
Hari-hari berlalu, Carissa sibuk dengan persiapan pembukaan butik miliknya. Begitu juga dengan Devian yang sudah kembali fokus dengan urusan perusahaannya.
Masih ingat dengan Mbak Marni?
Akhirnya ia memutuskan untuk ikut bekerja di kota dengan Carissa.
Marni bersyukur karena selain bekerja dengan boss yang baik hati, ia pun sudah mendapatkan fasilitas rumah kontrakan dari Carissa.
"Non Rissa, makasih ya. Saya benar-benar bersyukur, senang sekali bisa bekerja dengan Non." ucap Marni yang sedang sibuk membereskan butik yang sudah selesai direnovasi.
"Panggil nama saja, umur kita gak beda jauh kok." kata Carissa dengan tersenyum ramah.
"Tidak, Non. Itu tidak sopan." sahut Marni tak enak hati.
"Bagaimana mungkin orang kampung seperti saya bisa memanggil atasan dengan namanya saja." tambah Marni lagi membuat Carissa mengernyitkan keningnya.
Carissa pun berjalan mendekati Marni dan tetap menampakkan senyum ramahnya.
"Kita semua sama-sama manusia. Anggap saja agar kita lebih akrab." kata Carissa.
"Tapi saya sudah nyaman seperti ini, Non." ucap Marni membuat Carissa tidak bisa berkata-kata lagi.
"Yasudah. Terserah Mbak saja. Kalau butuh apapun bilang ke saya saja. Tidak perlu sungkan, oke?"
"Baik, Nona cantik yang baik hati." sahut Marni membuat Carissa terkekeh.
Dua wanita itu, bersama beberapa wanita lainnya melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Carissa senang karena bisa mendapatkan partner pekerja keras meskipun hanya lulusan SMK. Tapi kemampuan mereka tidak bisa dianggap remeh. Bahkan sangat mudah untuk diajak bekerjasama. Itulah yang terpenting untuk membangun bisnis, teamwork yang solid.
Matahari sudah berada di atas kepala, Carissa memutuskan untuk beristirahat. Melihat para pekerja sudah selesai membereskan butiknya, ia pun meminta mereka untuk pulang lebih awal.
Rencana butik akan dibuka minggu depan. Jadi minggu ini hanya menyelesaikan pekerjaan ringan saja. Sedangkan Carissa sudah mulai mempromosikan butiknya ke media sosial dan para pengikutnya sangat antusias dengan usaha barunya itu.
Drt Drt
Ponsel Carissa bergetar, dan mendapati suaminya menelpon ia pun segera mengangkatnya.
"Hallo sayang.." sapa Carissa yang sudah mulai terbiasa memanggil suaminya dengan panggilan itu. Karena sudah beberapa kali Devian merajuk saat Carissa jarang memanggilnya dengan mesra.
__ADS_1
"Apakah istriku sedang sibuk?" tanya Devian.
"Tidak, sayang. Semuanya sudah selesai. Tinggal persiapan pembukaan butik minggu depan." jawab Carissa.
"Ayo makan siang bersama. Aku jemput sekarang ya." ajak Devian bersemangat.
"Baiklah." sahut Carissa kemudian Devian memutuskan sambungan telponnya.
Carissa merapikan ruang kerjanya dan hanya meninggalkan ia sendirian di butiknya karena para pekerja sudah pulang.
Tak perlu menunggu lama, mobil Devian sudah terparkir didepan butik Carissa. Pria itu langsung masuk untuk menemui istrinya.
"Siang istriku." sapa Devian yang langsung memeluk pinggang Carissa membuat wanita itu terkejut.
"Astaga, Dev. Bisa tidak jangan membuatku jantungan." protes Carissa.
"Aku merindukanmu, sayang." ucap Devian manja kemudian menelusupkan wajahnya ke pundak istrinya membuat Carissa geli.
"Sejak kapan suamiku menjadi lebay seperti ini? Bukankah hanya beberapa jam saja, tapi perkataanmu seperti sudah lama tidak bertemu saja." tanya Carissa yang tidak habis pikir dengan sikap manja suaminya.
"Bagaimana bisa aku tahan berjauhan darimu, istriku? Kau sudah mengambil seluruh hatiku. Tak melihatmu sekejap saja membuatku sesak." kata Devian membuat Carissa semakin ingin muntah namun tak bisa dibohongi ia juga bahagia dengan gombalan tingkat dewa dari suaminya.
"Suamiku semakin pintar berkata-kata ya. Aku penasaran darimana kamu mempelajarinya." ucap Carissa gemas.
"Aku tidak perlu belajar untuk merayu istriku yang cantik. Ini semua keluar dari lubuk hatiku yang paling dalam." kata Devian membuat Carissa tertawa.
Carissa tertawa dengan perubahan sikap Devian yang baginya sangat menggelikan.
"Aku hanya ingin suamiku kembali normal." ucap Carissa yang sudah tidak bisa menanggapi suaminya yang semakin menjadi-jadi.
Devian hanya tersenyum kemudian bergelayutan manja membuat Carissa hanya bisa pasrah dengan kelakuan suaminya itu.
"Kenapa aku dulu tidak menyadari suamiku punya sisi menggelikan seperti ini? Jadi perilaku dinginnya dihadapan orang-orang itu hanya pencitraan saja." batin Carissa.
"Jadi makan siang tidak?" tanya Carissa membuat Devian tersadar dan menghentikan kelakuan manjanya.
"Jadi, istriku. Maaf ya. Tubuhmu itu selalu membuatku candu." jawab Devian membuat Carissa membulatkan matanya.
__ADS_1
"Dasar mesum!" umpat Carissa kemudian meninggalkan Devian bergegas keluar dari butik.
Devian terkekeh lalu segera menyusul istrinya. Tak lupa mereka mengunci butik lalu menuju resto terdekat.
Acara makan siang itu pun berlangsung dengan diselingi kata-kata gombal dari Devian yang membuat Carissa hanya bisa menarik nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa sebelum kesini kepalanya terpentok sesuatu? Ya Allah kembalikanlah suamiku seperti sedia kala." ucap Carissa dalam hati.
"Sayang, setelah ini aku masih ada meeting dengan klien. Maukah kau ikut ke perusahaan dan menungguku?" tanya Devian.
"Hem. Baiklah. Aku sudah lama tidak bertemu dengan sahabatku." jawab Carissa membuat Devian senang lalu dua sejoli itu pun menuju MF Group.
Kedatangan Devian dan Carissa disambut antusias oleh para karyawan. Sesekali ada yang berbisik melihat kemesraan atasannya itu.
"Lihat, Boss dingin itu hanya tersenyum dengan istrinya."
"Mereka mesra sekali ya. Memang hanya Nyonya yang bisa menaklukan hati boss kita."
"Serasi sekali. Tuan tampan dan Nona cantik."
Carissa yang mendengar itu hanya melemparkan senyum saat beberapa karyawan menyapanya. Berbeda dengan Devian yang hanya memasang wajah datarnya.
Saat memasuki lift, Devian berperilaku manja lagi kepada Carissa.
"Bagaimana jika para karyawanmu itu tahu perilakumu yang seperti ini?" tanya Carissa namun tak dihiraukan Devian.
"Sepertinya julukan CEO dinginmu itu tidak berlaku lagi." kata Carissa lagi membuat Devian terkekeh.
"Kau yang sudah membuatku seperti ini, istriku. Kau membuatku semakin tergila-gila setiap harinya." ucap Devian membuat Carissa semakin geli.
"Astaga, Dev. Kau tidak sakit kan?" tanya Carissa yang langsung menempelkan tangannya pada kening suaminya.
"Aku mencintaimu, istriku." ucap Devian kemudian mengecup kening Carissa.
Ting!
Pintu lift terbuka, untung saja tidak ada karyawan disana membuat Carissa bernafas lega.
__ADS_1
Carissa semakin pusing dengan tingkah suaminya yang semakin hari semakin tidak normal. Bahkan sekarang Devian sudah seperti perangko yang selalu menempel dengannya.
-BERSAMBUNG