
Tadi siang Alex berpamitan padanya untuk bertemu vendor pernikahan setelah meeting.
Mata Devian memicing mendapati tas wanita yang tergeletak di soffa. Devian bergegas turun dari ranjang lalu berniat mendobrak pintu toilet untuk mengetahui siapa yang berani masuk ke ruangannya. Devian akan menyeret wanita ****** yang berani menggunakan toiletnya. Devian sudah berdiri di depan pintu bersamaan pintu itu terbuka dari dalam. Devian terbelalak melihat wanita yang berdiri dihadapannya. Dengan cepat Devian menarik tangan Carissa lalu mendekap erat tubuh wanita yang sangat ia rindukan. Perlakuan Devian yang tiba-tiba membuat Carissa terkejut lalu berusaha melepaskan diri dari dekapan Devian.
"Diamlah. Aku sangat merindukanmu, Sayang." ucap Devian yang membuat Carissa terpaksa menghentikan pemberontakkannya.
Cukup lama Devian memeluk tubuh Carissa.
"Dev, sudah lepaskan. Kau bisa membunuhku!." gerutu Carissa kesal...
Devian terkekeh lalu menguraikan pelukkannya dari Carissa.
Carissa merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan lalu duduk di soffa. Devian mengikuti Carissa dan duduk di sampingnya. Devian menatap wajah cantik wanita yang hampir membuatnya gila selama 1 bulan ini.
"Sudah puas menatapku?" ucap Carissa yang seketika Devian mengedipkan matanya dan tertawa kecil.
"Ya. Wajah cantikmu ini membuatku hampir gila karena sudah lama tak memandangnya." ucapan Devian sontak memancing gelak tawa Carissa.
Devian tertegun dan tanpa sadar ia tersenyum.
"Sepertinya kau semakin pintar berkata-kata, Dev." sahut Carissa.
"Aku tidak membual, Sayang. Sungguh aku sangat merindukanmu." ucap Devian lagi.
Carissa menatap wajah Devian dan mendapati sorotan mata penuh cinta.
Carissa melemparkan senyum manis pada Devian.
"Aku juga sangat merindukanmu. Itulah sebabnya sekarang aku berada dihadapanmu." ucap Carissa yang membuat Devian mengerutkan keningnya.
"Bukannya studimu masih 1 bulan lagi? Kenapa kamu pulang, Sayang? Bukankah nanti akan semakin memperlambat kelulusanmu? Itu membuatku harus menunggumu lebih lama lagi untuk menikahimu." tanya Devian memberondong.
Carissa menghela nafas lalu menatap kembali wajah tampan Devian.
"Aku rasa kita bisa menikah minggu depan." jawab Carissa yang membuat mulut Devian menganga lebar.
"Kau tidak mau menikahiku minggu depan?" tanya Carissa yang tak mendapat respon dari Devian.
Devian segera mengembalikan kesadarannya, ia masih tak percaya dengan ajakan Carissa. Devian terkejut dan juga ada kebahagiaan didalam hatinya.
"Bukan begitu, Sayang. Aku sudah sangat siap untuk menikahimu. Bahkan jika hari ini kau bersedia, aku akan membawamu ke penghulu besok." jawab Devian lalu mendapatkan pukulan kecil di bahunya dari Carissa.
Carissa menundukkan wajahnya yabg tersipu malu. Devian tersenyum melihat Carissa yang berusaha menyembunyikan kedua pipinya yang sudah merona.
Devian membelai lembut rambut Carissa.
"Hanya saja aku tidak ingin mengganggu studimu. Aku ingin kau lulus lebih dulu baru melaksanakan pernikahan." ucap Devian yang kemudian mengecup kening Carissa dengan lembut.
Carissa membuka tasnya lalu mengambil sebuah amplop dan menyerahkannya pada Devian.
"Apa ini?" Devian bertanya sambil mengernyitkan keningnya.
"Bukalah." jawab Carissa dengan melemparkan senyum pada Devian.
Devian segera membuka amplop itu untuk menjawab rasa penasarannya. Dengan teliti ia membaca setiap huruf yang ada di kertas itu dan mendapati sebuah kata "LULUS". Devian menoleh ke arah Carissa dan mendapat senyuman manis.
"Kau sudah lulus?" tanya Devian memastikan.
Carissa menganggukkan kepalanya.
"Serius? Bukannya bulan depan?" tanya Devian lagi tak percaya.
Carissa menggenggam tangan Devian lalu menatap wajah Devian.
"Kau ingat saat aku jatuh sakit?" tanya Carissa.
"Iya, aku sangat ingat. Untuk ertama kalinya aku merasa tidak berguna karena tidak bisa merawat orang yang kucintai saat jatuh sakit." jawab Devian dengan tatapan sendu.
Carissa tersenyum mendengar jawaban Devian.
"Kau tau, Dev. 2 minggu itu aku habiskan untuk mengerjakan tugas siang dan malam. Bahkan hari sabtu minggu aku pun masih meminta tugas tambahan dari pembimbingku. Sampai akhirnya aku tumbang dan jatuh sakit. Tapi itu tak menyurutkan semangatku untuk segera menyelesaikan studiku. Saat berjauhan denganmu aku merasa separuh hidupku hilang. Bahkan dadaku terasa sesak akibat menahan rindu." Carissa menjawab dengan jujur dan setiap katanya menembus jantung Devian.
"Kau ingat saat memberiku tawaran untuk menjadi isterimu?" tanya Carissa lagi yang dijawab dengan anggukan kepala Devian.
"Saat itu mungkin aku belum bisa memberikan jawaban, Dev. Tapi saat aku tiba di New York dan merasakan sakitnya berjauhan darimu, aku bertekad untuk menerima tawaranmu setelah aku selesai dengan studiku." ucap Carissa yang disambut pelukan Devian.
__ADS_1
"Terimakasih, Sayang. Terimakasih sudah berjuang untukku dan selamat atas kelulusanmu. Aku bangga padamu." Devian semakin mengeratkan pelukannya pada Carissa.
Carissa membelai lembut punggung Devian. Pelukan hangat yang selama ini ia rindukan membuatnya sangat nyaman.
"Sepertinya aku harus melamarmu lebih dulu sebelum kita menikah." ucap Devian.
"Terserah kau saja." jawab Carissa yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Sepertinya kau tidak mau lepas dari tubuhku." ucap Devian yang membelai lembut rambut panjang Carissa.
"Diamlah, Dev. Biarkan aku memelukmu lebih lama." sahut Carissa membenamkan wajahnya pada dada bidang Devian.
"Sepertinya kita harus segera menikah agar kita bisa melakukan lebih dari ini." goda Devian yang membuat tubuh Carissa meremang.
"Hentikan, Dev. Jangan menggodaku." ucap Carissa malu dan seketika melepaskan pelukannya dari tubuh Devian.
"Kenapa dilepas? Ayo kita berpelukan lagi." ajak Devian dengan nada menggoda yang membuat pipi Carissa seperti tomat.
"Tidak. Ayo antarkan aku pulang." ucap Carissa yang masih menundukkan kepalanya.
Devian terkekeh melihat ekspresi Carissa yang sangat menggemaskan.
"Baik. Ayo kita pulang." ajak Devian kemudian mengambil jasnya dan menggandeng tangan Carissa.
Carissa dengan senang hati menyambut tangan Devian dan berjalan beriringan. Dua sejoli itu memasuki lift eksekutif. Beberapa kali mereka saling melemparkan senyum.
Ting!
Pintu lift terbuka membuat mata para karyawan fokus kepada dua sejoli yang bergandengan dan penuh kebahagiaan. Wajah CEO yang sangat dingin seolah hilang dari wajah Devian saat bersama Carissa.
"Itu tadi Pak Devian?" tanya seorang karyawan wanita pada rekannya.
"Iya. Ternyata Bos bisa tersenyum seperti itu." sahut karyawan yang lain.
"Si kulkas memang akan mencair dengan pawangnya. Memang cuma Carissa yang bisa menaklukan Pak Devian." gumam Tiara dalam hati lalu terkekeh pelan.
"Kamu mau langsung aku antar ke rumah?" tanya Devian saat sudah duduk di dalam mobil bersama Carissa.
"Ya, aku sangat lelah Dev. Perjalanan yang membosankan." jawab Carissa.
Selang beberapa menit, Carissa sudah terlelap.
"Dasar rubah cilik, rupanya kau sangat kelelahan. Terimakasih atas perjuanganmu untukku." ucap Devian sembari membenarkan posisi kepala Carissa pada sandaran kursi.
30 menit kemudian, mobil Devian sudah memasuki halaman rumah Carissa. Devian membiarkan Carissa yang masih tertidur di dalam mobil. Devian tak tega membangunkan kekasih hatinya yang kelelahan.
Pintu rumah terbuka, terdapat Papa Cakra dan Mama Allisa. Melihat calon mertuanya keluar dari rumah Devian segera turun dari mobilnya.
"Assalammu'alaikum Om, Tante." sapa Devian lalu menjabat tangan kedua paruh baya yang berdiri dihadapannya.
"Wa'alaikumsalam, Nak Devian. Mana Rissa?" tanya Mama Allisa yang melihat Devian sendirian.
"Tidur, Tante." jawab Devian seraya menunjuk ke dalam mobilnya.
"Astaghfirullah, anak ini." ucap Allisa segera menuju ke mobil Devian.
"Jangan, Tante. Rissa sangat lelah, biarkan saja ia tidur dulu." cegah Devian sebelum Allisa membangunkan putrinya.
"Baiklah. Masuk dulu, Dev. Tante buatkan teh sambil kita ngobrol ya." ajak Allisa kepada calon menantunya.
"Baik, Tante." Devian menganggukan kepala dan tersenyum tipis. Devian mengikuti calon mertuanya memasuki rumah.
Devian sangat takjub dengan rumah orangtua Carissa. Desainnya tidak mencolok, sederhana namun sangat elegan.
"Duduklah. Ada yang ingin Om bicarakan sama kamu." ucap Cakra lalu duduk di soffa ruang tamu.
"Iya, Om." jawab Devian lalu ikut duduk di soffa yang berada di hadapan Cakra.
"Om langsung saja tidak ingin basa-basi, jadi kapan kamu akan menikahi Carissa?" tanya Cakra menatap tajam Devian.
"Secepatnya, Om." jawab Devian mantap.
"Kapan tepatnya?" tanya Cakra lagi.
"Awalnya saya berencana menikahi Rissa satu bulan lagi, sesuai waktu studi normal. Tapi karena Rissa lulus lebih cepat dari perkiraan, maka saya juga akan mempercepat untuk menikahi Rissa, Om. Bahkan Rissa meminta saya untuk menikahinya minggu depan." jawab Devian yang membuat Cakra takjub.
__ADS_1
"Rissa berkata seperti itu?" tanya Mama Allisa yang sudah membawa dua cangkir teh lalu meletakkanya di atas meja yang ada dihadapan Devian dan Cakra.
Devian menganggukkan kepalanya.
Cakra terkekeh pelan.
"Sepertinya aku akan segera menimang cucu." ucap Cakra yang membuat Devian gugup.
"Lalu bagaiamana persiapanmu, Nak?" tanya Mama Allisa yang melihat kegugupan di wajah Devian.
"Alhamdulillah, sudah 90% Tante. Hanya saja jika menikahnya minggu depan, Dev harus menghubungi vendornya dulu bisa tidak kalau acaranya dimajukan." jelas Devian.
"Tidak perlu. Tidak masalah kalau acara resepsinya tetap bulan depan. Minggu depan kalian cukup melakukan akad dan Om yang akan mengadakan pestanya." ucap Cakra yang disambut senyuman Allisa.
"Tapi, Om.."
"Sudah. Om juga ingin merayakan hari bahagia putri Om satu-satunya." potong Cakra sebelum Devian menyelesaikan ucapannya.
"Baiklah, Om." jawab Devian tersenyum lega.
"Dev kenapa kau tidak membangunkanku?" suara Carissa terdengar dari luar yang disambut tawa Papa Cakra, Mama Allisa dan Devian.
Carissa masuk ke dalam rumah dengan tampilan berantakan. Carissa memasang wajah kesal.
"Tega sekali kau meninggalkanku di dalam mobil. Papa dan Mama juga, kenapa tidak membangunkan Rissa?" protes Carissa yang masih mencoba mengembalikan kesadarannya.
"Tadi Mama sudah berniat membangunkanmu tapi dilarang Devian, dia tidak tega melihatmu sangat lelah." ucap Allisa memberi pengertian pada putrinya.
"Maafkan aku, Rissa." ucap Devian bersalah.
"Hem." sahut Carissa yang masih kekal.
"Sudah jangan marah, Sayang." ucap Allisa yang mengelus lembut kepala Carissa.
"Om Tante, Dev pamit dulu ya. Nanti Dev kesini lagi jemput Rissa untuk mengajaknya makan malam." ucap Devian sembari menjabat tangan dan mencium punggung tangan Cakra dan Allisa.
"Hati-hati dijalan, Nak. Terimakasih banyak." ucap Mama Allisa.
"Bahkan aku belum setuju dengan ajakanmu." gerutu Carissa yang masih kesal.
Devian hanya tersenyum mendengar ucapan Carissa.
"Jangan begitu, Sayang. Devian itu sangat perhatian padamu. Dia sangat peduli dengan dirimu." ucap Mama Allisa.
"Sudahlah, lebih baik kau pulang dulu, Dev. Biarkan saja Rissa merajuk, nanti kalau kau bertemu dengan wanita yang bisa memahamimu baru dia menyesal." ucap Cakra yang disambut kekehan Devian.
"Papa!" pekik Carissa.
"Assalammu'alaikum." Devian mengucapkan salam sebelum meninggalkan rumah Carissa.
"Wa'alaikumsalam." balas Cakra, Allisa, dan Carissa serempak.
"Papa kenapa bilang seperti itu." protes Carissa tak terima.
"Salah siapa kau marah pada calon suamimu hanya karena masalah kecil." jawab Cakra.
"Rissa bukan marah, Pa. Hanya sedikit kesal." ucap Carissa membela diri.
"Sama saja, Nak. Papa tidak ingin hal-hal seperti ini terjadi saat kau sudah menikah dengan Devian. Lebih baik saling mengalah untuk memperkecil konflik. Paham?" pesan Cakra menasehati putri kesayangannya.
"Paham, Pa. Maafkan tingkah kekanakkan Rissa." ucap Carissa merasa bersalah.
"Tidak masalah, Nak. Yang penting kamu harus terus belajar dan menjadi dewasa dalam menyikapi semua hal yang terjadi nanti." tambah Cakra lagi lalu mendekap hangat tubuh putrinya yang sebentar lagi akan memulai hidup baru dengan pria pilihannya.
"Aku akan selalu mengingat pesan Papa. Terimakasih banyak, Pa." ucap Carissa membalas pelukan Cakra dengan lembut.
Allisa menangis haru menyaksikan kemesraan suami dan putri semata wayangnya.
-BERSAMBUNG
*
*
*
__ADS_1