
"Sayang, kenapa kau ada disini?" tanya Devian membuat Carissa berjingkat kaget.
"Kau mengagetkanku saja, Dev." ucap Carissa sembari mengatur nafas dan detak jantungnya yang memburu.
"Hei, sedang apa kalian disini?" tanya Alex yang berdiri dibelakang Devian.
"Sst.. jangan berisik." tegur Aninda.
"Ada apa sih? Kenapa kalian seperti sedang mengintai seseorang?" tanya Alex lagi kepo.
"Lihatlah itu." jawab Aninda menunjuk ke arah meja dimana Saras dan Dewa berada dengan dagunya.
Sontak Alex dan Devian mengikuti arah petunjuk Aninda.
"Bukannya itu Dewa?" tanya Devian.
"Siapa wanita yang duduk bersamanya?" tanya Alex menambahkan.
"Itu Saras." jawab Carissa.
"Lalu kenapa kalian berdua malah disini? Bukannya kalian bertiga saling merindukan? Kenapa malah tidak berkumpul disana?" tanya Devian memberondong.
"Huh kau ini, Dev. Mereka itu sedang dalam masa pendekatan. Makanya aku dan Aninda memberi mereka waktu berduaan." jawab Carissa.
"Memangnya mereka sedekat itu?" tanya Alex penasaran.
"Belum sih, tapi apa salahnya memberikan waktu untuk mereka berduaan? Siapa tau mereka cocok kan?" sahut Aninda membuat kedua pria itu saling melempar pandang kemudian menggelengkan kepalanya bersamaan.
Begitulah para wanita jika sudah berkumpul. Ada saja tingkahnya.
"Sepertinya istriku ini mau menjadi dewi jodoh ya?" tanya Devian sedikit menggoda dengan melingkarkan tangannya ke pingggang istrinya.
"Bu-bukan begitu, Dev. Siapa tau mereka berdua cocok, tidak ada salahnya mencoba dulu bukan?" tanya Carissa meminta Devian menyetujui pendapatnya.
"Aku tidak yakin. Dewa itu tipe pria dingin, sedangkan sahabatmu itu bukannya sangat cerewet?" kata Devian jujur.
"Jangan mengatai sahabatku." gerutu Carissa.
"Kenyataannya begitu, sayang. Dan yang aku tau selama ini Dewa itu belum pernah dekat dengan wanita manapun. Rumornya sih wanita yang mau mendekatinya sudah takut duluan melihat tampang datarnya itu." tambah Devian.
__ADS_1
"Sebelas duabelas denganmu, Dev." ucap Carissa dengan tawa kecil.
"Apa kau bilang? Sekarang sudah berani ya mengatai suamimu sendiri?" kata Devian membuat Carissa semakin terkekeh.
"Maaf, suamiku. Tapi dulu saat pertama kalo bertemu denganmu memang sifatmu mirip dengan Dewa. Apalagi kau sangat menyebalkan, bicaramu juga sangat pedas kepadaku." ucap Carissa sambil menyandarkan kepalanya dibahu suaminya.
"Maaf atas perlakuanku yang dulu kepadamu. Aku berjanji akan bersikap baik kepadamu kedepannya." kata Devian sepenuh hati kemudian memeluk tubuh istrinya itu.
"Hais.. Sayang, ayo kita pindah tempat saja. Disini kita seperti kambing congek saja." ajak Alex yang sudah tidak tahan melihat kemesraan pasangan suami istri disampingnya itu.
"Makanya cepatlah kalian menikah." ledek Devian.
"Tenang saja. Pernikahanku tinggal menghitung hari." ucap Alex tak mau kalah.
"Astaga, kalian masih disini?" tanya Carissa yang melupakan kehadiran sahabatnya sedari tadi.
Tiba-tiba Carissa menundukkan wajahnya merasa malu, ia lupa jika saat ini masih berada di ruang pesta.
"Apakah tadi banyak orang yang melihat saat Dev memelukku?" tanya Carissa dalam hati.
"Tidak perlu malu, Rissa. Kalian kan pasangan suami istri, lagipula tidak akan ada yang berani memprotes kemesraan kalian." ucap Aninda terkekeh yang mengetahui kegelisahan hati sahabatnya.
"Ah.. aku malu, Dev." ucap Carissa lirih.
"Kenapa harus malu, Sayang?" tanya Devian heran.
"Pasti ada banyak orang yang melihat saat kau memelukku tadi." jawab Carissa pelan.
"Tidak perlu malu, istriku. Lagipula wajar kan kalau aku memeluk istriku sendiri? Justru aku ingin semua orang tahu kalau adalah wanitaku, satu-satunya milikku." ucap Devian lembut dan kembali melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya itu.
"Tapi..." belum sempat menyelesaikan ucapannya, Devian sudah memotong.
"Sayang, apa kau malu punya suami sepertiku?" tanya Devian yang langsung membuat Carissa menaikkan wajahnya.
Tatapan kedua insan itu pun saling bertemu.
"Maaf bukan begitu maksudku, Sayang. Aku hanya belum terbiasa bermesraan diantara banyak orang." jawab Carissa merasa bersalah.
Carissa menatap lekat wajah tampan suaminya itu, lalu kedua tangannya meraih dagu suaminya yang berbulu halus.
__ADS_1
"Aku tidak pernah malu memiliki suami sepertimu, Sayangku. Justru aku sangat beruntung. Maafkan aku sikapku tadi ya? Mulai sekarang aku akan mulai membiasakan diri." ucap Carissa setulus hati.
"Terimakasih istriku. I love you." kata Devian yang langsung memeluk erat istrinya.
Kali ini Carissa ikut membalas pelukan suaminya tak kalah erat. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan kemesraan mereka.
"Sepertinya kau sangat bahagia bersamanya ya, Sa?" gumam Arya dalam hati.
"Kau juga sama sekali tidak mengingatku." ucap Arya lirih dengan tatapan sendu.
Arya Dwitama, ternyata dia adalah pria misterius yang pernah bertemu dengan Carissa. Awalnya Arya kembali ke tanah air berniat untuk mencari dan mengejar cinta pertamanya yang tak lain adalah Carissa, teman masa putih abu-abunya. Tapi kenyataanya wanita yang menjadi pujaan hatinya beberapa tahun itu ternyata kini sudah menikah.
"Apakah masih ada kesempatan untuk aku bersamamu?" tanya Arya lagi dalam hati.
Acara pesta berlangsung dan tiba saatnya Devian melakukan sambutan. Pidato singkat Devian disambut dengan riuh tepuk tangan para rekan bisnis dan karyawan yang ada diruangan. Memang pantas Devian menjabat CEO di perusahaan besar itu. Bukan karena Devian anak dari pemilik MF Group, tetapi kemampuan bisnis Devian memang tidak perlu diragukan lagi, Devian juga memiliki kharisma sebagai pemimpin. Sudah banyak rekan bisnis yang sangat senang bekerjasama dengan Devian. Dari pengusaha muda sampai paruh baya, perusahaan menengah sampai perusahaan besar, dan banyak juga perusahaan luar negeri yang sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan MF Group.
"Suamiku hebat sekali." puji Carissa menyambut suaminya yang sudah turun dari panggung setelah melakukan sambutan.
"Tentu saja, suami siapa dulu?" tanya Devian.
"Suaminya Carissa Elvina dong." jawab Carissa yang disambut gelak tawa dua sejoli itu.
"Apa kau lelah, Sayang? Mau pulang sekarang?" tanya Devian.
"Tidak lelah sih. Hanya saja aku merasa lapar." jawab Carissa seraya menampakkan gigi putihnya.
"Memangnya kau tidak mengambil makanan dari jamuan disini?" tanya Devian yang dijawab gelengan kepala Carissa dengan cepat.
"Yasudah, kita makan malam diluar saja ya?" tanya Devian menawarkan.
"Sekarang? Memangnya tidak apa-apa kalau kita pergi duluan?" tanya Carissa tak enak.
"Tentu saja tidak apa-apa istriku. Lagipula aku sudah menyambut beberapa rekan bisnis yang datang malam ini. Sebenarnya pesta ini merupakan apresiasi juga untuk para karyawan yang sudah bekerja keras demi kemajuan perusahaan MF Group. Jadi biarkan saja mereka bersenang-senang." jawab Devian menggandeng tangan istrinya.
"MasyaAllah.. Ternyata suamiku hatinya baik sekali ya. Aku semakin cinta dengan suami tampan dan baik hatiku ini." puji Carissa sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
"Terimakasih istriku." sahut Devian dengan senyum tampannya.
-BERSAMBUNG
__ADS_1