
1 minggu berlalu, Devian sudah kembali bekerja di perusahaan MF Group. Berangkat pagi, pulang menjelang malam merupakan rutinitas Devian. Sedangkan Carissa sibuk survei tempat kesana kemari karena masih belum menemukan tempat yang cocok untuk membuka butiknya.
Siang ini, Carissa sudah mempunyai janji untuk makan malam bersama sahabatnya, Saras. Tempatnya tidak jauh dari MF Group karena Saras masih harus kembali bekerja setelah makan siang.
"Rissa disini." panggil Saras sambil melambaikan tangannya kepada Carissa yang baru saja masuk ke cafe.
Carissa tersenyum kemudian menuju kursi dimana Saras sudah menunggunya.
"Maaf aku telat, tadi jalanan macet." ucap Carissa.
"Tidak masalah. Aku sudah pesan tadi, kamu pesan sendiri ya." kata Saras lalu memanggil pelayan untuk datang ke mejanya.
"Apa yang ingin kamu ceritakan padaku?" tanya Carissa tanpa basa-basi setelah ia selesai memesan makanan.
"Aduh, gimana ya aku ceritanya..." ucap Saras menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada apa cerita saja, apa kamu sedang dalam masalah?" tanya Carissa lagi yang mendapat gelengan kepala Saras.
"Emm ini, sebenarnya kejadian kurang lebih 2 minggu yang lalu. Waktu itu aku sedang perjalanan pulang kerja, hari sudah malam. Di tengah perjalanan, tiba-tiban ban motorku bocor. Eh aku malah ketemu dengan pria mabuk yang berniat kotor padaku. Tapi...."
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Carissa khawatir memotong cerita Saras.
Saras tersenyum kemudian menggenggam tangan sahabatnya yang khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Beruntung ada pria yang kebetulan melewati jalan itu dan menyelamatkanku. Andai saja pria itu tidak datang, mungkin hari ini aku akan sangat malu untuk bertemu denganmu." sambung Saras memyeritakan peristiwa malam itu.
"Alhamdulillah. Kenapa kamu sekarang kamu menceritakannya padaku?" tanya Carissa dengan wajah cemberut.
"Maaf, Riss. Aku tidak ingin mengganggu hari-hari bahagiamu karena baru saja kamu menikah. Aninda juga begitu, ia sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya." jawab Saras jujur.
"Kamu itu, Ras. Kita ini sahabat, ceritalah kalau kamu punya masalah. Untung saja kamu selamat dari pria mabuk dijalanan itu. Ngomong-ngomong siapa pria yang menyelamatkanmu itu?" tanya Carissa penasaran.
"Em, itu...." Saras menundukkan kepalanya.
Carissa bisa melihat wajah sahabatnya yang sudah memerah.
"Aih, siapa pria yang bisa membuat sahabatku ini tersipu?" tanya Carissa lagi menggoda sahabatnya.
"Em, dia Pak Dewa." jawab Saras membuat mata Carissa membulat.
"Pak Dewa? HRD di MF Group?" tanya Carissa penasaran yang dijawab anggukan kepala Saras.
"Wow, kebetulan sekali. Jangan-jangan takdir jodoh kalian dimulai dari awal yang seperti ini. Seorang pangeran menyelamatkan seorang putri, seperti kisah heroik dalam cerita cinta di negeri dongeng." cerocos Carissa membuat Saras segera membungkam mulut sahabatnya yang tidak berhenti meledeknya.
"Jangan bicara omong kosong, Ris. Dia tetap saja pria dingin yang tidak berperasaan." ucap Saras yang raut wajahnya mendadak berubah sedih.
"Maksudmu?" tanya Carissa melihat perubahaan ekspresi sahabatnya membuatnya semakin penasaran.
"Hemm... Setelah malam itu, aku bermaksud untuk mengucapkan terimakasih kepadanya. Setelah kembali masuk ke perusahaan, aku menyiapkan makan siang untuknya. Sudah capek-capek masak, kamu tau apa yang dia lakukan? Dengan tanpa dosa, dia bilang kalau makanan itu sudah ia buang. Dasar pria menyebalkan." jawab Saras menceritakan kisahnya dengan Dewa, tak lupa juga mengumpat pria yang telah menyelamatkannya.
Carissa terkekeh melihat sahabatnya yang kesal itu.
"Kamu malah menertawakanku." gerutu Saras.
"Maaf maaf. Kamu ini kenapa polos sekali, Ras." ucap Carissa membuat Saras mengerutkan keningnya.
"Iya, mungkin Dewa tidak benar-benar membuang makanan yang sudah kamu siapkan itu." sambung Carissa lagi.
"Maksudmu?" tanya Saras tidak mengerti dengan perkataan sahabatnya.
Carissa menghela nafas kemudian menatap Saras.
"Menurutku dengan sifat Dewa itu, bisa saja sebenarnya dia menghabiskan makanan yang kamu buat tapi gengsinya yang sangat besar sehingga ia bilang saja sudah membuangnya." jawab Carissa membuat Saras semakin bingung.
"Sudahlah kamu belum bisa mengerti. Jadi setelah kejadian itu bagaimana hubunganmu dengan Dewa penyelamatmu itu?" tanya Carissa penasaran.
"Hubungan apa yang kamu maksud? Aku sudah sakit hati karena dia membuang hasil masakanku begitu saja. Dia memang pria tidak berperasaan lebih baik aku menghindarinya." jawab Saras menceritakan dengan jujur.
"Jadi kalian masih seperti biasanya?" tanya Carissa memastikan.
"Ya lebih baik seperti itu." jawab Saras membuat Carissa tidak bisa berkata-kata.
Pesanan sudah datang, dua wanita itu melanjutkan dengan menyantap hidangan masing-masing.
"Terimakasih, Rissa sudah mau mendengarkan cerita konyolku." ucap Saras kepada sahabatnya.
__ADS_1
"Tidak perlu sungkan, kita ini sahabat." sahut Carissa.
"Yasudah, maaf aku duluan ya harus kembali bekerja." pamit Saras memeluk Carissa.
"Iya, semangat kerjanya." balas Carissa kemudian melambaikan tangan kepada Saras sebagai tanda perpisahan.
Drt Drt
Tiba-tiba ponsel Carissa bergetar, ia pun segera mengangkatnya.
"Hallo suami.." sapa Carissa.
"Hallo istriku, kamu dimana?" tanya Devian lembut.
"Em aku habis makan siang sama Saras di resto dekat perusahaan." jawab Carissa.
"Kenapa tidak mengajakku?" tanya Devian protes.
"Ini masalah wanita sayangku. Kamu sudah makan siang?" tanya Carissa.
"Belum sayang. Kebetulan masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan." jawab Devian.
"Yasudah aku bungkuskan makan siang ya, setelah itu aku kesana." ucap Carissa.
"Perlu aku jemput sayang?" tawar Devian.
"Tidak perlu sayang. Dekat kok aku jalan kaki saja." jawab Carissa.
"Yasudah, hati-hati ya sayang. Langsung ke ruanganku saja." ucap Devian.
"Iya sayang." Carissa memutuskan panggilannya.
Carissa memesan sebuah menu makan siang dan juga beberapa camilan. Tak perlu menunggu lama pesanan Carissa sudah terbungkus rapi.
Bruuk!
Saat hendak keluar dari cafe itu tanpa sengaja seorang pria tak dikenal menabrak lengan Carissa.
"Maaf saya tidak sengaja." ucap pria itu merasa bersalah.
"Wajah perempuan itu kenapa tidak asing bagiku ya?" gumam pria itu.
"Carissa.. Iya tadi itu Carissa Elvina." ucap pria itu yakin kemudian berbalik badan namun Carissa sudah pergi begitu saja.
"Ah sial. Kenapa aku bodoh sekali tidak langsung mengenalinya. Kapan lagi aku bisa bertemu dengannya?" batin pria itu.
Carissa berjalan kaki menuju MF Group, ia memang sengaja tidak ingin dijemput Devian. Carissa ingin menikmati suasana kota di siang hari yang sudah lama tidak ia rasakan. Suara klakson kendaraan yang macet, sinar matahari yang tepat diatas kepala membuatnya bercucuran keringat.
Setelah berjalan selama 10 menit, Carissa memasuki kawasan perusahaan MF Group.
"Selamat siang Ris... Maaf Ibu CEO." sapa Tiara.
"Siang, Tiara. Panggil namaku saja seperti biasa." sahut Carissa tersenyum ramah.
"Ingin menemui Pak CEO? Langsung naik lift eksekutif saja, Bu." ucap Tiara.
"Kamu ini terlalu formal, Ti. Yasudah aku naik dulu ya." pamit Carissa kemudian masuk ke lift eksekutif menuju ruangan suaminya.
"Hampir saja memanggil namanya. Kalau ketahuan Pak Devian bisa saja aku kehilangan pekerjaan ini." batin Tiara sembari mengatur nafasnya.
Ting!
Pintu lift terbuka, Carissa melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Devian.
Tok Tok
Carissa mengetuk pintu ruangan Devian yang terbuka.
"Kalau bukan urusan darurat, nanti saja." ucap Devian yang matanya terfokus dengan laptop dihadapannya.
"Hem.. Sepertinya kehadiranku tidak diharapkan disini."
Devian mengangkat kepalanya langsung mengenali pemilik suara itu dan bergegas bangkit dari duduknya menghampiri istrinya yang sudah berbalik badan.
"Ternyata istriku. Maafkan aku sayang." ucap Devian merasa bersalah.
__ADS_1
Devian memeluk tubuh Carissa dari belakang dan membenamkan kepalanya ke tengkuk istrinya.
"Kamu itu sibuk sekali. Ayo makan dulu." ajak Carissa.
Devian melepaskan pelukannya kemudian mengunci pintu ruangan kerjanya agar tidak ada yang mengganggu waktu bersama istrinya.
Carissa menuju ruang istirahat dan disusul Devian.
"Ayo makan dulu. Kamu itu boleh sibuk kerja tapi jangan lupa dengan kesehatanmu. Makan saja tidak sempat, bagaimana kalau kamu jatuh sakit?" ucap Carissa membuat Devian tersenyum senang.
Devian tidak terganggu sama sekali dengan kecerewetan Carissa, itu berarti istrinya benar-benar memperhatikan dirinya.
Devian duduk di soffa lalu menarik tangan Carissa membuat istrinya itu duduk dipangkuannya.
"Dev!" pekik Carissa terkejut membuat Devian terkekeh.
"Kamu itu bisa tidak jangan membuatku terkejut. Untung saja makanan ini tidak jatuh ke lantai." gerutu Carissa yang sedang memegang makanan di tangannya.
"Aku tidak takut sakit sayang. Lagipula sekarang ada istriku yang akan merawatku saat aku sakit." ucap Devian tersenyum kepada istrinya.
"Percaya diri sekali kamu. Aku tidak mau merawatmu kalau kamu sengaja sakit, tidak mau memperhatikan tubuhmu sendiri." sahut Carissa membuat Devian semakin gemas.
Devian mengecup kening istrinya.
"Sudah ayo makan dulu." ucap Carissa.
"Suapin ya.." pinta Devian seperti anak kecil.
"Hem baiklah. Buka mulutmu." ucap Carissa kemudian menyuapkan makanan kepada suaminya.
Devian membuka mulutnya dengan patuh dan mengunyah makanan yang disuapkan istrinya.
"Anak pintar." ucap Carissa saat Devian menghabiskan makanannya.
Carissa menyerahkan sebotol air mineral kepada suaminya.
"Terimakasih istriku. Karena suamimu ini sudah patuh seharusnya sebagai istri yang baik memberiku hadiah." kata Devian dengan senyum nakalnya.
"Dasar kamu ini. Selalu saja mencari kesempatan." sahut Carissa yang sudah paham maksud perkataan suaminya.
Carissa menarik tengkuk Devian dan ******* bibir suaminya itu. Awalnya Devian terkejut dengan keberanian istrinya, namun akhirnya ia pun menikmati permainan lincah istrinya.
Setelah terasa kehabisan oksigen barulah mereka kedua sejoli itu melepas pagutannya.
"Istriku sudah semakin pintar ya." ucap Devian mengecup pipi istrinya.
Carissa yang sadar akan perbuatannya tadi tersipu malu kemudian memeluk suaminya menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
"Hem baru beberapa menit yang lalu kamu begitu liar, sekarang sudah malu-malu lagi." kata Devian membalas pelukan istrinya dan membelai lembut rambut panjang istrinya yang dibiarkan tergerai.
"Hentikan. Jangan meledekku." sahut Carissa memancing gelak tawa Devian.
"Istriku benar-benar menggemaskan." ucap Devian kemudian kembali memagut bibir ranum istrinya.
"Aku masih harus melanjutkan pekerjaan sayang. Kamu mau pulang sekarang?" tanya Devian setelah puas bermain dengan bibir istrinya.
"Aku menunggumu saja. Boleh kan?" tanya Carissa kepada suaminya.
"Tentu saja. Kamu bisa istirahat disini." jawab Devian membelai lembut kepala istrinya.
"Tidak, aku mau melihat gaun milik Aninda saja." ucap Carissa.
"Yasudah, nanti kalau aku sudah selesai akan menghampirimu kesana." sahut Devian yang dibalas pelukkan erat Carissa.
Carissa menuju ruangan tempat menyimpan gaun yang akan dihadiahkan untuk pernikahan sahabatnya, Aninda. Di ruangan itu Carissa mendapati 3 orang pekerja yang sibuk dengan gaun putih itu.
"Sudah hampir selesai ya?" tanya Carissa membuat para pekerja itu seketika memberikan penghormatan kepadanya.
"Iya Ibu CEO. Tinggal beberapa finishing saja." jawab seorang gadis muda.
Carissa menganggukkan kepalanya kemudian ikut turun tangan menyelesaikan gaun putih itu.
"Sepertinya minggu ini gaun Aninda sudah selesai. Tinggal melanjutkan milikku di rumah." gumam Carissa yang sibuk memasangkan payet di beberapa titik pada gaun putih milik Aninda, sahabatnya.
-BERSAMBUNG
__ADS_1