
Keesokan harinya setelah mandi besar dan melaksanakan shalat subuh berjamaah Carissa kembali berbaring ke ranjang.
"Tidak ikut jalan-jalan ke kebun?" tanya Devian sembari membelai lembut wajah cantik istrinya.
"Aku menyusul saja, Dev. Aku sangat lelah." jawab Carissa lemah.
"Apa rasanya sangat menyakitkan?" tanya Devian merasa bersalah menatap iba Carissa yang kembali meringkuk dalam selimut.
"Tidak sakit, Dev. Hanya saja tenagaku sudah kau kuras habis." gerutu Carissa pelan.
Devian tersenyum kecil kemudian merasa sangat bersalah kepada istrinya.
"Mau aku pijat?" tanya Devian berbisik di telinga Carissa.
"Memang kamu bisa?" tanya Carissa tak percaya.
"Buka bajumu." perintah Devian yang membuat Carissa membulatkan matanya.
Devian terkekeh melihat ekspresi istrinya.
"Aku hanya mau memijat punggungmu, Sayang. Tapi kalau kamu mau aku berbuat lebih juga tidak masalah." ucap Devian menggoda istrinya.
"Jangan macam-macam, Dev. Apa kamu tidak puas sudah membuatku seperti ini?" kata Carissa kesal sambil memanyunkan bibirnya.
Devian tertawa kecil kemudian mengambil body lotion milik Carissa di atas meja rias.
"Berbaliklah." perintah Devian yang langsung dituruti Carissa.
Dengan lembut Devian mengoleskan lotion ke punggung Carissa kemudian memijatnya perlahan. Carissa merasakan rileks dengan sentuhan tangan Devian. Dengan telaten Devian memijat titik-titik saraf untuk menghilangkan keletihan di tubuh istrinya. Setelah bagian punggung selesai, berlanjut memijat kaki kemudian tangan. Pijatan Devian membuat Carissa kembali terlelap.
"Maafkan aku sayang. Aku akan mengajakmu berolahraga agar kamu tidak kelelahan menghadapiku." bisik Devian kemudian membalikkan tubuh istrinya dan merapikan selimut untuk menutupi tubuh istrinya.
Devian mengecup kening Carissa kemudian bergegas turun karena pagi ini sudah ada janji dengan Pak Hasan.
"Mana istrimu?" tanya Papa Cakra saat mendapati Devian turun sendirian.
"Anu Pa. Rissa tidur lagi katanya nanti nyusul." jawab Devian gugup.
"Dasar pengantin baru." ucap Papa Cakra yang tau pasti putrinya kelelahan bercinta.
Devian tersenyum kemudian tertunduk malu.
"Mama nanti nyusul saja sama Rissa ya Pa." kata Mama Allisa.
"Yasudah Papa jalan dulu, Ma." pamit Papa Cakra kepada istrinya.
"Dev pamit, Ma." ucap Devian menyusul mertuanya.
Mama Allisa kembali ke dapur untuk menyiapkan bekal sarapan dibantu Bu Elis dan juga Marni.
Papa Cakra dan Devian berjalan keluar villa dan mendapati Pak Hasan sudah berdiri tak jauh dari pintu depan rumah.
"Ayo kita jalan." ucap Papa Cakra dijawab anggukan Pak Hasan dan juga Devian.
Ketiga pria itu berjalan berdampingan sambil berbincang. Devian menyimak perbincangan serius mertua dan Pak Hasan yang membahas masalah perkebunan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
Mama Allisa meminta Mbak Marni untuk membangunkan Carissa.
Tok Tok!
__ADS_1
"Non Rissa, bangun Non." kata Mbak Marni diluar pintu.
Carissa menggeliatkan tubuhnya saat merasa terusik dengan ketukan pintu dan suara wanita yang memanggilnya.
"Non ayo bangun." suara Mbak Marni kembali terdengar.
"Iya, Mbak. Rissa mau mandi dulu tunggu saja dibawah." sahut Carissa yang masih mengumpulkan kesadarannya.
Tak lama kemudian Carissa bergegas menuju kamar mandi.
"Ternyata Devian punya bakat memijat." batin Carissa tersenyum riang merasakan tubuhnya kembali segar.
Carissa memakai t-shirt v neck warna hitam dan juga sweatpants warna senada. Carissa juga memakai cardigan rajut panjang warna coral. Tak lupa Carissa mengikat rambutnya dengan gaya ponytail yang menampakkan leher jenjangnya. Carissa juga memakai sepatu sneakers yang menambah gayanya terlihat lebih sporty.
"Sudah siap sayang?" tanya Mama Allisa mendapati putrinya sudah didapur.
"Sudah Ma. Ada yang bisa Rissa bantu?" tanya Carissa.
"Sudah siap semua kok. Kamu bantu bawain aja ya." jawab Mama Allisa yang sedak mengemas bekal makanan dan memasukkannya pada container box plastik.
"Biar Rissa yang bawa Ma." ucap Carissa hendak menenteng container box yang sudah berisi beberapa bekal makanan.
"Biar saya saja Non." sahut Mbak Marni yang tangannya lebih cepat.
Carissa menghela nafas kemudian matanya tertuju pada Bu Elis yang masih menata termos dan juga gelas di box yang lebih kecil.
"Ini biar saya saja yang bawa Non." ucap Bu Elis sebelum Carissa mengambil alih box itu.
"Rissa bawa apa dong?" tanya Carissa menggerutu.
"Kamu bawa ini aja." ucap Mama Allisa menyodorkan keranjang yang berisi buah-buahan segar.
Carissa segera menenteng keranjang itu bersemangat akhirnya dia bisa merasa lebih berguna. Mama Allisa memasukkan tikar lipat ke tote bag berukuran sedang.
"Rissa kangen sekali dengan tempat ini." ucap Carissa sambil menikmati udara sejuk di kebun milik orangtuanya.
"Kamu harus sering meluangkan waktu untuk berkunjung kesini sayang." ucap Mama Allisa sambil membelai lembut putrinya.
"Iya Ma. Akan Rissa usahakan." sahut Carissa bersemangat.
"Bagaimana butikmu? Sudah menemukan tempat yang cocok?" tanya Mama Allisa kepada putrinya.
Carissa menggelengkan kepalanya.
"Belum dapat tempat yang cocok Ma. Kalaupun ada tempat strategis tapi biaya sewanya sangat fantastis." jawab Carissa menghembuskan nafas kasar.
"Bagaimana kalau kamu buka butik online saja? Jadi kamu menjual karyamu di website, sosmed atau marketplace online untuk sementara sambil menemukan tempat yang cocok." ucap Mama Allisa yang disambut pelukan Carissa.
"Wah Mama hebat sekali. Rissa malah gak kepikiran hal itu." kata Carissa girang.
"Tapi Rissa belum menemukan rekan Ma." ucap Carissa lagi.
"Memang yang kamu butuhkan rekan dalam hal apa?" tanya Mama Allisa.
"Masalah modal sudah ada Papa. Kalau butuh model untuk menjual karyamu bisa kamu sendiri kan?" tanya Mama Allisa lagi.
"Rissa butuh tenaga untuk membantu proses pembuatan gaun Ma. Dan juga Rissa belum punya kenalan penjual bahan terbaik di sini." jawab Carissa.
"Jangan terlalu pusing sayang. Kamu bisa mencari sambil jalan kan? Lagipula suamimu pasti sudah punya suplier bahan terbaik kan?" ucap Mama Allisa membuar Carissa tersadar.
"Mama benar kenapa Rissa bisa lupa punya suami boss perusahaan fashion." kata Carissa sambil menepuk jidatnya yang sontak membuat Mama Allisa, Bu Elis dan Mbak Marni tertawa.
__ADS_1
Setelah berjalan cukup jauh akhirnya keempat wanita itu bisa menyusul ketiga pria yang sedang sibuk memetik buah apel segar bersama para buruh panen.
"Papa, Pak Hasan, Devian ayo sarapan dulu." ucap Mama Allisa yang sudah berjalan mendekat.
Ketiga pria itu menoleh dan mengikuti langkah Allisa yang menuju pohon apel yang rindang. Disana sudah ada Carissa yang menggelar tikar kemudian Bu Elis dan Mbak Marni yang sibuk mengeluarkan perbekalan makan dan minum dari container box.
"Pas sekali kita sudah lapar karena sudah berkeliling cukup jauh." ucap Papa Cakra yang sudah duduk bersila di atas tikar disusul dengan orang-orang itu yang duduk membentuk setengah lingkaran.
Mama Allisa menuangkan teh chamomile ke dalam gelas kemudian menyerahkannya kepada Papa Cakra yang duduk di sampingnya.
Disamping Papa Cakra duduklah Pak Hasan sekeluarga dan disamping Mama Allisa ada Carissa bersama Devian.
"Sudah lama kita tidak melakukan hal sederhana ini." ucap Papa Cakra.
"Benar Pa. Putri kita sangat sibuk beberapa tahun terakhir ini." sahut Mama Allisa.
"Maafkan Rissa, Ma Pa." ucap Carissa memasang wajah sendu.
Benar. Beberapa tahun terakhir ini Carissa sudah banyak kehilangan momen kebersamaan dengan orangtuanya. Sibuknya perkuliahan dan pekerjaan menyita waktu Carissa. Ditambah kesibukan Papa Cakra dan Mama Allisa yang harus mengurus perkebunan dan juga perusahaan yang tak jarang menghabiskan waktu ke luar kota maupun luar negeri.
Mama Allisa memeluk hangat putri semata wayangnya itu penuh kasih sayang.
"Waktu cepat berlalu, Nak. Dulu Mama masih menggendong, menyusuimu tapi lihatlah sekarang kamu sudah menikah dan memiliki kehidupanmu sendiri." ucap Mama Allisa yang sudah terisak.
Carissa membalas pelukan Mama Allisa dan menangis haru. Carissa merasa sangat bersyukur memiliki orangtua yang sangat menyayanginya bahkan tidak pernah memaksakan kehendak padanya. Carissa hidup berkecukupan tanpa paksaan ataupun pengabaian tak seperti kisah kebanyakan orangtua kaya diluar sana. Paa Cakra dan Mama Allisa benar-benar membesarkan Carissa dengan penuh cinta dan tak pernah menjadikan kesibukan mereka sebagai alasan ketidakhadiran mereka di sisi Carissa.
"Sudah pagi-pagi jangan membuat suasana menjadi sedih seperti ini." ucap Papa Cakra yang juga menitikkan airmata namun segera menghapusnya agar tidak ketahuan orang lain.
Meskipun Papa Cakra terlihat dingin dan tegas namun jauh didalam hatinya dia memiliki sisi yang lembut. Bagaimana seorang ayah tidak terharu melihat putri semata wayang yang sudah ia besarkan dengan penuh kasih sayang sekarang sudah memiliki kehidupan dengan pria lain? Waktu benar-benar sangat cepat berlalu.
Pemandangan itu membuat Devian dan Pak Hasan sekeluarga ikut terharu dengan kehangatan hubungan orangtua dan anak yang mereka saksikan.
"Aku tidak akan menyakitimu istriku." batin Devian yang bisa merasakan ikatan cinta kasih yang besar antara mertua dan istrinya.
Sarapan pagi itu berlanjut dengan perbincangan hangat tentang kehidupan sehari-hari ditengah kesibukan para buruh yang memanen buah apel.
"Rissa nanti ikut suamimu berkeliling ya. Bagaimanapun di masa depan nanti kalian berdua dan keturunan kalian yang akan mengurus kebun ini." ucap Papa Cakra yang kompak dijawab anggukan kepala Carissa dan Devian.
Setelah selesai acara piknik keluarga yang sederhana itu, Mama Allisa, Bu Elis dan Mbak Marni mengemasi peralatan yang telah digunakan.
"Kami kembali ke villa dulu." pamit Mama Allisa bersama Bu Elis dan juga Mbak Marni.
"Mbak Marni usia berapa Pak?" tanya Carissa kepada Pak Hasan.
"Taun ini 25 tahun Non." jawab Pak Hasan.
"Seumuran denganmu, Dev." sahut Carissa membuat Devian mengulas senyum tipis.
"Maaf Rissa lancang Pak. Mbak Marni belum mau menikah?" tanya Carissa membuat Pak Hasan menghela nafas kemudian menggelengkan kepala.
"Kenapa Pak?" tanya Carissa penasaran.
"Katanya menikah itu ribet, Non. Laki-laki akan merepotkan dirinya." jawab Pak Hasan membuat Papa Cakra dan Devian melongo.
Carissa yang melihat ekspresi lucu itu hanya tertawa kecil.
"Padahal banyak laki-laki di kampung yang ingin melamarnya, Non." ucap Pak Hasan lagi.
"Oh iya Pak, Mbak Marni kuliah?" tanya Carissa lagi yang dijawab gelengan kepala Pak Hasan.
"Hanya lulusan SMK Tata Busana, Non. Dulu saya sudah menyuruhnya untuk kuliah ke kota namun katanya tidak mau meninggalkan saya dan ibunya di kampung. Padahal gaji saya disini sangat cukup untuk membiayainya." jawab Pak Hasan memasang wajah sedih.
__ADS_1
"Tata busana? Kebetulan sekali." gumam Carissa.
-BERSAMBUNG