Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Kejutan


__ADS_3

Hari menjelang sore, Carissa bangun dari tidurnya. Carissa membuka matanya perlahan namun tak mendapati Devian disampingnya. Carissa memutar bola matanya untuk mencari keberadaan Devian tapi nihil.


"Dev? Sayang?" panggil Carissa lirih.


Devian yang sedang duduk di soffa sibuk dengan ponselnya samar-samar mendengar suara Carissa. Devian bergegas menuju tempat tidur.


"Ya Sayang. Aku disini." sahut Devian menampakkan senyum hangat.


"Kau darimana?" tanya Carissa menatap Devian penuh selidik.


"Aku duduk di soffa, Sayang. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan tadi." jawab Devian yang mengecup kening Carissa.


"Ayo mandi." ajak Devian.


"Memang mau kemana?" tanya Carissa malas.


"Hemm.. kita siap-siap ke rumah orangtuaku. Ayah dan Bunda ingin kita mengunjunginya. Tapi sebelum itu aku mau mengajakmu ke suatu tempat." jawab Devian lalu memeluk tubuh Carissa erat.


"Kemana?" tanya Carissa penasaran.


"Rahasia. Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu." jawab Devian lagi.


"Kejutan? Apa itu?" tanya Carissa lagi dengan dahi mengkerut.


Devian terkekeh melihat ekpresi Carissa yang sangat menggemaskan.


"Nanti kau juga akan tau." jawab Devian langsung mengangkat tubuh Carissa menuju kamar mandi.


30 menit kemudian dua sejoli itu baru keluar dari kamar mandi.


"Sebaiknya aku mandi sendiri saja. Kau mau membuatku masuk angin." gerutu Carissa kesal.


"Maaf, Sayang. Ayo kita berkemas. Makan di jalan aja ya?" tawar Devian pada istrinya.


"Oke. Aku ingin makan bakso daging di simpang lima." jawab Carissa yang tiba-tiba terbayang bakso daging.


"Baiklah." jawab Devian setuju.


Carissa sibuk mengemasi pakaian ke dalam koper. Devian mengecek kembali barang-barang pribadinya sebelum meninggalkan kamar hotel.


"Sudah beres, Sayang?" tanya Devian yang dijawab anggukan Carissa.


Devian mengambil alih koper dan menyeretnya lalu menggandeng tangan Carissa. Pengantin baru itu masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dasar dan segera ke parkiran mobil. Setelah memasukkan koper ke dalam bagasi Devian dan Carissa masuk ke dalam mobil. Devian menginjak gas mobilnya menuju simpang lima.


20 menit perjalanan, mobil Devian berhenti di sebuah kedai bakso yang dipenuhi oleh pengunjung. Carissa segera membuka pintu mobil tak sabar untuk menyantap bakso daging yang ada didepannya.


"Tunggu aku, Sayang." teriak Devian pelan yang melihat Carissa berlari kecil masuk ke kedai bakso. Carissa tak menghiraukan Devian, ia langsung menuju kursi yang masih kosong lalu segera duduk. Devian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat antusias Carissa.


"Mas, bakso daging 2 ya. Es jeruk 1 es teh 1." teriak Carissa pada karyawan kedai yang sedang melintas membawa pesanan pelanggan.


"Baik, Mbak." jawab karyawan itu.


"Lho Mbak Rissa? Udah lama gak mampir kesini." sapa wanita paruh baya dari tempat kasir alu meghampiri Carissa.

__ADS_1


"Iya, Buk. Rissa sibuk baru sempet mampir kesini lagi. Kangen berat sama bakso disini." jawab Carissa antusias dengan menyimpulkan senyum manis dibibirnya.


Wanita paruh baya itu adalah Buk Rina, istri dari pemilik kedai bakso.


"Ini siapa, Mbak Rissa?" tanya Buk Rina penasaran melihat pria yang duduk di sebelah Carissa.


"Suami Rissa, Buk." jawab Carissa malu-malu.


"Wah selamat ya, Mbak Rissa. Alhamdulillah. Mbak Rissa pintar juga cari suami ganteng." ucap Buk Rina yang semakin membuat Carissa tersipu.


"Saya Devian suami Rissa, Buk." ucap Devian memperkenalkan diri pada Buk Rina.


"Memang cocok jadi suami Mbak Rissa yang cantik." puji Buk Rina lagi.


"Terimakasih." Devian tersenyum pada Buk Rina.


"Yasudah dilanjut, Mbak Rissa Mas Devian. Selamat menikmati." ucap Buk Rina ketika pesanan Carissa dan Devian sudah datang lalu meninggalkan pasangan pengantin baru itu.


"Sepertinya kamu sangat akrab dengan ibu itu." ucap Devian.


"Ya, Buk Rina istri dari pemilik kedai ini. Dulu waktu aku masih kuliah sering mampir kesini sama Aninda. Disini memang bakso dagingnya paling enak dan gak pernah sepi pelanggan." jawab Carissa sambil menusuk bakso dengan garpu lalu memasukkannya dalam mulut.


Devian tersenyum melihat Carissa makan dengan lahap.


"Kau tak makan, Dev? Cobalah ini enak sekali." ucap Carissa sambil menyodorkan sebuah bakso kedekat mulut suaminya. Devian segera membuka mulutnya.


"Hem.. Enak." ucap Devian lalu segera menarik mangkok yang sudah berisi bakso miliknya. Devian makan dengan sangat lahap yang membuat Carissa terkekeh pelan. Mangkok Devian bersih tanpa meninggalkan sisa sedikitpun.


Menempuh jarak yang lumayan jauh kira-kira butuh waktu 20 menit, mobil Devian memasuki kawasan perumahan elit. Devian menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang tak jauh dari pintu masuk perumahan. Bangunan 1 lantai minimalis modern yang tampak mewah dengan warna tembok putih dan kombinasi coklat dari unsur kayu. Halaman depannya cukup luas terdapat taman mini yang cukup indah.


"Kita sudah sampai, Sayang." ucap Devian membukakan pintu mobil untuk Carissa.


"Rumah siapa ini?" tanya Carissa bingung.


Devian merogoh sesuatu dari saku celananya. Kemudian menyerahkan sebuah kunci kepada Carissa.


"Bukalah. Kita akan tinggal disini. Apakah kamu keberatan?" ucap Devian memandang Carissa dengan senyuman lembut.


"Ini rumahmu?" tanya Carissa takjub. Carissa mengedarkan pandangannya pada tampilan depan rumah yang mewah dan indah.


Devian menggandeng tangan Carissa lalu meminta Carissa untuk membuka pintu rumah.


"Selamat datang di rumah kita, Sayang." ucap Devian mengecup kepala Carissa lembut.


Carissa takjub dengan interior rumah yang terkesan elegan. Tak banyak furniture namun komposisinya pas. Carissa menuju sebuah kamar yang sangat luas terdapat ranjang king size dan kamar mandi dalam.


Carissa kemudian menuju sebuah ruangan yang terdapat rak buku dan meja kerja. Carissa menuju ruangan yang terdapat jendela dan pintu kaca besar yang merupakan dapur dengan bar mini yang menghadap taman belakang.


"Apa kamu suka, Sayang?" tanya Devian yang sedari tadi mengikuti Carissa dari belakang.


Carissa menoleh kepada Devian lalu tersenyum manis.


"Aku sangat suka, Dev. Pasti kau menghabiskan banyak uang untuk rumah ini." jawab Carissa meraih pinggang Devian lalu menyenderkan kepalanya pada dada bidang Devian.

__ADS_1


Devian memeluk Carissa erat lalu mencium keningnya sekilas.


"Uang bisa dicari lagi, Sayang. Lagipula semua ini memang aku siapkan untuk istriku. Maaf kalau rumah ini sederhana. Banyak perabotan yang belum terbeli." ucap Devian.


Carissa melepaskan rangkulannya di pinggang Devian lalu menatap wajah Devian dan mencium bibir Devian sekilas.


"Seperti ini kau bilang sederhana? Ini sudah mewah, Sayang. Lagipula yang terpenting rumah ini menjadi tempat yang paling nyaman dan tempat yang akan selalu kita rindukan untuk pulang." Carissa memeluk tubuh Devian erat.


Devian tersenyum mendengar ucapan Carissa.


"Aku akan selalu berusaha membahagiakanmu, Sayang." ucap Devian dalam hati.


Setelah puas melihat rumah baru, Devian mengajak Carissa untuk ke rumah orangtuanya.


"Sayang, Ayah dan Bunda sudah menunggu. Ayo kita berangkat." ajak Devian.


"Baiklah." sahut Carissa.


"Tunggu, Sayang. Aku lupa mengembalikan ini." ucap Devian yang merogoh ke sakunya kemudian menyerahkan sebuah dompet kepada Carissa.


Carissa meraih dompet itu dan mengerutkan keningnya.


"Ini? Kok bisa sama kamu?" tanya Carissa heran. Dompet yang selama ini ia cari-cari.


"Kau ingat pertemuan pertama kita? Saat kau menabrakku dan mengataiku pria gila?" ucap Devian membantu Carissa untuk mengingat kembali.


"Ya Allah, ternyata selama ini ada sama kamu. Pantas saja tidak ketemu. Aku sampai menyerah mencarinya." ucap Carissa membuka dompetnya.


"Maaf, aku sudah lama menyimpannya di laci kantorku. Aku baru teringat beberapa hari yang lalu." Devian merasa bersalah.


Tanpa sengaja saat Carissa antusias membuka dompetnya membuat sebuah foto usang terjatuh. Devian mengernyitkan dahinya saat melihat foto seorang anak laki-laki namun tak begitu jelas wajahnya. Carissa segera mengambil foto itu dan memasukkannya kembali ke dalam dompet.


"Foto siapa itu?" tanya Devian penasaran.


"Bu-bukan siapa-siapa, Dev. Hanya teman masa kecilku." jawab Carissa gugup.


"Ayo berangkat. Ayah sama Bunda pasti sudah lama menunggu." ajak Carissa mencoba mengalihkan pembicaraan.


Devian sedikit curiga namun berusaha menepisnya dan mengikuti Carissa yang sudah berjalan keluar rumah.


"Siapa laki-laki dibalik foto itu? Apakah itu kekasih masa kecil Rissa?" tanya Devian dalam hati.


-BERSAMBUNG


*


*


*


(Maaf ya Readers, minthor kalau hari sabtu minggu sibuk di lapangan jadi gak sempat update cerita. Terimakasih sudah setia dengan cerita Gejolak Cinta Tuan dan Nona Muda. Semoga suka yaa 🤗🤗🤗)


Jangan lupa like komen dan jadikan favorit untuk dapat notif episode baru ya DevRisaa lovers ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2