
Dewa masuk ke mobilnya. Dewa mendengar isakan Saras. Dewa melihat Saras yang tertunduk dan tangannya masih gemetar.
"Are you okay?" tanya Dewa dengan nada hati-hati.
Saras sedikit mengangguk namun tangisnya semakin keras terdengar.
"Menangislah agar dirimu tenang." ucap Dewa.
Tanpa sengaja mata Dewa tertuju pada kemeja Saras yang terbuka menampakkan sedikit belahan dadanya.
Dewa segera memalingkan wajahnya dan melepas jasnya.
"Maaf pakailah ini." ucap Dewa sembari menyerahkan jasnya kepada Saras.
Saras termenung sejenak menghentikan tangisannya kemudian ia menyadari bagian dadanya yang sedikit terekspos karena kancing kemejanya yang terlepas gara-gara ulah dua pria bejat tadi. Saras menoleh kepada Dewa yang memalingkan wajahnya.
"Jangan salah paham. Saya tidak sengaja." kata Dewa datar.
Saras meraih jas itu kemudian segera memakainya.
"Terimakasih, Pak." ucap Saras malu sembari menghapus sisa air mata diwajahnya.
"Maaf bisakah kamu ceritakan kronologinya? Kenapa kamu lewat jalan ini?" tanya Dewa kemudian menatap Saras dengan ekspresi datar.
Saras menghela nafas kemudian mengaturnya.
"Sebenarnya saya memilih jalan ini karena ingin memotong jarak supaya lebih cepat sampai ke rumah. Sialnya tadi ban motor saya malah bocor. Akhirnya saya mendorong motor saya berharap menemukan bengkel terdekat tapi malah ketemu dua binatang sialan." cerita Saras yang masih sangat kesal.
"Jadi motor yang ada di pinggir jalan tadi milikmu?" tanya Dewa yang sebelumnya mendapati motor matic di pinggir jalan.
"Astaga motorku." pekik Saras yang teringat motornya masih tertinggal.
"Sudah biar nanti saya minta tolong orang untuk membawanya ke bengkel." ucap Dewa kemudian menelpon seseorang.
Saras terdiam sambil mengamati Dewa yang sedang memerintah seseorang untuk mengamankan motor Saras.
"Ternyata Pak Dewa keren juga." ucap Saras dalam hati.
"Apakah kamu terluka?" tanya Dewa seketika membuyarkan lamunan Saras.
"Hanya pergelangan kaki sedikit terkilir saja. Dan bekas tamparan pria brengsek tadi yang lumayan perih." jawab Saras sambil mengelus pipinya.
Dewa melajukan mobilnya tanpa berbicara membuat Saras kebingungan.
"Apa aku salah bicara? Kan dia tanya aku jawab kenapa malah diam saja." gumam Saras.
Tak lama kemudian Dewa menghentikan mobilnya. Saras melihat dari kaca mobil yang sudah berhenti di depan sebuah apotek.
"Kenapa berhenti disini, Pak?" tanya Saras heran.
Dewa tak menjawab malah keluar begitu saja dari mobil kemudian masuk ke apotek.
"Orang aneh." batin Saras kemudian memejamkan matanya mencoba menghapus ingatan peristiwa tadi yang sedikit mengguncang dirinya.
Dewa kembali ke mobil menenteng kantong plastik kemudian melajukan mobilnya. Tidak ada pembicaraan, suasana mobil yang hening membuat Saras seolah-olah tidak berani bernafas.
Tak jauh dari apotek, Dewa menghentikan mobilnya di sebuah taman. Dewa keluar dari mobil membuat Saras kebingungan.
"Orang ini mau ngapain sih berhenti disini." batin Saras.
Tiba-tiba Dewa membuka pintu mobil dimana Saras duduk yang membuatnya terkejut.
"Ayo turun." perintah Dewa dingin.
"Mau ngapain Pak?" tanya Saras bingung.
Tak menjawab pertanyaan Saras justru Dewa malah menggendong Saras begitu saja.
"Bapak mau ngapain? Turunkan saya! Jangan kurang ajar Pak!" teriak Saras ketakutan.
Saras memberontak mencoba melepaskan diri namun tenaga Dewa sangat kuat.
Dewa memasang wajah tanpa ekspresi yang membuat Saras semakin kebingungan. Dewa menurunkan Saras di sebuah bangku taman.
"Bapak mau ngapain?" tanya Saras saat tangan Dewa mencoba menyentuh kaki Saras. Dengan cepat Saras menarik kakinya.
Dewa menghela nafas.
"Saya hanya mau ngobatin kaki kamu." ucap Dewa tanpa menatap Saras.
"Hah?" sontak Saras terkejut.
"Bapak bilang kek daritadi. Biar saya gak berpikiran aneh-aneh. Biar saya sendiri saja." ucap Saras kikuk.
Dewa menatap Saras dingin membuat Saras takut. Dewa mengangkat kaki Saras dan meletakkan ke pangkuannya. Dewa melihat pergelangan kaki Saras yang memar dan telapak kakinya ada beberapa yang lecet.
"Tahan sedikit. Ini akan sakit." ucap Dewa.
"Aaaaaaaa!" pekik Saras saat merasakan pergelangan kakinya ditarik oleh Dewa.
__ADS_1
"Bapak mau membunuh saya?" tanya Saras yang sudah menangis.
Dewa terkejut melihat Saras yang menangis.
"Maaf tadi saya mencoba mengembalikan posisi kakimu yang terkilir." jawab Dewa tanpa ekspresi.
"Tadi dia bilang maaf? Aku gak salah dengar kan?" gumam Saras dalam hati.
"Harusnya Bapak bilang dulu dong biar saya punya persiapan. Gak mendadak kayak tadi." gerutu Saras kesal.
Dewa tersenyum simpul namun segera mendatarkan ekspresinya lagi.
"Biar saya saja, Pak." ucap Saras saat Dewa akan mengoleskan salep di kaki Saras.
Dewa mengerutkan kening kemudian memberikan tatapan tajam yang membuat Saras terdiam dan pasrah.
Dewa dengan hati-hati mengoleskan salep pada pergelangan kaki Saras. Kemudian Dewa membersihkan luka-luka kecil pada telapak kaki Saras dan mengoleskan obat merah yang membuat Saras meringis merasakan perih.
"Ini kamu obati sendiri yang ada diwajahmu." ucap Dewa menyodorkan sebuah salep kepada Saras tanpa menatapnya.
"Baik Pak." sahut Saras segera mengoleskan salep itu dan merasakan sensasi dingin di pipinya.
"Terimakasih Pak." ucap Saras namun tak mendapat sahutan Dewa.
Saras menghela nafas.
"Sudahlah. Setidaknya dia sudah berbaik hati mau menolongku." batin Saras.
"Rumahmu masih jauh?" tanya Dewa.
"Dekat kok Pak. Tinggal lurus nanti ada pertigaan belok kiri." jawab Saras.
Dewa bangkit dari duduknya seketika membuat Saras melakukan hal yang sama namun dengan cepat Dewa mengangkat tubuh Saras.
"Biar saya jalan saja Pak. Saya masih bisa kok." protes Saras tak enak hati dan juga malu.
Dewa tak menggubris protesan Saras.
Dewa melajukan mobilnya menuju rumah Saras.
Seperti yang dikatakan Saras akhirnya sampailah di rumah Saras. Dewa menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah sederhana minimalis.
"Terimakasih banyak Pak." ucap Saras namun masih saja tak direspon Dewa.
Dewa turun dari mobil dan kembali menggendong Saras masuk ke dalam rumah. Saras tak lagi protes, ia hanya pasrah dengan perlakuan Dewa. Saras mengaitkan tangannya di leher Dewa. Saras bisa merasakan aroma tubuh Dewa yang harum.
Saras segera membuka tasnya dan mengambil sebuah kunci lalu membukakan pintunya. Rumah masih dalam keadaan gelap.
"Dimana saklarnya?" tanya Dewa lagi.
"Maju sedikit lagi Pak. Di tembok sebelah kanan Bapak." jawab Saras.
Clek!
Lampu sudah menyala menampakkan ruangan yang tak begitu luas namun sangat bersih.
"Letakkan saya di soffa saja Pak." ucap Saras.
Dewa menurutinya dan menurunkan Saras dengan hati-hati.
"Terimakasih banyak Pak." ucap Saras lagi.
"Kamu tinggal sendiri?" tanya Dewa dan mendapatkan anggukan Saras.
"Dimana orangtuamu?" tanya Dewa penasaran.
Saras menghela nafas sejenak kemudian menatap Dewa lembut.
"Orangtua saya sudah meninggal sejak saya umur 17 tahun karena kecelakaan." ucap Saras membuat Dewa bisa melihat raut kesedihan di wajah wanita itu.
"Maaf saya gak bermaksud membuatmu sedih." ucap Dewa tak enak hati.
"Tidak masalah Pak. Terimakasih banyak karena sudah menolong saya hari ini." kata Saras memberikan senyum manisnya.
"Iya. Lebih baik besok kamu tidak usah masuk bekerja. Saya akan membantumu izin sampai kamu pulih." ucap Dewa.
Saras mendongakkan wajahnya menatap wajah Dewa yang tanpa ekspresi.
"Baik. Terimakasih banyak Pak." ucap Saras.
"Berikan nomormu." kata Dewa sambil menyodorkan ponselnya kepada Saras.
Saras menatap Dewa bingung.
"Jangan salah paham. Saya hanya ingin memastikan kondisimu." ucap Dewa ketus.
Saras mengangguk-anggukan kepalanya kemudian mengetikkan nomor ponselnya setelah itu mengembalikan ponsel pada Dewa.
"Saya pulang dulu." ucap Dewa berpamitan.
__ADS_1
"Sekali lagi terimakasih banyak Pak. Maaf tidak bisa mengantar keluar. Hati-hati di jalan Pak Dewa." kata Saras yang hanya ditanggapi dengan anggukan kepala Dewa.
"Sebenarnya dia itu manusia atau batu sih?" gerutu Saras ketika Dewa sudah meninggalkan rumahnya.
*
*
*
Setelah Carissa selesai berbicara dengan Papa Cakra, ia kembali ke kamarnya. Carissa mendapati Devian yang sedang sibuk dengan ponselnya tak menyadari kehadiran istrinya. Carissa duduk ditepi ranjang disamping Devian.
"Kamu sudah kembali Sayang?" tanya Devian setelah menyadari istrinya sudah berada disampingnya.
"Iya. Kamu terlalu fokus sampai tidak menyadari kehadiranku." ucap Carissa dengan bibir manyun.
Devian terkekeh melihat wajah menggemaskan istrinya dan segera meletakkan ponselnya ke atas nakas.
"Maaf Sayang ada beberapa hal yang harus aku selesaikan." ucap Devian kemudian mengecup kening istrinya.
Carissa menarik tubuh Devian dan membenamkan wajahnya pada dada bidang Devian.
"Kenapa Sayang?" tanya Devian lembut.
"Tidak. Aku hanya ingin memeluk suamiku." jawab Carissa semakin mengeratkan pelukkannya.
Devian tersenyum kemudian membalas pelukkan Carissa.
Pelukkan itu berlangsung cukup lama.
"Oh iya aku ingin tau proses gaun Aninda sudah sampai mana. Bolehkah besok aku melihatnya?" tanya Carissa.
"Hem. Besok aku akan mengantarmu." jawab Devian dengan membelai lembut rambut panjang Carissa.
"Terimakasih suamiku." sahut Carissa kemudian mengecup bibir Devian lembut.
"Aku suka kau memanggilku seperti itu." ucap Devian kemudian meraih tengkuk Carissa ******* bibir istrinya.
"Jangan memanggilku Dev lagi." kata Devian mengecup kening Carissa.
"Baik sayangku cintaku tampanku suamiku." sahut Carissa dengan terkekeh.
Devian memandang wajah istri cantiknya itu kemudian kembali memagut bibir Carissa yang awalnya lembut menjadi bergairah.
"Sayang sudah cukup. Nanti kebablasan." ucap Carissa mencoba melepaskan diri.
"Memang itu yang kumau." sahut Devian dengan seringai nakalnya.
"Kan tadi udah. Masa sih belum puas?" tanya Saras protes.
"Bukannya belum puas. Tapi siapa suruh kamu menggodaku." jawab Devian dengan tersenyum.
"Kapan aku menggodamu?" tanya Carissa tak terima.
"Tadi siapa yang pertama kali memelukku? Lalu mencium bibirku?" Devian balik bertanya pada istrinya yang membuat Carissa tersipu.
"Hem. Iya aku yang mulai." jawab Carissa pasrah.
Devian terkekeh melihat ekspresi menggemaskan istrinya.
"Kau harus bertanggungjawab karena sudah membangunkannya." bisik Devian membuat tubuh Carissa seketika meremang.
Tanpa aba-aba Devian langsung menyerang istrinya.
Dan malam itu kembali melakukan kegiatan bercinta yang penuh gairah dan memenuhi ruangan itu dengan suara cinta.
"Terimakasih istriku." ucap Devian lalu mengecup kening Carissa lembut.
"Aku sangat lelah." ucap Carissa lirih.
"Tidurlah sayangku. Goodnight my lovely wife. I love you." Devian memeluk Carissa erat.
Devian tak mendengar jawaban Carissa hanya mendengar suara deru nafas istrinya yang sudah teratur. Devian menundukkan wajahnya mendapati istrinya yang sudah terlelap.
"Maafkan suamimu ini Sayang." ucap Devian sambil menghujani wajah istrinya dengan kecupan.
Tak lama kemudian Devian ikut terlelap bersama istrinya dengan berpelukan.
-BERSAMBUNG
*Maaf ya pengantin baru ya begitulah.
Terimakasih DevRissa Lovers yang masih setia dengan cerita Gejolak Cinta Tuan dan Nona Muda.
Jangan lupa tinggalkan like komen dan tambahkan novel ini ke favoritmu agar mendapatkan notif update episode ya Readers!
Bisa bantu rate bintang ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ ya gengs!
Salam hangat dari Minthors 🤗*
__ADS_1