
Jam pulang kerja pun tiba.
Saras bergegas mengemasi barangnya untuk segera kembali ke rumah.
Hari ini Saras tidak membawa sepeda motornya, masih ada sedikit trauma karena kejadian beberapa hari yang lalu yang membuatnya memilih naik taxi untuk pulang pergi kerja.
Hari semakin gelap, namun Saras masih belum mendapatkan taxi.
Tin Tin!
Suara klakson mobil terdengar dari arah depan membuat Saras segera mendongak dan mendapati mobil yang terasa familiar berhenti dihadapannya.
"Ayo aku antar pulang." suara bass seorang pria terdengar membuat Saras mengernyitkan dahinya ketika kaca mobil terbuka yang tak lain adalah Dewa.
"Ti-tidak, Pak. Saya naik taxi saja." ucap Saras kemudian segera menundukkan kepalanya.
Dewa segera turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Saras.
"Ayo ikut aku, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu." kata Dewa membuat Saras tak bisa lagi menolak dan masuk ke mobil.
Suasa hening beberapa saat. Pandangan Saras fokus ke depan, ia tidak berani bertanya ataupun melirik ke arah kemudi.
"Ehm. Di depan sana ada restoran, apa kamu mau makan dulu?" tanya Dewa menawarkan.
"Astaga. Aku tidak salah dengar kan? Pak Dewa mengajakku makan?" tanya Saras dalam hati.
Saras menoleh namun mendapati Dewa fokus dengan kemudinya.
"Hemm. Sepertinya aku salah dengar." gumam Saras.
"Bagaimana? Mau tidak?" tanya Dewa lagi membuat Saras menoleh dan tatapan mereka bertemu.
DEG!
"Terserah Pak Dewa saja." jawab Saras gugup.
Kedua insan itu pun memalingkan wajah masing-masing. Saras membuang muka dan kembali menatap jalanan begitu juga dengan Dewa, ia kembali fokus menatap ke depan.
"Apa-apaan ini?" tanya Dewa dalam hati.
Dewa merasakan detak jantungnya berdetak begitu cepat saat tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan Saras. Namun Dewa mencoba menghiraukannya dan kembali dengan mode dinginnya.
Tak butuh waktu lama, Dewa dan Saras sudah tiba di restoran. Kedua insan itu turun dari mobil dan masuk ke restoran dengan Dewa memimpin jalannya. Sedangkan Saras mengikuti di belakangnya dengan menundukkan kepalanya.
BUK!
"Aawww!" ringis Saras saat jidatnya terasa sakit menabrak tulang punggung Dewa.
"Memangnya kamu tidak bisa lihat jalan?" tanya Dewa kemudian memutarbalik badannya.
"A-anu, kenapa Bapak berhenti tiba-tiba sih?" ucap Saras kembali bertanya membuat Dewa mendengus.
"Lihat ini. Memangnya kita mau duduk dimana lagi?" tanya Dewa seketika membuat Saras melihat sekeliling restoran yang dipenuhi pengunjung dan hanya satu meja kosong yang tersisa yang saat ini dipilih Dewa.
"Ma-maaf, Pak." ucap Saras lirih.
Dewa tak menjawab, ia langsung duduk diikuti dengan Saras. Mereka duduk saling berhadapan. Pelayan pun menghampiri kemudian menyerahkan buku menu kepada mereka.
"Kau mau makan apa?" tanya Dewa melirik Saras yang nampak bingung saat membuka buku menu.
__ADS_1
"Entahlah. Saya bingung." jawab Saras polos membuat Dewa tanpa sengaja melengkungkan bibirnya.
Setelah sadar, Dewa kembali dengan wajah datarnya.
"Apa kau punya alergi makan sesuatu?" tanya Dewa dijawab gelengan kepala Saras.
"Baiklah, biar aku yang pesankan." ucap Dewa membuat Saras mengerutkan dahinya.
"Aku jamin kau pasti menyukainya." kata Dewa.
"Baiklah, terserah Bapak." ucap Saras membuat Dewa mendelik tajam.
Setelah menyampaikan pesanan kepada pelayan, Dewa kembali menatap tajam Saras.
Saras yang menyadari itu hanya menundukkan kepalanya dan tubuhnya sedikit bergetar.
"A..anu.. Apa saya melakukan kesalahan?" tanya Saras memberanikan diri namun suaranya terdengar penuh getaran.
"Apa aku setua itu?" tanya Dewa membuat Saras terkejut.
"Ma-maksud, Bapak?" tanya Saras membuat Dewa semakin tertusuk.
"Kau memanggilku Bapak, memangnya aku setua itu?" tanya Dewa lagi membuat Saras semakin bingung.
"Berapa usiamu?" tanya Dewa membuat Saras semakin tak mengerti.
"Ehm.. 25 tahun." jawab Saras gugup.
"Aku hanya 2 tahun lebih tua darimu. Kenapa kau memanggilku Bapak?" tanya Dewa lagi.
Kali ini Saras baru paham arah pertanyaan Dewa.
"Panggil saja namaku." jawab Dewa membuat Saras membulatkan matanya.
"Kenapa?" tanya Saras hati-hati.
"Huuh. Yasudah terserah kau saja mau memanggilku apa." jawab Dewa kesal.
"Haduuuh.. orang ini kenapa sih? Apa dia salah minum obat ya?" tanya Saras dalam hati.
Tak lama kemudian, makanan yang dipesan sudah tersaji di hadapan mereka. Saras melirik Dewa yang kembali memasang wajah datarnya.
"Huuhh.." Saras membuang nafas kasar.
"Ada apa?" tanya Dewa membuat Saras terperanjat.
"Ehm. Tidak." jawab Saras yang kemudian menyantap makanannya tanpa peduli dengan tatapan Dewa kepadanya.
Hari sudah gelap, Saras dan Dewa juga sudah selesai makan.
"Kau tidak perlu terlalu formal saat kita tidak sedang bekerja. Kau bisa memanggilku dengan namaku saja." ucap Dewa.
Saras memperhatikan Dewa namun hanya mendapati ekspresi datar pada wajah pria itu. Saras tidak bisa menebak pikiran dan isi hati Dewa.
"Maaf untuk sikapku beberapa waktu yang lalu." kata Dewa membuat Saras terkejut.
Saras menatap Dewa lekat, ia mencoba menyelidiki apakah pria di hadapannya itu benar Dewa yang selama ini ia kenal.
"Aku harap kita bisa memulai hubungan kita dari awal sebagai teman. Bagaimana?" tanya Dewa.
__ADS_1
Saras tak menjawab. Saras tak tahu harus berkata apa.
"Awwww.." ringis Saras saat merasakan sakit.
Saras mencubit pahanya untuk memastikan dia sedang bermimpi atau bukan.
"Ternyata bukan mimpi." gumam Saras.
"Bagaimana? Kau mau berteman denganku?" tanya Dewa lagi.
"Hemm.. Baiklah." jawab Saras membuat Dewa tersenyum puas namun segera mengubah ekspresinya menjadi datar lagi.
Saras bisa melihat perubahan ekspresi pria dihadapannya itu.
"Tapi aku tidak ingin berteman dengan pria yang tidak mempunyai ekspresi sepertimu." ucap Saras membuat Dewa mengerutkan keningnya.
"Maksudmu?" tanya Dewa.
"Iya. Kau pria berwajah datar. Tidak pernah tersenyum kepada orang lain. Sepertinya aku tidak cocok berteman denganmu." jawab Saras.
"Memangnya aku harus bagaimana agar cocok berteman denganmu?" tanya Dewa.
"Coba senyum!" jawab Saras.
"Hah?"
Dewa menampakkan giginya namun malah membuat ia terlihat menyeramkan.
"Bukan seperti itu." ucap Saras sambil menghela nafas.
Saras bangkit dari duduknya kemudian menghampiri tempat duduk Dewa.
"Maaf." ucap Saras.
Kemudian jarinya menyentuh sudut bibir Dewa lalu menariknya keatas sehingga berbentuk lengkungan.
"Ini baru senyum." ucap Saras.
"Seringlah tersenyum. Kau terlihat lebih tampan."
"Upss!" Saras segera menutup mulutnya.
Saras buru-buru kembali ke tempat duduknya. Sarasnya menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
"Apa yang aku lakukan? Bodoh!" umpat Saras dalam hati.
Dewa tersenyum melihat tingkah Saras.
"Dia sangat menggemaskan." batin Dewa.
"Jangan malu begitu. Kau sudah berani menyentuhku tadi. Ayo kita pulang." ajak Dewa yang langsung mendapat tatapan tajam dari Saras.
"Tidak usah diperjelas. Huh!" gerutu Saras.
"Aku kan tidak sengaja." ucap Saras yang berjalan lebih dulu meninggalkan Dewa begitu saja.
"Imut." gumam Dewa.
-BERSAMBUNG
__ADS_1