Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda

Gejolak Cinta Tuan Dan Nona Muda
Menikmati Senja


__ADS_3

Carissa menggeliatkan tubuhnya. Carissa sangat terkejut mendapati wajah Devian yang tersenyum kepadanya sembari mencoba mengembalikan kesadarannya.


"Sudah bangun, Sayang?" tanya Devian dengan posisi miring dan menyangga kepalanya dengan salah satu tangan menghadap Carissa.


"Jam berapa ini Dev?" tanya Carissa tanpa menjawab pertanyaan Devian.


"Sudah jam 3, Sayang." jawab Devian masih dengan posisi dan senyum manisnya.


"Astaga kenapa tidak membangunkanku sih." gerutu Carissa.


"Terus itu kenapa kamu lihatin aku kayak gitu?" tanya Carissa yang sedari tadi melihat ekspresi aneh suaminya.


Devian menggelengkan kepalanya cepat.


"Aku senang menatap wajah istriku saat tidur. Kamu terlihat sangat cantik apalagi dengan sisa air liurmu yang masih menempel tuh." ucap Devian sembari mengarahkan telunjuknya ke sudut bibir Carissa.


Spontan Carissa mengelap bibirnya disambut gelak tawa Devian.


"DEV! Kau mengerjaiku?" tanya Carissa memelototkan matanya.


Devian masih terkekeh dengan ekspresi lucu istrinya.


Carissa yang kesal memukul pelan pundak dan dada bidang Devian sembari menggerutu tidak jelas.


"Teruskan saja tertawanya sampai puas!" ucap Carissa kesal karena Devian tidak berhenti menertawainya.


"Ma-maaf sayang, maaf." ucap Devian yang masih berusaha menghentikan tawanya.


"Huh, suami yang menyebalkan!" umpat Carissa pelan namun terdengar jelas di telinga Devian.


"Jangan mengumpat suamimu, Sayang." ucap Devian lembut sembari merapikan helai rambut yang menutupi wajah istrinya.


"Kamu rese, Dev!" gerutu Carissa lagi yang membuat Devian terkekeh pelan.


Devian menarik tubuh Carissa dan mendekapnya dalam pelukan.


"Maaf Sayang. Menggodamu adalah canduku. Kamu sangat menggemaskan." ucap Devian sembari mengecup puncak kepala istrinya.


"Iya bagimu menyenangkan tapi bisa membuatku darah tinggi tau." sahut Carissa yang menelusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya.


Devian tersenyum lalu membelai lembut punggung istrinya. Sejenak mereka saling merasakan kehangatan namun terganggu dengan suara nyaring dari perut Carissa.


"Kamu lapar, Sayang?" tanya Devian terkekeh.


Carissa mendongakkan wajah menatap Devian dan menampakkan gigi putihnya.


"Ayo makan. Kita sudah melewatkan makan siang." ajak Devian perlahan melepaskan pelukkanya.


"Aku mau cuci muka dulu." ucap Carissa beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Tak berselang lama Carissa dan Devian segera turun menuju ruang makan.


"Kok sepi?" gumam Carissa saat mendapati tidak ada orang di ruang makan.


"Ini sudah menjelang sore, Sayang. Mungkin sedang istirahat." ucap Devian lembut.


Carissa hanya menganggukkan kepalanya kemudian mengambil dua piring dari dapur. Carissa lebih dulu mengisi piring dengan nasi, lauk dan sayur untuk Devian lalu barulah dirinya.


"Sayang gimana kalau setelah ini kita jalan-jalan. Aku ingin melihat sunset disini." ajak Carissa kepada suaminya yang masih sibuk melahap makanan dihadapannya.


"Boleh juga. Mandi dulu ya." sahut Devian.


"Tidak usah nanti telat lihat sunsetnya." tolak Carissa.


"Tidak akan sayang. Aku tadi lihat di gerbang depan ada motor trail aku akan meminjamnya." ucap Devian.


"Yasudah kalau gitu kamu mandi duluan." kata Carissa yang dijawab anggukan Devian.


Devian bergegas kembali ke kamar untuk membersihkan diri sedangkan Carissa masih mencuci piring didapur.


"Aku pinjam motor dulu ya. Kamu mandi sana." ucap Devian saat berpapasan dengan Carissa di pintu kamar.


"Kamu gak bawa jaket?" tanya Carissa yang melihat Devian hanya menggunakan kaos oblong dan celana joger.

__ADS_1


"Nanti bawakan ya, aku tunggu dibawah." jawab Devian berlalu meninggalkan Carissa.


Carissa bergegas masuk ke kamar mandi. Carissa menggunakan t-shirt warna putih dan trackpants warna hitam. Carissa mengikat rambutnya dengan gaya half bun. Mencepol sebagian rambutnya keatas dan membiarkan sisanya terurai. Tak lupa Carissa mengoles make up tipis pada wajah cantiknya. Carissa menggunakan jaket parka warna mustard. Tak lupa ia juga membawa jaket hoodie untuk Devian.


Carissa bergegas turun namun tak mendapati seorang pun di dalam villa itu.


"Papa sama Mama masih tidur ya?" gumam Carissa.


Carissa keluar dari villa tanpa berpamitan. Tak lupa ia menutup pintu depan. Carissa yang baru saja keluar sudah mendapati Devian mendekatinya dengan motor trail yang membuatnya semakin keren.


"Pinjam motor siapa?" tanya Carissa.


"Punya pekerja disini." jawab Devian yang sudah memposisikan motornya di depan Carissa.


"Terus motornya gak dipake? Pulangnya nanti gimana?" tanya Carissa lagi.


"Sudah kamu tenang saja. Aku sudah membayar sewanya selama 2 hari." jawab Devian.


"Ayo naik. Nanti sunsetnya terlewat." ucap Devian.


"Pakai ini dulu." kata Carissa sembari menyerahkan sebuah jaket kepada Devian.


Dengan sigap Devian menggunakan jaket itu disusul Carissa yang menaiki motor dan duduk di jok belakang.


Carissa melingkarkan tangannya memeluk pinggang suaminya erat membuat Devian semakin bersemangat memacu motor keluar dari area perkebunan milik mertuanya. Hamparan hijau yang membentang dan juga semburat jingga sudah nampak di langit membuat suasana romantis bagi dua sejoli itu.


"Dev berhenti disana. Aku mau mengambil foto sunsetnya bagus." ucap Carissa menuju tempat dibawah pohon rindang.


Motor itu menuju jalan setapak yang ditunjuk Carissa. Pada posisi itu matahari terbenam terlihat sempurna. Beruntung sekali cuaca hari ini cerah sehingga pasangan muda itu bisa menikmati pemandangan sunset yang indah.


"Dev foto selfie yuk. Kita belum punya foto berdua selain saat menikah." ajak Carissa merogoh ponsel dari saku jaketnya.


Devian mengikuti instruksi Carissa yang menghasilkan foto silhouette mereka berdua dengan background senja yang cantik.


"Bagus kan Dev?" tanya Carissa melihatkan hasil jepretan di layar ponselnya kepada Devian.


"Coba foto sekali lagi." ucap Devian membuat Carissa mengerutkan keningnya.


"Kenapa? Ini kan sudah bagus." tanya Carissa bingung.


Cup!


Cekrek!


Devian tiba-tiba mencium pipi Carissa tepat saat kamera ponsel membidik gambar mereka.


"Dev! Kamuu iiih!" gerutu Carissa sembari menyembunyikan wajahnya yang sudah bersemu merah gara-gara pose dadakan Devian.


"Coba lihat hasilnya pasti lebih bagus." ucap Devian tanpa dosa.


Carissa menuruti perkataan Devian dan benar saja foto itu terlihat lebih bagus dan langit kemerahan menambah kesan romantis pada foto itu.


"Terimakasih, Dev." ucap Carissa memeluk suaminya.


"Sama-sama, Sayang." sahut Devian membalas pelukan Carissa lalu mengecup kening istrinya.


"Dev sudah lama aku tidak merasakan suasana seperti ini. Kesibukan di kota membuatku merindukan hal sederhana seperti ini." ucap Carissa setelah melepaskan pelukan dari Devian.


Carissa menatap matahari yang mulai terbenam dan merasakan angin dingin berhembus mengenai tubuhnya.


"Kau menyukainya?" tanya Devian sembari menatap wajah istrinya dari samping yang menampakan bayangan sempurna wajah cantik istrinya.


"Sangat." jawab Carissa kemudian menghembuskan nafasnya.


"Langit senja membuatku menyadari walau hanya sesaat namun kehadirannya sangat dirindukan banyak orang. Aku ingin seperti senja. Meskipun hanya sesaat namun kehadiranku bisa bermanfaat untuk orang-orang yang membutuhkan." ucap Carissa menoleh kelada Devian dengan senyum manisnya lalu kembali menatap matahari yang sudah tinggal setengah.


"Ternyata Allah memberiku wanita yang sangat istimewa sepertimu, Carissa. Kamu selalu saja bisa membuatku jatuh cinta setiap hari. Aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi dan menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Membesarkan anak-anak kita bersama dengan penuh cinta." ucap Devian didalam hati.


Perkataan Carissa tadi menyentuh hati Devian dan membuatnya semakin terpesona dengan sosok istrinya.


Tanpa sepengetahuan Carissa diam-diam Devian mengabadikan momen istrinya yang menikmati langit senja.


"Aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia istriku walau harus kupertaruhkan jiwa dan ragaku." tekad Devian dalam hati.

__ADS_1


Matahari telah meredupkan sinarnya. Devian dan Carissa memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya.


Drt Drt


Ponsel Carissa bergetar.


"Dev berhenti sebentar. Mama menelpon." ucap Carissa menepuk pundak Devian sebagai isyarat untuk berhenti.


"Assalammu'alaikum, Ma." sapa Carissa saat motor sudah menepi di pinggir jalan.


"Kalian kemana? Hari sudah menjelang malam." tanya Mama Allisa yang terdengar khawatir.


"Rissa habis lihat sunset sama Devian, Ma. Ini mau lanjut jalan. Rissa sama Devian mau makan malam diluar Ma." jawab Carissa sejelas-jelasnya sebelum Mama Allisa semakin khawatir.


"Syukurlah. Papamu tuh panik. Yasudah kalau gitu jangan malam-malam pulangnya. Cuaca disini sangat dingin." sahut Mama Allisa yang kemudian mematikan sambungan telponnya.


"Mama sama Papa khawatir Sayang?" tanya Devian.


"Iya, Sayang. Padahal aku sudah menikah tapi mereka masih saja mengkhawatirkanku seperti anak kecil." jawab Carissa dengan bibir manyun.


"Itu namanya orangtua menyanyangi putrinya, Sayang. Kelak kamu juga akan seperti itu." ucap Devian sembari menoleh kebelakang dan mengelus kepala Carissa lembut.


"Hem iya juga sih. Ayo lanjut kita keliling." ajak Carissa kemudian kembali memeluk erat pinggang suaminya.


"Baiklah. Pegangan yang erat Tuan Putriku." ucap Devian kembali memacu motor trail yang ia tumpangi melewati jalan pedesaan di area pegunungan itu.


"Dev kita shalat magribh dulu di masjid itu." tunjuk Carissa mendapati sebuah masjid di seberang jalan.


Dengan cepat Devian menyeberang dan memakirkan motor di halaman parkiran masjid. Adzan magribh berkumandang Devian dan Carissa bergegas menuju tempat wudhu kemudian ikut bergabung shalat berjamaah bersama para warga desa.


Setelah menunaikan ibadah kepada Sang Pencipta, Devian dan Carissa melanjutkan perjalanannya.


Tak banyak aktifitas didesa itu saat malam hari. Hanya ada beberapa motor yang lalu lalang melintasi jalan itu dan juga beberapa pedagang kaki lima di pinggir jalan.


"Dev, makan sate ayam madura yuk." ajak Carissa.


"Iya boleh. Lihat didepan kalau ada yang jual kita makan disana." sahut Devian.


*


*


*


"Alex, ternyata menyiapkan pernikahan sangat melelahkan ya." ucap Aninda yang sedang melakukan panggilan video dengan Alex.


Alex terkekeh mendengar keluhan calon istrinya itu.


"Kok kamu malah tertawa sih?" gerutu Aninda.


"Kamu kan yang minta seperti ini, Sayang. Yasudah jalani dan nikmatin saja." ucap Alex yang membuat Aninda tersadar.


Benar kata Alex. Saat itu orangtua Aninda, Alex dan orangtuanya menawari untuk akad terlebih dahulu baru resepsinya menyusul. Namun Aninda bersikeras ingin melakukannya secara bersamaan. Saat ia melihat sahabatnya, Carissa yang sudah menikah membuatnya ada perasaan sedikit menyesal. Aninda melihat keromantisan hubungan sahabatnya setelah menikah membuatnya ingin segera memiliki hubungan yang sama dengan Alex.


"Sayang?" panggil Alex membuat Aninda tersadar dari lamunannya.


"Iya sayang." sahut Aninda.


"Ada apa? Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Alex memastikan.


Aninda menggelengkan kepalanya.


"Atau kamu menyesal ya tidak mau melakukan akad lebih dulu denganku? Bagaimana kalau kita ke KUA besok?" tanya Alex menggoda calon istrinya.


"Alex! Sudahlah, lagipula hanya tinggal 2 bulan lagi." jawab Aninda kesal.


"Wah berarti perkataanku benar ya? Kamu sudah tidak sabar ya menikah denganku kan? Apalagi sepertinya sahabatmu itu sudah siap memberi kita keponakan." goda Alex lagi membuat Aninda semakin kesal.


"Alex hentikan! Aku akan marah kalau kau masih meledekku seperti itu." ancam Aninda membuat Alex menghentikan godaannya.


Alex berusaha menahan tawa melihat ekspresi lucu Aninda.


"Dasar wanita selalu saja hati dan mulut berlawanan." batin Alex.

__ADS_1


-BERSAMBUNG


__ADS_2