Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Ternyata Bukan Mimpi


__ADS_3

"Kenapa aku merasa ini merupakan makan malam romantis? Apa mungkin Pak Dewa mempunyai perasaan kepadaku?" tanya Saras dalam hati.


"Jangan bermimpi, Saras." batin Saras mencoba mengusir pikiran halunya.


"Duduklah." ucap Dewa dengan suara lembut.


"Apakah Bapak baik-baik saja?" tanya Saras heran dengan sifat Dewa yang tiba-tiba lembut kepadanya.


"Sudah kubilang kalau bukan dikantor jangan memanggilku dengan formal." ucap Dewa mengingatkan.


"Maaf, tapi saya sudah terbiasa memanggil Bapak dengan sebutan itu. Rasanya terdengar aneh kalau tiba-tiba memanggil dengan sebutan lain." kata Saras jujur.


"Apa kau mau memanggil calon suamimu seperti itu?" tanya Dewa.


"Tidaklah, Pak. Pasti saya akan memanggilnya dengan panggilan yang romantis." jawab Saras polos yang belum mengerti maksud perkataan Dewa.


"Memang kau akan memanggilnya apa?" tanya Dewa penasaran.


"Rahasia dong Pak. Hanya saya dan suami saya yang mengetahuinya." jawab Saras.


"Hem.. Memangnya kau sudah ada calonnya?" tanya Dewa seketika membuat Saras terdiam.


"Be-belum sih Pak. Apa salahnya kalau aku siapkan nama panggilan dulu." jawab Saras malu-malu.


"Jadi kau belum punya kekasih?" tanya Dewa lagi.


Saras menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Bagaimana kalau aku yang jadi calon suamimu? Apakah masuk kriteria pria idamanmu?" tanya Dewa menawarkan diri.


"Eh Bapak bilang apa?" tanya Saras kaget tak percaya.


"Aku mau mendaftar menjadi calon suamimu. Apakah aku bisa lolos?" kata Dewa membuat Saras tercengang.


"Aiisssh..." ringis Saras merasakan sakit saat mencubit kedua pipinya secara bergantian.


"Aku tidak sedang bermimpi kan?" gumam Saras.

__ADS_1


"Kau tidak sedang bermimpi. Kau lihat aku ada dihadapanmu." ucap Dewa menarik tangan Saras yang ingin mencubit pipinya kembali.


"Bapak selera humornya lumayan juga. Bercandanya lucu sekali." kata Saras tertawa garing mencoba mencairkan suasana hatinya yang sudah tidak menentu.


"Aku tidak bercanda. Kali ini aku serius, bahkan sangat serius. Maukah kau menjadi istriku?" tanya Dewa dengan tatapan serius.


Saras menatap Dewa lekat, ia bisa melihat keseriusan dimata Dewa. Namun didalam hati Saras, ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi dihadapannya.


"Mungkin ini sangat mengejutkan bagimu. Selama ini kita hanya terlibat hubungan pekerjaan. Tapi saat berada didekatmu aku merasakan sesuatu yang tak bisa kujelaskan." ucap Dewa jujur.


"Aku tidak ingin bermain-main dengan hubungan percintaan. Jadi aku langsung mengajakmu menikah, karena bagiku sebuah hubungan harus dilandasi dengan ikatan yang halal." tambah Dewa.


Saras hanya terdiam, tak mampu memberi jawaban ataupun menyahut perkataan Dewa. Saras merasa dirinya sedang terbuai dalam bunga tidur yang indah.


"Aku tahu ajakanku pasti terdengar sangat aneh bagimu. Tapi niatku ini serius dan tulus. Aku harap kau bisa mempertimbangkannya." kata Dewa membuat Saras tersadar bahwa apa yang terjadi malam ini adalah kenyataan.


Saras mengatur nafasnya kemudian mencoba menyiapkan kata-kata yang ingin ia sampaikan kepada Dewa.


"Apa yang membuat Bapak berpikir untuk menikahiku?" tanya Saras serius.


"Entahlah. Mungkin saja cinta bisa datang mendadak." jawab Dewa membuat Saras yang mendengarnya tidak puas dan sedikit kecewa.


"Maksud Bapak?" tanya Saras.


"Iya mungkin sekarang aku belum bisa memberikan alasan untukmu kenapa aku ingin menikahimu. Tapi asal kau tahu, niatku ini tidak main-main. Aku serius ingin menjadikanmu sebagai istriku." jawab Dewa.


"Aku akan memberimu waktu untuk memikirkannya. Didalam kotak ini ada sebuah cincin kau bisa menyimpannya terlebih dahulu. Jika kau menyetujui ajakanku kau bisa memakainya. Tapi kalau tidak, kau bisa mengembalikannya kepadaku." ucap Dewa menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna merah kepada Saras.


"Baiklah. Aku akan menyimpannya." sahut Saras.


Saras juga tidak tahu kenapa ia bersedia menyimpan kotak itu. Didalam hatinya ia tidak percaya dengan perkataan Dewa. Namun disisi lain Saras juga tidak mau menolak Dewa.


Setelah menyimpan kotak kedalam tas, Saras dan Dewa melanjutkan makan malamnya ditemani dengan iringan musik yang menambahkan kesan romantis.


...****************...


"Akhirnya anak kita itu menepati janjinya untuk berbulan madu dengan istrinya. Kalau tidak aku akan mengasingkannya ke pulau terpencil." ucap Adhitama membuat Tamara terkekeh.

__ADS_1


"Ayah kejam sekali. Devian itu anak kita, terlebih lagi dia sangat mirip denganmu. Bukankah kau dulu juga seperti itu?" kata Tamara mengingatkan.


"Kau benar istriku. Aku dulu juga melupakan hal penting itu. Makanya aku tidak ingin Devian melakukan hal bodoh sepertiku. Maafkan aku." ucap Adhitama merasa bersalah.


"Kau ini, aku tidak pernah mempermasalahkannya. Lagipula saat itu kau sangat sibuk untuk merintis usahamu. Kerja kerasmu untuk masa depan keluarga kita akhirnya terwujud juga." kata Tamara dengan senyum cantiknya.


"Terimakasih, kau memang paling mengerti aku. Untuk itu aku tidak ingin Devian seperti aku. Aku ingin anak kita itu menghabiskan waktunya untuk keluarganya. Aku tidak ingin ia menyesali waktu yang telah terlewat." ucap Adhitama tulus.


"Kau tidak perlu khawatir, suamiku. Devian adalah pria yang bertanggung jawab. Aku yakin dia bisa memperlakukan istrinya dengan baik seperti yang kau lakukan terhadapku." kata Tamara santai.


"Iya aku sangat berharap anak itu bisa diandalkan." sahut Adhitama.


"Ngomong-ngomong bagaimana kalau kita juga bulan madu? Sepertinya kita sudah lama tidak berlibur berdua?" tanya Adhitama menawarkan.


"Astaga ingat umur, Ayah. Bukankah baru beberapa bulan kemarin kita berlibur bersama Cakra dan Allisa." jawab Tamara mengingatkan.


"Iya aku ingat. Tapi kan waktu itu kita berempat. Kali ini aku ingin kita berlibur berdua saja." ucap Adhitama.


"Kau masih seperti anak muda saja. Sebentar lagi kita akan jadi kakek dan nenek, ingatlah itu." kata Tamara tak habis pikir dengan ide suaminya.


"Tidak masalah. Lagipula tenagaku masih bugar bukan? Kau saja masih kewalahan karena aku kan?" goda Adhitama membuat kedua pipi Tamara memerah.


"Hentikan, Ayah. Memalukan sekali. Kita itu sudah bukan pasangan muda mudi lagi." protes Tamara malu.


"Haha kau masih saja malu-malu, istriku. Sudahlah aku akan menyiapkan bulan madu kita setelah Devian dan Rissa pulang. Kali ini biar aku menangani perusahaan lebih dulu." ucap Adhitama yang sudah bersiap-siap berangkat ke perusahaan.


"Baiklah terserah Ayah saja. Hati-hati dijalan." ucap Tamara mengantar suaminya sampai pintu rumah.


"Kau jaga dirimu. Jangan merindukan aku ya." kata Adhitama.


Tamara hanya tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya yang tak pernah berubah.


Jadi tahu kan sifat bucinnya Devian turunan dari siapa?


"Suamiku ini masih saja seperti saat menjadi pengantin baru dulu. Terimakasih sudah memberikan cinta yang luar biasa untukku. Aku bahagia bersamamu. Semoga rumah tangga anak kita juga bisa seperti ini." batin Tamara penuh harap.


...----------------...

__ADS_1


-BERSAMBUNG


__ADS_2