa tidak enak dan ingin memberikan gaun gratis kepada Bunda." belum sempat Carissa menyelesaikan kalimatnya, Bunda Tamara sudah memberi ultimatum kepadanya.
"Bukan begitu maksud Rissa, Bunda. Justru Rissa dengan senang hati memberikan gaun untuk Bunda dan juga ingin bisa menyenangkan hati Bunda." kata Carissa yang membuat Tamara tersenyum.
"Dengan kamu menerima dan mencintai putra Bunda, itu sudah membuat Bunda senang, Sayang." ucap Tamara membuat Devian tersipu mendengarnya.
"Bundamu benar, Nak. Bisnis tetaplah bisnis. Kita sebagai keluarga harus saling mendukung, bukan? Anggap saja Bunda sedang membantu bisnis menantunya agar berkembang pesat." kata Adhitama yang setuju dengan istrinya kemudian membelai lembut pucuk kepala Carissa.
__ADS_1
Carissa tidak bisa berkata-kata lagi, ia pasti akan tetap kalah jika harus mendebat dan terpaksa mengikuti permintaan mertuanya.
Melihat interaksi putrinya dengan kedua mertuanya membuat Alissa dan Cakra bersyukur. Mereka tidak salah memilih besan dan menantu. Besan dan menantunya memperlakukan Carissa dengan sangat baik. Hal itu membuat mereka yakin kalau Carissa akan hidup dengan bahagia kalau nanti mereka tidak lagi bisa menemani putri semata wayangnya itu di dunia.
Orangtua Carissa dan juga mertuanya sudah berpamitan, tinggalah diruangan itu tersisa 5 orang. Para pekerja yang tadi ikut dalam acara juga sudah pulang setelah membersihkan ruangan itu.
"Non, ini ada kiriman bunga untuk Nona." ucap Marni sembari membawa sebuah bucket bunga yang cukup besar.
"Oh iya letakkan di meja itu aja, Mbak." kata Carissa yang sibuk berbicara dengan kedua sahabatnya.
"Baik, Non. Saya pamit pulang ke kontrakan dulu ya." pamit Marni setelah meletakkan bucket bunga sesuai instruksi atasannya.
"Oke, hati-hati Mbak." sahut Carissa yang dijawab anggukan kepala Marni.
"Bucket bunga dari siapa itu, Ris?" tanya Saras yang memang si ratu kepo.
"Entahlah. Mungkin dari rekan bisnis." jawab Carissa seadanya yang tidak terlalu mementingkan hal-hal seperti itu.
"Gimana persiapan pernikahanmu, Nin?" tanya Carissa.
"Sudah siap semua, Ris. Tinggal mentalku nih." jawab Aninda setengah berbisik, takut calon suaminya mendengar perkataannya.
Carissa terkekeh kemudian memahami apa yang dirasakan sahabatnya karena dirinya sudah pernah merasakannya saat akan menikah dengan Devian.
"Bagaimana dengan gaunnya? Apakah kamu menyukainya? Atau ada yang perlu aku ubah?" tanya Carissa mencoba mengalihkan agar sahabatnya itu kembali bersemangat.
"Aku sangat menyukainya. Gaun buatanmu benar-benar membuatku insecure." jawab Aninda membuat Carissa dan Saras saling berpandangan.
"Maksudmu?" kali ini Saras yang bertanya karena penasaran dengan maksud perkataan Aninda.
"Gaun buatan Rissa sangat cantik. Aku takut kalau malah tidak cocok aku kenakan. Aku khawatir kalau parasku tidak mampu mengimbangi gaun itu." jawab Aninda jujur membuat Carissa melongo.
"Kau ini. Setiap wanita itu dilahirkan cantik dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Lagipula gaun itu aku desain memang khusus untukmu dan juga sesuai dengan seleramu. Percaya dirilah, kau pasti akan terlihat memukau di hari bahagiamu." kata-kata Carissa menyadarkan Aninda, perkataan sahabatnya memang benar.
"Wajar jika kau mulai berpikiran yang tidak-tidak menjelang pernikahanmu. Banyak hal yang tiba-tiba membuatmu ragu, karena menikah itu adalah ibadah yang paling lama dan akan menjadi ladang pahala buat kita. Saranku banyak-banyak berdoa agar niat kalian diluruskan, dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah." tambah Carissa membuat Aninda dan Saras menyetujuinya.
Carissa memang yang paling bijak diantara sahabatnya, ia mampu menjadi pendengar dan penasehat yang baik. Carissa yang selalu menjadi penengah jika Aninda dan Saras beradu mulut. Itulah mengapa persahabatan mereka terlihat sangat harmonis.
__ADS_1