
"Wah menantu Bunda lihai sekali di dapur." puji Tamara.
"Dulu Rissa pernah bekerja di sebuah caffe dan belajar untuk membuat ini." ucap Carissa yang masih sibuk dengan bahan di depannya.
"MasyaAllah. Kamu serius Sayang?" tanya Tamara terkejut kemudian menoleh dan menatap Allissa yang menganggukkan kepalanya.
"Menarik sekali. Bunda boleh tau ceritanya?" tanya Tamara penasaran.
Allissa yang sudah selesai menuangkan cairan puding yang masih panas ke dalam wadah berjalan mendekati besan wanitanya.
"Mbak kan tau Rissa ini keras kepala. Dia selalu berambisi untuk bisa sukses dengan caranya sendiri." jawab Allisa yang membuat Tamara mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Benar sekali. Bahkan Rissa pernah jadi OG di MF Group." sahut Tamara mengingat seragam milik Carissa yang pernah ia bawa.
"Apa? Bukannya kemaren di bagian produksi?" tanya Allisa tak percaya.
"Lho memang kamu gak tau?" tanya Tamara melihat wajah Allisa dan Carissa bergantian.
Carissa tersenyum menampakkan giginya dengan terpaksa.
"Maaf Ma. Rissa gak sempat cerita." ucap Carissa tak enak hati.
"Sudahlah Mama juga gak bisa marah sama kamu. Padahal Mama dan Papa sudah punya bisnis tinggal kamu meneruskan saja." Mama Allisa memasang raut wajah sedih.
Tamara menepuk pundak Allisa kemudian merangkulnya.
"Mama mulai lagi deh. Kan Mama dan Papa sudah tau apa tujuan Rissa. Kalau bisnis pasti akan Rissa urus tapi nanti bukan sekarang. Lagipula Papa dan Mama masih mampu kan?" ucap Rissa kemudian menyodorkan creme caramel dengan toping buah stroberi kepada Mama Allisa dan Bunda Tamara.
"Mbak lihat sendiri kan bagaimana kerasa kepalanya anakku ini." ucap Allisa pada Tamara.
"Baguslah menantu Bunda punya jiwa ambisius yang tinggi persis seperti Papa dan Mama kamu." kata Tamara diringi tawa kecil yang membuat Allisa juga tertawa.
Allisa mengingat dirinya dan Cakra saat masih muda dulu. Benar saja Carissa keras kepala dan sangat ambisius apalagi pada bidang yang sangat disukai. Persis seperti Cakra saat merintis kehidupan 25 tahun yang lalu.
"Mama, Bunda cobain dessert yang Rissa buat dulu nanti dilanjut lagi ngobrolnya." jawab Carissa membuat Tamara dan Allisa segera melihat creme caramel yang ada dihadapannya.
Tidak sabar Tamara menyendokkan potongan creme caramel kedalam mulutnya.
"Ini enak sekali, Sayang. Lembut dan pas." puji Tamara yang membuat Carissa tersenyum simpul.
"Ternyata anak Mama punya bakat yang lain ya." ucap Allisa takjub setelah mencoba dessert buatan Rissa yang rasanya tak kalah dengan yang dijual di resto bintang 5.
"Benar saja, menantu Bunda memang berbakat." puji Tamara lagi yang bangga memiliki menantu seperti Carissa.
"Bunda mau dong diajarin." pinta Tamara.
"Boleh, Bun." sahut Carissa yang juga menikmati creme caramel buatannya.
Di bilik lain kediaman orangtua Carissa tepatnya di ruang kerja Cakra berlanjut pembicaraan serius.
__ADS_1
"Dev, resepsi pernikahan kalian sudah siap semua?" tanya Cakra kepada Devian, menantunya.
"Sudah, Pa." jawab Devian.
"Perlu bantuan Ayah?" tanya Adhitama.
"Tidak, Yah. Semua sudah siap kok. Acaranya tanggal 11 bulan depan." jawab Devian meyakinkan.
"Baiklah. Kalau memang perlu sesuatu bilang sama Ayah dan Papa Cakra." sahut Adhitama yang dibalas anggukan Devian.
"Oh iya Dev, apa Rissa sudah bercerita kalau dia ingin membuka sebuah butik?" tanya Cakra.
"Sudah, Pa. Tadi Dev dan Rissa baru saja membahasnya." jawab Devian tersenyum tipis.
"Kamu menyetujuinya?" tanya Cakra memastikan dan mendapat anggukan Devian.
"Kira-kira kamu tau tidak dimana tempat strategis untuk membuka butik Rissa?" tanya Cakra kepada menantunya.
Devian sejenak berpikir untuk menentukan tempat strategis yang dimaksud Papa Cakra.
"Maaf Dev belum ada pandangan, Pa." jawab Devian.
"Yasudah nanti kamu bahas lagi dengan Rissa." ucap Cakra melemparkan senyum pada Devian.
"Baik, Pa." sahut Devian membalas senyuman mertuanya.
"Yasudah Dev kamu bisa kembali cari istrimu. Ayah mau bicara sama Papa Cakra." ucap Adhitama yang memang ada hal penting yang ingin dibahas bersama besannya.
Devian menuju ruang tamu namun tiga wanita itu belum kembali. Devian mendengar suara samar-samar dari dapur dan tanpa pikir panjang Devian bergegas menuju dapur.
"Lihat baru sebentar saja suamimu sudah merindukanmu." ucap Tamara menggoda menantu dan putranya.
Carissa tersenyum malu-malu kemudian menoleh dan mendapati Devian yang berjalan menghampirinya.
"Tadi Dev habis ngobrol sama Ayah dan Papa malah diusir. Dev kembali ke ruang tamu masih sepi jadi kesini saja." kata Devian membalas ucapan Bunda Tamara.
"Dev, cobalah ini buatan istrimu." ucap Allisa menyodorkan sebuah piring kecil yang berisikan creme caramel.
"Wah kelihatannya enak. Istriku memang pintar memasak." ucap Devian menerima piring kecil dari mertuanya dengan penuh semangat.
"Hemm... delicious." mata Devian berbinar merasakan lezatnya dessert buatan istrinya.
Carissa tersenyum lalu menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
"Lihat wajah istrimu memerah. Sudah kalian pengantin baru ke kamar saja." ucap Tamara.
"Tidak, Bun. Rissa mau bantu-bantu disini saja." bantah Carissa yang semakin malu.
"Tidak usah lebih baik kamu istirahat saja. Sudah ada Mbok Asih, Mama dan Bunda." ucap Allisa kepada putrinya.
__ADS_1
"Sana Dev ikuti istrimu ke kamarnya." perintah Tamara kepada putranya.
"Dev habisin ini dulu, Bun." ucap Devian yang menguyah dengan cepat.
"Ayo kita ke kamarmu, Sayang." ajak Devian yang membuat wajah Carissa semerah tomat dan tubuhnya meremang.
"Kamu ini jangan bersikap begini didepan Mama dan Bunda. Aku malu." gerutu Carissa berbisik.
Devian terkekeh mendengar ucapan istrinya kemudian meraih tangan Carissa.
"Dev sama Rissa ke kamar dulu ya Bun, Ma. Istri Dev masih malu-malu." pamit Devian sekaligus menggoda istrinya.
Carissa memukul pelan lengan Devian karena kesal dengan ucapan suaminya yang semakin membuatnya kehilangan wajah.
"Dasar putriku itu sangat pemalu." ucap Allisa melihat Carissa yang sudah berlalu dengan menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Persis seperti dirimu yang muda dulu." celetuk Tamara yang membuat Allisa terkekeh.
"Mbak benar sekali. Terus bagaimana dengan Mbak? Apakah waktu muda dulu Mbak juga malu-malu dengan Mas Adhi?" tanya Allisa penasaran.
"Mana mungkin aku malu-malu. Kamu tau sendiri sifat Mas Adhi yang super dingin itu. Aku yang harus agresif lebih dahulu." jawab Tamara mengingat sifat suaminya dulu yang sangat menyebalkan sebelum resmi menjadi pendamping hidupnya.
"Ehm." suara deheman yang tidak asing membuat Tamara seketika menoleh.
"Eh suamiku mau aku buatkan kopi?" Tamara segera menghampir Adhitama dan melemparkan senyum semanis mungkin.
"Apakah kamu senang membicarakan diriku dibelakangku?" tanya Adhitama memasang wajah dingin.
"Tidak berani, suamiku. Tadi aku hanya bercanda dengan Allisa." jawab Tamara yang kemudian menoleh Allisa memberi kode untuk memberi bantuan.
Allisa dan Cakra terkekeh melihat kelakuan besannya yang sangat lucu.
"Sudah sudah. Papa sama Mas Adhi coba ini dulu buatannya Rissa." Allisa menyerahkan creme caramel kepada suami dan besannya yang membuat Tamara bernafas lega.
"Terimakasih sudah menyelamatkanku." bisik Tamara kemudian memeluk Allisa yang disambut tawa kecil dua wanita paruh baya itu.
Sebuah hubungan keluarga yang sangat diimpikan orang-orang. Pasangan suami istri yang romantis dan juga besan yang akur dan saling menghargai.
-BERSAMBUNG
*
*
*
Terimakasih DevRissa Lovers yang terus mengikuti kelanjutan kisah Gejolak Cinta Tuan dan Nona Muda. Masih banyak kejutan yang menunggu. Semoga suka yaa 🤗 Terimakasih atas dukungannya! ❤❤❤
Maaf kalau Minthor telat up episode semoga Readers tidak jenuh yaa 🙏🙏🙏 Cerita masih terus berlanjut semoga mengena di hati para Readers.
__ADS_1
Salam Hangat dari Minthor 🤗